Nov 30, 2011

The Giving Tree - Shel Silverstein


Belajar bahasa Inggris bersama ternyata merupakan pintu masuk untuk bisa berbagi dengan guru-guru di sekitar Mentari, komunitas pendidikan non-formal tempat saya mengajar di tahun 2007 - 2008. Guru-guru di sana merasa butuh belajar bahasa Inggris. Sehingga setiap minggu mereka datang dengan senang hati meskipun tidak mendapatkan sertifikat.

Rabu kemarin kami belajar bahasa Inggris dengan menyanyikan lagu Hockey Pockey, lalu mengerjakan beberapa worksheet terkait grammar. Kami juga menggambar seorang yang penting dalam hidup kita (seperti adik, anak, teman, dll), dan meminta masing-masing guru untuk bercerita mengenai gambarnya,. Terakhir, kamibersama-sama mendengarkan rekaman The Giving Tree - Shel Silverstein sambil membaca teks tertulisnya. Kata-kata yang baru yang didapatkan dari teks didiskusikan. Saya akan selalu berusaha menggunakan cerita-cerita untuk belajar. tujuannya untuk menambah kosa kata, membiasakan mereka membaca teks berbahasa Inggris (meskipun dimulai dengan sederhana), dan lainnya. Kebanyakan guru yang hadir adalah guru PAUD, sehingga saya sangat ingin mengenalkan mereka dengan berbagai cerita anak. Siapa tahu ceritanya bisa digunakan di dalam kelas saat mereka mengajar. Selain belajar bahasa Inggris, mereka bisa mendapatkan tambahan bahan untuk mengajar di kelas!

Saat refleksi seorang guru PAUD yang ikut proses belajar berkata, "Seru. Gak menyangka saya bisa memahami bacaan berbahasa Inggris."

Nov 29, 2011

Algebra Team: Overview of Teaching Styles


Setiap guru punya kepribadian yang berbeda dan itu mempengaruhi bagaimana mereka mengajar. Video ini menarik karena menunjukkan dua kelas di mana dua guru merancang pembelajaran bersama, lesson plan-nya sama, tapi bagaimana kelas tersebut berjalan berbeda.

Belajar Bersama Guru Di Mentari



Kebanyakan yang datang adalah guru PAUD. Sekitar 15 orang (lebih). Kegiatannya, belajar bahasa Inggris (belajar memperkenalkan diri, belajar memperkenalkan orang lain, belajar mendeskripsikan gambar, belajar bertanya "have you ever..", belajar menjawab pertanyaan, " Yes I have...; no I haven't", belajar menyusun ulang cerita, dan mendengarkan cerita (story telling).

Sorenya belajar matematika, belajar sedikit membuat pecahan, belajar membuat alat peraga sederhana.

Nov 28, 2011

Tidak Mau Hadiah Buku

Beberapa teman saya yang selalu mengusahakan agar tidak pernah absen datang ke pameran buku. Kalau ada uang, mereka gunakan untuk membeli buku. Kalau tidak, mereka rela menunggu di pameran dari pagi hingga tutup demi mendapatkan buku gratis. Kalau sedang pameran, sering ada doorprize, bincang dengan penulis, dan kegiatan-kegiatan lainnya. Kalau ikut, tak jarang penonton yang beruntung mendapatkan hadiah buku. Teman-teman saya hobi sekali mengejar buku (bahkan majalah) gratis di pameran. Lumayan untuk bahan bacaan.

Dalam sebuah seminar guru yang saya hadiri belakangan ini, ada sesi doorprize. 6 peserta yang beruntung dipangil ke depan. Semuanya guru. Hadiahnya adalah sebuah voucher yang bisa ditukar dengan sejumlah buku. Dari keenam guru yang berdiri di depan, ada tiga orang guru menolak hadiah voucher buku, "Tidak mau ah!" kata seorang guru sambil menggelengkan kepala dan memberi aba-aba tidak dengan tangannya. Yang lain juga sikapnya begitu.

Saya melirik teman yang duduk di sebelah saya, dia guru juga. Sambil melotot saya bertanya, "Serius itu guru menolak dikasih hadiah buku?"

Teman saya seorang guru berkomentar, "Tahu gitu kita saja maju ke depan. Hadiahnya sejumlah buku loh! Bukan hanya satu! "

Teman saya menambahkan, "Ironis yah?"

Saya mengangguk sambil terus terheran-heran. Ternyata ada guru yang menolak diberi hadiah buku!


Nov 19, 2011

ProductiveMuslim Weekly Naseeha - Episode 31: Top 10 Tips from Productiv...




Saya suka sekali http://www.facebook.com/productivemuslim dan selalu menemukan tips menarik di sana. Belum selalu bisa dijalankan tapi benar-benar bermanfaat. Ini salah satu video produksinya.

Nov 16, 2011

Belajar Gratis di Rumah Mentari


Lovely Mentari!

Assessment Non-Ujian (Pilihan Ganda)

Dua hari ini saya sibuk memberikan ujian lisan pada mahasiswa-mahasiswa saya. Kemarin 24 mahasiswa dalam sehari, hari ini 22. Masing-masing saya uji lisan selama 15 menit. dari pagi sampai sore. Lumayan, butuh konsentrasi tinggi.

Saya telah menyiapkan beberapa soal yang menggambarkan kondisi di dalam kelas dan materi tertentu yang harus diajarkan. 5 menit membaca soal, 10 menit melakukan role play. Saya sebenarnya baru pertama kali menyiapkan assessment semacam ini. Kebetulan ada dua kelas lain (diajar oleh dua dosen lain). Bersama dosen lain tersebut, saya membuat rubrik penilaian.

Saya senang karena keterampilan saya dalam merancang assessment bertambah. Di tempat saya mengajar, assessment memang disesuaikan dengan mata kuliahnya. Kalau mata kuliahnya adalah merancang pembelajaran, maka assessment-nya adalah membuat lesson plan. Kalau mata kuliahnya mengenai assessment, salah satu assessment-nya adalah merancang rubrik penilaian.

Seringkali mahasiswa juga diminta membuat reflective paper. Di pelajaran bahasa Indonesia yang pernah saya observasi, diajar oleh Pak Iwan Syahril, mahasiswa diminta membaca Bumi Manusia (Pramudya Ananta Toer). Setelah membaca, mahasiswa diminta untuk untuk menuliskan kesan-kesan terhadap bacaannya di sebuah jurnal. Setiap minggu cukup satu bab. Setelah membaca satu bab, ada kegiatan reading circle di mana mahassiswa secara berkelompok membahas bab tersebut. Ada pembagian peran di masing-masing kelompok. Ada yang bertugas menjadi fasilitator yang bertugas merancang pertanyaan kritis untuk memancing diskusi, ada yang bertugas membahas kaitan antara bab tersebut dengan konteks lain (seperti kondisi terkini), dan ada yang bertugas membahas makna frase-frase dan majas-majas yang ada di dalam bab tersebut. Setelah diskusi, mahasiswa diberi beberapa menit untuk menuliskan kembali apa yang didiskusikan (refleksi terhadap proses diskusi). Sebelum bab selanjutnya, mahasiswa diminta memprediksi bab selanjutnya. Baru kemudian mahasiswa membaca bab selanjutnya, dan prosesnya berulang lagi. Tulisan-tulisan bersifat reflektif ini merupakan salah satu cara meng-assess kemampuan mahasiswa dalam berbahasa Indonesia.

Model-model assessment semacam ini memang memerlukan waktu untuk menyiapkannya. Mungkin karena itulah model-model ujian pilihan ganda dianggap paling efektif. Paling hemat waktu!

Nov 4, 2011

RPP Karakter Bangsa dan Kewirausahaan



Saya baru membaca salah satu contoh RPP Karakter Bangsa dan Kewirausahaan. di dalamnya ada Indikator Karakter Bangsa dan Kewirausahaan, juga ada Rubrik Penilaian Karakter Bangsa dan Kewirausahaan. Saya jadi bertanya-tanya? Apa benar perlu seperti itu?

Ini pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepala saya setelah membaca RPP itu :
1) (Lihat yang diwarnai kuning) Apa memang perlu dituliskan seperti itu?

Kegiatan Awal (10 menit)
· Guru mengecek kehadiran siswa.
· Dengan rasa ingin tahu, siswa berpartisipasi aktif dalam tanya jawab tentang kesulitan materi pada pertemuan sebelumnya.
Kegiatan Inti (40 menit)
· Melalui tanya jawab yang komunikatif dan bersahabat, guru membimbing siswa mendiskusikan cara menanggapi berita. (Eksplorasi)
· Melalui diskusi yang komunikatif, guru dan siswa mendiskusikan pengertian bentuk-bentuk tanggapan terhadap berita atau informasi yang disampaikan (Elaborasi).

2) Di dalam RPP saya melihat ada rubrik penilaian karakter bangsa dan kewirausahaan. Apakah memang relevan membuat rubrik seperti itu? Kenapa karakternya dinilai dalam angka-angka semacam itu? Misalnya untuk aspek komunikatif. Dalam salah satu rubrik, indikator untuk siswa yang komunikatif adalahmenjawab pertanyaan teman dan mengajukan pertanyaan atau tanggapan. Bagaimana kalau ada siswa yang mengajukan pernyataan, tetapi tidak ada satu pun temannya yang memahami pernyataan tersebut. Apakah itu bisa disebut komunikatif? Bukannya ada banyak aspek yang bisa menandakan siswa komunikatif ataupun tidak. Apakah indikator tersebut benar-benar bisa digunakan untuk menilai apakah siswa komunikatif atau tidak? Apakah memang harus dinilai secara kuantitatif seperti itu?

3) Di bagian indikator (lihat) gambar di kanan tabel, ada indikator karakter bangsa dan kewirausahaan. Apa memang perlu dituliskan dalam RPP? Apa relevan?

Membimbing mahasiswa membuat critical essay

Mata kuliah yang saya ajarkan, sebenarnya juga diajarkan dosen lain. Bisa dikatakan bahwa kelas kami berjalan paralel. Kebijakan di universitas saya mensyaratkan, untuk kelas paralel seperti ini, assessmentnya perlu dibuat semirip mungkin. Tujuannya, agar beban mahasiswa di masing-masing kelas sama. Jadi, setiap kali merancang assessment saya akan berkonsultasi dengan dosen yang satu lagi. Kalau di kelas saya, saya meng-assess dengan menggunakan presentasi, di kelas lain juga harus begitu. Rubriknya pun harus sama. Rubriknya dibuat bersama-sama dengan dosen satu lagi.

Untuk ujian tengah semester, salah satu mata kuliah yang saya ajar, assessment-nya berupa essay. Topiknya terkait apapun yang telah dibahas selama setengah semester ini, diantaranya mengenai perlu tidaknya guru memiliki kemampuan menjelaskan dan memberi contoh di kelas matematika, bagaimana bahasa mempengaruhi pembelajaran matematika, pentingnya membangun diskurs di dalam kelas, dan apa yang membuat sebuah penjelasan dan contoh (untuk mengajar matematika) menjadi baik.

Hari ini, dua orang mahasiswa mendatangi saya untuk konsultasi mengenai critical essay. Saya memulai dengan menanyakan mereka, di antara semua topik yang telah dibahas apa yang paling menarik? Mahasiswa saya yang satu lulusan SMK, dia mengatakan di SMK banyak bahasa yang sangat spesifik dan digunakan di bidang kejuruan dan juga matematika, misalnya 'produk' dan 'eksekusi'. Dia ingin mengeksplor kesulitan yang akan dihadapi saat siswa belajar matematika dalam bahasa Inggris di SMK. Mahasiswa yang lain mengatakan bahwa saat menjalani school experience (praktek mengajar) yang lalu, gurunya mengatakan bahwa sebaiknya kita menggunakan jembatan keledai untuk belajar matematika agar menyenangkan. Menurutnya, siswanya jadi kebingungan mengaitkan satu konsep satu dan lainnya. Setiap ada perbedaan sedikit mereka jadi bingung, misalnya sin (30+60) dan sin (60+30). Intinya mahasiswa saya meragukan pernyataan tersebut. Intinya siswa-siswa menghafalk, bukan memahami.

"Nah itu sudah dapat topik!" kata saya. Saya lalu mengambil selembar kertas A4 dan meminta mereka membuat paragraf pertama. Langsung tancap! Mereka ternyata keasyikan sampai-sampai paragraf pertamanya sangat panjang.

"Panjang sekali paragraf pertamanya?" tanya saya.

"Iya, keasyikan!" kata seorang mahasiswa saya.

Saya membaca kembali paragraf mereka. Lalu bertanya, "Di paragraf ini, apa inti yang ingin kamu sampaikan?"

"Bagaimana memperkuat argumen untuk pernyataanmu?"

"Data-data apa yang perlu dikumpulkan untuk melengkapi argumenmu?"

Setelah itu bersama-sama kami berdiskusi mengenai rencana kerangka tulisan (seharusnya saya memberi mereka waktu merancang sendiri kerangkanya sebelum didiskusikan). Saya juga merekomendasikan beberapa hal yang perlu mereka perdalam untuk memperkuat essay mereka.

Saya juga bercerita mengenai proses yang saya lakukan saat mau membuat tulisan ilmiah, bagaimana saya mencari bahan, melakukan beainstorming kata kunci, lalu membaca untuk menemukan kata kunci baru yang digunakan untuk membaca lagi sebelum selesai menjadi satu tulisan.

Saya juga bercerita mengenai pentingnya sistematika penulisan, terutama saat tes bahasa Inggris tertulis. Seringkali anak-anak Indonesia berpikir tulisannya harus canggih, penuh dengan istilah-istilah 'keren' padahal sistematika berpikir lebih utama. Sederhana! Di paragraf utama ada pernyataan, lalu ada argumen pendukung 1, argumen pendukung 2, dan argumen pendukung 3. Setelah itu masing-masing argumen pendukung diperkuat lagi dalam sebuah paragraf (dilengkapi lebih banyak data pendukung), lalu terakhir kesimpulan. Dengan begitu, biasanya nilai untuk menulis (misalnya di tes TOEFL yang ada menulisnya akan tinggi).

Saya menghabiskan waktu sekitar 1 jam untuk berdiskusi. Seru juga ternyata membimbing mahasiswa membuat essay. Lumayanlah, pengalaman pertama!

Nov 1, 2011

Email untuk Kakak Mentari (Telah diedit)

Arpillera Puti (Tentang dua sekolah) -- Yang di kiri ceritanya itu Maman loh!

Arpillera Anisah


Dear kakak-kakak Mentari,

Tadi saya mampir ke mentari sebentar. Mau ketemu Bu Dewi. Alasan lain saya ke mentari adalah karena saya ingin mengajak Anisah untuk mengikuti workshop Apriella yang diselenggarakan oleh Kuncup Padang Ilalang (KAIL).

Apillera itu seni bercerita menggunakan kain perca. Dulu seni ini digunakan untuk pergerakan di Chile.

Saat Anisah tiba di Mentari, saya melihatnya semakin bersinar. Tambah cantik. Ternyata dia sedang mengandung 4 bulan. Wow 5 bulan lagi kita kakak-kakak sudah jadi kakek dan nenek! (Atau om dan tante biar terlihat lebih muda? Hehehe).

Kita lalu naik angkot ke Galeri Padi, diseberangnya Borma Dago. Di jalan Anisah bercerita tentang les jahitnya. Kelasnya ada tiga. Dasar, Terampil, Mahir. Anisah sekarang ada di kelas Terampil.

"Senang lesnya, setidaknya gak diam di rumah," katanya.

Saat tiba di tempat workshop sudah ada sekitar 40 peserta baik ibu-ibu, anak-anak, maupun bapak-bapak. Pertama, kita diajak melihat karya Arpillera yang sudah jadi dan meresapi perasaan yang kita rasakan saat melihat karya tersebut.

Saat memperkenalkan diri, kita harus menyebutkan nama dan menunjukkan Arpillera yang paling cocok di hati kita dan menceritakan perasaan yang timbul saat meihatnya. Anisah ternyata gak malu-malu memperkenalkan diri. "Saya Anisah, saya suka yang gambar ikan. Bagus, karena terdiri dari ikan-ikan yang berbeda tapi bersatu!"

Kurang lebih begitu kata Anisah. Aku kagum juga mendengar filosofinya.

Setelah itu, langsung praktek deh! Ternyata Anisah senang sekali berkarya. Gak salah deh ngajakin Anisah. Walau awalnya sempat bingung, lama-lama dia asyik bekerja, "Asyik yah kalau ngajak anak-anak mentari buat begini," katanya.

Waktu workshop hanya dua jam. Banyak karya yang belum selesai. Masih berjarum pentul, belum dijahit. Biar saja, semuanya disusun rapi berjejer. Kami melakukan evaluasi mengenai kesulitan kami saat membuatnya.

Fasilitator yang bernama Hunk, yang datang jauh-jauh dari Bogor memberi tips teknis mengenai bagaimana proses menjahit Apriella bisa menjadi lebih mudah. Kita juga menyepakati jadwal pertemuan berikutnya. Jahitan harus diselesaikan sebagai PR di rumah. Tanggal 27 kita akan berkumpul kembali, menceritakan karya, nonton film tentang sejarah Apriella dan membuat karya Apriella kedua.

"Ibu ikut lagi kan?" tanya Anisah, "Anisah senang (belajar) beginian"

"Iya," kataku,"Nanti kita bareng-bareng yah!"