Jul 19, 2014

Pengalaman Panjang Belajar kembali (Re-Learning) tentang hak Asasi Manusia

Beberapa waktu yang lalu, Mas Andi Achdian (sejarawan)sempat menceritakan bahwa dia dan beberapa sejarawan yang lain sedang membantu Mbak Suciwati Munir untuk mendirikan Omah Munir di Malang. Tempat itu akan sekaligus dijadikan museum Hak Asasi Manusia (HAM), sehingga bisa digunakan untuk mengenalkan HAM kepada masyarakat, termasuk juga kepada anak-anak.

Mas Andi mengajak saya berdialog untuk membahas rencananya tersebut. Salah satu pertanyaan yang diajukan oleh Mas Andi adalah mengenai bagaimana mengajarkan HAM kepada anak-anak? Saat membahas HAM, kadang ada beberapa cerita mengerikan, misalnya terkait penculikan, pembunuhan dan sebagainya. Misalnya, kisah  Munir sendiri pun mengerikan. Dia diracun ketika menaiki pesawat Garuda Indonesia.

Pertanyaan, Mas Andi tersebut merupakan langkah awal saya mulai belajar kembali (re-learning) mengenai HAM.

Ketika sedang mengunjungi, SD Kembang, Jakarta saya sempat mengajukan ulang pertanyaan Mas Andi terkait mengajarkan HAM kepada anak-anak kepada Ibu Lestia, kepala sekolah SD Kembang. Bu Lestia menceritakan bahwa di sekolahnya anak-anak diperkenalkan mengenai isu-isu HAM dimulai dengan hal yang dekat dengan anak-anak. Misalnya mengenai pekerja anak. Jadi bukan dari isu-isu yang terlalu jauh dengan anak. Ide tersebut merupakan ide yang bagus, saya selalu percaya bahwa proses ketika mengajak siswa mempelajari sesuatu, we should start where the students are, kita harus mulai dari mana siswa berada.

Lalu, saya sempat diajak untuk ikut rapat bersama beberapa sejarawan yang sedang mendesain Omah Munir. Itu pertama kalinya saya melihat sejarawan bekerja, membahas bagaimana caranya mengumpulkan data dan menampilkan data untuk museum. Saya lupa ada berapa orang sejarawan di sana, yang jelas usia sejarawan-sejarawan tersebut bervariasi. Itu merupakan rapat lintas generasi. Dalam pertemuan tersebut saya juga mengajak Mbak Danti, guru Semi Palar yang kebetulan sedang ke Jakarta. Mbak Danti dan saya diminta untuk memberikan masukan terkait child's corner yang rencananya akan ada di Omah Munir.

Mas Andi juga sempat mengirimkan saya sebuah video animasi yang dibuat oleh Omah Munir mengenai Hak Asasi Manusia. Videonya tidak sampai 4 menit dan merupakan bahan yang bagus untuk belajar. Video tersebut dapat dilihat di sini:



Dari sana saya belajar mengenali kembali beberapa HAM. Pembelajaran pun berlanjut. Sekitar sebulan lalu, saya bertemu dengan Mas Andi dan Pak Sopyan Maolana Kosasih (guru PKn di sebuah SMP di Bogor).
Kami berdialog tentang pendidikan HAM. 

Nah, ternyata ada hal yang baru dan mendasar terkait HAM, yang tidak saya pahami sebelumnya. Saat berdialog dengan Mas Andi dan Pak Sopyan saya baru tahu perbedaan antara tindak kriminal dan pelanggaran HAM.

Jadi misalnya seseorang dibunuh, itu belum tentu pelanggaran HAM. Itu bisa jadi tindak kriminal biasa. Pembunuhan dikatakan sebagai pelanggaran HAM ketika pembunuhan tersebut dibiarkan oleh negara atau dilakukan secara sistematis oleh institusi negara.

Salah satu contoh pelanggaran HAM misalnya ketika ada kebijakan/regulasi resmi dari pemerintah untuk melarang siswa-siswa yang bertato untuk sekolah. Kalau ada regulasi baik dari dinas pendidikan kabupaten/kota, provinsi, maupun Kemendikbud yang melarang siswa bertato maka itu merupakan pelanggaran HAM.  Pendidikan adalah salah satu HAM, sehingga siapapun umat manusia, harus boleh memperoleh pendidikan, termasuk mereka yang bertato.

Pak Sopyan juga sempat menceritakan tujuannya mengajarkan HAM di sekolah. Selain mengajarkan siswanya untuk mengenali hak-haknya dan hak orang lain, ada tujuan yang lain lagi. Siswanya diajarkan mengenai HAM agar mereka tahu bagaimana harus bertindak ketika HAM mereka atau HAM orang lain dilanggar. Apa saja yang harus diperbuat? Lembaga apa saja yang harus didatangi? Bagaimana caranya memperjuangkan HAM?

Di awal bulan Ramadhan, Mas Andi, juga sempat mengundang saya untuk menghadiri kegiatan "Ramadhan & Human Rights Lecture Melawan Lupa". Di kegiatan tersebut saya belajar banyak tentang HAM. Dalam kegiatan tersebut saya membeli sebuah Novel Grafis mengenai Munir. Dari sana saya belajar lebih banyak lagi tentang kehidupan Munir. Bukunya tampilannya sederhana dan mudah dibaca. Rasanya cocok dibaca oleh siswa-siswa SMA.
Novel Grafis "Munir"
Sumber gambar: https://pbs.twimg.com/media/Brm2JFyCcAAxKm4.jpg:large

Dalam kegiatan  "Ramadhan & Human Rights Lecture Melawan Lupa" ada beberapa kegiatan. Ada penampilan dari Glenn Fredly, juga dari Fajar Merah (putra dari Wiji  Thukul), dan pembacaan puisi oleh Fitri (putri dari Wiji Thukul), juga oleh  Difa (putri dari Munir). Penampilan Fajar, Fitri, mauun Difa membuat hati saya bergetar. Mereka kehilangan orang tua karena orang tua mereka diperlakukan secara tidak adil tapi entah bagaimana saya merasa bahwa mereka memperjuangkan nilai-nilai keadilan yang ditanamkan oleh orang tua mereka. Orang tua mereka hilang, tapi semangat perjuangannya tidak.

Selain itu juga ada ceramah yang disampaikan oleh pihak Kementerian Agama dan juga oleh Karlina Supeli.  Yang menarik adalah ketika Karlina Supeli mengingatkan bahwa tepat seminggu sebelum acara  dilaksanakan,  teman-teman pejuang HAM sudah melakukan Aksi Kamisan selama 357 kali. Sudah tahun ke-8, mereka berdiri dengan baju hitam dan payung hitam di depan Semanggi untuk menuntut keadilan bagi korban-korban yang hilang. Lama sekali yah perjuangan mereka? Meskipun begitu, sampai sekarang mereka belum memperoleh kepastian hukum mengenai kasus pelanggaran HAM di masa lalu. Karlina Supeli pun membacakan sebagian dari surat yang ditulis oleh para perjuang aksi Kamisan.

Menutur Karlina, tujuan kenapa pejuang HAM terus memperjuangkan keadilan bukan sekadar untuk menghukum orang yang melanggar HAM, tapi agar kita, sebagai bangsa Indonesia bisa belajar dari sejarah. Apa yang menyebabkan pelanggaran HAM? Institusi apa yang terlibat? Bagaimana pelanggaran itu terjadi? Tanpa mengetahui hal-hal tersebut, akan sulit bagi kita untuk menghilangkan aksi pelanggaran HAM. Agar kejadian yang sama tidak terulang, kita perlu belajar dari pengalaman-pengalaman di masa lalu. Terkait penyelesaian hukum masalah HAM di Indonesia, beliau mengatakan, "Tujuan hukum itu melampaui hukum itu sendiri".  Ketika hukum ditegakkan, kita bisa belajar bagaimana, kapan, dan kenapa hak asasi manusia tersebut dikhianati.

Itu adalah sekilas cerita saya belajar kembali mengenai HAM. Perjalanan belajar itu masih akan terus berlanjut. Semoga!

Ketika Dikontak oleh Dosen Pembimbing

Kemarin, tiba-tiba di message Linkedin saya, ada sebuah pesan. Ternyata yang mengontak saya adalah Laurinda Brown,dosen pembimbing saya ketika saya melanjutkan sekolah di University of Bristol. Dia menanyakan kabar saya. Saya sampai malu, karena saya dikontak oleh dosen saya dulu bukannya saya, siswanya yang mengontaknya terlebih dahulu. Katanya dia tersentuh membaca cerita saya. Saya kurang tahu cerita mana yang dimaksud tapi mungkin maksudnya adalah cerita yang saya tulis untuk University of Bristol Graduate School of Education Centenary Stories

Ceritanya, kampus saya dulu, tepatnya University of Bristol Graduate School of Education-nya berulangtahun yang ke-100. Salah satu programnya adalah meminta alumni-alumninya yang tersebar di berbagai belahan dunia untuk menulis. Tentang apa? Tentang pengalaman belajarnya di Bristol, tentang orang yang berjasa selama kita belajar di sana (saya menuliskan bahwa salah satu orang yang berjasa bagi saya adalah Laudrinda Brown), tentang pencapaian yang telah dicapai, dan tentang bagaimana pengalaman belajar di sana mempengaruhi pencapaian-pencapaian tersebut.  Tulisan saya untuk program ini bisa dibaca di sini :

http://100stories.edn.bris.ac.uk/education/centenary/stories/story/seeing-my-students-develop-t/10/

Jul 14, 2014

[TERJEMAHAN] Apa yang dikatakan 4 orang guru kepada Obama saat makan siang

* diterjemahkan dari “What 4 teachers told Obama over lunch”  oleh Valerie Strauss,

10 Juli 2014

http://www.washingtonpost.com/blogs/answer-sheet/wp/2014/07/10/what-4-teachers-told-obama-over-lunch/?tid=pm_local_pop

  

Diterjemahkan oleh: Dhitta Puti Sarasvati (setelah membaca posting tulisan ini di wall Pak Lody F. Paat)



President Obama makan siang bersama Sekretaris Penddikan Arne Duncan dan empat orang guru untuk berbincang-bincang tentang pendidikan, proses mengajar, dan reformasi sekolah. Yang dikatakan oleh guru-guru kepada Obama akan dijelaskan dalam posting berkut yang ditulis oleh Justin Minkel, Guru Terbaik Arkansas tahun 2007, komite dari the National Network of State Teachers of the Year (Jaringan Guru Terbaik Tahunan Negara Bagian), dan anggota dari Center for Teaching Quality’s Collaboratory.

Dia menulis dua blog, Teaching for Triumph dan Career Teacher. Silakan ikuti dia di Twitter:  @JustinMinkel
 ---
Oleh: Justin Minkel

President Obama biasanya dideskripsikan sebagai pembicara yang ulung. Minggu ini saya belajar bahwa dia adalah pendengar yang ulung juga.

Meja di West Wing telah disiapkan untuk enam orang: Bapak presiden,  Sekretaris Pendidikan Arne Duncan, dan empat orang guru. Pembicaraan yang berlangsung selama 1 jam tersebut serius tapi santai. Keempat orang guru yang diundang telah mengajar di sekolah yang sangat miskin selama lebih dari satu dekade, dan Bapak Presiden menanyakan kepada kami beberapa pertanyaan yang ada dalam pikirannya karena mengharapkan jawaban dari kami.

Presiden ingin tahu: Kenapa kami bertahan di sekolah-sekolah tempat kami mengajar? Apa yang bisa dilakukannya bersama dengan sekretaris pendidikan untuk mendukung guru di sekolah-sekolah yang paling membutuhkan dukungan? Kebijakan apa yang bisa memastikan bahwa siswa yang paling membutuhkan guru yang berkualitas, bisa dapat kesempatan belajar dari mereka.

Ini yang kami katakana kepadanya:


1. Tidak ada yang salah dengan anak-anak
Saya bertanya pada Dwight Davis, guru kelas lima keturunan Afrika-Amerika yang dibesarkan di Washington, D.C., mengapa dia bertahan mengajar. Dia tidak berkata, “Demi anak-anak dan keluarga anak-anak”.

Kami bercerita mengenai siswa-siswa kami kepada presiden. Saya menceritakan mengenai Cesar, siswa kelas dua yang memenangkan 10 USD dalam sebuah juara menulis.  Ketika saya tanyakan kepadana, uang kemenangannya mau digunakan untuk apa, dia berkata, “ Saya akan memberikan ini pada ibuku untuk membantunya membeli makanan untuk keluarga kami.”

Kepada presiden, saya ceritakan tentang Melissa, siswa kelas dua yang menjadi satu-satunya orang literate (bisa memaknai bacaan) di keluarganya berkat kegiatan home library project dan  support yang cukup banyak dari sekolah. Ketika kami sedang membaca bersama suatu hari, Melissa mengatakan padaku, “Sekarang ketika ibuku dan adik perempuanku dan saya sedang menonton televisi mereka berkata ‘Melissa, tolong matikan televisinya dan bacakan sesuatu untuk kami’ jadi saya membaca untuk mereka”

Siswa seperti Melissa dan Cesar, yang masuk ke dalam kelas dengan tantangan yang lebih besar daripada siswa-siswa yang lebih berada, bukanlah halangan bagi guru yang terampil untuk mengajar di sekolah-sekolah miskin. Mereka justru menjadi motivasi.

2. “Tanggung jawab dan kesenangan bisa berjalan beriringan.”
Program The No Child Left Behind masih berefek buruk pada sistem pendidikan di setiap tingkat. Kreativitas, rasa ingin tahu, dan keinginan untuk bereksplorasi telah dihilangkan dari pengalaman siswa di sekolah, khususnya di sekolah yang siswanya kondisinya sulit, sekadar demi habis-habisan meningkatkan nilai tes.

Dibandingkan menjadi tempat belajar sastra, tempat melakukan percobaan-percobaan sains, melakukan tantangan mendesain sesuatu, siswa di sekolah justru menerima kurikulum yang kaku, buku-buku persiapan ujian, dan lembar-lembar kerja (latihan soal).  Kekakuan tersebut meghasilkan pekerjaan yang membosankan dan tak bermakna.

Guru-guru yang saya kenal sebenarnya sangat ingin bekerja keras demi siswa-siswa seperti Cesar dan Melissa. Tapi mereka tidak tertarik untuk bekerja di kelas-kelas yang steril, minim karya sastra dan seni, kelas yang minim proses membangun kemampuan berpikir kritis demi men-drill  siswa mengenai mana diantara satu diantara empat bola yang harus dipilih (red: soal latihan mengenai peluang di matematika). Rendahnya kualitas soal ujian, sebenarnya tidak penting mana bola yang dipilih. Testing yang sangat rendah kualitas desainnya tidak akan memberikan para siswa wawasan yang lebih luas, keterampilan untuk sukses di perguruan tinggi dan bekerja, ataupun memberikan mereka kesempatan untuk hidup secara bermakna.

Seorang penulis bernama Philip Pullman berkata “Tanggung jawab dan kesenangan bisa berjalan beriringan – dan kalau kita mau guru-guru yang terampil untuk mengajar di sekolah-sekolah yang sangat miskin – kita harus kembali menciptakan mereka kesenangan itu (red: menciptakan kesenangan untuk belajar secara bermakna, tidak semata-mata demi ujian yang rendah kualitasnya)

3. Ini bukan tentang guru yang baik ataupun guru yang buruk. Ini tentang pengajaran yang baik dan pengajaran yang buruk.
Guru-guru di sekolah saya kini jauh lebih baik daripada ketika kami masih mengajar 5 tahun yang lalu. Alasannya sederhana: Kami bekerja dengan prinsip-prinsip dasar kami untuk mendesain budaya kolaborasi, inovasi, dan  membiasakan peer observation (observasi teman sejawat), waktu yang kita miliki bersama di sekolah selalu diisi dengan  pengembangan profesional .

Kamu tidak akan pernah mendengar seorang guru mengatakan pada siswanya, “ Dia adalah pembelajar yang buruk – kita butuh mengeluarkannya (dari sekolah).” Tapi, biasanya itu yang biasanya jadi solusi ketika para reformers  dari luar sekolah lakukan ketika menghadapi “guru yang buruk”.

Ada sebagian  guru yang tidak bisa atau tidak akan menjadi lebih baik – tapi mereka adalah sebagian kecil dari guru-guru yang ada. Kalau kita memberikan kegiatan mentoring, waktu untuk melakukan kolaborasi, dan pengembangan profesi yang terkait dengan profesi mereka, kebanyakan guru akan meningkat kapasitasnya. Kebanyakan orang ingin menjadi lebih baik dalam apa yang mereka kerjakan. Biasanya itu benar khususnya bagi orang-orang yang memilih berprofesi untuk bekerja bersama anak-anak.

Saya bukanlah guru yang baik ketika saya mulai mengajar, dan kini pun saya belum menjadi guru yang saya idamkan 5 tahun mendatang.  Saya telah menjadi lebih baik dari sebelumnya,  sama seperti halnya orang lain – baik para dokter, pilot, bahkan presiden – semuanya makin lama makin baik dalam profesinya: melalui kegiatan refleksi, kolaborasi, dan mentoring.

Iya, benar bahwa kita ingin merekruit guru-guru baru yang bisa berjalan masuk kelas dengan potensi kegigihan yang tinggi, kecerdasan, dan cinta kasih. Tapi kita tidak perlu menukar semua guru yang buruk dan biasa-biasa saja dengan guru tang lebih baik, sama seperti halnya kita tidak perlu menukar siswa-siswa kita yang ‘perlu berjuang’ dengan siswa-siswa yang lebih cerdas. Yang perlu kita lakukan adalah membangun sistem untuk mendukung setiap guru sehingga mereka mau bekerja keras untuk beralih dari biasa-biasa saja menjadi lebih kompeten, dari yang kompeten menjadi lebih sempurna, dan bahkan melebih itu.

4. Kalau kita mau siswa kita untuk bisa berinovasi, berkolaborasi, menyelesaikan masalah-masalah riil di dunia, kita perlu memberikan guru kesempatan untuk melakukan hal yang sama
Sistem yang kita ciptakan untuk guru memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap kelas yang kita desain untuk siswa. Guru telah lama dipandang sebagai seorang konsumen dari kebijakan-kebijakan, program pembembangan  profesional, kurikulum, riset, padahal kita seharusnya menjadi rekan yang sama-sama menciptakan itu semua.

Kondisi kerja yang paling diimpikan oleh guru-guru Generasi X dan Y justru terkait dengan hal-hal yang tidak langsung terlihat seperti otonomi untuk mengambil keputusan sendiri, waktu untuk melakukan kolaborasi, dan kesempatan untuk melakukan inovasi.

Kurikukum yang kaku, persiapan-persiapan ujian, dan micro-management  adalah lebalikan dari budaya sekolah yang ingin dibanguntersebut, dan mereka punya pengaruh yang ironis terhadap baik terhadap recruitmen guru baru dan mempertahankan guru-guru yang lama.

Berita yang memberikan harapan baik adalah bahwa kita bisa menciptakan kondisi-kondisi yang sempurna di sekolah-sekolah miskin. Kondisi tersebut benar-benar ada di mana saya mengajar: Sekolah Dasar Jones, sebuah sekolah dengan 99% siswa miskin dan turnover guru 0%.

Setiap tahun kami menerima siswa-siswa yang masuk dalam keadaan marah, tidak punya rasa hormat, dan malu terhadap kesulitan mereka dalam belajar. Siswa-siswa yang sama ini menjadi akademisi yang perhatian, penuh kasih sayang begitu mereka menerima apa yang benar-benar mereka butuhkan, rasa percaya pada guru-guru mereka.

Tidak ada yang salah dengan siswa-siswa ini. Ada begitu banyak yang salah dengan sistem – tapi tidak ada yang sebenarnya tidak bisa diubah. Inovasi seorang guru di dalam kelas tidak akan bisa mengobati semua penyakit yang ada di dalam sistem. Tapi bagaimanapun, itu adalah cara yang sangat baik untuk mulai. Hal terakhir yang disampaikan oleh presiden kepada kami adalah, “Kaliam semua membuatku merasa ada harapan.” Presiden Obama, anda juga membuat kami merasa ada harapan juga.