Aug 12, 2009

sharing tulisan yang berkesan

Saya hari ini membaca buku yang bagus sekali (menurut saya), judulnya Voices in a Seashell: Education Culture and Identity

Ada satu potongan yang sangat berkesan di hati saya, menyangkut pentingnya identitas kultural yang mengingatkan saya akan salah satu falsafah pendidikan di INS Kayu Tanam, Sumatra Barat : Jadilah engkau jadi engkau. Sekolah mengasah kecerdasan akal budi murid, bukan membentuk manusia lain. (http://iti-ins.com/moduls.php?op=sis_article&category_id=255&article_id=96))

Saya ingin berbagi potongan tulisan yang berkesan bagi saya. Tulisan ini dibuat oleh Sir Geffrey A. Henry, Perdana Menteri Cook Island. Semoga bermanfaat. :)
---

Education is in fact, just one component of the culture of the community. That education should be "for culture" is like saying a fish's tail is "for the fish", the horse's hoof is for the horse. Surely each serves a purpose.

.... I assure you that we are not suggesting that our schools abandon western education in favor of returning it to ancient ways. What we seek, istead is balance. Let me explain why. Culture is identity and identity is pride. When I was sent away to New Zealand for schooling I found myself an alien in a foreign land. I was strange to some of my school mates and can remember being called a "heathen" and a "canibal" and, for a time treated less than equal.

Some Cook Islands students, in the same circumstances, became despondent, failed and returned home. I knew who I was. I admired my parents, remembered my grandparents and knew with pride of the greatness of my ancestors. They all gave me the courage to stay. I did, and today when I travel and meet leaders elsewhere or when they come here, it is always on an even basis. Even the barest smattering of my own culture has endowed me with stregths that I needed then, that I still need.

Even so I feel culturally deprived. Because I was away in western schools, I missed crucial years with my father who was a man steeped in traditional values. He raised sixteen children and all of them survived because he knew what to plant and when to plant, when to fish and where to fish. He timed his activitied with the phases of the moon and made judgements on wind and tide. He never purchased fertilisers but used local rubbish and nartural materials for organic farming of a kind that is just being discovered by developed countries. It didn't seem so important to me when i was a twelve-years-old lad but now I yearn for the traditional knowledge that he could have passed on and feel poverty-stricken without.

I yearn for it and so do others. Since we are aware of our loss, we owe it to our children to gain what we did not. I do not mean that we should cling to the glories of the past. No. Every generation, every nation, must look for new glories. But what is the best way to achieve tese? The answer, learned in the University of Life, is in balance. Thus, I do not propose that we should return to our cultural past to stay there, but to learn and to discover ourselves in order that we may better meet the challenges of today and tomorrow.

Sedikit pembahasan saya setelah membaca potongan ini:

Bagi saya potongan ini indah sekali. Konsep balance atau kesetimbangan merupakan salah satu konsep favorit saya, baik saat belajar fisika, maupun dalam setiap aspek kehidupan. Tak bisa dipungkiri, banyak sekali ilmu-ilmu sekolahan, termasuk yang saya pelajari yang berasal dari barat. Saya pun tidak anti dengan hal ini. Ilmu bisa dipelajari dari mana saja. Tapi saya sangat menggelisahkan (semoga tidak sampai kejadian yah), anak-anak yang mulai tercerabut dari akar budayanya sendiri, budaya Indonesia. Geffry, sang penulis, dalam konteksnya di Cook Island menyatakan ketika ia belajar ilmu-ilmu barat di New Zealand, ia sebenarnya kehilangan salah satu kesempatan belajar yang cangat berharga. Ilmu dari ayahnya, tentang bertanam, mencari ikan, membuat pupuk sendiri, menentukan waktu bertanam (dan mencari ikan) dari fase bulan, dan pengambilan keputusan berdasarkan tinggi rendahnya ombak. Geffry menyadari betapa bernilainya pengetahuan yang dimiliki ayahnya, pengetahuan lokal. Bahkan ia menyebutkan mengenai pembuatan pupuk organik, dari sampah, yang sudah dilakukan oleh orang-orang di Cook Island selama bertahun-tahun baru muali dikembangkan oleh negara maju. Saya pun, mungkin termasuk salah satu orang yang tidak sempat belajar mengenai kekayaan berbagai pengetahuan lokal yang dimiliki oleh leluhur bangsa Indonesia. Tapi saya menaruh penghargaan yang sangat tinggi terhadap pengetahuan-pengetahuan ini. Setiap kali ada kesempatan, dengan senang hati saya akan belajar. Geffry juga menekankan bahwa ia tidak anti terhadap ilmu-ilmu dari luar, hanya saja, ketika balance ini tidak ada (tentu saja kini kita banyak didominasi oleh budaya-budaya di luar kita) kita akan kehilangan akar, kehilangan sesuatu yang sangat penting, kita akan asing terhadap budaya sendiri.

Hal lain yang yang ditekankan Geffry dalam tulisan ini adalah mengenai pentingnya mengenal diri sendiri. Ini mirip dengan sebuah quote dalam film Persepolis (2007), yang sangat berkesan bagi saya "Never forget who you are and where you're from". Sewaktu Geffry belajar ke Zealand dan banyak yang mengejeknya. Di zaman ia sekolah (mungkin sampai sekarang), orang-orang yang berbeda seringkali didiskriminasi dan diperlakukan secara tidak adil. Hanya saja, karena Geffry sangat bangga dengan asal usulnya, dengan orang tuanya, kakeknya, neneknya, dan luluhurnya di Cook Island celaan tidak menjadi masalah. Ia mengenali keunggulan budayanya. Saat orang lain mengatakan hal buruk tentang asal-usulnya, ia lebih tahu mengenai budayanya sendiri lebih dari siapapun sehingga tak ada yang bisa mengoyahkannya untuk jatuh. Ia bertahan untuk belajar dalam tekanan karena ia mengenai siapa dirinya. Poin-poin mengenai balance, kearifan lokal, termasuk di dalamnya pengetahuan lokal, dan pentingnya mengenal diri sendiri, sungguh membuat tulisan ini istimewa bagi saya. Bagaimana dengan anda?

Sumber: Voices in a Seashell: Education Culture and Identity
Ed. Bob Teasdale and Jennie Teasdale, UNESCO, 1992