Apr 24, 2014

Cerita Mengajar Matakuliah Mengenai Teknik Bertanya di Kelas



Sekitar tiga tahun  terakhir ini saya diberi kesempatan untuk mengajar mengenai teknik bertanya di dalam kelas. Awalnya, mengajar mata kuliah ini cukup sulit bagi saya karena saya juga merasa kemampuan bertanya saya pas-pasan. Bagaimana caranya mengajukan pertanyaan yang mampu membuat siswa berpikir, berdialog, dan aktif di dalam kelas? Ini butuh keterampilan tersendiri. Selain tahu teori, memang kita harus berlatih untuk bertanya. Akhirnya saya anggap kesempatan mengajar mata kuliah ini sebagai kesempatan belajar juga.

Ada beberapa teori terkait teknik bertanya di dalam kelas. Biasanya di awal semester saya mulai dengan mengenalkan siswa saya dengan Socratic Questioning. Di kelas kami mendiskusikan potongan dialog yang ada dalam naskah "The Meno" karya Plato (380 BCE)

Di dalam naskah tersebut, terlihat bagaimana Socrates menggunakan pertanyaan yang mampu memancing lawan bicaranya untuk berpikir sendiri. Untuk mengenalkan suatu konsep baru, Socrates lebih banyak mengajukan pertanyaan, bukan menjelaskan.

Tujuan saya mengenalkan socratic questioning di awal adalah agar calon guru (mahasiswa)  punya bayangan bahwa mengajar melalui pertanyaan itu bisa dilakukan. Bahwa mengajar dengan memperbanyak pertanyaan, bukan penjelasan pun bisa dilakukan.

Apakah mereka harus seperti itu? Tidak juga. Itu pilihan mereka sendiri. Yang penting mereka tahu bahwa ada cara mengajar yang lain dari yang biasa mereka kenal selama ini.

Namun, saya menyadari,  kita bukan Socrates. Socrates adalah seorang filsuf yang memang menghabiskan hidupnya untuk bertanya. Dengan kata lain jam terbang Socrates untuk 'berlatih'  bertanya sudah sangat tinggi sampai bertanya merupakan bagian tak terpisahkan dari dirinya.

Tentu saja tidak adil untuk mengharapkan calon guru untuk bisa bertanya seperti apa yang Socrates lakukan hanya dalam satu semester, saya pun belum bisa. Setidaknya, mereka punya bayangan bahwa "mengajar melalui pertanyaan" bisa dilakukan. Dengan punya bayangan bahwa itu bisa dilakukan, saya berharap mereka mau berlatih sehingga meningkatkan kemampuan bertanyanya dengan sungguh-sungguh.

Salah satu target saya dalam matakuliah ini adalah membuat calon guru menyadari pentingnya bertanya di dalam kelas. Saya juga ingin, di kemudian hari, saat mereka menyiapkan kelas untuk mengajar mereka senantiasa menyiapkan pertanyaan yang akan diajukan pada siswa. Di sisi lain, saya juga ingin calon guru punya fleksibilitas, sehingga bisa menyesuaikan diri dengan kondisi di kelas. Bagaimanakah caranya mereka merespon jawaban-jawaban atau pertanyaan-pertanyaan siswa yang tidak mereka sangka akan diajukan? Bagaimana kalau ketika mereka bertanya, tak ada satupun siswa yang menjawab pertanyaan? Bagaimana caranya mengajukan pertanyaan sehingga seluruh kelas, bukan hanya sebagian kecil, bisa berpartisipasi dalam dialog dalam kelas? Saya ingin para calon guru, setidaknya bisa merefleksikan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan semacam itu.

Selama satu semester, kelas ini  banyak diisi dengan diskusi, kegiatan menganalisis contoh pertanyaan (baik lisan maupun tertulis), berlatih membuat pertanyaan, dan latihan mengajar menggunakan pertanyaan. Tapi yang paling seru adalah kegiatan di akhir semester.

Setengah semester terakhir, saya meminta calon guru untuk berkelompok (bertiga-tiga atau berdua-dua). Mereka harus mencari 1 orang anak atau lebih untuk diajarkan sesuatu. Bertiga, mereka menyiapkan kegiatan untuk anak. Durasi kegiatan belajar minimal 20 menit. Satu orang harus mengajar anak (atau sekelompok anak). Mengajarnya harus melalui kegiatan bertanya  (dan meminimalisir penjelasan). 2 orang calon guru yang lain melakukan observasi sekaligus membuat transkrip yang berisikan dialog antara calon guru dan anak. Setiap pertanyaan dan respon anak dicatat dengan sedetil mungkin. Hasil akhirnya berupa transkrip dialog (mirip dengan naskah The Meno dengan skala yang lebih kecil).

Setelahnya mereka saya minta menuliskan refleksi mengenai proses belajar mengajar. Saya telah menyiapkan sejumlah pertanyaan yang harus mereka jawab dalam refleksinya. Bersama teman sekelompoknya, mereka mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Contoh pertanyaan yang diajukan semacam:

  • Pertanyaan apa yang diajukan saat pertama kali mulai mengajar? Bagaimana reaksi siswa? Apakah pertanyaan tersebut tepat untuk diatanyakan di awal kelas? Kenapa? Apakah ada saran untuk perbaikan sehingga pertanyaan tersebut bisa lebih baik?
  • Apakah dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan ada mampu merangsang siswa untuk berpikir? Pertanyaan-pertanyaan seperti apa?

Masih ada banyak pertanyaan lagi yang harus mereka jawab bersama. Baik transkrip dan refleksi yang mereka buat saya jadikan salah satu bentuk assessment.

Setelahnya, secara bergantian, masing-masing kelompok mengadakan socratic seminar (lihat:https://www.schooltube.com/video/c1b57ba2f8b6055ca395/)  untuk membahas transkrip yang mereka buat. Sebelumnya, saya telah memutarkan sebuah video yang mencontohkan bagaimana mengadakan socratic seminar di dalam kelas, yakni:




Tujuan pemutaran video ini adalah agar mereka punya bayangan bagaimana socratic seminar bisa dilakukan.

Setiap kali socratic seminar diadakan, kelas dibentuk seperti lingkaran. Kelompok yang maju bertanggung jawab untuk menyebarluaskan  transkrip yang telah mereka buat pada teman-teman sekelasnya.

Selama 20 menit masing-masing kelompok  mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada  teman-teman sekelasnya. Pertanyaan-pertanyaan ini bertujuan untuk memancing diskusi mengenai transkrip yang mereka buat. Sesama teman mereka saling memuji, mengkritik, memberi masukan, membahas kekurangan, dan kelebihan dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan saat praktek mengajar. Mereka juga membahas respon siswa terhadap pertanyaan, membuat analisa kenapa siswa memberi respon tertentu, dan sebagainya. Ketika calon guru terampil dalam mengajukan pertanyaan, biasanya diskusi semakin hidup.

Kegiatan socratic seminar yang saya lakukan terakhir ini saya pelajari dari seorang teman yang pernah belajar fotografi. Dia bercerita kepada saya bahwa dia pernah belajar fotografi dari dua orang guru. Yang pertama mengajarkannya banyak mengenai teknik pencahayaan dan berbagai teknik-teknik fotografi lainnya. Sedangkan yang satu memintanya untuk berkarya, menghasilkan sebuah foto, lalu teman-teman pembelajar fotografi yang lainnya harus mengajukan pertanyaan, bediskusi, dan  mengkritik foto yang dihasilkan. Kata teman saya, proses belajar yang terakhir ini yang sangat berpengaruh terhadap dirinya ketika menekuni fotografi.

Ide tentang kegiatan mengkritisi transkrip mengajar diinspirasi oleh cerita teman saya yang belajar fotografi tersebut, meskipun akhirnya saya tetap memodifikasi kelas sesuai kebutuhan calon guru. Namun saya berharap, kegiatan tersebut berkesan di hati  calon guru dan mudah-mudah punya pengaruh saat calon guru benar-benar menjadi guru di kemudian hari. Semoga!