Jan 17, 2011

Belated Birthday Present

Untuk : Kandi Sekarwulan

Di bawah bintang dan bulan
Kau petik gitarmu
Dengan nada lembut mengalun

Aku tersihir harmoni merdu malam berbintang
Tak tahan mendiamkan pita suara
Hilangkan resah dengan irama-irama yang tak asing
Membangkitkan memori ketika keindahan merasuk ke dalam hati

Kapan kau belajar memetik gitar sahabatku?
Rasanya baru kemarin aku mengenalmu
Badai air yang menggetarkan bumi
Menyatukan kita di sini

Kau selalu ingin mencintai hidup
Hidup 100 %, katamu

Senyummu merekah
Melihat calon generasi baru tunjukkan peduli
Dan tumbuh jauh lebih kreatif dari yang kau bayangkan
Kau satu yang menyinari mereka dengan hangat kasihmu

Terima kasih..
Biar kita bernyanyi
Menikmati kembah, bulan, bintang, dan angin malam
Sambil berdendang
Du.. du.. du.. du...

20 Juni 2010
Setelah pesta di rumah Sano sambil bernanyi di atas pagar

Meniru orang dewasa

Gara-gara sahabat saya Arfah, saya diperkenalkan ke Ingrid Micaelson. "Liriknya lucu-lucu," katanya.

"I will live my life as a lobsterman's wife on an island in the blue bay."
"I will bear three girls all with strawberry curls."

Hahaha dan memang saya ternyata menyukai lagu-lagunya. Tapi saat saya mencoba mendengarkan lagu, "Be OK," saya menemukan video ini http://www.youtube.com/watch?v=gINtHqwjr2M&feature=related

Di sana ada muka beberapa orang yang mukanya dituliskan kata "Be OK" menggunakan spidol. Ada juga orang yang mukanya ditempeli huruf-huruf dari kertas yang tulisannya, "Be OK". Saya langsung teringat kejadian di masa kecil saya.

Ntah meniru dari siapa, mungkin melihat televisi, atau orang dewasa, saya ingin mewarnai kelopak mata saya. Saya dulu tidak kenal istilah eye shadow. Yang saya tahu orang dewasa mewarnai matanya dengan warna lain yang cantik. Otomatis saya mengambil spidol dan mewarnai kelopak mata saya. Mungkin tak cocok dengan zat kimia yang ada di spidol, atau memang kulit saya yang sensitif, saya menangis karena ternyata rasanya perih. Ibu saya,kalau tidak salah berucap, "Astaga!" mengambil kapas dan mungkin sejenis cairan pembersih muka berusaha membersihkan kelopak mata saya. Heboh! Hahaha!

Jan 16, 2011

Sekilas mengenai “Workshop Learning Society and Environment”

Saya kaget. Seorang guru protes karena kami tidak menyediakan semacam CD interaktif untuk belajar IPS saat workshop Learning Society and Environment (IGI), Sabtu 15 Januari 2011 lalu. Ia ingin ada pembelajaran ICT, games [komputer] mengenai pembelajaran IPS yang akan membuat kelas menjadi lebih menarik.

Rasanya gemas. Kalau saja saat itu saya tidak sedang sibuk mengurusi beberapa hal teknis terkait pelatihan (saat itu sedang sedikit hektik), ingin saya katakana bahwa tanpa ICT pun kita tetap bisa belajar IPS. Jikapun kita tetap ingin menggunakan ICT, ada berbagai cara yang bisa dilakukan, bukan hanya dengan menggunakan CD interaktif saja. Kita bisa melakukan eksplorasi dari berbagai kondisi (sosial) di sekitar kita lalu kita yang menjadi penyedia informasi, misalnya kita bisa men-upload hasil wawancara siswa kita dengan penduduk di sekitar sekolah, membuat peta wilayah desa / kota tempat kita tinggal dan membuat cerita mengenainya. Dan banyak hal lain. Padahal di awal acara, ibu Nina Feyruzi, sang trainer, sudah menekankan bahwa pembelajaran IPS sebenarnya bukan hanya mengenai berbagai fakta yang ada di buku, tetapi juga mengenai bagaimana mempelajari kehidupan masyarakat (society) dan ini dilakukan dengan interaksi, dialog, eksplorasi, dan sebagainya.

Sebenarnya hari itu kami belajar banyak sekali. Kami menonton beberapa cuplikan film Global Lives Project di mana kami belajar mengenai kehidupan seorang buruh tani di Garut, kami juga belajar bagaimana orang yang memiliki kebutuhan khusus diperlakukan di Jepang, mengenai kehidupan seorang anak di pemukiman di Serbia, dan mengenai bagaimana kehidupan masyarakat di Malawi.

Kami juga belajar cara membuat timeline untuk pembelajaran sejarah. Kami mengaitkannya dengan kehidupan kami masing-masing. Ini contoh timeline yang dibuat seorang guru saat pelatihan :

(Minggu, 22/2/1996) Lahir; saat itu Timor-Timur masih terintegrasi dengan Indonesia à (1994 – 1999) Masuk kuliah; kebebasan pers tidak ada; Marsinah, seorang buruh meninggal; seorang wartawan di Jogja meninggal karena pemberitaannya; Soeharto lengser di tahun 1998 à (2003) Mendirikan bimbingan belajar; perang Irak à (2009) menjadi guru SD; Timor Timur lepas à (2010 – sekarang) Gunung Merapi meletus; Indonesia kalah dari Malaysia di Piala AFF.

Bu Nina mengatakan bahwa sejarah bukan hanya belajar mengenai apa yang terjadi di tingkat negara maupun global, tetapi juga di lingkungan terdekat kita, di level lokal, dan juga sejarah diri. “Untuk memahami sejarah orang lain, pertama-tama kita harus mengenal sejarah diri kita terlebih dulu,” katanya.

Bu Nina mengingatkan bahwa sejarah, bukan hanya belajar mengenai tanggal-tanggal seperti halnya bertanya “G30SPKI itu terhadi tanggal berapa?” tetapi juga pertanyaan-pertanyaan lainnya seperti ‘Kenapa itu terjadi?’, ‘Apa yang mempengaruhi terjadinya kejadian itu?’, ‘Bagaimana kondisi di masa itu?’, dan sebagainya.

Saya menyadari, setiap kali Bu Nina menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya filosofis seperti kenapa dan mengapa, ruangan cukup hening, hanya beberapa yang berani mengungkapkan pendapatnya. Sampai-sampai ada yang menyeletuk, “Tapi itu gak pernah keluar di ujian Bu!”

Bu Nina sedikit menerangkan bahwa saat kita, guru, merancang assessment untuk menilai siswa seperti saat merancang ulangan harian untuk pelajaran IPS guru-guru sebaiknya menggunakan open questions.Pertanyaan-pertanyaan terbuka. Katanya, “Gunakan pertanyaan-pertanyaan seperti, apa pendapatmu mengenai….?”

Kami juga belajar mengenai hukum permintaan dan penawaran (ekonomi) dengan melakukan simulasi tawar menawar. ½ dari peserta diajak menjadi penjual, mereka bebas menentukan harga (tertinggi) dan ½ dari pembeli bebas menentukan harga (terendah). Pembeli dan penjual melakukan tawar menawar.

Kami juga belajar cara merancang pulau sendiri. Kami harus menentukan pulau tersebut berada di busur berapa dan lintang berapa. Dengan begitu kami harus memikirkan apa sih kondisi geografi di daerah tersebut, berapa suhunya, apa pengaruhnya ke kehidupan masyarakat di daerah tersebut, bagaimana budayanya. Kami belajar bahwa kehidupan masyarakat di sesuatu daerah juga di pengaruhi oleh lingkungannya. Selain itu, kami bebas berkreasi membuat pulau sendiri tetapi didukung dengan pengetahuan yang kita miliki mengenai geografi.

Karena waktu kurang, kami tidak sempat mempelajari simulasi mengenai perjanjian bilateral antar negara, yang konon katanya merupakan permainan yang santa seru.

Hari itu kami belajar banyak sekali, mengenai bagaimana menggunakan tool-tool sederhana yang mungkin telah lama kita kenal seperti atlas sekolah yang bertumpuk di perpustakaan sekolah, kertas HVS dan karton, spidol, pensil, dank rayon warna-warni. Semuanya sederhana, murah, dan mudah di dapat. Meskipun begitu, dengan kesederhanaan itu, kami tetap belajar bagaimana menggunakannya secara maksimal di kelas. Dengan alat-alat sederhana, bila digunakan dengan benar, kita bisa membuat kelas menjadi ramai akan diskusi, siswa tersenyum riang karena belajar secara aktif, dan kreativitas terasah karena mengolah bebagai pengetahuan lama menjadi hal baru. Terima kasih Ibu Nina Feyruzi, trainer kreatif kita karena ingin berbagi.

TERIMA KASIH

Terima kasih untuk Bapak Suparjan dari SMP-IT Al-Fidaa, seorang anggota IGI yang begitu bersemangat untuk mendukung kegiatan ini. Terima kasih kepada bapak Arif Rusnan, kepala sekolah SMP-IT Al-Fidaa yang bersedia menyediakan aulanya untuk kegiatan kami. Terima kasih sebesar-besarnya kepada kepala yayasan Al-Fidaa, guru-guru Al-Fidaa, dan office boy di Al-Fidaa yang membantu kami menyiapkan ruangan dan dekorasi, mengurus pendaftaram, menyiapkan snack, makan siang, dan berbenah.

Terima kasih kepada dinas pendidikan kabupaten Bekasi yang turut memeriahkan acara ini dengan sambutannya.

Terima kasih kepada dua trainer kita Nina Feyruzi dan Khairani Barokka(Global Lives Project) yang bersedia sharing di kegiatan hari ini. Materi hari ini mengesankan sekali.

Terima kasih kepada teman-teman dari IGI yang berada di Bekasi, Pak Dali dan kawan-kawan yang akan menyiapkan launcing IGI Bekasi. Terima kasih atas presentasinya mengenai IGI. Semoga kita tetap bersemangat dalam berkolaborasi demi meningkatkan mutu guru di Indonesia.

Terima kasih untuk IGI Jawa Barat dan IGI Pusat yang turut mendukung terselenggaranya acara ini.

Last but not least,terima kasih untuk guru-guru yang telah bersedia hadir dan berpartisipasi dalam kegiatan “Workshop Learning Society and Environment” pada Sabtu, 15 Januari 2011. Semoga materi di workshop ini bermanfaat dan dapat diterapkan di kelas masing-masing, secara kreatif, agar pembelajaran di kelas makin menyenangkan. Salam sharing and growing together!

Jan 13, 2011

Matematika di Mata Paul Lockhart

Malam itu saya berdebat dengan adik saya mengenai matematika. Menurut adik saya, matematika itu seni. Matematika itu indah. Dan people should learn mathematics for the sake of mathematics bukan hanya sekedat hitungan kering seperti yang ada di sekolah. Dia lalu cerita membayangkan titik. Kalau sekilas hanya terlihat sebagai titik. Lama-lama titik itu membesar, terlihar seperti lingkaran. Kita kira itu lingkaran ternyata bukan, saat dilihat lebih jelas lagi ternyata merupakan bola. Dengan matematika ia bisa bermain dengan imajinasinya. “It’s fun!” katanya.

Halah, dia ngomong apa lagi? “Dasar matematikawan!” batinku dalam hati. Adik saya memang punya basis matematika yang kuat. Dia sempat belajar matematika saat kuliah. Maksudku, jurusan matematika murni (pure mathematics). Saya sendiri menyukai matematika, tapi kesukaan itu bukan tiba-tiba datang karena saya memang menyukai matematika. Saya mulai menyukai matematika pertama kalinya saat saya belajar fisika. Ternyata matematika bisa digunakan untuk memahami fisika. Ada aplikasi praktisnya!

Adik saya ngotot bahwa tanpa aplikasi praktis matematika tetap menarik. Saya tidak setuju. Saya ingat ketika kuliah saya sempat belajar mengenai deret fourier saat pelajaran matematika teknik. Benar-benar membosankan. Tapi suatu hari deret fourier menjadi menarik, yakni saat saya menggunakannya saat belajar pelajaran getaran mesin. Deret fourier ternyata ada aplikasinya, bisa digunakan untuk memahami getaran mesin! Menyenangkan! Waktu menemani seseorang untuk tes kesehatan menggunakan ultrasound, sang dokter menunjukkan sebuah grafik yang ternyata menggunakan deret fourier. Bagi saya matematika menjadi bermakna ketika ada aplikasi praktisnya. Mungkin karena saya cenderung menyebut diri saya praktisi. Adik saya, menyukai matematika dari sisi yang berbeda dari saya. Dia menyukai filosofinya, keindahannya dan sebagainya. Saya kemudian baru sadar bahwa hal yang sama, misalnya matematika, bisa memiliki arti (meaning) yang berbeda bagi setiap orang, tergantung dari latar belakangnya, pengalamannya, dan sebagainya. Meanings depends on how we perceive the world around us. Different people have different ways of seeing things, including about mathematics.

Tapi saya beruntung. Adik saya begitu penasaran untuk membuat saya tercerdaskan! Dia ingin memberi saya pemahaman yang lebih mendalam mengenai matematika. Dia memaksa saya membaca beberaoa hal mengenai matematika, misalnya kisah mengenai sejarah angka ‘nol’ dan bagaimana ide angka ‘nol’ bisa menggemparkan dunia. Dia juga meminta saya membaca buku karangan Paul Lockhart berjudul Mathematician’s Lament. Di dalam buku tersebut ada banyak kritik mengenai pendidikan matematika di sekolah. Kali ini saya ingin sedikit sharing mengenai buku yang terakhir ini.

Ternyata sang penulis punya pandangan yang sama dengan adik saya, menurut sang penulis :


“The first thing to understand is that mathematics is an art. The difference between math and other arts, such as music and painting, is that our culture does not recognize it as such.” (Lockhart, 2009, h. 22)

Sang penulis memandang matematika sebagai seni dan bedanya dengan seni lain adalah bahwa di dalam budaya kita, music dan melukis dipandang sebagai seni tetapi matematika tidak. Penulis melanjutkan pendapatnya sebagai berikut :

“Part of the problem is that nobody has the faintest idea what it is that mathematicians do. The common perception seems to be that mathematicians are somehow connected with science – perhaps they help the scientists with their formulas, or feed big numbers into computers for some reasons or other. There is no question that if the world had to be divided into the “poetic dreamers” and the “rational thinkers” most people would place mathematicians in the latter category.

Nevertheless, the fact is that there is nothing as dreamy and poetic, nothing as radical, subversive, and psychedelic, as mathematics. It is a bit as mind-blowing as cosmology or physics (mathematicians conceived of black holes long before astronomers actually found any), and allows more freedom of expression than any poetry, art, or music… Mathematics is the purest of arts, as well as the most misunderstood.” (Lockhart, 2009, h. 22 - 23)

Katanya, matematika memang membantu para ilmuwan tapi bukan itu esensi matematika. Matematika adalah ilmu seni yang paling murni. Ah, dasar matematikawan!

Sang penulis lalu member contoh sederhana mengenai sebuah bentuk (yang sudah sering kita pelajari di sekolah). Katanya :

“… For example, if I’m in the mood tp think about shapes – and I often am – I might imagine a triangle inside a rectangular box :




I wonder how much of the box the triangle takes uo – two thirds maybe? The important thing to understand is that I’m not talking about this drawing of a triangle in a box. Nor I am talking about some metal triangle forming part of a girder system for a bridge. There’s no ulterior purpose here. I’m just playing. That’s what math is – wondering, playing, amusing yourself with your imagination… The mathematical question is about the imaginary triangle inside the box. The edges are perfect becauseI want them to be – that is the sort of object I prefer to think about. This is a major theme in mathematics : things are what you want them to be, there is no reality to get in your way. ” (Lockhart, 2009, h. 24 - 25)

Lalu lanjutnya :

“In the case of the triangle in the box, I do see something simple and pretty :


I chop the rectangle into two pieces like this, I can see that each piece is cut diagonally in half by the sides of the triangle. So there is just as much space3 inside the triangle as outside. That must mean that the triangle must take up exactly half the box!

… Now where did this idea of mine come from? How did I know to draw the line? How does a painter know where to put his brush? Inspiration, experience, trial and error, dumb luck” (Lockhart, 2009, h. 26)

Dia menyayangkan bagaimana keindahan matematika, direduksi menjadi fakta-fakta yang perlu diingat dan prosedur yang harus diikuti. Menurutnya :

“… It is so heart breaking to see what is being done to mathematics in school. This rich and fascinating adventure of imagination has been reduced to a set sterile facts to be memorized and procedures to be followed.

… “The area of a triangle is equal to one-half its base times its height” Students are asked to memorize this formula and then “apply” it over and over in the “exercises.” Gone is the thrill, the joy, even the pain and frustration of the creative art. There is even no problem anymore. The question has been asked and answered at the same time – there is nothing left for the students to do.

Now let me be clear about what I’m objecting to. It’s not about formulas, or memorizing interesting facts. That’s fine in context, and its place just as learning a vocabulary does – it helps to create richer, more nuanced works of art. But it’s not the fact that triangles take up half of their box that matters. What matters is the beautiful idea of chopping it with the line, and how that might inspire other beautiful ideas and lead to the creative breakthroughs in other problems – something a mere statement of fact can never give you. ” (Lockhart, 2009, h. 27 - 28)

Menurut Lockhart, matematika di dalam kelas sangat kering karena kita sering berkonsentrasi pada pertanyaan ‘apa’ dan bukan ‘kenapa’. Menurutnya matematika adalah seni menjelaskan. Tanpa membiarkan siswa mengemukakan berbagai masalah matematika yang ditemukannya sendiri, membiarkan mereka melakukan berbagai penemuan matematika, merasa frustasi, terinspirasi, mencoba menjelaskan dan memperlihatkan bukti-bukti yang mereka temukan, maka menurutnya tidak ada cukup matematika di dalam kelas matematika kita (there is the lack of mathematics in our mathematics classroom). Selengkapnya, diuraikan sebagai berikut :

“By concentrating on ‘what’ and leaving out ‘why’, mathematics is reduced to an empty shell. The art is not in the “truth” but in the explanation, the argument. It is the argument itself that gives the truth its context, and determines what is really being said and meant. Mathematics is the art of explanation. If you deny the students the opportunity to engage in this activity – to pose their own problems, to make their own conjectures and discoveries, to be wrong and frustrated, to have an inspiration, and to cobble together their own explanations and proofs – you deny them mathematics itself. So no, I’m not complaining about the present facts and formulas in our mathematics classes, I’m complaining about the lack of ‘mathematics’ in our mathematics classes.”

Membaca buku tersebut, saya mendapat tambahan insight mengenai bagaimana seorang Lockhart memandang matematika, yang berbeda dengan saya yang memandang matematika sebagai alat yang membantu dalam berbagai aplikasi dalam kehidupan sehari-hari (dan fisika tentunya!). Bagi Lockhart matematika adalah seni (bukan hanya bermanfaat karena aplikasi praktisnya), matematika adalah bermain dengan imajinasi yang tidak bisa dihalangi oleh apa yang realita yang dilihat mata (is a major theme in mathematics [is that] things are what you want them to be, there is no reality to get in your way. ),matematika adalah merasa terinspirasi yang bisa membantu kita menemukan penyelesaian untuk berbagai masalah lain (inspire other beautiful ideas and lead to the creative breakthroughs in other problems) , dan matematika adalah seni menjelaskan (the art of explanation). Itu pendapat Paul Lockhart. Bagaimana dengan anda?

Sumber :

Lockhart, Paul. (2009). Mathematician’s Lament : How School Cheats Us Out Our Most fascinating and Imaginative Art Form New York : Bellevue

Jan 11, 2011

Sekilas, mengenai“Managing Your State and Your Class activities : Workshop membuat worksheet untuk guru bahasa Inggris”

Namanya Bu Itje. Saya sudah hampir setahun mengenalnya. Mulai dari milis, chatting, bertemu dan berdiskusi, menulis bersama, dan merencanakan beberapa kegiatan bersama. Dia membantu saya mengoreksi tulisan-tulisan saya, mengedit beberapa tulisan saya dalam bahasa Inggris. Saya memberikannya LKS-LKS bahasa Inggris yang isinya kacau balau. Saya tahu dia dosen bahasa Inggris di Universitas keguruan. Saya juga sudah lama ingin sekali melihatnya memberikan training. Sampai hari itu datang.

Minggu, 9 Januari 2011 lalu, Ibu Itje membantu saya memberikan training untuk guru-guru bahasa Inggris. Dia mengajak seorang temannya, namanya Kang Azul untuk ikut memberikan training juga. Kang Azul.

Saya tahu Ibu Itje merupakan guru yang baik. Tapi saya tidak tahu kalau Ibu Itje ternyata outstanding. Saat pendaftaran ulang sudah beberapa orang guru datang. Mereka diberi name tag. Ibu Itje menyapa hampir semua peserta training sebelum acara dimulai. Beberapa diantara peserta sudah dikenalnya. Beberapa merupakan muridnya sendiri. Dulu Ibu Itje mengajar mereka saat kuliah di universitas. Kini mereka menjadi guru.

Seorang guru bersalaman dengan Bu Itje sambil melompat-lompat, "Aduh senang sekali ketemu ibu lagi di sini. Rugi kalau tidak datang. Saya saat tahu yang memberi materi adalah Ibu Itje langsung mendaftar."

Kata Ibu Itje, "Ini anakku."

Dalam hati, saya berpikir, pasti ibu Itje merupakan guru yang sangat baik, muridnya bukan hanya mengingatnya tetapi berloncat-loncat gembira karena bertemu dengannya, dengan ekspresi yang menggebu-gebu. Semoga saya juga bisa menjadi seorang guru yang seperti itu.

Pelatihan dimulai dengan materi yang dibawakan Kang Azul mengenai "Managing Your State and Your Class Activities". Kang Azul bukan guru, tapi dia trainer yang sudah bertahun-tahun aktif di kegiatan community development. Dia memberikan materi motivasi dan mengenai teknik-teknik yang bisa digunakan agar guru bisa merasa segar saat beraktifitas. Ia sudah menyediakan mixer (untuk musik). Beberapa guru diajak maju ke depan untuk mencontohkan beberapa gerakan. Kami menari (atau senam) bersama? You know what? It is lots of fun!.

Ada banyak materi yang dibawakan oleh Kang Izul, untuk detailnya nanti lihat notulensi saja yah! Hehehe...

Ibu Itje membawakan materi berikut. Lebih spesifik, mengenai worksheet. Kata Bu Itje, ini pertama kalinya dia berkolaborasi membawakan training motivasi yang digabungkan dengan hal yang teknis. Menurutnya, walaupun kita pandai membuat worksheet, lesson plan, dan sebagainya, kalau kita mengajar dalam keadaan loyo, tidak tersenyum, semua tool tersebut tidak ada gunanya.

"Worksheet hanya sebuah alat. Alat yang benar di tangan orang yang salah tetap salah. Seperti pisau, pisau yang tajam bisa bermanfaat bisa juga tidak."

Bu Itje, tidak menerangkan terlalu banyak teori mengenai pembuatan worksheet dan sebagainya. Hampir semua kegiatan dikemas dalam bentuk aktivitas. Di meja, Ibu Itje telah menyediakan begitu banyak alat peraga, sayangnya tidak semua sempat digunakan karena waktu, yang ternyata kurang. Guru-guru berputar-putar, berdiskusi, saling tanya jawab, dan belajar dengan aktifnya. Ibu Itje telah membawa bel yang dibunyikannya setiap ingin menandakan aktifitas berhenti. Ajaibnya, tampak-tampaknya guru-guru begitu asyik beraktifitas hingga bell sudah dibunyikan 3 kali, mereka masih tidak mau berhenti. Ibu Itje tersenyum pada saya, "Tidak mau berhenti loh!"

Saya tertawa.

Menarik, mungkin karena Bu Itje memang seorang guru yang memang pernah mengajar di kelas, trainingnya sangat relevan dengan kondisi di kelas. Ia mempraktekkan bagaimana worksheet bisa digunakan untuk meningkatkan interaksi antar siswa di kelas. Setelah sebuah aktivitas, ia bertanya, "Coba bandingkan bagaimana bedanya menggunakan lembar kerja untuk kegiatan yang tadi dengan yang seperti ini 'Sudah? Sudah selesai belum mengisi LKS-nya?' Nanti yang depan menjawab, 'Sudah bu'. Lalu, yang belakang akan menjawab, 'Belum. Ah kamu kaaaan. Kamu kan sudah selesai duluan karena kamu les. Aku kan ngak. Makanya aku belum selesai!'"

Saya tertawa, benar-benar celetukan khas di kelas. Menarik, Bu Itje benar-benar tahu apa yang terjadi di kelas.

Kami juga membahas hal-hal mendasar yakni misalnya mengenai bagaiaman membuat worksheet sesuai tingkat kemampuan siswa. Kalau dengan anak yang baru belajar bahasa Inggris, tentunya kami tidak perlu menggunakan kata-kata yang kelewat ajain. "Seakan-akan semakin tinggi kesulitannya, semakin jagi rasanya, padahal kan enggak," katanya.

Ibu Itje juga membawa gambar yang besar sekali.. Dan memperagakan bagaimana gambar tersebut bisa digunakkan untuk belajar begitu banyak hal dalam bahasa Inggris.

Kegiatan diakhiri dengan membuat lingkaran sambil mengungkapkan perasaan masing-masing. Semua menyatakan sangat senang. Setelah itu ada foto bersama. Pak Fabian yang memotret.

Dari feedback form yang dibagikan, hampir semua peserta mengatakan waktunya kurang. Haha Ibu Itje juga berkata, "Time flies." Yup, time flies because we had so much fun!
--

TERIMA KASIH

Terima kasih kepada pihak Erlangga, teritama Pak Dharma Hutauruk dan Ibu Nia Susanti(yang sudah menawarkan tempat tetapi belum jadi dilaksanakan di sana). Semoga kami bisa bekerjasama di lain kesempatan.

Terima kasih kepada Pak Gatot yang membantu kami mendapatkan tempat di SEAMOLEC. Terima kasih kepada semua staf SEAMOLEC yang membantu menyiapkan tempat dan menata ruangan.

Terima kasih kepada Ibu Itje dan Kang Azul yang mau berbagi ilmunya di hari Minggu. Kang Azul juga membantu memindah-mindahkan meja sebelum kegiatan training (hehehe ngerjain trainer. You both are such an insipiration!

Terima kasih kepada Ibu Novi dan Ibu Apri yang membantu mengurus pendaftaran, menyiapkan snack, dan mengurus printilan-printilan workshop. Terima kasih kepada Pak Fabian, juru potret selama kegiatan dan juga kepada saudara Bayu, yang saya mintakan tolong untuk mengurus sms konfirmasi, makan siang dan sertifikat.

Terima kasih sebanyak-banyaknya kepada para guru yang berpartisiasi dalam kegiatan ini. Semoga teman-teman guru bisa senantiasa menjadi guru yang senantiasa meningkatkan kemampuan diri. Kita akan sama-sama belajar. :)

10 days

Ten days of January has really been lots of fun.
Many ups and downs of course..

But I met so many amazing people..
I had a meeting with a writer (who is also a teacher) in his house. He tool me around the school that he and his wife found. The school was interesting but what was most interesting was his personality. He and his wife are amazing! The wife gave me a book she wrote, it was a book about her students. The book is sweet. She expresses her happiness for any improvements her students make. She's happy for the little things. I also learned about her difficulties in leading the school.

I also organized a training for English teachers. I knew the trainer for quite a while but I did not know she was spectacular. She was really, I mean like really, really good. I learned so much. I'll write more about this in Indonesian next time.

Anyhow.. I'm looking forward for the next days. This year I am taking a few risky challenges. I have butterflies in my tummy, wondering if I ever can succeed. However I have learned in my life that we should just keep trying and also be faithful. The rest is in His hands.

Jan 3, 2011

Optics (1)

I did studied about optics in high school but unfortunately, through rote learning. I don't really understand much about optics. How silly of me. However, I decided to re-learn about optics. From scratch!

Anyhow I found this picture of Narcissus.