May 19, 2015

Ngobrol (Lagi) dengan Kang Dan Satriana

Sudah lama saya tidak ketemu dengan Kang Dan Satriana. Dua minggu lalu saya sempat menghubungi beliau, "Kang bakal ada orang di Kalyanamandira gak hari Minggu? Saya mau main ke sana".


Kalyanamandira adalah salah satu komunitas tempat Kang Dan berkegiatan. Kalau mau tahu lebih lanjut tentang komunitas ini, silakan lihat --> https://kalyanamandira.wordpress.com/  Lokasinya di Buah Batu, Bandung. Waktu mahasiswa dan bahkan sampai sekarang, saya sesekali mampir ke sana untuk ngobrol dengan teman-teman Kalyanamandira. 

Akhir pekan kemarin, saat saya ke Bandung. Saya pun menghubungi Kang Dan lagi. Kang Dan mengatakan bahwa beliau habis bersepeda di daerah Dago dan mengajak ketemuan di suatu kedai kopi di Jalan Hasanudin. Akhirnya, bisa juga bertemu dengan Kang Dan. Mbak Danti, yang rumahnya saya tumpangi selama di Bandung pun ikut serta. Jadilah, kami ngobrol bertiga.

Rasanya senang sekali bertemu dengan teman lama seperti Kang Dan. Saya mengenal Kang Dan sejak 2003. Waktu itu sahabat saya Lely Fitriani dan saya merupkan tutor matematika di sebuah Komunitas Pendidikan Alternatif bernama Komunitas Taboo (dikelola oleh Kang Rahmat Jabaril).

Suatu malam, saat kegiatan belajar matematika di Komunitas Taboo,  Kang Dan beserta  teman-teman Kalyanamandira datang  berkunjung ke Komunitas Taboo. Ceritanya mau studi banding, melihat apa kegiatan kami. Kami pun (Lely & saya) mengadakan kunjungan balasan ke Kalyanamandira. Mereka mengajak kami mengamati kegiatan belajar mengajar  bagi anak-anak yang  ada di Rumah Tahanan di Jalan Jakarta. Pernah juga kami diajak mengunjungi kegiatan belajar-mengajar yang mereka selenggarakan di sebuah daerah di pinggir rel kereta api (saya lupa nama daerhanya). Sejak itulah saya mulai menjalin persahabatan dengan teman-teman Kalyanamandiri.

Tahun 2007, Mts. tempat saya mengajar sebagai guru honorer bubar. Saat itu tersisa 11 orang siswa. 10 orang siswa kelas 9 dan 1 orang siswa kelas 8. Dari 10 orang siswa, hanya 2 yang lulus UN dan 8 tidak (cerita lengkapnya silakan lihat http://bit.ly/1EYHnOP yang juga dimuat di Buku Hitam UN). Waktu itu, siswa-siswa saya hampir saja putus sekolah. Teman-teman Kalyanamandira, khususnya Kang Dan  membantu kami, para guru, untuk mengurus proses advokasi agar siswa-siswa saya bisa mengikuti kejar paket B dan kemudian bisa melanjutkan sekolah baik ke SMA ataupun SMK.

Namanya ketemu teman lama, rasanya banyak sekali yang ingin saya ceritakan. Kata-kata mengalir begitu saja dari mulut saya. Saya ceritakan tentang apa yang terjadi setelah 2007. Sekolah tempat saya mengajar tersebut bubar, lalu bersama beberapa guru  kami mendirikan Rumah Mentari. 

Rumah Mentari adalah lembaga pendidikan non-formal di Kampung Sekepicung, Bandung. Sebagian besar kegiatan Rumah Mentari diselenggarakan di di rumah Pak Lala dan Bu Dewi. Mereka dulu merupakan guru di sekolah yang saya ceritakan di atas. Dengan sukarela mereka menyediakan rumahnya untuk jadi tempat berkegiatan. Awalnya, rumah mentari adalah "sekolah darurat" bagi anak-anak yang belum selesai terurus di sekolah, tempat kami mengajar. Selain ke 8-siswa yang saat itu belum lulus UN, kami juga mengurus 6 orang siswa yang terlanjur mendaftar ke sekolah (yang akhirnya bubar tersebut).

Ada banyak hal yang terjadi setelah 2007. Beberapa siswa kami yang dulu seusia SMP telah tumbuh dewasa. Beberapa berhasil menyelesaikan sekolah setingkat SMK dan beberapa tidak. Beberapa sudah bekerja dan menikah, bahkan memiliki anak. Ada juga yang kembali ke Rumah Mentari untuk mengajar anak-anak yang lebih kecil di hari Minggu.  Pokoknya banyak hal yang terjadi.

Dulu hanya ada 6 anak yang belajar di Rumah Mentari, kini ada lebih dari 100 anak yang ikut belajar di sana. Kegiatannya pun mulai lebih bervariasi. Selain program untuk anak, ada juga kegiatan untuk remaja, pemuda, dan ibu-ibu, bahkan guru PAUD atau TK. Setiap hari Minggu setidaknya ada belasan (dan kadang sampai seratus) anak datang ke rumah mentari untuk belajar bersama beberapa kakak relawan, baik belajar matematika, membaca, menggambar, menyanyi, bermain drama, memasak, dan sebagainya. Yang mengajar, beberapa adalah anak-anak didik yang dulu belajar di mentari pada tahun 2007 tapi ada juga relawan yang merupakan mahasiswa. 

Di hari Sabtu, saya bergantian dengan kakak-kakak yang lain mengajar remaja (SMP dan SMA) belajar bahasa Inggris. Meski hanya 6 - 8 orang yang rutin belajar, mereka sangat rajin. Kata saya pada Kang Dan, "Saya sekarang jarang memegang kelas anak-anak, lebih banyak mengurus remaja. remaja-remaja inilah yang sekarang mengajar anak-anak yang lebih kecil."

Saya juga menceritakan hal-hal kecil yang menyenangkan lainnya, "Pernah suatu waktu saya mengajarkan sebuah lagu pada anak-anak remaja yang belajar bahasa Inggri. Di hari tersebut ada seorang guru PAUD yang sedang berkunjung. Guru tersebut tidak ikut belajar secara langsung di dalam kelas, tapi ikut mencatat lirik lagu. Katanya dia mau menggunakan lagu tersebut di dalam kelas."

Kini, beberapa pemuda di Kampung Sekepicung yang bergabung dalam komunitas Paser (lihat : http://berbagiceritaceritaseru.blogspot.com/2015/04/kerjabakti-menanam-pisang-di-balik-cafe.html ) sempat membuat kolam ikan untuk mengembang biakkan ikan dan menanam pisang. Beberapa pemuda yang tadinya menganggur, kini bergantian bekerja sama mengurus kolam ikan. Mereka juga sedang mengembangkan koperasi (meskipun masih dalam proses pengembangan). 

Meskipun, ada banyak hal yang menyenangkan terjadi di Rumah Mentari dan Kampung Sekepicung, sebenarnya ada juga banyak masalah. Kampung tersebut terletak persis di belakang lapangan Golf Dago. Letaknya tidak jauh dari kota. Paling butuh 15 menit untuk jalan kaki ke terminal dago. Kampung tersebut dikelilingi berbagai kafe dan hotel.Kebanyakan yang bekerja di kafe dan hotel di sekitar adalah pendatang, meskipun ada juga warga yang bekerja di sana. Pengangguran masih banyak, dan kalaupun mereka mau bekerja, mereka disyaratkan harus mengantongi ijazah yang setara dengan SMA, misalnya melalui kejar paket C . 

Sebagai akhirnya, beberapa warga datang ke rumah Mentari meminta dicarikan cara untuk mengikuti kejar paket C. Karena punya pengalaman mengurus kejar paket dan ternyata kami diminta membayar (misalnya untuk kejar paket B sebesar Rp 250.000,- per siswa), maka salah satu pengurus rumah mentari berinisiatif mengdaftarkan kejar paket melalui institusi di kabupaten Bandung. Dulu kami mengurus kejar paket di kotamadya. Ternyata sama saja, tetap saja ada pungutannya. Lebih mahal lagi.

Kang Dan tertawa-tawa melihat ekspresi saya saat saya mengatakan, "Lebih mahal lagi!"

Selain itu, ada berbagai isu lain, misalnya pernah kami temui, di sebuah sekolah dasar di daerah sana, setengah kelas dari siswa kelas 3 SD masih kesulitan membaca. Seorang relawan, yang juga merupakan psikolog sempat melakukan penelitian di sana dan juga membuat semacam pelatihan sehingga guru-gurunya punya kesadaran bahwa beberapa siswanya punya learning difficulties (atau kadang disebut learning disabilities) dan perlu treatment khusus.

Selain isu pendidikan dan pengangguran, juga ada isu kesehatan. Meskipun di sekitar ada a puskesmas dan bidan, tetap saja bila ada warga yang butuh melahirkan (misalnya, secara caesar), atau mengalami kecelakaan, kadang masyarakan kesulitan mengakses layanan kesehatan. Kadang birokrasi yang harus diurus begitu panjang, padahal masyarakat butuh pelayanan kesehatan segera (tidak bisa menunggu proses birokrasi yang panjang). Juga, pernah ada masa di mana angka kematian bayi (yang baru lahir) cukup tinggi. Hal ini membuat saya  sangat berharap ada warga sana yang melanjutkan studi di bidang kesehatan dan suatu hari kembali lagi ke kampung sehingga setidaknya ada yang bisa mendampingi warga di bidang kesehatan. Selain itu, masalah pendidikan, pengangguran, kesehatan, juga ada masalah akses terhadap air. Beberapa sumber mata air yang tadinya bisa diakses warga, kini tidak bisa lagi karena tanah yang ada mata airnya sudah dibeli oleh pihak tertentu. 

Begitu banyak yang terjadi di sana, sampai-sampai Pak Lala dan Bu Dewi sangat terbiasa rumahnya diketuk di tengah malam, misalnya untuk mengurus warga yang melahirkan, kecelakaan, dan lain-lain. Pokoknya, tidak habis-habis.  Kondisi yang kompleks seperti ini, membuat saya selalu bertanya-tanya, "Untuk apa ada sekolah? Pendidikan semacam apa yang bisa lebih bermakna buat masyarakat dalam konteks semacam ini?"

Saya ceritakan pada Kang Dan bahwa saya dibantu oleh beberapa teman-teman di Rumah Mentari sedang menuliskan sejarah rumah mentari. Apa yang kami kerjakan selama hampir 8 tahun ada yang berhasil ada yang tidak. Menuliskan apa yang terjadi selama 8 tahun ini, kami rasakan penting, Meskipun hanya sebuah kasus, setidaknya tulisan tersebut  bisa menjadi bahan refleksi untuk memahami kondisi pendidikan di Indonesia. Seperti biasanya, Kang Dan selalu suportif. Katanya, "Tulis saja! Mumpung emosinya lagi meluap-luap!"

Kami pun mengobrol tentang banyak hal lain. Kang Dan menceritakan tentang aktivitasnya kini. Beliau sekarang merupakan Ketua Komisi Informasi Jawa Barat. Hal yang diperjuangkan Kang Dan diantaranya mengenai transparansi informasi publik, partisipasi publik dalam pendidikan, dan perbaikan pelayanan publik, khsususnya di bidang pendidikan. Beliau juga ikut mengawasi Penerimaan Siswa Baru di sekolah, dan juga ikut mengusulkan bagaimana standar pelayanan minimum pendidikan, khususnya di Jawa Barat bisa diperbaiki. 

"The devils are in the details," kata Kang Dan. Maksudnya, banyak orang mau membicarakan tentang gagasan-gagasan besar, tapi tidak mau mengurus detil yang memungkinkan terwujudnya gagasan-gagasan tersebut.

Kami lalu mengobrolkan tentang berbagai komunitas-komunitas pendidikan di Jakarta dan Bandung dan tentang pentingnya berjejaring dengan berbagai pihak yang juga bergerak di bidang pendidikan. Kami sepakat bukan waktunya lagi bekerja sendiri-sendiri, aktif dengan komunitasnya sendiri. Kita harus mulai bisa berjejaring dengan siapapun yang punya concern  di bidang pendidikan, meskipun dalam beberapa hal kita bisa punya pemikiran yang berbeda.  Meskipun berbeda pemikiran (atau bahkan ideologi), tetap saja mungkin ada hal-hal yang bisa dikerjakan bersama untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia.

Mbak Danti juga turut andil membuat diskusi semakin seru. Mbak Danti sedang bersemangat  karena beliau baru saja selesai mengajak siswa-siswinya (SMP) backpacking ke Jawa tengah untuk melakukan riset tentang akulturasi budaya, khsusnya di pulau Jawa. Hasil akhirnya berupa buku berisi catatan perjalanan dan juga  hasil riset siswa tentang akulturasi budaya di pulau Jawa. Kini, bukunya sedang dalam proses editing  (dan akan dicetak). Mbak Danti menceritakan prosesnya pada kami.

Itu membuat kami membahas tentang program-program semacam live in yang sering diterapkan di beberapa sekolah. Program live in pada dasarnya bagus karena bertujuan menempatkan siswa dalam konteks yang berbeda dengan kehidupannya sehari-hari. Namun, alangkah baiknya apabila sebelum melakukan live in, siswa dibekali dengan berbagai keterampilan sehingga proses live in bisa menjadi lebih bermakna, Sebagai contoh, sebuah sekolah bertahun-tahun mempraktekkan live in di mana siswa tinggal di rumah orang yang berbeda latar belakang (sosial ataupun agama). Namun, kadang pengalaman ini bisa lewat begitu saja hanya jadi seperti acara liburan saja. Siswa misalnya, bisa tinggal di rumah orang lain tetap asyik dengan gadget-nya. Yang punya rumah, bisa saja segan menegur dan sampai pulang siswa tidak sadar bahwa sikapnya tidak semestinya. Akibatnya, program live in jadi seperti liburan saja.

Apa yang harus dipersiapkan sebelum masuk ke lingkungan baru?  Bagaimana melakukan observasi? Bagaimana caranya bersikap reflektif? Siswa perlu diajak memikirkan hal-hal terseut sehingga ketika live in, program tersebut bisa lebih bermakna.

Sekitar 3 jam lamanya kami mengobrol. Banyak sekali yang kami bicarakan. Selain hal-hal di atas, kami juga banyak bercanda dan tertawa-tawa. Rasanya senang sekali bertemu kembali dengan kawan lama. Terima kasih yah Pak Dan dan Mbak Dan untuk pertemuannya yang menyenangkan! Kapan-kapan, kita mesti ngobrol lagi!

May 18, 2015

Refleksi tentang Pendidikan Sebagai Hak

Setiap Senin pagi, tukang koran akan mengantarkan koran Media Indonesia ke depan pintu tempat tinggalku. Setiap Senin, di Media Indonesia ada satu halaman penuh yang berisi opini tentang Pendidikan. Pagi ini,  ketika saya membuka koran Media Indonesia, saya menemukan berita ini :


Berita lengkapnya bisa dibaca di --> http://www.mediaindonesia.com/mipagi/read/11494/Ujian-SD-Syarat-Masuk-SMP/2015/05/18

Berita ini menyiratkan bahwa ujian nasional (atau ujian sejenisnya) tetap penting meskipun bukan sebagai penentu kelulusan. Kalau hasil ujian SD seorang siswa baik, maka mereka berhak masuk ke sekolah-sekolah tertentu. Pilihan mereka dalam memilih jenis pendidikan lebih luas daripada siswa yang nilai ujian sekolahnya rendah. Kalau hasil ujian SD seorang siswa kurang baik, maka mereka hanya punya pilihan sedikit dalam menentukan ke mana mereka mau melanjutkan pendidikan. Apabila pelaku pendidikan mempercayai sistem yang semacam ini, artinya mereka belum memandang bahwa pendidikan (yang berkualitas) adalah hak setiap anak, baik yang nilai ujiannya rendah maupun tinggi.

Saya jadi teringat sebuah puisi yang saya temukan di dokumen "A Human Rights-Based Approach to Education" yang diterbitkan oleh UNICEF/UNESCO (2007). Begini puisinya  :

My right to learn By Robert Prouty

I do not have to earn The right to learn. It’s mine. And if because Of faulty laws And errors of design, And far too many places where Still far too many people do not care – If because of all these things, and more, For me, the classroom door, With someone who can teach, Is still beyond my reach, Still out of sight, Those wrongs do not remove my right. So here I am. I too Am one of you And by God’s grace, And yours, I’ll fi nd my place. We haven’t met. You do not know me yet And so You don’t yet know That there is much that I can give you in return. The future is my name And all I claim Is this: my right to learn.


Puisi tersebut intinya menggambarkan bahwa pendidikan adalah hak. Setiap anak berhak mendapatkan pendidikan. Setiap anak berhak memilih bentuk pendidikan apa yang terbaik baginya. Sayangnya, kebijakan-kebijakan pendidikan yang ada di negeri ini, misalnya adanya sistem seleksi untuk masuk sekolah negeri. Sekolah negeri pada dasarnya seharusnya didirikan untuk setiap warga negara. Siapapun warga negara Indonesia seharusnya boleh bersekolah di sekolah-sekolah negeri tanpa mengikuti sistem seleksi. Sekolah negeri seharusnya merupakan tempat di mana siswa dari berbagai latar belakang, ekonomi, sosial, dan kemampuan akademik bersama-sama belajar, bukan hanya belajar matematika, bahasa, dan IPA, tapi juga belajar bersosialisasi dengan berbagai orang, berinteraksi dalam keragaman. Tampaknya kesadaran semacam ini masih kurang. Beberapa kebijakan-kebijakan pendidikan tampaknya belum didasari pentingnya hak pendidikan bagi semua warga negara. Sayangnya!

Klub Bahasa Inggris Rumah Mentari, Proses Belajar di Hari Sabtu, 16 Mei 2015


Hari itu, Sabtu 16 Mei 2015 klub bahasa Inggris belajar bahasa Inggris menggunakan kisah "The Little Mouse, The Red Ripe Strawberry, and The Big Hungry Bear". Kenapa buku tersebut yang dipilih? Tidak ada alasan khusus selain bahwa buku tersebut tersedia di perpustakaan Rumah Mentari. Hanya  memanfaatkan apa yang sudah ada. Buku tersebut sebenarnya buku anak-anak yang tipis. Kosa katanya sederhana, dan tingkat kesulitannya tidak terlalu tinggi.



Sebenarnya, anak-anak klub bahasa Inggris Rumah Mentari, yang sekarang lebih banyak siswa SMP dan SMA sudah pernah membahas bacaan yang tingkat kesulitannya lebih tinggi daripada "The Little Mouse, The Red Ripe Strawberry, and The Big Hungry Bear". Buku terakhir yang kita bahas bersama adalah The Little Prince karya Antoine de-Saint Exupery. Kak Arfah (yang kini baru saja pindah ke Balikpapan) yang mengenalkan buku tersebut pada anak-anak klub Bahasa Inggris Rumah Mentari. Kak Arfah biasanya memfotokopi bab buku tersebut (versi bahasa Inggris) untuk dibagikan ke anak-anak yang ikut klub bahasa Inggris rumah Mentari lalu semua akan membahas cerita tersebut bersama. Sambil membahas buku, sambil belajar bahasa Inggirs. Buku Little Prince sudah dibahas sampai bab empat dan masih akan dilanjutkan pembahasannya, mungkin minggu depan atau dua minggu lagi. Memang beberapa minggu terakhir, kami belum membahas Buku The Little Prince lagi. Belakangan beberapa anak yang mengikuti Klub Bahasa Inggris Rumah Mentari sempat sibuk dengan persiapan Ujian Nasional (UN), jadi untuk persiapan ujian, kami sempat membahas beberapa soal UN bahasa Inggris selama 2 pertemuan.


Minggu lalu, Mbak Anug yang mengajar bahasa Inggris. Anak-anak tidak membahas soal UN lagi, tapi Mbak Anug lebih banyak mengajak anak-anak berlatih ngobrol dalam bahasa Inggris. Dari cerita anak-anak, Mbak Anug mengajak anak-anak berdiskusi mengenai alasan mereka belajar bahasa Inggris. Ternyata alasannya beragam (Nanti detilnya biar Mbak Anug yang cerita yah..)

Minggu ini, saya belum sempat menyiapkan kopian bab 5 buku Little Prince, jadi saya memilih menggunakan buku yang ada saja. "The Little Mouse, The Red Ripe Strawberry, and The Big Hungry Bear" merupakan buku yang tipis, tapi tetap saja memungkinkan anak-anak untuk belajar beberapa kosa kata dan kalimat baru. Lagipula, tak ada salahnya menyelingin bacaan The Little Prince dengan bacaan lain.

Anyway, kelas dibuka dengan mengajak anak-anak me-recall apa yang dilakukan minggu sebelumnya. Seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya, anak-anak bercerita bahwa Mbak Anug mengajak mereka mengobrol dalam bahasa Inggris tentang mengapa mereka ingin belajar bahasa Inggris. Lalu, saya menunjukkan halaman depan buku "The Little Mouse, The Red Ripe Strawberry, and The Big Hungry Bear".

"Today, we are going to learn English from this book. We are going use this book to learn English. Is it okay?"


Semua setuju. Saya memulai kelas dengan menuliskan kosa-kosa kata baru yang akan dipelajari di papan tulis. Di sebelah kiri adalah kosa kata berbahasa Inggris dan di sebelah kanan adalah artinya dalam bahasa Indonesia (tapi urutannya diacak).

Anak-anak sudah sering melaksanakan kegiatan mencocokkan seperti ini, jadi mereka sudah tahu aturan mainnya. Satu orang anak akan maju ke depan mencocokkan satu kosa kata dengan pasangannya (artinya dalam bahasa Indonesia), lalu dia akan memilih seorang teman untuk maju dan mencocokkan kata lain dengan pasangannya. Begitu saja terus sampai semua kata sudah ditemukan pasangannya. Biasanya, selama proses ini anak-anak menebak arti kata dan kadang berdiskusi dengan teman di sebelahnya.

Kosa kata (dan frase) yang saya tuliskan diantaranya adalah :
Ripe
Pick
Haven't you heard about...?
Smell
Sniff
No matter
Hidden
Guarding
Disguise
Quick
Save



Beberapa kosa kata tampaknya memang baru bagi anak-anak, diantaranya Ripe, Sniff, No matter, dan Disguise. Mereka tampak kesulitan menemukan pasangan dari kata-kata tersebut.

Kami sempat membahas mengenai arti kata "ripe". "Ripe" artinya matang, tapi kata tersebut biasanya digunakan untuk buah yang matang, misalnya matang di pohon. Sedangkan kalau makanan yang dimasak, kita cenderung menggunakan istilah "cooked". Misalnya, untuk ikan yang sudah matang karena dimasak maka kita akan menggunakan istilah "cooked fish". Namun, dalam konteks yang lain lagi, misalnya untuk daging steak yang dimasak sampai matang, maka kita akan menggunakan istilah "the steak is well done". Kalau steak-nya setengah matang, maka kita akan menggunakan istilah, "the steak is half done".

Kami juga membahas arti kata "Sniff" yang artinya  "mengendus". Sebenarnya artinya mirip dengan "smell" yang artinya "mencium (bau)", tetapi "sniff", lebih seperti ketika binatang seperti anjing mencium (bau) sesuatu. Saya mencontohkan bagaimana anjing mencum bau dengan ekspresi muka saya, tentu dengan sedikit monyong-monyong dan mengkerutkan hidung.

Saya lalu mengambil kursi dan duduk. Anak-anak duduk di atas karpet, dalam bentuk setengah lingkaran. Saya berkata, "I am going to read you this book. Please, listen."

Saya pun membuka halaman pertama dan bertanya, "Can everybody see this?"

Saya ingin memastikan bahwa semua bisa melihat halaman buku dengan jelas. Semua mengiyakan.

"What is this," tanya saya menunjuk gambar tikus.

"It is a mouse," kata anak-anak.
Saya melanjutkan, "What is the mouse bringing?"

"Tangga," salah satu anak menyeletuk dengan bahasa Indonesia.

"Tangga bahasa Inggrisnya apa?"

Semua terdiam. Saya lalu menggambar dua buah tangga. Yang pertama tangga yang seperti tangga yang ada di gedung-gedung, dan yang kedua adalah tangga yang seperti huruf banyak huruf H yang bertumpuk-tumpuk, mirip seperti tangga yang di bawa oleh tikus.



"Ini semua sama-sama tangga," kata saya, "We call this one stairs, while we call that one a ladder".
Saya menjelaskan bahwa stairs dan ladder sama-sama berarti tangga, tapi "stairs" dan "ladder" adalah model tangga yang berbeda.

Saya pun membacakan halaman pertama, "Hello Little Mouse! What are you doing?"

Kami lalu membahas arti kalimat-kalimat tersebut. Lalu saya bertanya, "What do you think the mouse is doing?"

"Tikusnya mau mengambil sesuatu," kata seorang anak dalam bahasa Indonesia.

"Oh, the mouse wants to take something,"
kata saya, "What?"

"Something tall," kata seorang anak.

"Let's see," kata saya sambil membuka halaman berikut.

Proses tersebut berlangsung terus sampai buku selesai. Saya membaca, kami membahas artinya, lalu saya mengajukan beberapa pertanyaan untuk memancing anak-anak berpikir. Sederhana sekali caranya, tidak neko-neko.

Setelahnya saya mengatakan, "I am going to write the sentences from this book on the white board. Below wach sentence, please write down the meaning in bahasa Indonesia."
Saya pun menuliskan setiap kalimat (ataupun frase) dalam buku di papan tulis. Saya menyisakan sekitar satu spasi untuk tempat anak-anak menuliskan terjemahan dari kalimat tersebut. Secara bergantian anak-anak maju dan menuliskan arti masing-masing kalimat. Seperti biasa, saya meminta satu orang anak untuk maju secara sukarela terlebih dahulu. Dia boleh memilih kalimat mana yang mau diterjemahkan terlebih dahulu. Setelahnya, dia memberikan spidol wite board kepada temannya. Temannya harus menerjemahkan kalimat yang lain. Begitu terus sampai semua kalimat telah diterjemahkan.


Agar anak-anak bisa berlatih pronunciation, saya juga meminta mereka membaca kalimat-kalimat berbahasa Inggris tersebut. Anak-anak sempat mengatakan "bear" seperti mengatakan "Bird". Saya mencontohkan bagaimana seharusnya mengucapkan kata "bear". Saya juga mencontohkan bagaimana mengucapkan "bird" dan "beard".

"Kedengarannya mirip," kata saya, "Tapi artinya berbeda. 'Bear' berarti beruang, 'bird' berarti burung, dan 'beard' berarti berewok."

Saya meminta anak-anak berlatih mengucapkan kata "bear", "bird", dan "beard".

Sebelum kelas berakhir, saya meminta semua anak mengucapkan kosa kata yang menurut mereka baru dan meminta mereka mengatakan bagian kelas mana yang dianggap menarik.

Ada anak yang mengatakan baru mendengar istilah "non matter". Saya pun menanyakan, "Do you know 'Boyzone'?"

Semua menggeleng. Saya langsung berasa tua hehe lalu berkata, "So 'Boyzone' is a name of a boy band. I used to hear Boyzone when I was young. One of Boyzone's song is called, 'No matter what'".
Saya pun mencontohkan menyanyikan potongan lagu tersebut,
"No matter what they tell us..No matter what they do.."

Saya pun menjelaskan bahwa arti lagu tersebut adalah
"Tak peduli (masalah) apapun yang mereka katakan..
Tak peduli (masalah) apapun yang mereka lakukan.."

Saya juga mencontohkan penggunaan lain dari istilah "no matter" misalnya, "no matter how bad people treat you, you must still be kind", yang artinya "tidak peduli bertapa buruk orang memperlakukanmu, kamu harus tetap baik ".

Anak yang lain mengatakan baru tahu istilah "ladder" dan "stairs". Yang lain mengatakan, baru tahu artinya "disguise". Yang lain baru tahu arti "hidden". Ada yang mengatakan kosa kata yang baru adalah "ripe".

Setiap anak, menyukai aktivitas yang berbeda-beda. Kebanyakan menyukai kegiatan mencocokkan kata dengan artinya. Ada juga yang menyukai bagian menerjemahkan kalimat dalam buku. Ada juga yang menyukai ketika dibacakan cerita.

Kelas dimulai pukul lima sore dan saat itu waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Kelas pun diakhiri.

May 11, 2015

Menonton Film "Detachment"

Semalam saya diajak nonton film "Detachment". Katanya, film itu tentang guru. Awalnya, saya ragu untuk menonton. Judul filmnya saja "Detachment" yang artinya ketidakterikatan. Dari judulnya, saya punya perasaan bahwa film tersebut akan menyedihkan.

Perasaan saya benar.  Film tersebut ternyata suram. Namun, ternyata saya suka filmnya karena cerita tentang guru dan kelas.  Itu tema favorit saya. 

Trailer filmnya bisa dilihat di :

Pak Henry adalah seorang substitute teacher (guru pengganti). Artinya, dia tidak pernah menetap di sebuah sekolah. Apabila ada sebuah sekolah yang kekurangan guru, dia akan diminta mengajar di sekoalah tersebut sampai ada guru tetap. Setelahnya, dia akan berpindah ke sekolah lain yang membutuhkan guru pengganti lagi. Begitu terus. Pak Henry tidak pernah menjadi guru tetap. 

Waktu menonton film "Detachment", saya teringat pada film "Entre Les Murs (The Class)", sebuah film Prancis yang dikeluarkan tahun 2008. Trailernya bisa dilihat di  :


Baik film "Detachment" maupun "The Class" merupakan film yang didasarkan pada studi yang mendalam tentang apa yang terjadi di dalam kelas. Menonton kedua film tersebut rasanya seperti membaca penelitian tentang kelas. Filmnya bukan  sekadar drama tentang sekolah tapi lebih seperti sebuah deskripsi tentang situasi kelas, tentu dari angle tertentu.

Ada yang tahu gerakan No Child Left Behind di Amerika Serikat? Film ini tampaknya merupakan kritik terhadap gerakan tersebut. Di film "Detachment" digambarkan bahwa Pak Henry mendapat kesempatan untuk mengajar di sekolah yang nyaris ditutup (dan akhirnya ditutup juga). Alasan penutupan sekolah adalah  karena nilai-nilai ujian siswa-siswa di sekolah tersebut sangat rendah. \

Yang tidak dipahami oleh pemerintah (yang memutuskan untuk menutup sekolah), adalah realita bahwa guru-guru di sekolah tersebut mampu bertahan mengajar meskipun siswa-siswanya penuh kemarahan dan sangat terbiasa membentak-bentak guru, bahwa orang tua siswa tidak pernah datang ke acara parents night meskipun guru-guru menunggu berjam-jam lamanya, bahwa meskipun siswa kesulitan belajar, masih ada guru yang mau menghabiskan waktu memberikan pelajaran tambahan kepada siswa yang memang kesulitan belajar, bahwa terlepas dari nilai siswa yang sangat rendah, masih ada guru-guru yang peduli. Mereka guru-guru yang ingin membuat perubahan, tapi begitu frustasi karena segala usaha merekka tampaknya tidak berhasil.

Pak Henry agar berbeda. Dia tidak datang ke sekolah dengan harapan menjadi "pahlawan" bagi siswa-siswanya. Dia menjadi guru yang apa adanya. Masa kecilnya  sama suramnya dengan siswa-siswanya. Ibunya pernah dilecehkan secara seksual oleh kakeknya sendiri dan akhirnya memilih bunuh diri. Mungkin itu yang menyebabkannya tidak gentar oleh kemarahan siswa-siswanya. Dia sendiri pernah dan mungkin masih penuh dengan kemarahan. Selain itu, sebagai guru pengganti, dia tidak se-stress guru-guru yang lain. Guru yang lain, memilih mengajar karena ingin membuat perubahan. Namun, ternyata sekolah pun akan ditutup dan mereka merasa gagal. Mereka jugalah yang akan kehilangan pekerjaan ketika sekolah ditutup, mereka jugalah yang merasaka bertanggung jawab dan terikat pada sekolah.

Pak Henry tidak seperti itu. Dia tidak  mempunyai keterikatan emosional pada sekolah. Dalam konteks ini, itu justru menjadi kekuattannya. Apa yang terjadi di sekolah tidak menganggunya dan dianggap biasa saja. Dia tetap bisa mengajar dan siswanya seperti biasa. Dia tidak keberatan bila ada siswa yang tidak mau mengikuti kelasnya. Ketika hari pertamanya mengajar di sekolah tersebut, dia meminta siswanya menuliskan esai tentang apa yang mereka bayangkan ketika mereka meninggal dunia. Suasana seperti apakah yang mereka bayangkan?  Esai-esai siswanya mungkin 'parah'  menurut guru lain, misalnya ada yang membayangkan kematiannya akan ditangisi perempuan-perempuan yang menganggapnya laki-laki keren. Tapi dia membacakan esai siswanya begitu saja. Yang penting siswa telah jujur pada perasaannya sendiri, dan membiarkan siswanya berekspresi apa adanya  merupakan jalan masuk untuk mengajak siswanya belajar. Pak Henry tidak takut gagal mengajar, dia hanya ingin mengajar.

Hal lain yang menarik dari film "Detachment" adalah ketika Pak Henry mengajak siswanya membahas kosa kata baru. Saya lupa apa istilah bahasa Inggrisnya, tapi arti dari kosa kata tersebut adalah "kebohongan yang dilakukan berulang-ulang sampai kita percaya". Dia mencontohkan bahwa contoh "kebohongan yang berulang-ulang sampai kita percaya", misalnya mengenai perempuan dan kecantikan. Perempuan harus cantik sehingga bisa diperlakukan secara hormat oleh orang lain. Kebohongan ini disampaikan terus menerus melalui iklan, media, dan sebagainya. Faktanya, ada perempuan-perempuan yang sudah mempercantik diri sedemikian rupa tapi tetap saja tidak selalu diperlakukan sebaik yang diimpikan. Mungkin kasus ini diangkat oleh Pak Henry karena beliau ingat akan ibunya yang diperlakukan dengan tidak baik.

Ada sebuah adegan di mana Pak Henry menanyakan siswanya, yang setingkat SMA mengenai buku 1984 karya George Orwell. "Siapa yang sudah baca?"

Beberapa siswa, meskipun tidak semua, mengangkat tangan, Suami saya, yang ikut menonton berkomentar, "Itu sekolah yang dianggap parah di Amerika Serikat tapi siswanya masih membaca 1984."

Saya membenarkan. Sekolah yang diangkat di film "Detachment" adalah sekolah yang mau ditutup dan dianggap tidak layak bagi siswa. Namun, setidaknya siswa masih diajak membaca sastra, membahas buku, Setidaknya ada usaha membuat siswanya berpikir.

Saat saya menonton film "Detachment", saya sebenarnya berpikir bahwa pendidikan di Indonesia meskipun kompleks, sebenarnya masih lebih baik kondisinya dibandingkan apa yang terjadi di sekolah yang ada di film tersebut. Mungkin pengetahuan saya terbatas, tapi sampai detik ini saya belum menemukan sekolah di Indonesia yang siswanya begitu penuh kemarahan sampai baik hampir semua siswa maupun orang tua tidak memperlakukan guru dengan hormat. Di film "Detachment" ada adegan di mana guru diludahi oleh siswa, guru dibentak oleh orang tua karena anaknya di-skors, siswanya berbicara menggunakan bahsa yang sangat kotor.

Bukan berarti tidak ada kasus semacam itu di Indonesia. Tetap ada kasus-kasus khusus di mana hal-hal tersebut terjadi, tapi setahu saya tidak separah apa yang saya lihat di film "Detachment" (untuk tahu detailnya silakan nonton sendiri filmnya).

Tentu saja, saya tidak mengatakan bahwa masalah pendidikan di Indonesia lebih sederhana. Tetap saja masalah pendidikan di Indonesia sangat kompleks. Masih ada masalah korupsi di bidang pendidikan yang belum berhasil diberantas, sistem birokrasi pendidikan yang rumit dan berliku, tidak meratanya kualitas pendidikan, distribusi guru yang tidak merata, dan kurangnya akses terhadap bacaan yang berkualitas di berbagai daerah, dan sebagainya. Tapi, rasanya, kalau ada perbaikan sedikit saja di beberapa aspek-aspek tersebut, efeknya bisa besar, termasuk di level nasional. Mungkin saya naif, tapi rasanya perbaikan itu masih mungkin terjadi. Semoga saja, guru-guru Indonesia tidak perlu pernah merasa se-frustasi guru-guru di film "Detachment". Semoga!