Oct 25, 2010

jakarta oh jakarta

4 hours on the street
Not yet out of town
Wondering when
Will we arrive?
When tell me when?

Anger of heat
With black dusty air

Anger of
wet heavy rain
Colored black or brown

Food full of metal
Water full of iron and a medicine smell
Water you pay for but not always clean

People breath poison
Poison everywhere in the air

Angry people swearing
Or crying in despair

Oh hungry city
Dark, gloomy, and blue
What do people get, from living with you?

Oct 24, 2010

Menonton film mengenai Bipolar Disorder




Sabtu lalu saya mampir di Rumah Buku untuk menghadiri kegiatan nonton film mengenai Bipolar Disorder berjudul At the Very Bottom of Everything karya Paul Agusta.

Saya penasaran karena saya tidak tahu menahu mengenai bipolar disorder dan sangat ingin belajar mengenainya. Tadinya saya berpikir itu semacam kepribadian ganda, ternyata saya salah. Ternyata :
Bipolar disorder (also known as manic depression) is a disease; it is a medical condition that causes psychological problems to such a degree that daily functioning is hampered by the symptoms. The most prominent symptoms include extremes of mood known as depression and mania. These emotional extremes are usually beyond normal responses to events and often last for extended periods of time. Psychosis and suicide are also concerns for those diagnosed with this disorder.
Sumber : http://bipolar.about.com/od/diagnosissymptoms/a/bipolardisorder.htm


Sumber : http://bipolar.about.com/od/diagnosissymptoms/a/bipolardisorder.htm

Menurut Paul Agusta, sang pembuat film, bipolar disorder biasanya dipengaruhi oleh produksi serotonin di otak. Ketika kadar serotonin-nya rendah, biasanya penderita bipolar disorder merasa sangat depresi.


"Saya pernah mencoba membunuh diri tapi saya gagal," kata Paul Agusta. Begitulah rasa depresi yang pernah ia rasakan.


Meskipun terkadang ada hal-hal yang membuat saya stres, rasanya saya tidak pernah mengalami depresi teramat sangat seperti yang dirasakan oleh penderita bipolar disorder. Sulit bagi saya untuk membayangkannya. Meskipun begitu, saya bisa belajar bahwa ada orang-orang yang bisa merasa sangat depresi, tetapi tidak bisa mereka kontrol. Rasa depresi ini bukan hanya dipengaruhi oleh hal-hal psikologis, stress berlebih, pola diet yang tidak baik, dan kurang tidur tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor biologis, yakni produksi serotonin di otak.

Film yang dibuat oleh Paul Agusta cukup berat bagi saya. Ada banyak simbol yang digunakan yang merupakan simbol-simbol pendertitaan yang dialami oleh penderita bipolar disorder, misalnya simbol tikus yang memakan manusia. Rasanya sakit, menakutkan, dan mengerikan sekali. Dan itulah yang dirasakan oleh penderita bipolar.

Bagi Paul Agusta, film ini sangat personal. Film ini diangkat dari buku hariannya yang ditulisnya saat ia dirawat di rumah sakit untuk penderita mental. Menurutnya, bipolar disorder bisa diderita oleh perempuan dan laki-laki, dan juga bersifat genetik (bisa menurun).

Waktu Paul Agusta didiagnosis sebagai penderita bipolar, awalnya ia diberi obat-obatan. Hanya saja, ia merasa "sok jago" sehingga tidak mau meminum obatnya dan merasa bisa sembuh tanpa pengobatan. Sayangnya, dugaannya salah, ia justru menjadi sangat depresi sehingga titik yang paling dalam. Ia perlahan bisa sembuh yakni dengan kembali meminum obatnya. Selain itu, menurutnya yang juga menyembuhkannya adalah bantuan orang lain, yakni keluarga, sahabat terdekat.

Orang yang menderita bipolar disorder tidak akan bisa menghadapi penyakitnya sendiri Dalam satu adegan di filmnya ada kalimat (meskipun tidak sama persis):
Meminta pertolongan orang lain, itu bukan kesalahan
Membutuhkan kasih saya keluarga, itu bukan kesalahan


Ada juga kata-kata dalam film ini yang menyatakan bahwa ketika seseorang yang menerima bipolar disorder diterima apa adanya, baik oleh keluarga maupun sahabat-sahabatnya, ia akan lebih mudah menghadapi penderitaannya.

Oct 17, 2010

fresh and motivated

Had a great weekend
After 2 days of panic
Met best friends
Met old students
Went to places I never had thought of
Had a meaningful talk with a humble friend
Met people I haven't met for years
Looking at a child's smile
Laughing out loud
Being one's self
Shower under the rain
Had a good night sleep
Woke up early in the morning
In a city not as polluted as Jakarta
Feeling alive
Ready for the next step

Oct 14, 2010

Buku Teks Bilingual, Pengajaran dalam Bahasa Inggris dan Generasi Tanggung

Sekitar satu tahun yang lalu saya pernah hampir melamar untuk menjadi penerjemah di suatu penerbitan tetapi karena saat itu saya sedang melakukan suatu penelitian yang membutuhkan konsentrasi tinggi dan merasa tidak sempat untuk menerjemah, saya tidak jadi mengajukan diri sebagai penerjemah.

Penerjemah yang dibutuhkan adalah seseorang yang bisa menerjemahkan buku-buku teks IPA berbahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Saya pikir, kebutuhan untuk menerjemahkan buku-buku teks ini ke dalam bahasa Inggris diperlukan untuk keperluan sekolah-sekolah bilingual (dan RSBI) yang mulai menjamur di Indonesia.

Saya tidak tahu apa menerjemahkan buku-buku teks berbahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris itu sebenarnya bisa membantu pemahaman siswa dalam belajar. Entahlah.

Saya mempunyai seorang murid privat yang bersekolah di sebuah sekolah swasta di Jakarta. Dia kini berada di kelas 8. Kemarin malam, saat saya menemaninya belajar fisika, saya membaca-baca buku teks yang digunakannya untuk belajar. Bukunya tertulis dalam bahasa Inggris dan Indonesia. (Setiap paragraf ditulis dalam bahasa Inggris, lalu di bawahnya ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia). Alangkah kagetnya saat saya sedang membaca sebuah paragraf yang menerangkan mengenai perlambatan. Begini tulisannya:


"Frictional force between air and the body of motorcycle, causes the motion seems the motorcycle retarded."



Tentunya yang ingin disampaikan oleh penulisa adalah bahwa akibat adanya gaya gesek yang terjadi antara sepeda motor dan udara menyebabkan sepeda motor mengalami perlambatan.

Sebentar, sebentar...
Apa saya tidak salah baca? Kata 'perlambatan' diterjemahkan sebagai 'retarded'?


Motorcycle retarded?

Retarded kan artinya terbelakang, tapi biasanya digunakan untuk manusia, bukan sepeda motor. Benar kan?

Ah gemasnya, apakah buku-buku ini benar-benar beredar di masyarakat?

Untungnya, di bagian bawah ada terjemahannya. Murid saya misalnya, lebih memilih membaca paragraf yang bahasa Indonesia. Tapi apa jadinya apabila ia membaca paragraf dalam bahasa Inggris? Bagaimana apabila ada guru yang menggunakan buku ini sebagai acuan tetapi pemahaman bahasa Inggrisnya pun pas-pasan sehingga ia menerima apa yang ada di buku sebagai kebenaran?

Hal ini perlu dipertimbangkan mengingat beberapa sekolah, secara instan dan dalam waktu singkat, berubah dari sekolah yang mengunakan bahasa Indonesia sebagai penghantar menjadi bahasa Inggris.

Saya jadi ingat kisah di mana guru IPA yang diminta mengajar dalam bahasa Inggris menerjemahkan "gaya" (fisika) menjadi "style", padahal seharusnya adalah "force". Ini kisah nyata yang terjadi di Indonesia. Bayangkan apa yang dipelajari oleh siswa-siswi kita di sekolah? Apa mencerdaskan? Atau sebaliknya?

Ada beberapa penyebab hal ini bisa terjadi, pertama adalah adanya sekolah-sekolah bilingual "instan". Proses menjadikan sebuah sekolah menjadi sekolah bilingual dilakukan tanpa pemikiran dan persiapan, dan desain yang matang. Sebagai contoh, ada sekolah-sekolah yang tiba-tiba mensyaratkan guru-gurunya mengajar dalam bahasa Inggris. Untuk mempersiapkan guru-gurunya, mereka hanya diikutkan kursus bahasa Inggris selama 3 bulan.

Kedua, kontrol mengenai kualitas buku-buku teks masih kurang memadai. Sehingga masih ada buku teks yang berkualitas rendah. Meskipun BSNP mengaku telah melakukan kontrol terhadap buku-buku teks yang ada, pada kenyataannya banyak buku teks (juga lks) berkualitas rendah yang masih beredar di sekolah-sekolah.

Apabila guru memiliki keterampilan yang baik untuk membuat bahan sendiri, worksheet, dan mampu mengajak siswa belajar melalui berbagai sumber (tidak terpaku pada buku teks), tentunya kualitas buku teks yang buruk tidak akan menjadi masalah. Guru bisa mengkritisinya dan menggunakan sumber-sumber lain sebagai media pembelajaran. Tentunya agar secara umum guru-guru Indonesia bisa menjadi guru yang seperti ini, tentu diperlukan proses dan adanya program-program peningkatan kualitas guru secara berkelanjutan.

Sambil menjalankan beberapa program peningkatan kualitas guru, ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh pemerintah yakni : pertama, melakukan kontrol terhadap buku teks yang beredar di masyarakat dan terutama di sekolah. Pemerinta perlu memastikan agar buku-buku tersebut berkualitas baik. Kedua, menghentikan program-program "bilingual instan", yakni program-program yang bilingual yang tidak dedesain dengan baik, yang melakukan melakukan pengajaran dalam bahasa Inggris tanpa adanya persiapan yang matang, terutama kesiapan guru-gurunya.

Kalau memang ingin meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris siswa, lebih baik meningkatkan kualitas pelajaran bahasa Inggris, terutama dengan meningkatkan kapasitas guru-guru bahasa Inggris.

Yang utama adalah pemahaman anak akan ilmu pengetahuan. Lebih baik anak belajar menggunakan bahasa ibu, tetapi fokus di pemahaman akan ilmu pengetahuan daripada belajar menggunakan bahasa asing tetapi setengah-setengah (ilmu pengetahuannya tidak didapatkan, kemampuan berbahasanya juga minim). Kita tidak ingin menghasilkan generasi yang tanggung bukan?

Oct 12, 2010

Ternyata "Gelisah" itu perlu

Beberapa hari yang lalu saya menyelesaikan sebuah makalah mengenai Ujian Nasional untuk dikirimkan ke sebuah konferensi. Lolos atau tidak, saya belum tahu karena baru akan diumumkan beberapa minggu lagi. Meskipun begitu ada kelegaan dalam hati saya. Hari saya menyelesaikan makalah saya, saya bahagia. Akhirnya saya bisa menyusun keseluruhan pengalaman saya dalam satu tulisan yang utuh. Utuh di sini maksudnya, bisa menjadi semacam kerangka teori untuk tulisan yang lebih besar. Saya tidak menyangka hari itu akan datang. 3, 5 tahun saya berusaha merangkai kata. Saya membaca buku-buku dan jurnal-jurnal tentang assessment sangat banyak tetapi belum juga menemukan "Aha moment". Saat di mana saya bisa menyusun segala pemikiran, kegelisahan saya sampai-sampai saya hampir menyerah.

Akhirnya momen itu saya temukan. Rasanya menyenangkan, tapi ternyata eng ing eng ada masalah baru. Menulis memang menyembuhkan. Menulis memang membantu kita merangkai pemikiran. Saat kita menulis kita harus merenung. Berefleksi. Menata kegelisahan. Berekspresi.

Saya baru sadar, tulisan-tulisan yang 'powerful' biasanya didasari oleh kegelisahan, kemarahan, dan kesedihan. Saya baru tahu maksud sahabat saya yang mengatakan, "penulis harus selalu mencari kegelisahan".

Kemarin selesai menulis makalah tersebut, kegelisahan saya terselesaikan. Tidak sepenuhnya memang, tetapi sebagian. Setidaknya saya merasa lebih ringan. Pertanyaan berikutnya apa lagi?

Oct 10, 2010

waktu

Waktu menghantarkan kita.
Pada pada perjumpaan
Rutinitas dan spontanitas

Waktu menghantarkan kita
Pada kenalan-kenalan baru
Yang menghangatkan hati kita
Sekaligus belajar dan tertawa-tawa

Waktu menghantarkan kita
Pada perubahan
Perpisahan dan perjumpaan
Dan kopi di pinggir jalan

Waktu menghantarkan kita
Pada lelah yang tak kunjung hilang
Lalu obrolan ringan di toko buku
Yang tanpa disengaja, membuat mata berbinar-binar
Kita hidup sekali lagi!

Waktu menghantarkan kita
Pada mickey mouse
Dan kaus-kaus imut yang berwarna-warni
Dan kamar yang dipenuhi warna-warna pelangi

Waktu menghantarkan kita
Pada proses yang tak pernah padam
Rasa kaget pada perbedaan
Yang berevolusi menjadi suatu pencerahan

Waktu menghantarkan kita
Pada kerja keras yang rasanya tak pernah terbayar
Pada keinginan untuk menyerah karena luka dan duka
Lalu lewat cerita.. Terobati dan sembuh

Waktu menghantarkan kita
Pada kertas yang bertabur di udara
Marah dan tetesan air mata
Lalu kau berkata 'the show must go on.'
Waktunya tersenyum lagi

Waktu menghantarkan kita
Pada pelajaran yang dipetik
Bahwa hidup adalah hidup
Bahwa persahabatan melenyapkan duka
Bahwa kelembutan hati dan ketulusan
Tak akan pernah salah
Bahwa hati selalu tahu
Yang terbaik untuk diri
Bahwa yang baik untuk orang lain belum tentu baik untuk kita (dan sebaliknya)
Bahwa cinta akan datang
Pada saatnya

Waktu menghantarkan kita
Pada hari ini

Selamat berbahagia

Untuk yang jatuh hati pada seseorang yang berkata, "aku ingin setiap orang memiliki rumah".

Selamat berbahagia

Oct 8, 2010

Will people hear me?

Will people hear me?
I'm still very young and free.

I have so many things in my mind
So many opinions to say

Will people hear me?
I do not know

I should not even matter
Being heard isn't the goal
It is only a bonus
It may happen or it may not

The goal is to make meanings
A meaningful life all the way through

No way back

Dunia pendidikan itu, semakin kita masuk, semakin kita tertarik ke dalam. Seperti lumpur yang menarik kita.(Pak Daoed Joesoef)


Benar. Beberapa tahun yang lalu kira-kira di tahun 2008 saya bercakap-cakap dengan seorang teman bahwa being in this field, there is no way back.

Semakin kita mengerti fakta, kalau kita tidak terpaksa sekali, akan sulit bagi kita untuk terlepas dari dunia ini.

Menyesal? Alhamdulillah, tidak. Saya rasa saya telah melalui sebuah titik di mana saya hanya perlu melangkah dan melangkah lagi. Setiap hari kejutan baru. Dalam konteks Indonesia lagi, setiap hari, berarti isu baru.

Dua hari ini saya berkutat dengan sebuah penelitian singkat. Hanya 20 halaman, tapi apa yang ingin saya tuliskan telah bermain di kepala saya selama bertahun-tahun. Semakin membacanya, semakin saya tahu, there is no way back. This is my choice, this is my road. And I hope Allah will always give me strength, courage, and gudance.

the "Aha" moment

The "aha" moment
Is not just an ordinary miracle

Archimedes might yell "Eureka" in a second or two
But believe me, a second or two is not all that it takes

The "Aha" moment is not just an enlightment that falls from the sky

Your eyes need to wonder
Your ears opened wide
Your head must keep on turning
Wondering why, why, and why

Your must keep on asking
Try to seek for the truth
It might not be easy
But it does not hurt to try

Keep the wonder, the curiosity inside
The truth is out somewhere
Or it might be inside
To find it faithful is needed
Never give up

The "aha" moments needs patience
That is for sure
It might need some time

when you walk down the road,
Or almost fall a sleep through the night
You might find the moment, you've waited all you life
"Aha!"