Sep 22, 2012

Cerita Akhir Semester (1) : Menjadi Lebih Baik

Satu semester telah berakhir. Bisa dikatakan semua mahasiswa saya telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Di kelas menulis (bahasa Inggris), semua siswa saya membuat portfolio berupa kumpulan tulisan mereka. Mahasiswa saya adalah calon-calon guru matematika, sehingga tugas menulis mereka  terkait dengan Matematika dan mengajar. Setiap minggu, setidaknya mereka harus membuat satu karya, mulai dari menuliskan sejarah diri mereka belajar matematika, menuliskan ulang dengan bahasa sendiri sebuah film berjudul "Zero & One" yang saya ambil di youtube, membuat refleksi dari pengalaman mereka melakukan school experience  selama dua minggu di sekolah, menuliskan tentang 5 siswa yang mereka amati selama mengajar, sampai membuat semacam newsletter sekolah. Setidaknya ada 12 karya mereka sepanjang semester. Setiap minggu satu tulisan.

Sebelumnya, saya sudah menyiapkan contoh tulisan-tulisan (yang menurut saya) bagus yang harus mereka baca sebelum menulis. Salah satu tulisan menarik yan disediakan diambil dari kumpulan tulisan guru yang dikumpulkan oleh Erin Gruwell, dalam buku "Teaching Hope : Stories from The Freedom Writer Teachers and Erin Gruwell".  Kenapa saya melakukan itu? Seringkali mahasiswa saya mengatakan bahwa mereka tidak memiliki "ide" untuk menulis. Dengan cara tersebut saya ingin menunjukkan  bahwa kalau kita memulai aktifitas menulis dengan membaca terlebih dahulu, kita tidak akan kekurangan ide menulis.  Selain itu, dengan membiasakan membaca, kosa kata kita akan bertambah. Pilihan kalimat yang kita gunakan dalam menulis pun akan lebih kaya.  Di akhir semester beberapa mahasiswa saya mengatakan, "Saya tidak menyangka bisa menulis dalam bahasa Inggris sebanyak itu! Dulu saya takut, sekarang saya lebih terbiasa!" 

Mahasiswa-mahasiswa saya telah banyak berkembang. Yang tadinya malas menulis, lama-lama menyukai menulis. Yang tadinya takut bahkan untuk berbicara dalam bahasa Inggris, menuliskan sebuah refleksi panjang mengenai pengalamannya mengajar siswa berkebutuhan khusus dalam bahasa Inggris. Bukan hanya itu, dengan beraninya dia membacakannya di depan kelas. Struktur tulisan, pilihan kata dan kalimat yan dibuat mahasiswa-mahasiswa senantiasa lebih baik dari waktu ke waktu. Berapapun nilai yang mereka dapat di akhir semester tidak menjadi penting. Yang pasti mereka berkembang menjadi lebih baik.

Di kalangan guru sering terjadi perdebatan mengenai perlunya memberikan reward (penghargaan) kepada siswa. Tujuannya untuk memotivasi siswa. Di akhir semester lalu saya belajar bahwa mahasiswa saya bahagia karena tahu mereka (ternyata) bisa berkarya melebihi apa yang mereka bayangkan. Ternyata  penghargaan paling berharga yang bisa seorang pendidik berikan kepada siswanya adalah membuat mereka merasa bahwa mereka bisa mengalami kemajuan dalam belajar. Bahwa mereka hari ini, telah tumbuh menjadi manusia yang lebih kaya pengalaman dan pengetahuan, dibandingkan satu semester sebelumnya. Bahwa mereka bisa berubah menjadi lebih baik. Dalam hal apapun, termasuk dalam hidup. 

Sep 11, 2012

Guru dan Demonstrasi



Di Chicago (10/09/2012) sedang ada boikot guru besar-besaran. Ribuan guru bergabung dalam demonstrasi ini. 


Saat guru melakukan boikot/berdemonstrasi, biasanya selalu ada pihak-pihak yang tidak setuju. Boikot/demonstrasi guru dianggap merugikan siswa karena proses pembelajaran menjadi terhenti. Saya termasuk pihak yang tidak sepenuhnya setuju dengan anggapan ini. Banyak kebijakan-kebijakan  lain yang sebenarnya sangat merugikan siswa. Kebijakan-kebijakan ini diterapkan setiap hari sangat merugikan siswa. Kebijakan semacam ini perlu dilawan, salah satu caranya adalah dengan melakukan boikot/demonstrasi.  


Tentu saja alasan guru melakukan boikot/demonstrasi harus masuk akal. Apa yang dituntut oleh guru memang harus mendukung proses pendidikan. Bagi seorang guru, yang paling penting adalah proses pembelajaran terjadi dengan baik. Selain itu kepentingan siswa untuk memperoleh pendidikan berkualitas harus diutamakan lebih dari kepentingan apapun. Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Amisha Patel, direktur Grassroots Collaborative, salah seorang yang ikut dalam Demonstrasi di Chicago.


“I’m talking about the disruption of ... not having libraries in their sch
ools.…When Chicago Public Schools (CPS) closes their schools instead of investing in the schools, that’s what’s disruptive to students. And when CPS forces students in classrooms with 35 or 40 other children, that’s what’s long-term disruptive for our children.”
 
Saya berbicara tentang keusakan dari... tidak adanya perpustakaan di sekolah... Ketika  Chicago Public Schools (CPS) memilih untuk menutup sekolah-sekolah publik dan bukannya melakukan invesrigasi mengenai kenapa sekolah tersebut bermasalah. Ketika  CPS memaksakan 35 atau 40 siswa di dalam satu kelas, itu yang menyebabkan kerusakan jangka panjang bagi anak-anak kita. 
 Guru-guru di Chicago, didukung oleh orang tua menuntut beberapa hal yang dianggap esensial untuk keberlangsungan pendidikan yang berkualitas bagi siswa diantaranya  bisa dilihat dari hasil wawancara di acara 'Democracy Now' :


We're striking for a lot of reasons. If you just see what's in the mainstream media all they talk about is that teachers want more money. But that's really far from the truth. We're fighting for reasonable class sizes, we're fighting for wrap around services for our students. I teach in a school with a thousand students, we don't even have one social worker in that building for most of those kids. So we're fighting for the education our students deserve in Chicago. We're fighting aginst reforms that we see from the classroom level are not going to work. (Phil Cantor, Guru North Grand High School)
Kami melakukan  boikot karena berbagai alasan. Kalau anda melihat media mainstream, mereka sibuk membicarakan bahwa guru ingin memperoleh lebih banyak uang. Sebenarnya itu jauh dari kenyataan. Kita berjuang untuk ukuran kelas yang memadai, kita memperjuangkan pelayanan untuk siswa. Saya mengajar di sebuah sekolah dengan ribuan siswa dan di sana kita bahkan tidak punya satu orang pekerja sosial pun untuk [mendukung wellbeing] siswa. Jadi kita memperhuangkan pendidikan yang layak untuk siswa kita di Chicago. Kita melawan reformasi yang kalau diterapkan di kelas, tidak akan berjalan.  (Phil Cantor, Guru North Grand High School)
 Kejadian di Chicago mengingatkan saya akan obrolan saya dengan beberapa orang guru. Beberapa kali saya berbincang-bincang dengan guru yang menganggap seorang guru tidak patut berdemonstrasi ataupun melakukan boikot. Kalaupun guru mau menyampaikan aspirasi, hal tersebut bisa dilakukan dengan cara lain misalnya menulis ke media. Meskipun saya setuju bahwa ada banyak cara untuk menyampaikan aspirasi, salah satunya adalah dengan menulis, saya juga paham bahwa cara seperti itu tidak selalu cukup. Seringkali para pembuat kebijakan tidak mau mendengar. Berbagai cara lain harus dilakukan agar suara guru bisa terdengar. Dalam beberapa kasus tertentu melakukan boikot atau demonstrasi adalah cara yang perlu ditempuh. Meskipun begitu, menurut saya ketika guru memilih untuk melakukan boikot/demonstrasi sebaiknya guru benar-benar memahami isu yang disuarakan, bukan sekadar ikut-ikutan. Seorang guru yang ikut boikot di Chicago, misalnya menuliskan alasannya di blog. Ketika guru sudah bisa melakukan ini artinya dia punya sebuah alasan kuat, setidaknya bagi dirinya sendiri mengenai mengapa dia ikut melakukan boikot/demonstrasi. 

Diane Ravitch, Reasearch Professor Bidang Pendidikan dari New York University menanggapi aksi boikot yang dilakukan guru-guru di Chicago. Dia percaya bahwa dalam konteks di sana, boikot perlu dilakukan. Dalam blognya dia menulis :


I’m hoping that something good comes of the strike – not just for teachers and kids but in our national conversation about education (or lack thereof). We need people, lots of them, to start talking about, voting for, and demanding that, as a nation, we commit ourselves (in word and deed) to a system of free, just, and forward minded public education – not testing, privatization schemes, or crazy accountability schemes that take the focus off of what really matters. We need real education – context specific, developmentally appropriate, child focused, forward thinking teaching and learning in every corner of this country that is full of professional educators, rich curriculum, and even richer experiences, community engagement, and family participation. If anyone thinks this strike is just another union “ploy” for higher pay or less “working time” they are sorely mistaken. And while workers should be entitled to protect their rights, the CPS strike is about the heart and soul of public schooling, the deprofessionalization of teachers, and the ways that the education “crisis” nation wide has been co-opted as a means of pushing privatization as the be-all-and-end-all solution to the “achievement gap”. Schools are not businesses, children are not widgets, and teachers are not robots or machines. Let’s start there. (Diane Ravitch) 
 Saya berharap bahwa boikot ini membawa kebaikan - bukan hanya untuk guru atau siswa tetapi membuka dialog nasional mengenai pendidikan (yang sangat kurang). Kita butuh banyak sekali orang untuk mulai membicarakan, memilih, dan menuntut bahwa, kita berkomitment (baik dalam kata-kata maupun perbuatan) untuk mendukung sistem yang adil dan pendidikan publik yang visioner dan terjadi pembelajaran di setiap sudut negara ini dengan dukungan pendidik yang profesional, kurikulum yang kaya, termasuk juga pengalaman yang kaya, keterlibatan komunitas, dan keluarga dalam pendidikan. Kalau ada yang mengira boikot ini hanya tuntutan organisasi guru untuk bayaran yang lebih tinggi dan jam kerja yang lebih pendek, hal tersebut salah besar. Meskipun pekerja perlu didukung haknya, boikot CPS adalah tentang inti dan jiwa dari sekolah publik, [penentangan terhadap] deprofesionalisasi guru, dan bagaimana krisis pendidikan terjadi secara nasional, dimanfaatkan untuk kepentingan privatisasi seakan-akan itu bisa menyelesaikan masalah kesenjangan pencapaian (achievement gap). Sekolah bukanlah bisnis, anak-anak bukanlah semacam gadget,  dan guru bukanlah robot atau mesin. (Diane Ravitch)

Dalam banyak hal, saya sependapat dengan pandangan Diane Ravitch di atas. Saya percaya bahwa dalam konteks tertentu aksi seperti boikot atau demonstrasi penting untuk memperjuangkan hal-hal yang esensial dalam pendidikan, setidaknya memancing semakin banyak orang untuk membicarakan dan mendorong perbaikan pendidikan. Tidak ada salahnya guru melakukan boikot/demonstrasi khususnya kalau aksi tersebut didasari oleh rasa cinta seorang guru terhadap pendidikan, pembelajaran, dan siswanya.  

Sep 4, 2012

[Klub Baca IGI ] Membaca Belajar Heran di Negeri Jiran (1) : Cerita tentang Sebuah Perjalanan Menjadi Dosen di UTM



[Klub Baca IGI ] Membaca Belajar Heran di Negeri Jiran (1) : Cerita tentang Sebuah Perjalanan  Menjadi Dosen di UTM
Oleh : Dhitta Puti Sarasvati

Saya mengenal Pak Bambang Sumintono ketika dia sudah menjadi dosen di Universitas Teknologi Malaysia (UTM).  Kami satu mailing-list (milist)  Center for Betterment of Education (CFBE). Tulisannya banyak beredar di milist tersebut. Sesekali saya membaca di blog-nya http://deceng2.wordpress.com .   Tidak semua tulisan Pak Bambang pernah saya baca. Hanya sebagian saja. Ternyata tulisan-tulisannya di blog sudah sangat banyak dan ini kemudian diterbitkan dalam buku “Belajar Heran dari Negeri Jiran” terbitan Metagraf, 2012.

Sebelum saya membaca buku karya Pak Bambang saya punya asumsi sendiri tentang Pak Bambang. Pak Bambang adalah dosen UTM yang pintar, sudah S3, mantan direktur program-nya Klub Guru Indonesia (KGI – sebelum menjadi IGI), peneliti mengenai RSBI, bahasa Inggrisnya bagus, dan aktif menulis di beberbagai jurnal ilmiah. Pokoknya, kerenlah!  Yang jelas, saya mengenal Pak Bambang di posisinya yang sudah sebagai dosen di UTM. Saya tidak tahu bahwa perjalanannya untuk sampai ke posisinya sekarang cukup panjang dan berliku.

Membaca buku “Belajar Heran di Negeri Jiran” saya belajar lebih banyak mengenai proses yang dilaluinya sampai menjadi Pak Bambang yang saya kenal hari ini.

***
Pak Bambang dulu adalah seorang guru kimia SMA di Kabupaten Lombok Timur. Sebelumnya Pak Bambang tidak pernah membayangkan bisa melanjutkan S2 ke perguruan tinggi di luar negeri.  Pak Bambang merupakan lulusan D3 kependidikan kimia dari IPB. Menurutnya, prestasi selama kuliah D3 dulu alakadarnya. Padahal untuk bisa memperoleh beasiswa, harus lulus S1 dengan prestasi yang baik.  

Perjuangan pun di mulai. Pak Bambang mengambil kuliah S1 di Universitas Terbuka (UT) di UPBJJ Mataram. Agar mudah mendapatkan beasiswa, Pak Bambang selalu berusaha memperoleh nilai A. Kalau mendapatkan nilai di bawah A, Pak Bambang tidak segan-segan untuk mengulang lagi. Kuliah di UT diselesaikan dalam waktu 3,5 tahun.

Kemampuan bahasa Inggris pun ditingkatkan. Cara yang dipilih Pak Bambang  cukup unik dan hanya bisa dilakukan dengan ketekunan. Setiap hari Pak Bambang melakukan penerjemahan secara manual, kata per kata dari teks bahasa Inggris ke bahasa Indonesia secara rutin. Di samping itu Pak Bambang juga banyak membaca.  Meskipun tidak mengikuti kursus bahasa Inggris, cara ini cukup ampuh. Setidaknya nilai TOEFL yang diperoleh Pak Bambang cukup tinggi dan bisa digunakan untuk masuk Universitas Adelaide, Australia.  

Sekembalinya dari Australia, Pak Bambang kembali mengajar di SMU tempat dia bekerja sebelumnya. Pak Bambang pun kemudian mendapatkan kesempatan untuk seleksi S3 di New Zealand tetapi ternyata baik kepala sekolah maupun kepala dinas pendidikan tidak memberikan izin. Menurut mereka izin tidak diberikan karena itu merupakan keputusan sekretaris daerah. Pak Bambang sudah pernah memperoleh izin studi ke luar negeri jadi dia tidak memperoleh izin lagi untuk seleksi beasiswa. Alasan tersebut tidak masuk akal padahal beasiswa yang Pak Bambang dapatkan tidak dibiayai negara.

Seorang teman menyarankan Pak Bambang untuk meminta izin atasan kepala dinas, yakni bupati. Selama dua hari Pak Bambang  mendatangi rumah-rumah bupati (rumahnya lebih dari satu). Kesempatan bertemu bupati pun datang. Singkat cerita, izin untuk mengikuti seleksi S3 pun didapatkan.

Setelah lulus S3 di New Zealand, Pak Bambang berniat melamar menjadi dosen. Dia mencoba melamar di berbagai perguruan tinggi (PT) di Indonesia tetapi belum mendapat kepastian. Salah seorang petugas administrasi di sebuah PT swasta malah pernah mengatakan, “Kami mencari lulusan S3 dalam negeri.” 

Salah seorang teman Pak Bambang menawarkan Pak Bambang untuk melamar di PT di Malaysia. Pak Bambang mengirimkan email ke beberapa universitas di Malaysia dan ditanggapi dengan cepat. Tiga universitas di Malaysia meminta Pak Bambang  melengkapi administrasi untuk menjadi dosen. Pak Bambang  akhirnya memilih untuk mengajar di UTM.

Membaca perjalanan Pak Bambang dari menjadi guru Kimia SMU sampai menjadi dosen di UTM membantu saya memahami banyak hal. Bukan hanya tentang ketekunan Pak Bambang dalam belajar, saya juga banyak belajar tentang tips-tips untuk bisa melanjutkan studi, serta bagaimana menjalankan studi. Melalui narasi yang ringan,  saya belajar banyak tentang konteks pendidikan Indonesia, termasuk mengenai ribetnya birokrasi yang ada. Masih banyak hal menarik lainnya yang saya peroleh dari buku “Beljar Heran di Negeri Jiran”. Tunggu tulisan saya selanjutnya yah

Sep 3, 2012

Lili Vs Lala (Oppie Andaresta)


Lili Vs Lala (Oppie Andaresta)
Lili habiskan waktu setiap hari
Untuk membentuk tubuhnya
Lala habiskan waktu yang dia punya
Untuk memperkaya jiwanya
Lili sibuk permak wajah sana sini
Menganggap diri seperti barbie
Lala sibuk mengolah kegelisahannya
Bersyukur dengan yang dia punya
Ahuuuu, lalalaaa
Ahuuuu, lililiii
Lili pantang untuk menginjak tanah
Jadi hitam kotor dan berkeringat
Lala terbang bebas kemana dia suka
Berteman dengan dunia
Ahuuuu, lalalaaa
Ahuuuu, lililiii
Lili letih karena selalu jaga wibawa
Terperangkap kredibilitasnya
Lala membuka luas-luas hatinya
Menyapa semua manusia
Lili jadi gamang dan tak terkendali
Sibuk hati tak tahu yang dicari
Lala selalu wajar dan jadi membumi
Temukan rumah jiwanya
Ahuuuu, lalalaaa
Ahuuuu, lililiii

Gratitude

Dulu, beberapa orang seringkali mengatakan kepada saya bahwa di dunia kerja orang sering sikut-sikutan, saling menjatuhkan, dan sebagainya. Mungkin saya beruntung, tapi kondisi seperti itu jarang sekali saya temui. Pernah sih perlu beririsan dengan orang-orang yang sibuk mementingkan kepentingan pribadi dan suka menjatuhkan orang lain.  Tapi hanya sesekali.

Sesungguhnya justru saya lebih banyak bekerja dengan orang yang bekerja dengan sepenuh hati untuk orang banyak. Saya banyak bekerja dengan para pendidik, juga beberapa aktivis sosial. Di lingkungan saya, orang sibuk membicarakan bagaimana caranya mendukung satu sama lain, bagaimana bisa berbagi, bagaimana bisa menyuport satu sama lain. Semuanya memperkaya batin.

Salah satu kenikmatan bekerja di lingkungan pendidik (bukan hanya guru), adalah untuk bahwa bagi seorang pendidik, being true to yourself is very important. Bagi seorang pendidik yang penting bukanlah label tapi apa yang benar-benar esensial. Saat kita menjadi pendidik kita tidak bisa menjadi orang lain, we have to truly be ourselves. Saya senang, saya bisa bekerja di lingkungan yang tidak sibuk dengan kepalsuan, di lingkungan di mana saya sepenuhnya bisa menjadi diri saya sendiri, tidak menjadi orang lain. Dan yang lebih menyenangkan lingkungan saya menghargai hal tersebut. So I think I have to be very grateful. Thank you! 

Sep 2, 2012

Bertemu Sensei Okihara

Rabu lalu, 29 Agustus 2012, saya dan Mbak Danti mendapatkan kesempatan untuk bertemu seorang guru, peneliti, profesor, pelatih guru, dari Jepang. Namanya Sensei Katsuaki Okihara dari Kyoto Notre Dame University.

"Basically, I'm an education person. I quite of do everything", kata Sensei Okihara. Sensei Okihara mengajar sejak tahun 1981. Banyak sekali yang sudah pernah (dan masih dikerjakannya). Setelah menyelesaikan trainingnya di bidang English Language Teaching, dia  mengajar bahasa Inggris di sekolah-sekolah di Jepang. Dia pernah mengajar  siswa berbagai usia. Dia juga pernah menjadi penasihat Kementerian Pendidikan Jepang, khususnya mengenai kebijakan pendidikan bahasa Inggris di Jepang. Kini dia masih mengajar (kalau tidak salah di sekolah menengah atas), perguruan tinggi, dan juga menjadi pelatih guru. Selain itu Sensei Okihara terus meneliti.

"Guru juga harus meneliti," katanya, "Itu salah satu kewajiban guru di Jepang. Sebenarnya  dengan melakukan penelitian ini, saya tidak akan mengalami peningkatan dalam karir (tidak akan naik pangkat). Saya sudah profesor. Tingkat karir saya sudah paling tinggi di bidang saya. Tapi saya meneliti untuk mengusir kebosanan. Cara mengusir kebosanan adalah dengan terus belajar hal baru. If we don't learn we die. That's life!" katanya

Sensei Okihara datang ke Indonesia karena ingin meneliti mengenai pendidikan bilingual di Indonesia, khususnya mengenai Content and Language Integrated Learning (CLIL). CLIL adalah pembelajaran bahasa Inggris melalui pelajaran sains dan matematika. "Awalnya CLIL dibuat karena seringkali pembelajaran bahasa Inggris hanya satu jam atau dua jam dalam seminggu. Jadi salah satu cara untuk saran untuk meningkatkan exposure siswa terhadap bahasa Inggris adalah dengan mengajar bidang lain dalam bahasa Inggris misalnya matematika dan sains. Saya tertarik mengetahui bagaimana pengaruh CLIL terhadap identitas nasional (national identity), khususnya di negara-negara Asia. Malaysia, misalnya sudah mulai meninggalkannya."

Sensei Okihara menambahkan, "Sebagai seorang guru bahasa Inggris saya selalu mempertanyakan kembali, apakah yang saya ajarkan memang penting? What is the role of teaching English in non- English speaking countries? Melalui penelitian saya senantiasa berusaha mencari kembali jawaban."

Saya kemudian berbincang-bincang dengan dia mengenai banyak hal. Saya katakan bahwa pada dasarnya saya lebih senang apabila pembelajaran sains dan matematika di sekolah (khususnya di sekolah negeri) menggunakan bahasa Indonesia. Saya bercerita mengenai tren sekolah bilingual di Indonesia, mengenai bagaimana Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) berkembang dengan sangat cepat meski tanpa persiapan yang matang, termasuk  mengenai perjuangan teman-teman di Mahkamah Konstitusi.

"Saya pernah mengajar privat siswa SMP yang berasal dari SD yang sangat bagus. Ketika dia masuk SMP, masuk ke sekolah RSBI. Setiap hari dia sibuk menghafal definisi-definisi sains dan matematika dalam bahasa Inggris. Misalnya, 'accute angle artinya sudut lancip' tanpa benar-benar belajar matematikanya.  Bahkan saat pelajaran sains dia sibuk menghafal 'capilarity is the up and down of water in an object' padahal definisi kapilaritas bukan seperti itu. Bahkan yang mengagetkan adalah guru di sekolah menggunakan Google Translate untuk menerjemahkan materi-materi berbahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Padahal kualitas terjemahan Google Translate biasanya secara konteks tidak selalu tepat. Akibatnya, pembelajaran bahasa Inggris juga tidak dapat, begitu juga dengan sains dan matematikanya. Apalagi ketika gurunya tidak memiliki kompetensi untuk mengajar dalam bahasa Inggris?"

"Kompetensi terhadap konten atau kompetensi untuk mengajarkan bidang tersebut dalam bahasa Inggris?" tanya Sensei Okihara.

Saya mengatakan bisa keduanya. Ada yang memang pemahamanan kontennya lemah,  ada yang baik tetapi kesulitan ketika harus mengajarnya dalam bahasa Inggris, ada juga yang lemah di konten maupun bahasa Inggrisnya. "Di Jepang sendiri trennya bagaimana?" tanya saya pada Sensei Okihara.

Menurut Sensei Okihara di sekolah publik Jepang pengajaran matematika dan sains masih dalam bahasa Jepang. Memang ada sekolah tertentu yang orang tuanya merasa perlu menyekolahkan anaknya di sekolah bilingual karena menganggap bahasa Inggris memang lebih modern. Tetapi di sisi lain timbul masalah mengenai identitas kebangsaan.

Saya katakan pada Sensei Okihara bahwa saya baru membaca ulang mengenai founding fathers Indonesia, Bung Karno, di buku Angle of Vision (Andi Achdian, 2012). Para founding fathers fasih berbicara bahasa Indonesia (juga bahasa daerah), bahasa Inggris, Belanda, dan mungkin juga bahasa Prancis. Namun, ketika mereka menggunakan bahasa asing, mereka hanya menggunakannya sebagai alat komunikasi,  membantu belajar (membaca buku), tanpa merasa inferior atau minder sebagai bangsa Indonesia. Mereka punya percaya diri yang tinggi sebagai bangsa Indonesia. Permasalahannya adalah ketika penggunaan bahasa asing ini diawali dari rasa minder bahwa kita tidak lebih baik dari bangsa lain. Untuk kondisi saat ini, kita tentunya perlu bertanya kembali, apakah motif pengajaran sains dan matematika di sekolah dalam bahasa Inggris?

Sekitar dua jam telah berlalu dan kami pun harus menutup pembicaraan. "I'm glad that we share a lot of thing in common, including our concerns about education in general and English Language teaching. It gave me a lot of insights," kata Sensei Okihara sambil menyalami saya dengan erat.

"I'm planing to come back to Indonesia next year and hope that we can meet again."

Saya sendiri pamit pulang. Senang rasanya memiliki kesempatan bertukar pikiran dengan  pendidik yang berasal dari budaya yang berbeda. As I always believed in, learning happens through interaction.