Aug 14, 2014

Membaca "The Present Takers", Sebuah Novel Tentang Bullying


Saya menemukan buku "The Present Takers" karya Aidan Chambers di lemari buku adik saya. Tampaknya adik saya, yang kelahiran 1992, membaca buku tersebut saat dia remaja. Buku ini memang buku untuk remaja (atau malah pra-remaja). Sepertinya buku ini memang cocok dibaca oleh siswa usia 10 - 15 tahunan.

Tentu, saya bukan remaja lagi, tapi saya penasaran membaca bukunya. Kenapa? Karena di bagian belakang buku ada keterangan bahwa ini bercerita tentang seorang anak yang mengalami bullying. Bullying adalah salah satu bentuk kekerasan di mana seorang anak menggunakan kekuasaannya untuk menekan anak yang lain baik secara verbal maupuk fisik. Bullying belakangan sering terjadi di beberapa sekolah, termasuk sekolah di Indonesia. Sebagai orang yang bergelut di dunia pendidikan, saya ingin tahu bagaiamana buku ini mengangkat cerita mengenai bullying. Mungkin ada yang bisa dipelajari.

Cerita Tentang Lucy yang Di-Bully dan Guru yang Tidak Curiga

Tokoh utama dalam buku ini bernama Lucy, seorang anak yang mulai ABG, alias menginjak remaja.. Lucy sendiri berasal dari keluarga yang cenderung berada. Bapaknya adalah manajer sebuah toko. Hubungan kedua orang tuanya pun sangat harmonis. Dia sangat disayangi oleh kedua orang tuanya. Di sekolah, dia tidak pernah punya masalah yang terlalu berarti, baik secara akademis, hubungan dengan teman-temannya, maupun hubungan dengan gurunya. Namun, kondisinya yang 'baik-baik saja' tersebut berubah ketika Lucy akhirnya mulai di-bully oleh teman sekelasnya sendiri.

Hari itu Lucy berulang tahun yang kesebelas. Pagi-pagi sekali Melanie, Vicky, dan Sally-Ann telah menunggui Lucy di depan gerbang sekolah untuk menyambut Lucy. Mereka ingin memalak Lucy tapi dengan embel-embel kejutan ulang tahun. Ibu Harris, guru kelas mereka tidak curiga. "Hari ini Lucy ulang tahun, Bu," kata Melanie pada gurunya.

"Kami punya kejutan untuknya," kata Sally-Ann menambahkan untuk menjelaskan kenapa mereka menunggu di depan gerbang sekolah.

"Baik sekali kalian," kata Ibu Harris yang menganggap mereka teman-teman yang baik karena ingin memberikan kejutan ulang tahun yang menyenangkan pada Lucy. Dengan tenangnya Ibu melangkah masuk kelas.

Bullying Terjadi!
Saat Lucy tiba di gerbang sekolah, Melanie dan kedua temannya  merebut tas Lucy untuk melihat apa isinya. Setelahnya mereka memalak Lucy, "Besok bawakan kami hadiah! Awas kalau tidak!"

Yang tahu tentang rencana Melanie dan kawan-kawan bernama. Angus Burns. Angus sempat menguping Melanie dan kawan-kawan ketika mereka berencana membuat 'kejutan' untuk Lucy.  Namun, Angus kurang beruntung. Dia tidak melihat secara langsung prilaku Melanie dan kawan-kawan kepada Lucy. Saat Lucy sedang di-bully, dia sedang bertugas mengurus hewan peliharaan kelas, memberi makan hamster.

Angus telah lama mengamati prilaku Melanie dan kawan-kawan. Bukan hanya Lucy yang pernah di-bully oleh mereka. Ada anak-anak lain, diantaranya Clare yang juga pernah diperlakukan serupa. Sayangnya, Clare tidak melawan. Kali ini, Angus mau mengajak Lucy untuk melawan. Agar kelak, Melanie dan teman-temannya tidak melakukan hal yang sama pada anak yang lainnya.

Yang Di-Bully Memilih Diam
"Mereka (Melanie, dkk) tidak mengerjai kamu kan?" tanya Angus pada Lucy.
"Gak mau membahas itu," kata Lucy.
"Kalau mereka melakukan sesuatu padamu, sebaiknya kamu bercerita pada Ibu Harris," Tambah Angus.

Lucy memilih untuk diam. Dia takut untuk mengadu pada orang dewasa. Mungkin keadaannya akan tambah parah.

Terlambat Sekolah karena Takut Di-Bully
Keesokannya Lucy tidak membawakan Melanie dan kawan-kawannya hadiah. Namun, dia juga takut Melanie akan melakukan sesuatu yang tidak disenanginya. Lucy memilih untuk masuk terlambat ke dalam kelas. Kalau bel berbunyi, Melanie dan kawan-kawan pasti harus masuk kelas.Mereka tidak akan menunguinya di depan gerbang. Itu akan membuatnya aman. Tidak apalah ditegur oleh ibu guru. Itu lebih baik daripada menghadapi Melanie dan kawan-kawannya.

Yang melihat Kegiatan Bullying Memilih Diam
Lucy biasanya diantar ayahnya ke sekolah. Artinya, dia tidak bisa selalu  berkelit untuk 'menerlambatkan diri'.  Melanie dan kawan-kawan telah menungu di gerbang sekolah seperti biasa. Setelah ayahnya sudah menjauh dari gerbang, mereka mengajak Lucy 'bermain'. Bel masuk sekolah belum berbunyi. Mereka mengikat tangan Lucy dengan tali,  menarik Lucy ke tengah lapangan, mengolok-olok Lucy, dan membiarkan anak-anak lainnya melihat Lucy dipermalukan.

Yang melihat kejadian itu, banyak juga yang tidak senang. Mereka menganggap perlakuan Melanie pada Lucy jahat, tapi mereka tidak melawan. Mereka juga memilih diam.

Guru piket hari itu bernama Pak Jenkins. Dia melihat keramaian di lapangan dan datang ke sana. "Ada apa ini?" tanyanya.

"Ini lagi main-main, Pak. Pura-puranya pertunjukkan," kata seorang anak mengelabui Pak Jenkins. Anak-anak yang lain pun tidak ikut bersuara.

"Oke. Yang penting saat bel berbunyi nanti, langsung masuk kelas yah!" Pak Jenkins memperingatkan, tak lagi curiga.

Ketika Semua Diam yang Mem-Bully  Makin Menjadi
Melanie tidak mendapatkan hadiah dari Lucy tapi dia tahu ayahnya Melanie punya toko. Suatu hari, sepulang sekolah Melanie memaksa Lucy menemaninya  ke toko tersebut. Lucy tidak mau sebenarnya, tapi Melanie memaksa.

Ternyata, Melanie ingin mencuri beberapa barang tapi akhirnya ketahuan oleh salah seorang penjaga toko. Mereka, akhirnya memang tidak mengambil barang apapun. Sudah terlanjut ketahuan duluan. Tentu saja, akhirnya ayah Lucy tahu juga.

Orang Tua Lucy Terlambat Tahu Anaknya Di-Bully
Sebenarnya baik ayah maupun ibunya Lucy, sadar bahwa Lucy banyak berubah. Wajahnya murung, dia tidak bersemangat sekolah, dan Lucy lebih banyak diam. Tapi tidak ada yang tahu apa yang benar-benar terjadi apda Lucy. Mereka mengira bahwa anaknya hanya sedang 'labil' karena beranjak remaja.

Namun, nasi telah menjadi bubur. Lucy terlibat pencurian (meskipun hanya di toko ayahnya sendiri) atas dorongan Melanie. Barulah Lucy dan kedua orang tuanya mengobrol dengan serius mengenai apa yang sesungguhnya terjadi.  Angus juga terlibat. Dia ikut memberitahu orang tua Lucy mengenai apa yang terjadi.

Ibunya Lucy merasa sangat terpukul. Dia merasa telah menjadi orang tua yang cukup baik dan terbuka ada anaknya. Tapi kenapa anaknya tidak mau menceritakan kejadian bullying ini padanya? Dia tidak terima seseorang membuat anaknya menderita dan membuat anaknya menjadi pencuri. Dia mengatakan ingin melabrak orang tua Melanie.

"Ini pasti salah orang tuanya," kata Ibunya Lucy, "Mereka harus tahu apa yang dilakukan anaknya."

Lucy tidak ingin ibunya menemui orang tua Melanie. Nanti Melanie akan memperlakukannya lebih buruk daripada sebelumnya. Tapi ibunya terlalu kesal dan memilih mengabaikan ketakutan Lucy.

Ketika Masalah Anak-anak Diselesaikan Orang Tua
Karena kesal, Ibunya Lucy memilih berbicara pada Ibunya Melanie di rumahnya.

"Permisi, saya mau tanya apakah anda khawatir tentang Melanie," kata Ibunya Lucy.
Wajah Ibunya Melanie memerah, "Kenapa saya harus khawatir?"
"Jadi, Melanie tidak terlibat masalah apapun akhir-akhir ini?"
"Masalah? Masalah apa?" tanya Ibunya Melanie.
"Di sekolah ada bullying, putri saya, Lusy menjadi salah satu korbannya," kata Ibunya Lucy, "Begitu juga dengan beberapa anak lainnya. Anda pernah dengar tentang hal ini?"
"Belum tampaknya," kata Ibunya Melanie, "Kalau Melanie di-bully  pasti dia akan cerita pada saya."
Ibunya Lusy melanjutkan, "Maaf, tapi sebenarnya Melanielah yang melakukan kegiatan bullying."
"Hati-hati yah kalau berbicara!" kata Ibunya Melanie dengan marah.

Ibunya Lucy mencoba menerangkan apa saja yang dilakukan oleh Melanie terhadap putrinya tapi itu membuat Ibunya Melanie semakin murka.

"Yang anda bicarakan itu sampah!" kata Ibunya Melanie.
"Anda mengira saya berbohong?" bela Ibunya Lucy.
"Oh, jadi anda mengira putri saya yang berbohong?" Ibunya Melanie bertanya balik.
"Yah...," kata Ibunya Lucy
"Anda datang ke sini dan menjelek-jelekkan putri saya. Berani-beraninya! Urus saja anakmu sendiri sebelum mengajarkan cara orang lain mengurus anaknya. Dasar Hipokrit!Keluar dari rumah saya," usir Ibunya Melanie.

Berbicara pada Ibunya Melanie ternyata tidak menyelesaikan masalah. Hari itu ibunya Lucy belajar sesuatu. Terkadang anak harus belajar menyelesaikan masalahnya sendiri. Anak harus belajar bertindak untuk membela dirinya sendiri. Ketika orang tua yang memilih menyelesaikan masalah anaknya, belum tentu masalah itu akan selesai.

Berempati Dengan yang Mem-Bully tapi Bukan Membenarkan Bullying
Di rumah ibunya Lucy menemui Lucy untuk meminta maaf bahwa rencana 'menyelesaikan masalah' tidak berjalan dengan mulus.

Lucy  berkata pada ibunya, "Saya tidak mengerti kenapa orang-orang bisa begitu jahat. Melanie jahat."
"Mungkin kamu hanya melihat Melanie di sisi terburuknya," kata Ibunya Lucy.
"Kenapa Ibu membela orang lain, bukan aku?"
"Oh ya?" kata Ibunya Lucy ,"Tadi saya bilang  mungkin. Mungkin saja mereka (yang jahat) tidak bermaksud untuk begitu. Mungkin mereka tidak bisa menahan diri. Mungkin mereka pun mengalami sesuatu yang berat."
"Saya tidak percaya seseorang selamanya jahat terus," kata ayahnya.
"Melanie juga tidak selalu jahat?" tanya Lucy.
"Melanie juga. Mungkin sulit kita percaya itu tapi dia tidak selalu jahat," kata ayah," Tapi itu bukan berarti saya membenarkan apa yang Melanie lakukan padamu. Itu tetap salah."
"Lalu apa yang sedang ayah dan ibu coba sampaikan?
"Mencoba menjelaskan. Mencoba memahami semua ini," kata ayah.
"Mungkin dia mendapatkan perlakuan serupa dari orang lain," kata ayah.

Lucy dan kedua orang tuanya mencoba membahas bagaimana anak yang mem-bully  mungkin diperlakukan tidak baik oleh orang lain, misalnya oleh orang tuanya [ keterangan: dalam konteks lain bisa saja orang lain]. Lucy agak sulit memahami ini. Orang tuanya memperlakukan Lucy dengan sangat baik. Tapi melalui dialog itu, Lucy diajak orang tuanya untuk melihat sudut pandang yang lain.

Melawan dengan Tulisan
Clare adalah salah satu anak yang pernah di-bully  oleh Melanie. Dia tidak mengadu pada guru karena takut akan membuat masalah menjadi lebih besar. Lucy juga memilih begitu. Tapi akhir tahun ajaran Ibu Harris memberikan tugas yang menarik. Sebuah proyek yang harus dikerjakan oleh siswa sekelas. Semua siswa diminta mengirimkan tulisan mengenai pengalaman mereka selama setahun, hasilnya akan dipajang di mading. Apa hal yang menyenangkan dan tidak menyenangkan yang dirasakan di sekolah? Mereka bisa menuliskannya dalam bentuk cerita, puisi, lelucon, atau apapun.

Clare, Angus, dan Lucy membahas rencana mereka untuk menyumbang tulisan tentang bullying. Sebaiknya tersirat agar tidak terang-terangan mengacu pada Melany. Beginilah puisi yang ditulis oleh Clare :

Berkali-kali aku datang ke sekolah
Menanti hari baru.Tapi di sana,
Di gerbang sekolah, seorang bully menunggu
Bersama dua orang temannya
Tidak ada yang bisa kabur darinya,
Saya tahu dengan pasti. Lalu,
Keinginan, seperti embun, segera menghilang
Dihilangkan oleh ketakutan, ketika
Dibalik siklus ini,
Ada perintah-perintah yang menentukan nasibkmu
"Sampai ketemu besok dengan hadiah-hadiah untuk kami.
Hadiahnya harus baru, kalau tidak awas!
Kami akan melakukan sesuatu yang buruk,
hati-hati kami akan mencakarmu!"
Ketika tulisan ini dipajang di mading, Melanie tahu, puisi ini tentang dirinya. Dia marah dan merobek sebagian mading.Apa yang terjadi setelahnya? Tidak tahu karena cerita berakhir di sini.

Refleksi Setelah Membaca "The Present Takers"
Sebenarnya saya tidak terlalu suka dengan bukunya. Rasanya ceritanya sedikit seperti sinetron. Tetapi, ada banyak isu yang diangkat dalam buku ini. Seperti yang telah dijelaskan di atas, buku ini mengangkat isu mengenai perasaan yang dirasakan oleh anak yang di-bully, termasuk ketakutannya, pilihannya untuk diam dan tidak melawan. Buku ini juga mengangkat isu mengenai guru-guru yang kurang peka terhadap peristiwa bullying. Selain guru, buku ini juga menggambarkan bagaimana kadang orang tua pun tidak peka terhadap peristiwa bullying yang terjadi.  Sebenarnya buku ini mengajak anak-anak untuk melawan bullying, juga untuk melawan ketakutan terhadap pembully. Pembully adalah manusia biasa. Kalau melawan tidak bisa dengan terang-terangan, mengadu ke guru, ada cara-cara lain yang bisa digunakan untuk melawan, misalnya melalui tulisan.

Meskipun saya tidak suka bukunya, tetapi dari kacamata seorang guru saya melihat bahwa buku semacam ini bisa dipakai di dalam kelas. Kita bisa membahas banyak hal dari buku ini. Guru, tentu saja harus menyiapkan pertanyaan untuk memancing diskusi di kelas, misalnya:

  • Kenapa Clare dan Lucy memilih untuk diam? Apa yang akan terjadi kalau mereka mengadu kepada guru? 
  • Apakah pilihan Clare dan Lucy untuk menuliskan tentang bullying  di madng tepat? Apakah ada cara lain untuk melawan bullying  yang dilakukan oleh Melanie dan kawan-kawannya?
  • Apakah anak sekolah (usia sekitar 11 tahun) bisa berprilaku seperti Melanie? Apakah prilaku semacam itu benar-benar ada dalam kehidupan kita? Kenapa bisa begitu?
Ada begitu banyak pertanyaan yang bisa diajukan untuk membahas buku ini. Bullying  sendiri harus diakui memang terjadi di beberapa (atau bahan banyak) sekolah di Indonesia. Guru kadang kesulitan untuk membahasnya, entah canggung karena topiknya sensitif, atau bingung mulai dari mana. Media-media berupa bacaan seperti ini, atau film tentang bullying, misalnya bisa jadi salah satu alat yang digunakan untuk memulai diskusi tentang bullying. Akhirnya, mungkin bisa sampai membahas isu bullying  yang terjadi di sekolah sendiri. Apakah akan berakhir dengan penyelesaian masalah bullying  di sekolah? Saya tidak berani menjamin demikian, tapi setidaknya dialog terjadi. Itu saja sudah suatu kemajuan bukan?

No comments: