Nov 4, 2011

Membimbing mahasiswa membuat critical essay

Mata kuliah yang saya ajarkan, sebenarnya juga diajarkan dosen lain. Bisa dikatakan bahwa kelas kami berjalan paralel. Kebijakan di universitas saya mensyaratkan, untuk kelas paralel seperti ini, assessmentnya perlu dibuat semirip mungkin. Tujuannya, agar beban mahasiswa di masing-masing kelas sama. Jadi, setiap kali merancang assessment saya akan berkonsultasi dengan dosen yang satu lagi. Kalau di kelas saya, saya meng-assess dengan menggunakan presentasi, di kelas lain juga harus begitu. Rubriknya pun harus sama. Rubriknya dibuat bersama-sama dengan dosen satu lagi.

Untuk ujian tengah semester, salah satu mata kuliah yang saya ajar, assessment-nya berupa essay. Topiknya terkait apapun yang telah dibahas selama setengah semester ini, diantaranya mengenai perlu tidaknya guru memiliki kemampuan menjelaskan dan memberi contoh di kelas matematika, bagaimana bahasa mempengaruhi pembelajaran matematika, pentingnya membangun diskurs di dalam kelas, dan apa yang membuat sebuah penjelasan dan contoh (untuk mengajar matematika) menjadi baik.

Hari ini, dua orang mahasiswa mendatangi saya untuk konsultasi mengenai critical essay. Saya memulai dengan menanyakan mereka, di antara semua topik yang telah dibahas apa yang paling menarik? Mahasiswa saya yang satu lulusan SMK, dia mengatakan di SMK banyak bahasa yang sangat spesifik dan digunakan di bidang kejuruan dan juga matematika, misalnya 'produk' dan 'eksekusi'. Dia ingin mengeksplor kesulitan yang akan dihadapi saat siswa belajar matematika dalam bahasa Inggris di SMK. Mahasiswa yang lain mengatakan bahwa saat menjalani school experience (praktek mengajar) yang lalu, gurunya mengatakan bahwa sebaiknya kita menggunakan jembatan keledai untuk belajar matematika agar menyenangkan. Menurutnya, siswanya jadi kebingungan mengaitkan satu konsep satu dan lainnya. Setiap ada perbedaan sedikit mereka jadi bingung, misalnya sin (30+60) dan sin (60+30). Intinya mahasiswa saya meragukan pernyataan tersebut. Intinya siswa-siswa menghafalk, bukan memahami.

"Nah itu sudah dapat topik!" kata saya. Saya lalu mengambil selembar kertas A4 dan meminta mereka membuat paragraf pertama. Langsung tancap! Mereka ternyata keasyikan sampai-sampai paragraf pertamanya sangat panjang.

"Panjang sekali paragraf pertamanya?" tanya saya.

"Iya, keasyikan!" kata seorang mahasiswa saya.

Saya membaca kembali paragraf mereka. Lalu bertanya, "Di paragraf ini, apa inti yang ingin kamu sampaikan?"

"Bagaimana memperkuat argumen untuk pernyataanmu?"

"Data-data apa yang perlu dikumpulkan untuk melengkapi argumenmu?"

Setelah itu bersama-sama kami berdiskusi mengenai rencana kerangka tulisan (seharusnya saya memberi mereka waktu merancang sendiri kerangkanya sebelum didiskusikan). Saya juga merekomendasikan beberapa hal yang perlu mereka perdalam untuk memperkuat essay mereka.

Saya juga bercerita mengenai proses yang saya lakukan saat mau membuat tulisan ilmiah, bagaimana saya mencari bahan, melakukan beainstorming kata kunci, lalu membaca untuk menemukan kata kunci baru yang digunakan untuk membaca lagi sebelum selesai menjadi satu tulisan.

Saya juga bercerita mengenai pentingnya sistematika penulisan, terutama saat tes bahasa Inggris tertulis. Seringkali anak-anak Indonesia berpikir tulisannya harus canggih, penuh dengan istilah-istilah 'keren' padahal sistematika berpikir lebih utama. Sederhana! Di paragraf utama ada pernyataan, lalu ada argumen pendukung 1, argumen pendukung 2, dan argumen pendukung 3. Setelah itu masing-masing argumen pendukung diperkuat lagi dalam sebuah paragraf (dilengkapi lebih banyak data pendukung), lalu terakhir kesimpulan. Dengan begitu, biasanya nilai untuk menulis (misalnya di tes TOEFL yang ada menulisnya akan tinggi).

Saya menghabiskan waktu sekitar 1 jam untuk berdiskusi. Seru juga ternyata membimbing mahasiswa membuat essay. Lumayanlah, pengalaman pertama!

No comments: