Dec 5, 2011

Debat di kelas


(Foto mahasiswa berdiskusi dengan kelompoknya sebelum menjawab pertanyaan kelompok lawan)



Saya merancang agar ada kegiatan adu debat dalam pembelajaran hari ini. Idenya saya dapatkan dari sebuah projek di webquest. Saya melakukan modifikasi berdasarkan pengalaman pribadi mengajar anak-anak yang tidak melanjutkan sekolah ke universitas. Kasusnya begini :

"[Meskipun bukan sekolah kejuruan, di sekolah ini banyak siswa yang langsung bekerja setelah lulus sekolah. Setelah lulus, mereka bekerja di pabrik, toko, dan lain-lain. Hampir tidak ada yang melanjutkan sekolah ke universitas khususnya belajar sains dan engineering. Mereka merasa trigonometri tidak relevan untuk kehidupan mereka.

[Setelah melakukan survei], school board mengusulkan agar materi mengenai mengenai trigonometri tidak diajarkan dan diganti dengan materi yang lebih relevan dengan dunia kerja seperti tata buku dan sebagainya."
Meskipun terinspirasi dari kondis nyata, kasus di atas hanya imajinasi saya. Di sekolah di Indonesia school board biasanya tidak memiliki kewenangan sejauh itu untuk mengusulkan apa yang perlu diajarkan dan tidak. Tujuan pemberian kasusnya sekadar merancang diskusi.

Kelompok dibagi menjadi dua bagian. Satu yang pro trigonometri dihapuskan dari kurikulum (pihak school board) dan satu lagi yang mau trigonometri dipertahankan di dalam kurikulum. Debat berjalan seru tetapi waktunya terbatas (saya salah perhitungan mengenai waktu). Meskipun begitu saya berharap mahasiswa saya tetap belajar sesuatu dari proses tersebut.

Di akhir kelas sebuah siswa berkata, "Ternyata saat mengajar kita tidak sekadar harus memikirkan mengenai konten pelajaran. Ada banyak faktor yang membuat mengajar menjadi sesuatu yang kompleks. Setelah saya pikir-pikir, oh iya yah, ternyata siswa tidak selalu merasa apa yang kita ajarkan relevan dengan kehidupannya. Ternyata banyak yang harus kita pikirkan saat kita menjadi seorang guru."

1 comment:

Manganju Luhut Tambunan said...

Yup, sebisa mungkin sedari muda putra-putri dari rahim ibu pertiwi memang harus diajarkan memandang dari berbagai aspek agar tidak selalu berpikiran linier tentang suatu hal. Mereka harus diajarkan memaparkan ide dan bertarung pun saling menambahkan perspektif agar mereka bermain ditataran kualitas argumen logis rasional dan kontekstual bukan nuansa sentimen. :)