Aug 12, 2012

Cerita di Kuala Kapuas

Sekarang saya sedang berada di Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah. Saya berada di sini karena ikut membantu Ibu Aulia Wijiasih menyelenggarakan suatu pelatihan guru mengenai KTSP & ESD. Saya juga bersama dengan Kak Dona, kakak kelas saya dulu yang sekarang menjadi pelatih & peneliti di CREDO. Sama seperti saya, dia ikut menjadi semacam 'asisten' dari Ibu Aulia.

Pesawat saya dari Jakarta terbang menuju Palangkaraya. Di perjalanan Kak Dona banyak mengajarkan saya mengenai ciri-ciri lahan bukaan, "Nah kalau lahan bukaan pohonnya lebih bervariasi dan biasanya banyak lumut, benalu, di pohonnya karena dulu lembab," katanya.

Kami naik mobil menuju  Kuala Kapuas. Di perjalanan kami melewati banyak lahan gambut. Saya, anak kota yang norak, senang sekali melihat lahan gambut.

"Kalau kita masuk ke dalam isinya air yah?" tanya saya seperti anak yang kegirangan. "Coba saja masuk!" kata Bu Aulia bercanda. Kak Dona bercerita bahwa gambut menyimpan air, kalau kehilangan lahan gambut kita akan kehilangan sumber air.

Perjalanan ke Kuala Kapuas sekitar 3 jam. Kami langsung menuju penginapan di Kota Air. Saya kegirangan lagi, penginapan kami terdapat persis di sebelah sungai Kapuas. Saya sendiri punya keterikatan sendiri terhadap sungai. Ketika saya kecil, almarhum ibu saya setiap hari membawa saya ke pinggir sungai untuk berjalan-jalan. Jadi, menginap di pinggir sungai memberikan saya kebahagiaan sendiri karenaa mengingatkan saya akan masa kecil saya.

Foto : Trimadona B. Wiratrisna


Ternyata di depan penginapan ada semacam spanduk bertuliskan "START". Bu Aulia bertanya pada seorang bapak-bapak di pinggir jalan, "Mau ada apa di sini?"

Ternyata, dalam rangka merayakan bulan suci ramadhan, setelah shalat tarawih diadakan semacam parade. Karena parade di mulai setelah pukul 9 malam. Karena masih jam 7 malam, kami memutuskan untuk beristirahat dan makan malam terlebih dahulu.

Di pinggir sungai terdapat banyak warung tempat makan. Kami memilih untuk memakan sate ayam dan soto banjar. Sate ayamnya berbeda dengan sate ayam di jakarta. Bagian luarnya kemerahan, karena diberi bumbu tertentu. Kami juga memesan teh. Tehnya ada rasa vanilanya. Tampaknya tehnya diberi perasa vanila.

Setelah makan malam, kami melakukan briefing untuk persiapan pelatihan. Tepat setelah selesai melakukan briefing, parade dimulai. Saya, Kak Dona, dan Bu Aulia berlarian keluar. Kami melihat  berbagai mobil-mobilan dan gerobak yang dihias dengan berbagai cara. Ada yang dihias dengan lampu berwarna-warni, ada yang dibentuk menyerupai mesjid, ada yang dibentuk menyerupai pesawat terbang. Gerobak-gerobak tersebut dibuat oleh  perwakilan remaja mesjid dan perwakilan siswa dari berbagai sekolah. Sambil mendorong gerobak tersebut dan membawa obor, mereka berjalan keliling kota, mempertunjukkan kreasi mereka sambil berteriak "Sahur, sahur!" atau ada juga yang melantunkan ayat Al-Quran.

Saya ikut merasa bersemangat. Suasana jalan ramai. Masyarakat berdiri di pinggir jalan menonton parade. Senangnya bisa ikut melihat kegiatan tersebut di mana 'hiburan sederhana' tersebut bukan hanya miliki segelintir orang saja tetapi bisa dinikmati oleh masyarakat secara umum.

Saat pelatihan saya bertemu dengan para guru. Saya belajar bahwa penduduk di Kuala Kapuas beragam etnis dan agama. Ada yang merupakan orang Dayak, Bugis, Jawa, Bali dan Batak. Agamanya juga beragam dari Hindu Kaharingan, Hindu, Islam, Kristen Protestan dan Katolik. Mereka hidup berdampingan. Meskipun sedang bulan Ramadhan, selama pelatihan tetap disediakan makan siang karena ada banyak juga peserta yang tidak berpuasa. Peserta yang tidak berpuasa makan sedangkan yang lain menjalankan ibadah shalat.

Setelah pelatihan, kami kembali ke penginapan. Kami duduk di teras yang menghadap sungai sambil minum teh. Di Kuala Kapuas buka puasa biasanya sekitar pukul setengah enam sore. Sambil minum teh dan makan kue (sisa pelatihan), kami melihat kapal-kapal lewat. "Itu kapal dagang, " kata Pak Yudi, supir yang mengantar kami ke mana-mana termasuk dari Palangkaraya ke Kuala Kapuas.

"Biasanya di sebelah sana, mereka dihambat oleh perompak. Ada juga kapal yang lebih besar mereka membawa lemari, meja, dan lain-lain. Biasanya kapal itu jalan, dihambat, jalan, dihambat lagi. Kapalnya lama sampai karena banyak berhentinya. "

Saya juga sempat berjalan-jalan menggunakan becak berkeliling kota. Malam itu saya dan Bu Aulia memutuskan untuk melakukan shalat terawih di mesjid. Kalau mengunjungi suatu daerah baru, saya ingin merasakan shalat di mesjid lokalnya dan merasakan suasananya. Bu Aulia mengajak saya untuk naik becak karena takut kami terlambat. Ternyata shalat terawih belum mulai. Karena itu kami memutuskan untuk berkeliling kota dengan becak. Kami melewati sebuah pasar yang menurut tukang becak, belum lama ini sempat terbakar. Pasarnya bersih. Di sana ada orang yang berjualan pakaian, makanan berupa kue kering, buah-buahan, dan berbagai hal lainnya. Ada juga tukang jahit, tukang pangkas rambut, dan sebagainya.  Setelah berkeliling kami menuju mesjid lagi. Shalat terawih akan segera dimulai.

Kuala Kapuas merupakan salah satu daerah yang berkesan di hati saya. Kotanya kecil, bersih, di pinggir sungai, serta menambah pengalaman saya dalam mengenal keragaman masyarakat Indonesia. Mudah-mudahan suatu hari saya bisa kembali ke sini lagi.

1 comment:

wijaya kusumah said...

kalau lewat banjarmasin cuma 2 jam ke kuala kapuas.

salam
Omjay