Oct 6, 2008

Kenapa saya suka sekali mengoreksi buku teks?

Pendidikan tentunya menyangkut banyak aspek. menurur saya pendidikan bisa berlangsung di 3 tempat utama.
- Di sekolah (yang biasa di kenal dengan pendidikan formal)
- Di rumah
- Dan di lingkungan (masyarakat)

Semuanya ini menurut saya saling mendukung. Sekolah tentunya memiliki keterbatasan. tidak semua anak beruntung bisa masuk ke sekolah yang bagus kualitasnya. Di rumah pun begitu. Banyak anak-anak yang tak punya keluarga, atau tidak punya keluarga ideal. Sama halnya dengan lingkungan.

Oleh karena sebab itu, segala kegiatan yang mendukung proses belajar di sekolah, rumah, maupun lingkungan bisa saling melengkapi satu sama lain. Dan menurut saya, tidak ada salahnya meningkatkan kualitas ketiganya sesuai dengan kemampuan kita dan kecocokan kita masing-masing.

Kebetulan saya memang cukup tertarik dengan pendidikan formal. Saya memang lama terlibat dengan pendidikan melalui mengajar Fisika, Matematika dan terkadang Bahasa Inggris, dan saya juga punya akses terhadap beberapa buku teks yang digunakan oleh anak-anak yang saya bimbing, saya pikir tak ada salahnya mengkoreksi kesalahan-kesalahan yang ada di dalamnya.

Ketika belajar seorang anak bisa belajar:
- Dari gurunya secara langsung
- Dari buku yang dibacanya
- Dan lain-lain

Beruntunglah anak-anak yang punya akses ke "sumber informasi" selain buku teks sekolah karena mereka bisa membandingkan apa yang dipelajari di sekolah dengan informasi lain yang mereka dapatkan. Banyak anak tidak mendapatkan kemewahan ini.

Sehingga menurut saya, yang paling mendasar harus dikerjakan (alias urgent) dalam peningkatan pendidikan formal di Indonesia adalah peningkatan kualitas guru dan juga peningkatak kualitas buku teks (yang tentunya harus dapat dijangkau oleh siswa-siswi di seluruh Indonesia secara mudah).

Kalau punya guru yang bagus, tentu pembelajaran apapun akan menjadi lebih mudah. Buku teks jelek gak masalah.

Tapi harus diakui di banyak sekolah di Indonesia, guru memiliki keterbatasan. Terutama di SD-SD negeri di mana satu guru mengajar seluruh pelajaran. Terkadang dasar yang ia miliki tidak kuat dalam satu bidang tapi dia harus mengajar semua mata pelajaran. Saya sendiri akan kebingungan kalau harus mengajar pelajaran semacam sejarah atau membaca. Puyenklah daku. Hehehehe. Saya pernah menemui guru kelas 5 yang kebingungan dengan konsep volume dalam matematika sehingga ia mengajarkan hal yang salah ke murid-muridnya. Guru memang manusia dan punya keterbatasan.

Makannya buku teks sebenarnya bisa menjadi alat untuk melengkapi kekurangan tersebut. Sewaktu saya bekerja di Kumon, saya senang mengamati modul-modulnya yang memungkinkan self-study. Sehingga sang asisten hanya perlu membimbing sedikit anak-anaknya.

Ada beberapa kemungkinan :
- Guru bagus, buku teks bagus --> Oke banget nih
- Guru bagus, buku teks ngawur --> Masih gak papa
- Guru kurang bagus, buku teks bagus --> Sebenernya kurang oke tapi lumayanlah
- Guru kurang bagus, buku teks ngawur --> Ciloko alias celakalah..

Tentu saja kita gak menginginkan anak-anak hanya berhubungan dengan buku teks tanpa berhubungan dengan gurunya. Pada dasarnya proses pembelajaran paling penting memang hubungan dengan murid dan guru sebagai manusia. Buku teks hanyalah alat untuk memudahkan proses pembelajaran. Bagaimanapun juga memperhatikan buku teks, mengkoreksinya, untuk dijadikan evaluasi ulang untuk peningkatan kualitasnya tentu bisa memberikan pengaruh positif. Mudah-mudahan. :)

No comments: