Jul 11, 2008

Pasar Ciroyom

Beberapa hari yang lalu, seorang teman saya, Pak Gamesh mengajak saya untuk mengunjungi Pasar Ciroyom, untuk melihat kondisi belajar-mengajar di sana.

Seorang teman saya, bernama Bunda seorang yang saya kenal sejak Ramadhan 2004, mengajar anak-anak yang tinggal di Pasar Ciroyom. Bunda, adalah seorang perempuan manis yang saya temui di wyata guna beberapa waktu yang lalu. Dia dulu sering mengajar anak-anak jalanan di dekat IP (Istana Plaza). Perempuan manis keibuan yang berani itu juga dulu sering membawa tali rafia untuk mengikat celana anak-anak jalanan (non-sanggar) agar tidak mudah dipeloroti. Kabarnya, beberapa anak-anak jalanan ini sering 'dipakai' untuk iseng oleh beberapa orang dewasa.

Jadi, hari ini sebenarnya saya tidak sabar untuk bertemu Bunda kembali setelah berjumpa beberapa tahun yang lalu. Kebetulan, semalam ada seorang anak Psikologi Unpad yang menghubungiku karena berniat membantu kegiatan kerelawanan. Ternyata hari ini ada dua relawan baru dari Psikologi. Saya sangat senang mereka bisa membantu, kebetulan rumah mereka tak begitu jauh dari Pasar Ciroyom.

Kembali pada pasar Ciroyom.  Pak Gamesh mengantarkan saya, Le, Imoet, Ditta, dan Yuli ke Pasar Ciroyom pk 15.00. Suasanya saat itu terlishat cukup sepi karena masih sore (Pasar Ciroyom semakin ramai di malam hari). Gedung pasarnya sendiri cukup gelap. Dan saat saya datang banyak asap di mana-mana. Kami pun ke lantai paling atas. Di sana terdapat sebuah lahan luas dengan pemandangan kota Bandung yang terlihat sangat indah. Benar-benar indah. Kami pun menunggu Bunda dan anak-anak datang. Di lantai paling atas terdapat sebuah mesjid. Biasanya anak-anak itu belajar di sekitar mesjid tersebut. Anak-anak belajar berhitung dan membaca.

Pak Gamesh telah bercerita bahwa anak-anak di sana belajar tadinya sambil ngelem. Tapi kini ataurannya tidak boleh ngelem sambil belajar. Walau sering mendengar kisah tentang anak-anak yang ngelem, saya belum pernah melihat dengan mata saya sendiri anak-anak ngelem. Tadi saat bunda dan anak-anak mulai berdatangan saya melihat bahwa semua anak-anak membawa botol lem, lalu menghisap lem yang ditaruh di belakang baju.

Tapi ternyata anak-anak cukup terbuka dengan kedatangan kita, mereka cukup semangat dan mengajak belajar (walaupun hanya sebentar belajarnya). Mereka belajar berhitung dan iqro. Saya mengajari seorang anak perempuan berhitung. Dan ternyata dia cukup pandai menghitung tambah-tambahan ribuan dan mengerti beberapa perkalian. Tapi, ketika saya mengajaknya mengisi tabel perkalian, tapi tampaknya dia melihat tabel itu kurang simetris, misalnya kolom 2 x 4 di lihatnya sebagai kolom 2 x 7, mungkin karena pengaruh ngelem.

Setelah belajar, kegiatannya adalah mandi. Dari anak-anak tersebut saya dengar kadang mereka mandi hanya setahun sekali misalnya saat lebaran. Tadi telah dibawakan handuk, dan sabun, dan mereka pun mandi di mesjid. Masing-masing anak harus membayar Rp 1000,- / anak ke mesjid untuk menumpang mandi.

Saat anak-anak mandi, aku pun berbincang-bincang dengan Bunda. Aku tanyakan kenapa anak perempuannya sedikit. Ternyata banyak anak perempuan yang tidak berani untuk ikut ngumpul dan belajar, karena perempuan-perempuan di daerah situ sering dijadikan korban 'Para mami'. Ada satu anak perempuan yang ikut belajar. Anak perempuan ini cukup istimewa tersebut diasuh oleh sang 'kakak' yang ikut menjaga dan merawat anak-anak yang tinggal di Ciroyom tersebut, sehingga tidak ada yang berani dengan mengganggu anak perempuan tersebut (untuk dijadkan korban 'mami').

Saya mungkin tidak bisa membantu Bunda dengan rutin, tapi dalam hati saya berjanji untuk mencari relawan-relawan yang bisa membantu Bunda. Ada yang berminat?

4 comments:

Anonymous said...

Saya fajar, cewek loh. hehehe. Kebetulan saya kost di bandung dan saya tertarik buat gabung. gimana caranya ya?

mahkotalima said...

HAi jar, senang mau di bantu, kirim imel saja ke aku dputi131@gmail.com Tar kukontak2x lagi

SMP NEGERI 5 MARTAPURA said...
This comment has been removed by the author.
f heri s said...

Salam kenal dulu ya ... dulu yaya kasih komentar tapi salah ngasih alamat .... biasa... pemula. yang ini coba lagi ... saya pelupa sih ...