Jan 13, 2014

[KLUB BACA IGI] Membaca "M. K. Gandhi : An Autobiography" (Bagian 1) - Belajar tentang M. K. Gandhi dan bukan Mahatma Gandhi


Ketika Pak Yudhistira Massardi berbagi di Workshop Penulisan Kreatif yang diselenggarakan IGI, dia mengatakan bahwa cerita yang menarik biasanya tidak terdiri dari tokoh yang karakternya terus menerus baik atau terus menerus jahat. Namun, justru pada cerita yang menggambarkan bahwa tokoh yang mengalami perubahan karakter, ntah menjadi lebih baik atau buruk tergantung pada proses yang dialaminya.

Pandangan Pak Yudhistira mirip dengan pandangan saya ketika membaca sebuah biografi. Beberapa kali saya membaca biografi yang hanya menggambarkan kehebatan sang tokoh. Bab-babnya berisi judul-judul yang menunjukkan bahwa sang tokoh hebat. Misalnya, Si X yang selalu rajin belajar, Si X yang pantang menyerah dalam kesulitan apapun, dan seterusnya. Buat saya, biografi yang semacam itu sungguh membosankan. Saya ingin berelasi dengan tokoh yang ada di dalam tulisan. Artinya saya ingin membaca mengenai manusia, bukan sekadar tentang malaikat yang selalu suci.

Yang membuat penasaran ketika membaca sebuah biografi justru adalah kisah mengenai bagaimana seseorang berproses. Ketika seseorang memilih sikap X, apa alasan yang mendasarinya? Kejadian apa dalam hidupnya yang membuatnya berpandangan seperti itu?  Apa yang menjadi titik balik dalam hidupnya? Pernahkah dia berubah (pandangan, sikap)? Apakah yang membuatnya berubah? Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang terjadi di dalam kepala saya ketika membaca sebuah biografi. Saya ingin membaca tentang seseorang yang berproses dalam hidupnya, bukan tentang seseorang yang ujug-ujug sudah hebat.

Mochandas Karamchand Gandhi  (M. K. Gandhi) adalah seorang pemimpin India yang lahir pada 1869. Memang Gandhi tidak pernah menjadi pemimpin formal di India (presiden, misalnya), tapi dia punya kemampuan mempengaruhi orang lain untuk mencapai visi tertentu. Gandhi  mendedikasikan hiduonya untuk memperjuangkan, khususnya, dua prinsip dasar, Ahimsa  alias tanpa-kekerasan, dan Satya alias kebenaran.

Bagi sebagian  masyarakat India, Gandhi dianggap sebagai orang suci yang sangat dihormati, dan penuh kasih sayang. Karena itulah dia memperoleh gelar Mahatma yang berarti orang suci. Meskipun begitu ketika membaca M. K. Gandhi : An Autobiography, sebuah biografi yang ditulis oleh Gandhi mengenai dirinya sendiri, saya justru merasakan sifat manusiawi Gandhi.  

Di dalam buku ini saya bisa membaca pengalaman Gandhi yang menganggap olahraga tidak penting, pernah menjadi suami yang pencemburu buta (padahal istrinya selalu setia), pernah mencuri, pernah berbohong pada orang tua, pernah tidak paham sejarah bangsanya sendiri, seringkali keras kepala dan pernah melakukan begitu banyak kesalahan lainnya. Tapi saya juga belajar tentang Gandhi yang reflektif, sangat spiritual, keras pada diri sendiri, dan juga pejuang tangguh. Saya juga bisa belajar tentang titik-titik balik dalam hidupnya, kejadian-kejadian penting yang mengubah pandangannya tentang hidup. Buku ini mengenalkan saya pada Gandhi sebagai seseorang manusia biasa dan bukan sebagai seorang orang suci alias Mahatma

No comments: