Jan 13, 2014

[KLUB BACA IGI] Membaca "M. K. Gandhi : An Autobiography" (Bagian 2) ~ Pandangan Gandhi Tentang Olahraga dan Pelajaran Olahraga



Ketika sekolah, khususnya ketika SMA, Gandhi sangat membenci pelajaran olahraga. Dia mempunyai pandangan bahwa melatih raga (olahraga) tidak sepenting melatih kemampuan berpikir. Kebenciannya ini ditambah oleh sebuah pengalaman pribadinya dengan gurunya.

Saat Gandhi SMA, ayahnya yang sangat disayanginya sedang sakit parah. Setiap pulang sekolah dia akan segera pulang untuk merawat ayahnya. Pelajaran olahraga dilakukan setiap Sabtu sore. Setiap Sabtu sekolah libur kecuali untuk pelajaran olahraga. Guru Gandhi saat itu bernama Pak Gimi. Kepadanyalah Gandhi meminta izin untuk tidak mengikuti pelajaran olahraga. Tujuannya agar dia punya lebih banyak waktu untuk merawat ayahnya. Pak Gimi tidak percaya pada alasan yang dikemukakan Gandhi. Gandhi harus tetap ikut pelajaran olahraga.

Setiap Sabtu sore Gandhi tetap berangkat dari rumah ke sekolah untuk mengikuti pelajaran olahraga dan suatu hari dia terlambat sehingga harus absen. Di pertemuan berikutnya, Pak Gimi menanyakan alasan ketidakhadiran Gandhi di pelajaran olahraga. Gandhi menceritakan kejadian apa adanya tapi Pak Gimi menuduhnya berbohong. Ini membuat Gandhi sakit hati. Dia berkata jujur, kenapa dituduh berbohong?

Gandhi memang sempat menyepelekan pentingnya berolahraga serta memiliki pengalaman pahit mengenai pelajaran olahraga. Namun, pada akhirnya sikap Gandhi berubah. Bacaan-bacaannyalah yang mempengaruhinya berubah pandangan.

Ketika membaca sesuatu, seseorang bisa punya pemikiran-pemikiran maupun pandangan-pandangan baru yang tidak dimilikinya sebelumnya. Itulah yang dialami Gandhi setelah membaca  buku-buku mengenai manfaat dari berjalan kaki sambil menghirup udara segar. Ide berjalan kaki sambil menghirup udara segar tampak sebagai ide menarik. Gandhi pun mencobanya. Dia membiasakan diri berjalan kaki dengan jarak yang cukup jauh setiap hari.

Ternyata, kegiatan tersebut membuat tubuh Gandhi menjadi lebih bugar. Gandhi merasakan sendiri efek positif dari berolahraga pada tubuhnya. Selama ini pandangannya bahwa olahraga tidak penting salah. Setelah berjalan-jalan pun pikirannya menjadi lebih segar. Kebiasannya berjalan kaki juga sangat bermanfaat ketika dia memilih untuk hidup lebih sederhana. Membiasakan diri berjalan jauh memungkinkannya menghemat ongkos kendaraan ketika ingin berpergian.

Beberapa tahun kemudian Gandhi bekerja bersama-sama seorang pekerja sosial bernama Gokhale. Gokhale sangat sibuk karena senantiasa mengurus kebutuhan orang banyak sehingga tak pernah punya waktu untuk berolahraga termasuk berjalan-jalan . “Pernahkah kamu lihat aku punya waktu untuk berjalan-jalan?” katanya pada Gandhi. Terkait ini Gandhi berpendapat :

I believed then and I believe even now, that, no matter what amount of work one has, one should always find some time for exercise, just as one does for one's meals. It is my humble opinion that, far from taking away from one's capacity for work, it adds to it. (Gandhi, 1927)
artinya :
Saya percaya dari dulu dan juga tetap percaya sekarang, bahwa, seberapa sibuknya seseorang bekerja, dia harus mencari waktu untuk berolahraga, seperti halnya dia mencari waktu untuk makan. Dalam pandangan saya, olahraga tidaklah mengurangi kapasitas seseorang dalam bekerja, melainkan malah meningkatkannya (Gandhi 1927)

Pandangan Gandhi tentang olahraga memang mengalami perubahan. Pelajaran olahraga yang dulu dianggapnya tak penting kini malah dianggapnya esensial dalam proses pendidikan seseorang. Katanya :

“I then had the false notion that gymnastics had nothing to do with education. Today I know that physical training should have as much place in the curriculum as mental training”. (Gandhi 1927)
artinya :

“Dulu saya punya pandangan yang keliru bahwa gymnastik tidak ada hubungannya dengan pendidikan. Sekarang saya sadar bahwa melatih (kebugaran) tubuh sama pentingnya dengan melatih kemampuan berpikir".

No comments: