Jul 18, 2011

Mau berlari?

Keponakan saya, baru naik kelas dua SD. PR-nya adalah menyalin LKS yang sangat membosankan. Bukan hanya menyalin kata-katanya, tetapi juga menyalin gambarnya (yang cukup sulit, bahkan untuk saya sekalipun!). Tentu soal-soalnya harus dikerjakan juga. Sekarang dia sedang belajar mengenai bilangan ratusan.

Ada satu soal yang meminya dia menuliskan bilangan loncat 6 mulai dari 125 sampai 180. Karena saya mengikuti perkembangan belajarnya, saya tahu dia tidak pernah benar-benar belajar mengenai place value. Saya rasa konsep ratusan, puluhan, dan satuan pun belum paham. Kalau saya diminta menuliskan bilangan loncat 6 dari 125 sampai 180 saya cukup menjumlahkan saja

125+6 = 131
131+6 = 137
137+6 = 143
143+6 = 149
149+6 = 155
155+6 = 161
161+6 = 167
167+6 = 173
173+6 = 179

Keponakan saya memilih menggunakan jari-jarinya. 6 jarinya diangkat. Dia membilang dari 125 - 180. Itu pun dia masih kacau, terutama misalnya menyebutkan angka setelah 129, 139, dan seterusnya (terutama setelah satuannya 9). Kenapa harus cepat cepat membilang loncat 6 yah kalau membilang loncat 2 belum tentu lancar? Kenapa harus cepat-cepat membilang loncat kalau pemahaman konseptual akan satuan, puluhan, dan ratusan belum bisa. Kenapa harus diburu-buru sih?


Sesekali saya mengejari keponakan saya dari dasar. Materi saya dapatkan dari http://www.cimt.plymouth.ac.uk Di sana, untuk mengajarkan konsep mengenai bilangan 0 sampai 3 saja saya melakukannya dalam waktu yang cukup lama. Saya menemukan bhwa butuh waktu bagi keponakan saya kadang masih belum paham konsep nol. Sekarang baru masuk ke bilangan sampai 5. Pelan-pelan saja. Ini tambahan baginya dari materi yang didapatkan di sekolah.

Saya jadi ingat obrolan saya dengan seorang guru SMP saat pelatihan, "Mbok yah kita diajarin materi yang sulit, masa harusbelajar aljabar dan geometri lagi. Kita kan sudah mengajar matematika bertahun-tahun. Mbok yah kita dikasih soal-soal olimpiade, biar anak-anak kita bisa maju ke olimpiade. Masa mulai dari dasar."

Guru yang protes ini bahkan tidak tahu bahwa gradien menunjukkan kemiringan. Bagaimana bisa mengerjakan soal-soal olimpiade kalau dasarnya tidak paham?

Saya mengamati, beberapa kal saya menemukan guru-guru yang melewati materi-materi dasar, semacam bilangan dan pengukuran, karena dianggap mudah. Langsung loncat ke materi yang lebih sulit. Padahal biarpun terlihat mudah, konsepnya belum tentu dipahami sepenuhnya oleh siswa.

Saya jadi ingat obrolan saya waktu saya mengunjungi Waldorf School, juga obrolan saya dengan Pak Daoed. Intinya, binatang biasanya membutuhkan waktu yang lebih cepat untuk menjadi dewasa, misalnya belajar berlari, mencari makan, dan sebagainya. Harimau, baru lahir sudah bisa berlari. Manusia berbeda, bahkan untuk berjalan, manusia membutuhkan waktu hingga 9 bulan. Tetapi manusia, bisa terus belajar dan berkembang seumur hidupnya.

Saya tidak mengerti kenapa di sekolah-sekolah kita, kita harus belajar dengan begitu terburu-buru. Mau langsung belajar perkalian padahal penjumlahan belum lancar. Mau langsung belajar penjumlahan ratusan padahan penjumlahan satuan masih bingung, dan banyak lagi. Benar-benar belajar seperti dikejar-kejar. Apakah ini bisa membuat kita lebih jago? Ntahlah..

No comments: