May 15, 2009

Suka ekstrak ini :)

Di dalam hidup, ada tahap-tahap dalam pertumbuhan dan perkembangan. Seorang anak belajar untuk tengkurap, duduk, merangkak, dan baru kemudian berjalan dan berlari. Setiap tahap penting dan setiap tahap membutuhkan waktu. Tidak ada tahap yang bisa diloncati.

Hal ini penting dalam setiap aspek kehidupan, di setiap area perkembangan baik ketika belajar bermain piano, berkomunikasi secara efektif, ataupun bekerja dengan associate (perusahaan?). Ini penting bagi individu, pasangan, keluarga, maupun organisasi.

Kita tahu dan bisa menerima fakta mengenai teori mendasar ini di bidang yang besifat fisik, tapi untuk mengertinya dalam area emosi, hubungan antar manusia, dan bahkan pembentukan karakter pribadi, tampak tak biasa, dan lebih sulit. Dan bahkan, saat kita mengerti, untuk menerimanya dan hidup dengannya dalam harmoni lebih tampak tak biasa lagi dan jauh lebih sulit. Akibatnya, kadang kita mencari jalan pintas, berharap bisa meloncati beberapa tahap-tahap penting untuk menghemat waktu dan usaha dan tetap mendapatkan jasil yang diinginkan.

Tapi apa yang terjadi saat kita mencari jalan pintas dari tahap natural dalam pertumbuhan dan perkembangan? Bila kamu hanya pemain tenis yang biasa-biasa saja dan mencoba (berpura-pura) bermain tenis di tingkat yang lebih tinggi untuk terkesan lebih baik, apa hasilnya? Apakah positive thinking saja cukup untuk membuatmu menjadi pemain tenis profesional?

Apa yang terjadi saat kamu meyakinkan teman-temanmu bahwa kamu bisa bermain sebaagai pemain piano di sebuah konser padahal kemampuanmu sebenarnya masih seorang pemain piano pemula?

Sudah jelas. Tentu, sangat tidak mungkin untuk diabaikan (pentingnya berproses). Itu bertentangan dengan hukum alam, dan mencari jalan-jalan pintas hanya berakibat pada kekeceaan dan rasa frustasi.

dalam skala 1 sampai 10, jika saya dalam tingkal dua di bidang apapun, dan mau maju ke tingkat lima, saya harus mengambil langkah pertama ke level tiga.

"Sebuah perjalanan 1000 mile dimulai dengan satu langkah pertama."


(Stephen R. Covey)

No comments: