Dec 21, 2009

Review Film: Not One Less



Bagi saya, film "Not One Less" adalah sebuah film yang cantik. Filmnya mengenai seorang guru pengganti di sebuah daerah rural di Cina. Ini bukan film tak mengambbarkan heroisme yang berlebihan dan ideal (seperti beberapa film-film holywood yang pernah saya tonton, tetapi lebih bersifat realistik, mengenai kondisi sekolah-sekolah di daerah terpencil. Yang tentunya mengingatkan saya akan kondisi di Indonesia.



Sinopsis


Guru yang asli di sekolah ini bernama Pak Guru Gao. Satu sekolah hanya ada satu guru. Hmm.. mengingatkan saya atas beberapa kondisi sekolah di tanah air.

Karena ada keperluan yang sangat mendesak, ibu dari Pak Guru Gao sedang sekarat. Tak ada pilihan lain ia harus meninggalkan sekolah selama 21 hari untuk mengurusi ibunya.

Mayor dari desa tersebut (mungkin semacam kepala desa) telah mencarikan seorang guru pengganti dari desa sebelah. Namanya Ibu Guru Wei Minzhi.

Ibu Guru Wei Minzhi bukanlah seorang guru profesional. Jangankan menjadi guru profesional, lulus SMU pun belum usianya, masih 13 tahun. Tapi Mayor desa mengatakan telah mencari guru pengganti kemana-mana dan tak ada yang mau mengajar di daerah terpencil. Ibu guru wei Minzhi satu-satunya pilihan yang ada.

"Cuma untuk satu bulan," kata sang mayor pada Pak Guru Gao.
Pak Guru Gao khawatir, tapi ia tidak punya pilihan lain. Ia menanyakan Ibu Guru Wei mengenai kemampuan yang ia miliki.

"Saya bisa menyanyi," katanya walau ia hanya bisa menyanyikan satu lagu.
"Kamu tidak bisa mengajarkan satu lagu secara terus menerus selama 1 bulan," kata Pak Guru Gao.
"Apa lagi yang kamu bisa?" tanya Pak Guru Gao lagi.
Bu Guru Wei Minzhi terdiam. Bingung.
"Apa kamu bisa mencatat."

Bu Guru Wei pun mengangguk. Ia bisa mencatat. Maka Pak Guru Gao memberinya sebuah buku. Ia meminta Bu Guru Wei mencatat satu lembar dari buku tersebut ke papan tulis setiap harinya. Ia juga menerangkan cara kerja sekolah tersebut, kapan murid-murid harus pulang, apabila cuaca buruk, para siswa harus dipulangkan karena air sungai bisa meluap, dan sebagainya. Pak Guru Gao juga mengatakan bahwa saat mencatat, Ibu Guru wei harus menggunakan tulisan yang tidak terlalu kecil agar siswa bisa membaca tetapi tidak terlalu besar agar tidak boros (kapurnya).

"Satu hari maksimal satu kapur," kata Pak Guru Gao. Pak Guru Gao dan Bu Guru Wei pun menghitung jumlah kapur hingga jumlahnya tepat 21 biji.

Ternyata Mayor Desa telah menjanjikan agar Bu Guru Wei digaji sebesar 50 Yuan. Mayor berkata untuk meminta uang tersebut pada Pak Guru Gao.

"Selesaikan dulu tugasmu, baru kamu akan dibayar. Ada 28 murid di sini. Saat saya kembali saya mau tak satu pun murid pergi dari sekolah ini. Apabila saat saya pulang nanti semua murid saya masih ada, kamu boleh meminta 50 Yuan pada Mayor Desa," kata Pak Guru Gao.

"Apabila Mayor desa tak membayarmu, saya akan membayarmu dengan 60 Yuan," tambah Pak Guru Gao.

Usia Ibu Guru Gao masih sangat muda, tidak beda jauh dengan murid-muridnya, ia tak memiliki pengalaman mengajar, pengetahuannya masih terbatas, belum lagi murid-muridnya ada yang bandel, tidak mau mendengarkan. Yang bisa ia lakukan hanya menjalankan apa yang dikatakan oleh Pak Guru Gao. Ia mencatat satu lembar dari buku yang diberikan Pak Guru gao ke papan tulis, meminta muridnya mencatat, meskipun murid-murid kesulitan saat mencatat ataupun ribut tak banyak yang bisa ia lakukan.

Ibu Guru Gao pun menunggu di depan pintu kelas, memastikan tidak ada muridnya yang pergi. Saat ia menunggu seorang murid perempuan mendatanginya sambil protes karena ia sedang mencatat tapi ada temannya yang ribut dan menganggunya sehingga ia tidak bisa mencatat.

"Ibu kan seorang guru, jadi lakukan sesuatu."
Ibu Guru Gao tidak tahu harus melakukan apa. Ia pun cukup keras kepala dengan mengatakan bahwa tak ada yang bisa ia lakukan. Sampai akhirnya terdengar suara "gedubrak" dari dalam kelas.

Ibu Guru Wei menemukan sebuah meja jatuh di lantai kelas. Kotak kapur pun terjatuh di lantai.

"Siapa yang menjatuhkan meja?" tanyanya. Seorang anak menceritakan apa yang terjadi sambil menunjuk temannya yang menjatuhkan meja. yang menjatuhkan meja pun tak mau disalahkan ia mengatakan bahwa temannya mengejarnya dan menendang kakinya sehingga insiden itu terjadi.


Ibu Guru Wei meminta anak yang menjatuhkan meja untuk mengambil kapur. Anak tersebut tidak mau menuruti perintahnya. Ibu Guru wei mencoba memaksa anak tersebut memngambil kapur yang jatuh tapi yang terjadi malah kapur-kapur terinjak. Seroang murid perempuan berteriak memohon agar kapur-kapur tersebut tidak diinjak.

Itu insiden pertama, masih ada insiden-insiden lainnya. Di hari lain, saat Ibu Guru Wei sedang mengajarkan sebuah lagu (yang tampaknya ia karang sendiri) ke murid-muridnya di halaman sekolah, Mayor Desa dan beberapa orang lainnya datang untuk meminta seorang murid, yang katanya memiliki kemampuan berlari dengan sangat cepat, meminta murid ini untuk berlari dan kembali lagi. Mayor Desa ingin menunjukan bahwa murid ini sangat berbakat sehingga bisa disekolahkan ke sebuah sekolah atlet tingkat nasional.

Murid ini memang larinya cepat, "Besok saya akan bicara dengan orang tua murid ini. Saya akan menjemputnya untuk mengirimkannya ke sekolah atlet.

Ibu Guru Wei bersikeras bahwa muridnya tidak boleh dibawa kemana-mana. Keesokannya ia menyembunyikan murid (yang jago berlari ini) di suatu tempat. Terlepas dari apa yang Mayor Desa katakan, misalnya bahwa keputusan ini pasti disetuji oleh Pak Guru Gao, ini adalah kesempatan bagus, Ibu Guru wei tetap tak mau mengatakan dimana ia menyembunyikan muridnya.

Tak mampu meminta Ibu Guru wei menunjukkan dimana muridnya berada, ia merayu seorang murd lainnya dengan sedikit iming-iming uang untuk menunjukan di mana murid pelari tersebut berada.

Murid pelari tersebut ditemukan. Dan ia pun dibawa dengan sebuah kendaraan menuju kota lain. Ibu Guru Wei mengejarnya, sampai ia tak sanggup mengejar lagi.

Sekembalinya di kelas, suasananya ribut seperti biasa. Dua orang murid, seorang perempuan da seorang laki-laki sedang beradu mulut. Murid yang laki-laki telah mengambil diary murid yang perempuan. Ia pun membacanya di depan kelas. Bagian ini menurut saya merupakan bagian yang paling menyentuh. Begini isi diarynya:

Saya merasa sangat sedih, Dua hari yang lalu, Zhang Huike membuat masalah di kelas dan menjatuhkan sebuah meja. Kapur pun berjatuhan. Ibu Guru Wei meminta Zhang untuk mengambil kapur-kapur yang berjatuhan. Tapi ia tidak mau sampai kapur-kapur tersebut terinjak.

Ibu Guru Wei tidak menghargai kapur seperti halnya Pak Guru Gao. Pak Guru Gao selalu mengatakan bahwa sekolah kita tak punya uang sehingga kita tidak bisa membeli terlalu banyak kapur. Aku adalah ketua kelas. Saya tahu Pak Guru Gao tak akan membuang-buang kapur, bahkan kapur yang paling kecil.

Saya mengingat, suatu hari saya membuat sebuah potongan kapur yang sangat kecil ke pojok kelas. Pak Guru Gao melihatnya dan mengambilnya. Ia menggenggamnya diantara kedua jarinya dan menggunakannya untuk menulis satu karakter [Cina, semacam kata] lagi.

Kemarin, satu kotak kapur telah berubah menjadi sebuah kotak serpihan kapur berwarna hitam. Kalau Pak Guru Gao tahu ia pasti akan menjadi sangat sedih.


Insiden yang paling heboh yang terjadi adalah saat ada satu orang lagi muridnya, Zhang Huike yang menghilang. Berbeda dengan murid sebelumnya yang pergi karena akan disekolahkan di sebuah sekolah atlet tingkat nasional, Zhang Huike pergi untuk mencari kerja di kota. Ayahnya telah meninggal, ibunya terjerat hutang. Ia pergi ke kota.

Ibu Guru Wei mendatangi rumah Zhang Huike untuk meminta alamat temat Zhang akan tinggal di kota. Ia telah berniat mencari muridnya yang hilang. Ia tak punya uang untuk ke kota. Ia Mayor Desa mengantarnya ke kota tetapi ia tidak mau. Ia sibuk, begitu katanya.

"Berapa tiket bus untuk ke kota?" tanya Ibu Guru Wei ke seisi kelas.
"Satu Yuan," kata muridnya dengan polos. Satu Yuan untuk anak-anak (mirip kalau anak sekolah harus bayar angkot di Indonesia, harganya lebih murah).
Seorang murid mengatakan harganya 3 Yuan.
"Oke kalau begitu kita butuh uang sebesar 12 Yuan agar saya bisa ke kota untuk menjembut Zhang Huike," Ibu Guru wei pun berpikir, "Eh salah deng. Saya butuh 3 Yuan untuk pergi ke kota dan 3 Yuan untuk kembali, dan 3 Yuan untuk Zhang saat kembali ke sini"

Ia menanyakan apakah murid-muridnya ada yang memiliki uang untuk membantunya mencari Zhang. Ada beberapa uang yang terkumpul tapi tetap tidak cukup.

Seorang muridnya mengusulkan agar mereka bekerja memindahkan bata di sebuah pabrik. Bayarannya 1,5 cent untuk satu bata.

Ibu Guru Wei pun meminta muridnya berapa uang yang mungkin terkumpul bila mereka bisa memindahkan sebjumlah bata.

1 buah bata menghasilkan 1,5 cent
10 buah bata menghasilkan 15 cent
100 buah bata menghasilkan 150 cent
1000 buah bata menghasilkan 1500 cent
1500 cent sama dengan 15 yuan
.


"15 Yuan cukup untuk ke kota," kata Ibu Guru Wei, "Ayo kita mulai ke pabrik"

Para murid pun senang sekali harus keluar kelas. Bersama-sama mereka memindahkan bata-bata yang ada di pabrik (meski tanpa izin kepala pabrik). Mereka berhasil memindahkan 1500 bata (bukan 1000 seperti yang telah direncanakan)

Kepala pabrik pun marah-marah. Karena beberapa bata dipindahkan secara acak-acakan. ia mengatakan bahwa sebenarnya memindahkan 1000 bata hanya bisa menghasilkan 40 cent, bukan 15 Yuan seperti perhitungan mereka. Hanya saja, setelah mendengarkan bahwa uang tersebut akan digunakan untuk menolong seorang murid yang hilang. Ia memberikan mereka 15 Yuan.

Anak-anak kehausan, dan mereka ingin minum. Ibu Guru Wei mengatakan karena mereka butuh 9 Yuan untuk pergi ke kota dan uang yang mereka miliki adalah 15 Yuan, sehingga mereka bisa menggunakan 6 Yuan sisanya untuk membeli minuman bersoda. Anak-anak pun pergi ke sebuah warung. Mereka sangat ingin mencicipi sebuah minuma bersoda karena mereka tidak pernah meminumnya dan tidak tahu apa rasanya. Satu kaleng soda berharga 3 Yuan. Ibu guru Wei membeli 2 kaleng soda. Para murid bergantian menyicipi sedikit minuman. Tidak ada yang rakus. Semuanya berbagi, mengharukan sekali. Bahkan mereka memikirkan, "Sisakan sedikit untuk Ibu Guru Wei," kata seorang murid.

Ibu Guru Wei bersama murid-murid pergi ke stasiun bus untuk memesan tiket. Ternyata harga tiket lebih mahal dari 3 Yuan.

Saat kembali ke kelas, Ibu Guru Wei mencoba memecahkan masalah ini dengan murid-muridnya. Ia menghitung berapa uang lagi yang harus dikumpulkan, berapa jumlah batu bata yang harus dipindahkan untuk mengumpulkan uang tersebut, hingga berapa waktu yang mereka butuhkan untuk memindahkan bata (dengan asumsi kemarin waktu mereka memindahkan 1500 bata mereka mereka membutuhkan waktu 2 jam).

Ibu Guru Wei bersama murid-muridnya mencoba memecahkan masalah ini bersama-sama. Semua serius memikirkan solusi untuk setiap perhitungan. Suasana kelas tidak kacau seperti saat ia pertama mengajar. Saya sangat menyukai adegan ini. Adegan ini menunjukkan bahwa saat sesorang (atau sekelompok orang) dihadapi pada sebuah masalah, proses belajar terjadi dengan sendirinya. Adegan ini juga menunjukkan bahwa saat murid memiliki suatu tujuan (kali ini tujuannya adalah untuk memungkinkan Bu Guru Wei pergi ke kota), mereka akan termotivasi untuk belajar tanpa diminta. Tanpa suatu tujuan, belajar akan bersifat meaningless (tidak berarti) daripada meaningful (berarti)

Perhitungan menunjukkan bahwa terlalu banya waktu yang dibutuhkan untuk memindahkan bata untuk menghasilkan uang yang mencukupi untuk pergi ke kota. Murid-murid mengusulkan untuk menyelundupkan Ibu Guru Wei ke dalam bus tanpa harus membayar. Usaha ini tak berlangsung dengan sukses, tapi akhirnya Bu Guru Wei berhasil menumpang sebuah kendaraan secara cuma-cuma.

Selanjutnya adalah perjalanan Ibu Guru Wei mencari muridnya yang hilang. Bagian ini silakan ditintin sendiri untuk melihat hasil akhirnya. Film ini ditutupi dengan sebuah adegan yang cantik. Detailnya.. Hmm lihat sendiri, yang pastinya berhubungan dengan kapur. (Jangan lupa ditonton filmnya).
---

Ada beberapa kesan yang film "Not One Less" ini tinggalkan pada saya. Saya senang melihat para murid dan guru berani mengungkapkan pendapatnya. Saya senang sekali melihat adegan saat murid-murid mencoba menyelesaikan permasalahan bersama-sama. Seorang murid akan maju ke depan melakukan perhitungan. Saat murid yang maju melakukan kesalahan, misalnya salah eja atau salah perhitungan, temannya akan menunjukan kesalahan apa yang telah dibuat dengan cara yang baik, sehingga tak menyinggung perasaan. Adegan ini mengingatkan saya pada teorinya Vygotski bahwa interaksi sosial merupakan salah satu hal yang paling penting dalam perkembangan kognisi.

Film ini juga mengingatkan saya pada kondisi-kondisi yang tidak ideal di beberapa daerah tertentu, bukan hanya di Cina tetapi juga di Indonesia. Mungkin tak banyak muncul di media, tapi tampaknya masih banyak kondisi-kondisi sejenis ini yang ada di Indonesia. Satu guru mengajar di satu sekolah, kurangnya guru di daerah-daerah terpencil. BAnyak guru terbaik hanya berada di kota-kota atau pulau-pulau tertentu. Kondisi 'tidak ideal' ini mengakibatkan siapa saja dapat berubah menjadi guru, tak terkecuali orang-orang yang masih belum berpengalaman dah bahkan mungkin hanya lulus SD. Metode pun seadanya.

Tentu perlu diingat bahwa saya tidak bisa meng-underestimate guru-guru lulusan SD. Di Bogor, saya pernah bertemu guru-guru yang hanya lulus SD tapi metode yang mereka gunakan lebih canggih daripada guru yang sudah berkuliah di sekolah keguruan. Mereka tetap guru yang potensial, apalagi apabila diberi kesempatan untuk berkembang.

Film ini pun membuktikan bahwa seiring dengan proses yang ia hadapi dalam menjalani hari-harinya sebagai guru, Ibu Guru Wei pun mampu berproses menjadi guru yang lebih baik, dicintai, dan mampu menginspirasi murid-muridnya. Tanpa ia sengaja, ia menemukan metode belajar mengajar yang menarik (problem solving). Tak ada guru yang lebih baik daripada pengalaman.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, adegan yang paling berkesan bagi saya adalah tulisan di diary seorang murid yang sedih karena ada kapur yang terbuang. Adegan ini mengingatkan saya bahwa seorang guru bisa meninggalkan kesan yang mendalam bahkan dengan cara yang paling sederhana. Dengan mencotohkan bahwa kapur yang sekecil apapun tetap bernilai. Seperti yang dicontohkan oleh Pak Guru Gao, satu serpihan kapur pun bisa digunakan untuk menuliskan satu karakter cina, sangat berharga untuk membantu proses belajar. Pak Guru Gao dengan sikapnya telah mencotohkan sendiri sifat menghargai, bersyukur, dan bersikap sederhana.


Film yang cantik ini sangat cocok ditonton oleh semua teman-teman guru dan praktisi pendidikan. Banyak yang bisa dipelajari dari film ini. Kalau sudah menonton. Jangan lupa tuliskan pendapatnya yah..

Oh ya film ini dapat ditonton di sini:

part 1: http://www.youtube.com/watch?v=PqYi7TNM2qA&feature=related
part 2: http://www.youtube.com/watch?v=OvMeP5S12bE&feature=related
part 3:http://www.youtube.com/watch?v=2I7KUvQgLBM&feature=related
part 4:http://www.youtube.com/watch?v=r7hef_VDyao&feature=related
part 5:http://www.youtube.com/watch?v=NZz38zK2YOc&feature=related
part 6:http://www.youtube.com/watch?v=nC-4Jbo61VY&feature=related
part 7:http://www.youtube.com/watch?v=iLEE6wWdhLQ&feature=related
part 8:http://www.youtube.com/watch?v=oZ6iPjMyy6o&feature=related
part 9:http://www.youtube.com/watch?v=AF_ghdWyMRk&feature=related
part 10:http://www.youtube.com/watch?v=msLSSl6vEt4&feature=related
part 11:http://www.youtube.com/watch?v=7VBA8FwpsNw&feature=related
part 12: http://www.youtube.com/watch?v=SuymM5X9l8k&feature=related

Sumber gambar : http://www.moviecritic.com.au/not-one-less-film-movie-review/

1 comment:

Mohamad Adriyanto said...

info yg bagus sekali, review yg juga sangat menjiwai film. trm ksh banyak... saya akan ajak guru kami menonton film ini. Salam, adriyanto - www.smkti.net