May 31, 2009

cin(T)a

Saya baru menonton premiere cin(T)a di London. Film ini masih belum diputar di Indonesia, karena masih dalam proses sensorship, maklum isunya cukup sensitif, tentang hubungan beda agama, ras, suku, dan juga kelas.

Kamis malam saya tiba di London, teman saya tempat saya biasa menebeng sedang di luar kota sehingga saya memutuskan untuk menginap di wisma merdeka, tempat menginapnya guru rajut saya, sekaligus penghuni DU65 tempat saya biasa nebeng dulu selama di Bandung, Mbak Danti. Saya sampai London jam 11 malam, belum booking tempat di wisma, saya berharap-harap saya diizinkan masuk.

Ya nomor 44! Ini rumahnya, saya ketuk-ketuk dan saya kaget. Pintu dibukakan oleh wajah yang saya kenal melalui trailer film cin(T)a, sang pemeran utama Sunny Soon. "Mau mencari siapa ya?" katanya dengan suara halus. "Ingin menanyakan ada tempat untuk menginap tidak malam ini di sini." Jawab saya. Untuk pengelola wisma, berbaik hati mengizinkan saya tinggal di sana, asal penghuni yang lainnya tidak keberatan, untungnya penghuni wisma adalah teman-teman saya sendiri, Mbak Danti, Atun, dan seorang teman main saya waktu saya masih kecil, Tantri. Yipiee.. Hehehe.

Well, anyhow, saat saya sampai saya sempat ngobrol-ngobrol dengan Atun, untuk menanyakan Sali, dalam film ini berperan sebagai apa. Saya ingat, Sali sempat mengemail saya untuk menanyakan kenalan yang bersedia menyeponsorinya untuk datang. Saya menyarankan Sali untuk menghubungi IA-ITB yang menurut Mbak Danti, tidak berhasil. Wah sayang sekali. Atun berkata Sali adalah script writer bersama dengan Samaria (yang saya kenal kemudian karena kami juga sekamar di wisma merdeka). Dan jujur perasaan saya bangga sekali. Sali, bagi saya ada perempuan yang sangat istimewa. Dia dulu teman saya selama di komunitas Taboo. Kami sama-sama mengajar anak-anak Taboo. Dia juga merupakan teman perjalanan saya sewaktu mengunjungi Pak Bahruddin, di 'SMP Alternatif Qaryah Thayibbah', Salatiga. Kami menghabiskan 3 hari berpuasa di sana sambil mengagumi kompor Pak Bahruddin yang terbuat dari Biogas. Di Salatiga saat itu Sali pun tak berhenti bekerja, sampai malam ia tetap mengetik script untuk sebuah stasiun TV swasta. Saya ingat Sali meminta saya mendengarkan kumpulan lagu favoritnya di mp-3 nya, segala jenis musik ada dari instrumental, keras, pop, dan sebagainya. "Banyak orang heran dengan selera musikku, kok kayaknya jenis musik satu ngak nyambung dengan yang lainnya, padahal antar satu musik dengan musik lainnya ada benang merahnya." Saya juga teringat ketika Sali membahas tentang hukum makan kodok dalam Islam, ia mencari tahu hadisnya dari berbagai sumber. Ia membaca banyak sumber, lalu menyimpulkan apa yang dianggapnya paling benar.

Selama nonton film cin(T)a saya tidak bisa berhenti untuk tidak mengenang Sali. Saya sangat menyuka hubungan antara Cina dan Anisa di film itu, saya menyukai bagaimana mereka tersenyum satu sama lain, perasaan yang naik dan turun, perbedaan karakter antara Cina dan Anisa. Manis sekali, bagi saya. Dan saya tidak bisa berhenti untuk mengingat Sali. Sali adalah perempuan yang sangat unik, dan cinta antara Cina dan Anisa pun sangat unik, bukan yang beromantis candle light dinner,kirim-kirim bunga, tapi lebih pada rasa, dan juga pikiran. Lalu ada naik dan turun, emosi yang tertahan, dan terlepaskan. Mencoba berkompromi baik pada pasangan maupun kondisi, walau tak selalu mudah. Manis sekali. dan saya tidak bisa berhenti bertanya, apa Sali juga pernah merasakan hal yang sama, sehingga ia bisa menggambarkan cinta yang sebegitu manisnya?

Adegan terakhir, mengenai sang perempuan yang memilih untuk menikah dengan jodohnya (dijodohkan ibunya), digambarkan dengan mandi kembang (adat Jawa) lalu ada tanda tanya (Amin?) bagi saya juga istimewa. Saya tidak bisa untuk tidak ingat bahwa Sali, meskipun dia perempuan yang sangat modern (menurut saya), merupakan perempuan Jawa. Kenyataannya ada orang-orang yang memilih untuk dijodohkan (atau hal-hal yang dalam budaya barat terlihat aneh, istilahnya kok yah manut aja?), mungkin dipengaruhi budaya. Memang ada budaya-budaya yang tidak selalu menganggap individu merupakan hal yang paling istimewa. Pengabdian pada orang tua, misalnya merupakan hal yang dianggap suci, atau menuruti apa yang diyakini (tidak kawin beda agama), karena benar-benar yakin, sehingga rela mengorbankan cinta pun hal yang wajar juga, meskipun ada yang sebaliknya. Saya sendiri misalnya, meskipun seorang yang bisa dikatakan dididik dalam keluarga yang cukup modern, tetap percaya bahwa restu orang tua adalah hal yang sangat penting dalam melangkah ke langkah selanjutnya (misalnya menikah). Dan itu menariknya film ini. Film ini tidak menyatakan mana yang paling benar dan mana yang paling salah. Toh ada beberapa potongan hasil wawancara yang menggambarkan orang-orang yang memilih beda agama (meski dalam film ini tokoh utama tidak melakukannya). Dan saya memang paling menyukai model-model film semacam ini. Sebuah film yang hanya bercerita tanpa mendoktrinasi apa yang benar dan apa yang salah. Hanya cerita tentang kegelisahan, apa yang dilihat, apa yang dipikirkan, dan apa yang dirasa. Saya ingat saat diskusi, Samaria, script writter satu lagi bercerita, bahwa adegan ketika Anisa (muslim) merasa sedih ditahun 2000, saat mendengar gereja-gereja di bom, didasarkan pada apa yang di rasakan Sali. Sali, seorang muslim, tapi ia memiliki keluarga yang berbeda agama. Ketika kejadian gereja dibom saat natal. Sali merasa berat sekali, karena jadi cangung kan berhubungan dengan keluarga yang berbeda agama? Ia merasa ia berada di komunitas yang ikut membom orang-orang di gereja. Saat ada umat muslim yang melakukan terorisme, umat-umat muslim lain turut terkena dampaknya, dicap buruk, dicap jahat, padahal banyak juga muslim yang tidak seperti itu, yang bisa hidup damai dengan umat manusia lainnya. (ah tuh kan saya ingat Sali lagi!)

Saya sangat suka film-film yang bukan untuk menjustifikasi benar salah. Apa yang benar atau salah penonton yang menentukan, setelah refleksi. Penonton yang harus dewasa dalam mengambil sikap saat menonton film-film semacam ini. I just love it! Menonton film ini mengingatkan saya pada beberapa film yakni The Class/Entre Les Murs (setting Prancis), Persepolis(setting Iran), dan sebuah film Jepang yang judulnya nobody knows. Kekuatan film-film ini adalah bahwa film-film ini apa adanya, endingnya mungkin tak seindah film-film hollywood, alurnya tidak heroik, hanya cerita, deskripsi secara visual, yang memungkinkan penonton untuk berefleksi terhadap fenomena di sekitarnya, mengingat-ingat, bagian-bagian dalam hidup penonton yang berhubungan dengan film, tertawa atas kegetiran emosi yang dirasa. Film yang membiarkan penonton untuk subjektif dalam menilai apa yang dianggapnya benar atau salah. The ending is not the point, but what we feel during the film is what matters the most. I just love it!

1 comment:

Anonymous said...

Ya, mungkin karena itu