Nov 13, 2009

Guru: Meninggalkan kesan yang mendalam meski dengan cara yang sederhana

It was Miss Emily herself who taught us about the different counties of England. She'd pin up a big map over the blackboard, and next to it, set up an easel. And if she was talking about, say, Oxfordshire, she'd place on the easel a large calender with photos of the county. She had quite a collection of these picture calenders, and we got through most of the counties this way. She'd tap a spot on the map with her pointer, turn to the easel and reveal another picture. There'd be little villages with streams going through them, white monuments on hillsides, old churches beside fields; if she was telling us about a coastal place, there'd be beaches crouded with people, cliffs with seagulls. I suppose she wanted us to have a grasp of what was out there surrounding us, and it's amazing, even now, after all these miles I've covered as a carer, the extent to which my idea of the various counties is still set by these pictures Miss Emily put uo on her easel. I's be driving through Derbyshire, say and catch myself looking for a particular village green with a mock-Tudor pub and a war memorial - and realise it's the image Miss Emily showed us the first time I ever heard of Derbyshire.


(Never Let Me Go , hal 64-65, Kazuo Ishiguro)

Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah novel dan saya menemukan potongan di atas. Potongan di atas menggambarkan bagaimana seorang guru, dengan melakukan sesuatu hal yang sederhana, bisa meninggalkan bekas yang mendalam bagi muridnya. Berdasarkan kutipan di atas, saat sang guru mengajarkan mengenai peta Inggris (kebetulan setting bukunya di Inggris), ia akan menempelkan sebuah gambar yang berhubungan dengan daerah yang diperbincangkan. Kadang gambar diambil dari sebuah kalender. Ini hanya hal yang sangat sederhana, bisa dilakukan oleh guru manapun dan kita tak kan pernah tahu, hal-hal yang sederhana kadang bisa meninggalkan bekas yang mendalam.

Saya jadi ingin bercerita mengenai suatu hal sederhana yang pernah dilakukan oleh seorang guru saya (tepatnya dosen saya), sewaktu saya masih berkuliah di teknik mesin ITB. Hal sederhana yang ia lakukan meninggalkan bekas yang cukup mendalam di hati saya.

Saat itu saya sering menghabiskan waktu di laboratorium surya. Dosen saya, Pak Halim, kebetulan penghuni lab Surya, jadi saya sering bertemu dengannya. Suatu hari saya menyapanya di kantornya. Permisi Pak. Ia membalas, " halo Puti". Lalu mata saya menuju pada sebuah alat yang terletak di atas mejanya. Bentuknya seberti silinder yang memiliki jaring. Lalu saya bertanya, "Itu apa Pak?" Lalu ia menjawab, "Oh ini, ayo masuk, sini saya terangkan."

Saya memasuki ruang kantornya, lalu ia menerangkan pada saya bahwa alat tersebut merupakan alat yang bisa diletakan di atas kompor untuk menghemat gas. Ia menerangkan bahwa dengan menaruh alat tersebut di atas kompor. Aliran panas lebih teratur, sehingga mengurangi jumlah panas yang terbuang. Alat tersebut bisa digunakan untuk menghemat energi. Kami kemudian memperbincangkan mengenai cara kerja kulkas supermarket (yang tidak memiliki pintu layaknya kulkas di dalam rumah). Ia kemudian bercerita bagaimana ia pernah mengumpulkan air yang dihasilkan oleh bagian belakang Air Conditioner (AC), yang terjadi akibat proses kondensasi, sehingga airnya cukup bersih. Kami juga memperbincangkan cara kerja berbagai jenis cofee maker dan banyak hal lainnya, semuanya mengenai perpindahan panas dan konversi energi.

Ia juga mengajari saya untuk mengetik "do it yourself"+"solar water heater" di google untuk menunjukkan bagaimana mudahnya membuat sebuah solar water heater.

Perbincangan saya dengan Pak Halim berlangsung selama 1 setengah jam, mungkin lebih. Tapi yang paling utama adalah bagaimana Pak Halim bersedia meluangkan waktunya untuk menjawab keingintahuan saya. Pada akhirnya, kini, saya memilih untuk tidak bekerja sebagai seorang engineer, tidak seperti teman-teman saya. Tetapi perbincangan di hari itu memberikan kesan yang sangat mendalam di hati saya, sehingga sampai kini, saya masih bercita-cita membuat sebuah solar water heater sendiri untuk rumah saya. Cita-cita ini tak pernah hilang, layaknya kesan yang Pak Halim tinggalkan pada saya hari itu. Suatu hari di laboratorium surya.

2 comments:

[Gm] said...

Hai Puti,

Aku setuju bahwa pak Halim adalah salah satu dosen yang 'inspiring', juga tentunya dosen2 lain. MS-ITB memiliki banyak dosen yang membentuk karakter, imajinasi dan jalan hidup mahasiswanya.

Menjadi seorang pengajar juga pernah menjadi cita2ku. Belum tahu juga apakah nanti bisa tercapai. Belum nemu wadah yang 'cocok', dan lagi pengalaman masih terlalu sedikit untuk dibagi :-)...

Sukses yah buat Puti...

halim said...

Halo Puti....semoga Puti baik2 saja, sebagai dosen saya hanya berfikir bagaimana menjawab keingin tahuan murid2nya dan gak pernah memikirkan apa yang saya sampaikan bakalan meninggalkan kesan yang mendalam. Tapi saya merasa bangga... Ayo Puti realisasikan cita2nya, Puti akan merasakan lebih percaya diri, lebih puas dengan menggunakan dan menikmati karya sendiri dan berbagi manfaatnya dengan orang2 sekeliling Puti yang akan turut menikmati air hangat...dan yang lebih penting lagi adalah dapay lebih menghayati akan Kebesaran Illahi dengan segala ciptaannya.... kalau mau Solar water heater yang lebih murah dan sederhana, coba hubungi Renaldy adik kelasmu yg sekarang sedang belajar Renewable energy/integrated solar wqter heater di Eindhoven (di Lab surya pun sudah dibuat)... Tanya Desi deh..siapa tau ini bisa membuka peluang bisnis. Kita semua lagi mencari alternatif energy yang zero CO2 emission... OK selamat dan sukses ya..Saya sangat bangga punya anak didik spt Puti , saya masih ingat, Puti yang selalu siap menolong banyak orang...
Semoga Allah selalu melindungi Puti..Aamiin