Jul 31, 2018

Refleksi Menjadi Relawan di "Sanggar Belajar Sejahtera"

Sudah lebih dari satu tahun yang lalu saya memilih untuk bergabung dengan Sangar Belajar Sejahtera sebagai  relawan pengajar matematika. Siswa-siswa Sanggar adalah anak-anak SD yang tinggal di daerah PertanianUtara, Klender.

Saya memilih berkegiatan di Sanggar Belajar Sejahtera karena kegiatannya malam hari (dan di hari kerja). Saya bekerja dari pagi sampai sore, dan Sabtu-Minggu suka banyak acara, baik acara keluarga maupun kegiatan lainnya. Satu-satunya pilihan untuk berkegiatan adalah di malam hari.


Saya ingat, kira-kirasetahun lalu, calon relawan-relawan baru (termasuk saya) yang mendaftar melalui website Indorelawan diundang ke sebuah pos RW   untuk di-briefing oleh kakak relawan yang sudah lebih lama berkegiatan. Calon relawan baru dijelaskan  tentang sejarah Sanggar dan juga kegiatan di sanggar. Calon relawan pun disuguhi lagu yang dinyanyikan oleh anak-anak dari Sanggar. Saya lupa berapa calon relawan yang ada di kegiatan briefieng tersebut. Kalau tidak salah, lebih dari sepulug orang. Namun, seperti halnya kegiatan-kegiatan kerelawanan lainnya, yang akhirnya jadi 'relawan jangka panjang' hanya sebagian. Saya bisa memaklumi hal ini. Bukan hal yang mudah untuk berkomitmen menjalankan kegiatan kerelawanan. Semester lalu, misalnya, saya pun sedang banyak 'ini-itu', sehingga tidak selalu bisa mengajar di sanggar secara rutin.

Semester ini, saya mencoba untuk lebih konsisten datang mengajar di Sanggar Belajar Sejahtera. Semester lalu saya banyak mengajar siswa kelas 4, 5, 6. Namun, tampaknya semester ini akan lebih banyak mengajar siswa kelas 1, 2, dan 3 karena jadwal kelasnya lebih sesuai dengan jadwal saya semester ini .

Belajar Melalui Kegiatan Kerelawanan
Salah satu kegiatan belajar bersama di Sanggar Belajar Sejahtera

Kegiatan sehari-hari saya adalah mengajar di Perguruan Tinggi, yakni mengajar calon guru di Fakultas Pendidikan, Universitas Sampoerna. Meskipun sudah mengajar selama 16 tahun baik di sekolah, tempat kursus, dan perguruan tinggi, namun mengajar di  sanggar Belajar Sejahtera (ataupun lembaga pendidikan non-formal lainnya) tetap memperkaya pengalaman. Sebagai contoh, dengan mengajar matematika di sana, saya jadi tahu topik-topik matematika yang dianggap menantang oleh siswa SD di sana. Misalnya, saya menemukan bahwa beberapa siswa kelas 3 SD  yang kesulitan menentukan apakah "96 lebih besar atau lebih kecil dari 106" atau ada siswa yang menganggap 215 adalah "dua ratus satu lima" dan bukan "dua ratus lima belas". Ada banyak kasus lainnya, dan tentu 'kesulitan' ini adalah hal yang sangat wajar. Tidak ada pembelajar yang tidak pernah mengalami kesulitan dalam belajar.

Cerita tentang kasus-kasus ini sering saya bawa ke dalam kelas untuk dibahas oleh calon-calon guru matematika. Calon guru diajak menentukan kenapa kasus tersebut bisa terjadi (dihubungkan dengan teori-teori pembelajaran), diajak mempelajari refereknsi yang terkait dengan bagaimana kasus-kasus tersebut bisa diatasi (atau dihadapi), atau bagaimana cara guru lain menghadapi kasus serupa, dan diajak mengembangkan gagasan mengenai bagaimana mereka bisa menghadapi kasus-kasus tersebut ketika mereka benar-benar berada di dalam kelas suatu hari kelak.

Hal menarik lain yang saya pelajari adalah mengenai bagaimana kegiatan organisasi di 'Sanggar Belajar Sejahtera' dijalankan. Saya belajar bahwa di sanggar ini, ada tim relawan yang selalu menyiapkan lembar kerja yang bisa digunakan oleh siswa saat belajar. Lembar kerja ini memang dibuat dengan sederhana. Beberapa soal matematika dituliskan diatas kertas lalu kertas ini difotokopi sejumlah siswa yang ada di kelas (kadang lebih). Persiapan ini memungkinkan kegiatan belajar mengajar di sanggar terjadi secara lebih efektif. Saya menemukan, siswa-siswa kadang malah tertantang untuk mengerjakan lebih banyak soal matematika, "Saya mau mengerjakan sampai lima [lembar kerja]," ungkap seorang siswa di sanggar pada suatu Senin malam. Siswa tersebut merasa bangga kalau berhasil menyelesaikan berbagai tantagan yang ada di lembar kerja. Ketika siswa 'merasa punya potensi untuk bisa' tentu dia akan lebih bersemangat lagi untuk belajar di kemudian hari.

Tidak disadari, lebih dari setahun telah berlalu setelah perkenalan saya dengan Sanggar Belajar Sejahtera. Terima kasih kepada Sanggar Belajar Sejahtera, teman-teman relawan, dan Indorelawan untuk kesempatan belajar berharga ini.

No comments: