Aug 2, 2014

Pelajaran (IPA) di Sekolah dan Fenomena Sekitar yang Semakin Rumit

Sumber gambar: http://4.bp.blogspot.com/-HMZpikgm62M/UM3XudRTDlI/AAAAAAAALhY/0mnM2Y9CQhE/s1600/rantai-makanan1.gif

“Ini foto orang yang meninggal karena meminum air yang terkena limbah raksa,” kata Om saya saat saya kunjungi untuk silaturahmi Lebaran. Beliau menunjukkan sebuah foto anak laki-laki yang tinggal di daerah Lebak.

“Waktu dia umur 3  tahun dia minum dari botol yang di dalamnya ada air yang sudah tercemar raksa. Udah terlanjur minum, ibunya telat lihat, yah sudah terkena efek seperti minamata di Jepang. Setelah itu dia kejang-kejang, lumpuh. Dan akhirnya malam takbiran lalu meninggal di usia 20 tahun. Saya dan anak saya menengok orangtuanya.”

Om saya, mengeluarkan laptopnya dan memperlihatkan sebuah video tentang bagaimana limbah dari sebuah perusahaan dibuang di daerah sana. Katanya, “Lihat ini! Ini sawahnya, ini pipa-pipa tempat mengalirkan limbah ke sawah. Ini mesinnya.”

Om, tante, suami, dan saya mulai membahas betapa berbahayanya limbah tersebut. Kalau ada satu atau dua korban saja, itu pun tidak boleh ditolerir. Nyawa manusia, meski satu orang saja,  tetap berharga. Tapi yang lebih mengerikan adalah kalau sumber air minum mulai tercemar dan diminum oleh banyak warga.

Om saya melanjutkan, “Itu memang sudah terjadi. Bukan hanya masuk ke sumber air yang jadi minum. Saat dibuang ke sawah, padi bisa menyerap limbah-limbah tersebut, berasnya dimakan akhirnya terakumulasi dalam tubuh manusia. Masalahnya limbah yang dibuang bukan hanya raksa, tapi juga arsenik, sodium sianida, dan sebagainya."

Namanya guru, saya langsung ingat pelajaran-pelajaran di sekolah. Kata saya, “ Dan di banyak sekolah, saat bahas ekosistem, kita sibuk membahas rantai makanan yang sama dari tahun ke tahun.  Elang makan ular, ular makan  tikus, tikus makan padi. Atau ular makan tikus, tikus makan padi. Padahal apa yang terjadi di sekitar kita jauh lebih kompleks daripada itu.”

Om saya kemudian menceritakan di Lebak juga, di salah satu kecamatannya, 422 warga dipatok ular dalam waktu 6 bulan. (Di lain kesempatan, beliau juga menunjukkan saya salah satu foto orang yang kakinya dililit ular). Penyebabnya adalah bahwa biasanya ular yang ada di sekitar sana memakan kodok dan kadal. Racun yang dibuang ke sawah ikut membunuh kodok dan kadal. Selain itu, di daerah tersebut juga terjadi pembongkaran tutupan tanah, sehingga binatang-binatang yang menjadi santapan ular tergangu reproduksinya. Mereka kesulitan bertelur. Akibatnya, ular mulai masuk ke rumah warga, maksudnya mencari sejenis kadal, yakni cicak untuk dimakan, tapi yang dipatok akhirnya malah manusia. “Jadi sekarang, dalam rantai makanan di sana, manusia itu persis di bawah ular.”


Mendengar ceritanya saya merinding. Ketidakseimbangan ekosistem yang terjadi berasal dari tindakan manusia dan akhirnya juga kembali merugikan manusia. Yang terganggu juga makhluk-makhluk hidup lamanya dan di dalam satu ekosistem, semuanya terhubung satu sama lain. Tapi yang bikin saya merinding lagi adalah saya tidak yakin bahwa pelajaran-pelajaran di kebanyakan sekolah, termasuk melalui pelajaran IPA, mempersiapkan lulusannya untuk menghadapi dunia dengan permasalahannya yang semakin kompleks ini. Apakah lulusan-lulusan sekolah kita, mampu memaknai berbagai fenomena di sekitarnya berbekal ilmu yang didapatkan di sekolah? Apakah mereka bisa memahami ide-ide besar yang penting, misalnya bukan sekadar menghafal bahwa “elang memakan ular, ular memakan tikus dan tikus memakan padi”, tetapi juga bahwa ketika ekosistem terganggu, makhluk hidup juga terganggu, dan akhirnya bisa berefek langsung pada kita manusia, dan makhluk hidup di sekitar kita? 

2 comments:

Ameliasari said...

Ngeri ya Put ...
Mudah mudahan dengan kurikulum baru ini, paradigma para guru bisa berubah

mesti update dan contextual..
Semangaat ah!!..(^.^)/..

rahadian p. paramita said...

Sekolah justru merenggut kemampuan mendasar manusia, bertahan hidup...