May 30, 2013

Menghadapi Cermin Sosial

Saya belajar istilah “cermin sosial” sekitar 6 tahun yang lalu, di workshop “Visi Misi Pribadi” yang diselenggarakan oleh Kuncup Padang Ilalang (KAIL). Saya mendefinisikan cermin sosial sebagai harapan-harapan orang lain terhadap kita yang kadang (atau seringkali) tidak selalu sesuai dengan nilai yang kita pegang, termasuk mengenai pekerjaan kita, gaya hidup kita, pakaian kita, apa yang kita makan dan sebagainya. Nilai di sini berarti hal-hal yang kita pegang untuk menjalani kehidupan dan sifatnya mendasar. Ketika kita melihat cermin, kita melihat refleksi diri kita.  Ketika kita melihat cermin sosial, kita melihat refleksi diri kita yang dipengaruhi oleh pandangan orang lain terhadap kita, meskipun itu belum tentu menggambarkan diri kita yang sesungguhnya.

Tidak semua nilai yang ada di masyarakan sesuai dengan nilai yang kita pegang. Dalam buku South of The Border , West of The Sun ada cerita mengenai seseorang bernama Hajime yang diajak oleh ayah iparnya untuk berbisnis bersama,  membangun perumahan mewah di sebuah lahan di Tokyo. “Daerah tersebut akan terlihat lebih cantik, lebih indah,” kata sang ayah ipar mencoba meyakinkan Hajime untuk berbisnis. “Bisnis ini legal, tidak melanggar hukum,” tambahnya. Meskipun legal secara hukum, Hajime merasa gelisah  dengan ide tersebut. Hajime berkata pada ayah iparnya :
“…Tokyo is already chocked with cars. Any more skyscrapers and the roads will turn into one huge car park. And how’s the water supply going to be maintained if there’s a dry spell? In the summer, when people all have their air conditioners on, they won’t be able to keep up with the demand for electricity. The power plants are run by fuel from the Middle East, right?  What happens if there’s another oil crisis? Then what?” (Haruki Murakami, South of The Border West of The Sun, p.113)

Sebagai seorang pengusaha, ayah iparnya merasa  yang penting bisnisnya berjalan. Pembangunan perumahan akan menjadikan Tokyo kota yang terlihat lebih indah dan modern. Urusan kelangkaan air, kelangkaan minyak adalah urusan pemerintah. Mereka yang akan mencari solusinya. Bisnis tersebut tidak melanggar hukum. Namun bagi Hajime, pembangunan perumahan tersebut hanya kesia-siaan dan tidak akan memberikan nilai tambah kepada kota Tokyo. Malah akan mengurangi keseimbangan lingkungan. Hajime memiliki nilai yang berbeda dengan nilai ayah iparnya.

Setiap orang memang memiliki nilai yang berbeda dalam hidup. Apa yang dianggap penting oleh kita, belum tentu dianggap penting oleh orang lain dan sebaliknya. Hal tersebut wajar. Latar belakang, pengalaman, pengetahuan, dan konteks sosial setiap orang berbeda-beda dan nilai yang dipegang seseorang dipengaruhi oleh faktor-faktor tersebut. Cermin sosial terjadi ketika orang lain memiliki harapan, baik diungkapkan secara langsung, maupun tercermin dalam perbuatan, agar nilai yang kita pilih menjadi sama dengan nilai mereka. Kita juga, mungkin secara tidak sadar menjadi cermin sosial bagi orang lain.

Contoh cermin sosial adalah ketika seseorang memilih menjadi freelancer karena ingin mengatur waktunya sendiri untuk berkarya. Hal tersebut berarti ia memang memilih untuk tidak bekerja tetap.  Itu nilai yang dia pegang, tapi orang lain belum tentu memahaminya. Ketika seorang bertanya, “Kamu tidak daftar jadi PNS saja?” menunjukkan bahwa dia tidak sepaham dengan nilai yang dipegang sang freelancer dan berharap bahwa dia memiliki nilai bahwa “bekerja tetap adalah pilihan yang lebih baik”. Padahal apa yang baik bagi seseorang belum tentu baik bagi orang lain.  

Seorang teman memilih untuk meng-homeschooling-kan. Hal tersebut dilakukan dengan penuh kesadaran akan setiap konsekuensinya.  Ternyata, anaknya lambat dalam belajar membaca. Dia lalu ditegur oleh seseorang, “Makanya, sebaiknya anaknya sekolah saja!” Orang yang menegur merasa lebih baik anak tersebut disekolahkan di sekolah formal. Padahal apa salahnya lambat dalam belajar membaca? Kalau diberikan treatment yang tepat bisa saja anak jadi lebih lancar membaca dan malah bisa mencintai membaca. Treatment itu bisa saja diberikan di sekolah maupun di rumah.

Apa pilihannya saat kita menghadapi cermin sosial? Pilihan pertama adalah berkompromi sepenuhnya. Hal ini biasanya terjadi kalau cermin sosial itu datang dari orang yang sangat dekat dengan kita, seperti keluarga atau sahabat. Istilah lainnya adalah ngalah aja dulu sebagai bentuk kasih sayang atau penghormatan terhadap orang lain. Ngalah di sini artinya mencoba mengabaikan nilai yang kita yakni, demi menyenangkan orang lain. Mengabaikan nilai yang kita pegang mungkin terlihat mudah tapi sebenarnya bisa sangat menyiksa. 

Film Mulan, yang diangkat sebuah cerita tradisional Cina yang diadopsi dan dimodifikasi oleh Disney, pernah menggambarkan hal ini. Sebagai perempuan, Mulan diharapkan bertingkah laku seperti perempuan yang digambarkan oleh masyarakatnya yakni dandan yang cantik, menunggu pasangan hidup, dan bersikap lemah lembut. Mulan mencoba berkompromi tapi memang tidak mudah melakukan sesuatu yang “bukan diri kita”, yang tidak kita yakini. Mulan yang gelisah, menyanyi di pinggir sebuah danau. Liriknya begini : 
“Look at me, you may think you see who I really am, but you never know me. Every day it is as if I play a part. Now I see, if I wear a mask I could fool the world but I cannot fool my heart.” 
Lirik lagu tersebut menggambarkan bahwa kita bisa membohongi dunia tapi kita tidak bisa membohongi diri sendiri. Mulan merasa sangat tersiksa karena sebetulnya dia ingin ikut berjuang di medan perang (saat itu sedang dalam situasi perang melawan Dinasti Han).

Pilihan kedua adalah berkompromi sedikit. Saya banyak menemukan mahasiswa yang berada di posisi ini. Misalnya, mereka memilih jurusan yang tidak sesuai minat mereka. Misalnya seorang menyukai seni tetapi lingkungan sekitarnya tidak menganggap seni sebagai hal yang penting atau bermasa depan. Akhirnya mahasiswa tetap mengambil jurusan lain, sekadar untuk berkompromi terhadap cermin sosial yang ada, tapi belajar seni di luar waktu kuliah. Akhirnya mahasiswa tersebut memang bekerja di bidang seni. Kadang berkompromi ada gunanya yakni untuk lebih mengenali diri sendiri. Kadang kita menjalankan sesuatu yang tidak kita yakini. Kita pikir kita tidak akan kenapa-kenapa tapi ternyata kita gelisah. Dengan merasa gelisah, sesungguhnya kita pada tahap mengenal diri sendiri. Kita jadi tahu apa nilai-nilai yang memang kita anggap penting. Tiba-tiba kita sadar, "Bukan hidup seperti ini yang ingin saya jalani. Bukan nilai-nilai ini yang sesungguhnya saya pegang."

Pilihan ketiga adalah benar-benar menjalani apa yang diyakini terlepas dari apapun cermin sosial yang ada. Beberapa orang yang luar biasa berani memilih jalan hidup seperti ini. Saya jadi teringat menonton film pendek mengenai Umbu Paranggi, ‘gurunya’  Emha Ainun Nadjib, Ebiet G. Ade, Yudhistira Massardi, dan banyak penulis lainnya. Teman saya yang ikut menonton berkata, “Gila yah! Umbu saking percayanya pada puisi sampai berani hidup sendiri, sangat sederhana hanya untuk berpuisi!” Dalam tulisan Putu Fajar Arcana yang berjudul “Umbu Landu Paranggi Berumah dalam Kata-kata”, dituliskan


“Sejak bermukin di Yogyakarta, lalu pindah ke Bali, Umbu menjadi satu-satu pengabdi puisi paling setia. Ia “mengorbankan” semua kesenangan hidup pribadinya dengan menjalani hidup seorang diri, jauh dari sanak keluarga, jauh dari komunitas yang didiknya. Tetapi, dalam kesendirian itu, ia tak  sungkan mengunjungi para penyair muda atau seorang seniman yang sedang sakit.”
(Kompas, 18 November 2012)

Mungkin tidak banyak orang yang bisa seperti Umbu Paranggi. Menjalani apa yang diyakini meskipun dianggap aneh oleh orang lain. Menghadapi cermin sosial bukanlah sesuatu yang mudah. Apakah kita cukup berani untuk  “tidak dipahami”? Apakah kita cukup berani untuk berkata “Ini adalah hidup saya dan beginilah cara saya ingin hidup!”? 

1 comment:

Angga Dwiartama said...

Manis sekali ceritanya put! :) -anug-