Jun 1, 2012

Membaca "Steve Jobs" (Bagian 1)


Membaca "Steve Jobs" (Bagian 1)  
Oleh Dhitta Puti Sarasvati

Saya tidak pernah berencana membaca buku Steve Jobs karya Walter Isaacson. Walaupun saya terpukau pada pidato Steve Jobs di Stanford ( http://news.stanford.edu/news/2005/june15/jobs-061505.html ), saya bukan fans-nya. Biasa saja.  Jadi, buku "Steve Jobs" tidak masuk dalam buku yang akan saya baca, setidaknya dalam waktu dekat. Saya sedang berencana membaca (banyak) buku-buku bertema pendidikan dan juga novel.

Waktu Mas Eko Prasetyo, seorang anggota milis Ikatan Guru Indonesia (IGI) mengusulkan mengadakan Klub Baca IGI dan mengusulkan membaca Biografi "Steve Jobs" saya terima saja tantangannya. Kenapa tidak? Mungkin awalnya saya tidak berminat, tetapi bisa saja saya tetap mendapatkan sesuatu dari membacanya. Ternyata saya memang mendapatkan sesuatu.

Sebelum menceritakan bagian pertama yang berkesan di hati saya, saya akan menceritakan sesuatu mengenai kegelisahan saya.  
Kegelisahan saya salah satunya dipicu oleh cerita Ibu Nina Feyruzi, salah seorang anggota mailing-list IGI. Ibu Nina pernah menceritakan tentang kunjungan siswa-siswa sekolah San Pablo (Argentina ke Indonesia). Beginilah tulisannya : 

"Siswa San Pablo, sekolah ini merupakan sekolah swasta yang mengkhususkan diri untuk mencetak siswa yang berminat di bidang sejarah dan seni dunia. Walaupun mereka mempelajari matematika, mereka lebih memfokuskan diri pada bidang pelajaran yang lain, seperti sejarah seni, sejarah dunia, drama, literatur, puisi, hingga humanisme dan filsafat. Ketika kedua belas siswa Argentina tersebut presentasi tentang sekolahnya, mereka memberikan contoh berpuisi. Seorang siswa bernama Mateo lalu membacakan puisi tentang alam dalam bahasa Spanyol dan teman2nya mengadakan mini discussion dan menginterpretasikan puisi yang dibuat Mateo. Wooooowwwww....

Saya sendiri terpukau melihat ini. Namun, anehnya, siswa SMA 8 yang terkenal pintar-pintar itu tidak tertarik sedikit pun. Mereka memberikan applaus sih, tapi tidak deep kalau menurut saya. Seorang guru SMA 8 mengatakan, "Ya jelas lah. Anak-anak 8 kan anak-anak science, mana tertarik mereka dengan puisi!" Owh, owh, owh...

Lalu, siswa San Pablo juga melakukan mini drama, satu babak yang diambil dari cuplikan "Hamlet". Dan tentu saja siswa-siswa Indonesia tidak ada yang tahu apa itu Hamlet. Lalu, Willy, siswa lainnya kemudian menjelaskan bagaimana "The Man of Java" - Pithecan Tropus Erectus, manusia purba yang ditemukan tulang belulangnya di Sangiran melakukan perjalannya berpindah-pindah. Dia menggambarkannya dengan peta yang dibuatnya. Wooowwwwww.... Sampai sebegitunya dan tentu saja saya dibuat terbengong-bengong juga. Saya tahu bahwa manusia Homo sapiens hidup berpindah-pindah. Tapi saya tidak tahu kemana mereka pergi dan apakah ada hubungannya dengan penyebaran manusia lainnya di benua lainnya." (Nina Feyruzi, mailing-list IGI, 2012)

Terus terang, cerita Bu Nina membuat saya berpikir cukup lama. Saya heran, seorang guru berkata  "Ya jelas lah. Anak-anak 8 kan anak-anak science, mana tertarik mereka dengan puisi!"

Kok bisa seorang guru berkata seperti itu? Kalaupun anak-anak tidak tertarik dengan puisi, bukankah tugas guru untuk membuat anak bisa setidaknya mengapresiasi puisi. Bukankah tugas guru untuk membantu siswa memperluas wawasan dan membimbing anak untuk melihat dunia yang lebih luas daripada sebuah ruang kelas?

Bersekolah adalah suatu kesempatan untuk menjadi lebih terpelajar, untuk menjadi lebih terdidik. Bagi saya menjadi terpelajar berarti berani juga belajar hal di luar bidang yang kita geluti. Kalai kita fokus untuk belajar IPA misalnya, kita juga harus belajar menghargai bidang lain baik. Tidak ada salahnya belajar sastra, puisi, dan lain-lain. Kalaupun tidak tertarik, setidaknya bisa belajar untuk mengapresiasi karya. 

Saya jadi teringat Dosen Kinematika & Dinamika Mesin saya Pak Djoko Soeharto. Dia sering membagikan fotokopian dari buku-buku atau majalah yang menurutnya menarik meskipun itu tidak selalu berhubungan dengan pelajaran yang diajarkannya. Dia membagikan fotokopian dari buku Multiple Intellegence karya Howard Gardner, membagikan artikel tentang perkembangan sekolah-sekolah desain di dunia, dan lain-lain. Dia senantiasa mengingatkan saya dan murid-murid yang lain untuk memperluas wawasan dan pengetahuan. Belajar apa saja. Dia selalu berpesan kita setidaknya harus  seperti huruf T (kapital). Ada dua garis di huruf T. Yang satu horizontal dan yang satu vertikal. Vertikal berarti kita harus mempunyai ilmu yang dalam dan horizontal berarti kita harus mempunyai wawasan yang luas. Artinya apapun jurusan yang diambil oleh siswa, baik IPA oleh IPS, memang sebaiknya juga belajar  berbagai ilmu lain, meskipun mungkin tidak mendalam.

Pernyataan guru "Ya jelas lah. Anak-anak 8 kan anak-anak science, mana tertarik mereka dengan puisi!" berarti bahwa dia mengasumsikan bahwa siswa yang tertarik pada IPA dan Matematika pasti tidak tertarik pada bidang lain.  Apa benar begitu?   Padahal ada juga anak yang sebenarnya ketertarikannya beririsan dengan bidang lain. Saya jadi ingat bahwa Lewis Carol, salah satu sastrawan terkemuka dunia yang mengarang Alice in Wonderland merupakan seorang matematikawan. Karya-karya Lewis Carol dalam bidang sastra tidak pernah lepas dari bidang matematika. Tan Malaka, salah satu founding fathers di Indonesia juga seorang Matematikawan meskipun dia juga mendalami ilmu politik, sosial , dan seterusnya. Di zaman sekarang, salah satu ilmuwan Indonesia yang saya kagumi, Mas Yanuar Nugroho,  bidangnya juga beririsan antara IPA & IPS. Detailnya bisa dilihat di http://bukik.com/2011/09/11/bukik-bertanya-yanuarnugroho-peneliti-pelangi/ . 

Steve Jobs sendiri tampaknya merupakan salah satu orang yang masuk dalam kategori yang minatnya beririsan antara IPA & IPS. Dalam bagian pendahuluan buku Biografi Steve Jobs tertulis pernyataan Steve :

"I always thought myself as a humanities person as a kid, but I liked electronics," he said. "Than  read something that one of my heroes, Edwin Land Polaroid, said about the importance of people who could stand at the  intersection of humanities and sciences, and I decided that's what I wanted to do." (p. xix)

"Waktu saya kecil, saya selalu mengira  saya seorang yang suka ilmu-ilmu kemanusiaan  , tapi saya menyukai elektronika", kata [Steve Jobs]. "Kemudian saya membaca sesuatu tentang sesuatu yang dikatakan oleh pahlawanku Edwin Land Polaroid, di sana dikatakan pentingnya orang-orang yang bisa berdiri di irisan antara ilmu-ilmu kemanusiaan dan ilmu pengetahuan alam."

Steve Jobs ternyata merupakan salah satu orang yang mempunyai minat yang luas. Dia punya ketertarikan pada bidang elektronika, teknologi, tetapi juga pada bidang lain. Di bab satu, juga diceritakan bahwa saat SMU Steve Jobs mulai mendalami elektronika sekaligus juga  banyak mempelajari sastra. 

"I started to listen to music a whole lot, I started to read more outside of just science and technology - Shakespeare, Plato. I loved King Lear." (p.19)
Saya mulai sering mendengarkan musik, saya mulai membaca banyak di luar sains dan teknologi - Shakespear, Plato. Saya jatuh  hati pada King Lear. (p.19)

Bagi saya, dua kutipan di atas mengingatkan saya sebagai guru untuk senantiasa belajar dan menginspirasi siswa-siswa saya untuk belajar. Belajar apa saja, meskipun mungkin itu di luar bidang yang kita geluti sekarang. 

1 comment:

burningphoenix said...

Kita terlalu sering mengkotak-kotakkan ilmu ke bagian-bagian supaya gampang mempelajarinya lalu terjebak dalam kotak itu sehingga lupa sebenernya yang namanya ilmu itu nggak cuma ada di dalam kotak itu...