Jun 10, 2011

"School is more than a pile of discrete facts that students have to memorize; it's about thinking, questioning, and reflecting. "
Saya seringkali gemas melihat murid saya sibuk menghafal untuk ujian. Seorang murid saya (kelas 7) yang bersekolah di sebuah SMP RSBI di Jakarta Selatan saat itu akan ulangan matematika. Sambil membuka-buka buku catatannya, murid saya berkata, "Saya sering lupa istilahnya. Ini obtuse angle, acute angle, right angle, reflex angle, complementary angle, atau apa yah?"

Bagi saya, apa yang dilakukannya kurang penting. Apalagi menghafalkan istilah-istilah tersebut dalam bahasa Inggris. Untuk apa? Apa salahnya menggunakan istilah sudut lancip, sudut tumpul, dan seterusnya? Kenapa harus dalam bahasa Inggris? Maksud saya, murid saya jadi sibuk menghafalkan istilah-istilah tersebut dibandingkan dengan bermain-main dengan sifat sudut, melakukan pengukuran, membuktikan, dan menganalisis. Kan sayang sekali. What is the point of learning mathematics then?

Pada akhirnya saya membiarkan saja murid saya mempelajari istilah-istilah tersebut. Meskipun bagi saya kurang penting, murid saya merasa mengingat-ingat istilah tersebut penting, khususnya untuk menghadapi ujian.

Saat saya berada di rumah murid saya yang lain, dia sedang membuka-buka catatan fisikanya. Rajin sih.. Tapi apa yang dilakukannya? Dia sedang menghafalkan definisi satuan!

"Satuan adalah pembanding yang digunakan untuk menyatakan suatu ukuran," katanya sambil berkomat-kamit.

Dalam hati saya bertanya, apa gunanya menghafalkan suatu definisi tanpa memahami maknanya? Bagi saya itu meaningless, tidak bermakna. Satu lagi, bagi saya menghafal tanpa memaknai bukanlah belajar sama sekali!

Saya langsung mengambil sebuah bolpen. dan mengukur panjang buku di depannya menggunakan bolpen. "Panjang buku ini sekitar 2, 5 (panjang) bolpen ini," kata saya mencoba memberi contoh mengenai apa yang dimaksud dengan satuan, "Jadi satuan untuk mengukur panjang meja ini adalah bolpen ini."




No comments: