Aug 6, 2007

Sururon

Tulisan ini saya buat sekitar setahun yang lalu.. Belum terlalu selesai, tapi sudah cukup panjang. Hehehe

Tadinya tulisan ini untuk saya pribadi dan sempat saya kirimkan kepada Pak Satria Darma dari milis pendidikan dan CFBE.

Dan atas saran Pak Satria Darma, tulisan ini akan saya publikasikan.

Sekitar satu bulan yang lalu, saya mengadakan kunjungan
ke sebuah sekolah di daerah Garut, nama sekolahnya MTS Sururon
Setingkat SLTP). Kebetulan, saya beserta teman-teman dari Komunitas
Taboo, SD Mutiara Bunda, Bandung, dan Yayasan Bahtera mengadakan
pelatihan metoda belajar di sana. Teman-teman dari Taboo dan Yayasan
Bahtera memberikan pelatihan membuat peta, sedngkan teman-teman dari
Mutiara Bunda memberikan pelatihan membuat tanaman hidroponik.

Di perjalanan menuju MTS Sururon, mobil berhenti
sebentar, ada seorang guru ekonomi dari MTS Sururon yang mau nebeng
ikut sampai daerah atas ( sekolah ini tempatnya di perbukitan gitu).
Saya berkenalan dengan guru ekonomi ini, menarik sekali, dia seorang
perempuan yang masih mahasiswa di Universitas di Garut ( Kalau ga
salah tingkat dua ). Sehari-hari dia kuliah, mengajar sebaga guru
ekonomi di SLTP Sururon, dan kalau malam sering membina orang tua
murid, mengajarkan tentang berorganisasi, pentingnya pendidikan, dan
pelatihan-pelatihan lainnya.

MTS Sururon merupakan salah satu sekolah yang paling menarik yang pernah saya kunjungi. Tempatnya sedikit jauh dari kota,aga masuk ke dalam, di daerah yang berbukit-bukit. Beberapa ruangkelasya terletak di atas balongan. Meja-mejanya kecil, sehingga tidakperlu bangku lagi ( Bsia lesehan sambil nulis gethu dhee..).

Kesan pertama saat memasuki MTS Sururon adalah bahwa saya percaya pasti sekolah ini sekolah bagus. Kenapa saya bias bilang begitu? Di dinding kelas ditempel karya-karya murid, baik gambar,
puisi, cerita, dll. Banyak sekali sekolah di Indonesia ( bahkan sekolah-sekolah di kota pun), kalau ada karya-karya murid, cenderung terlihat seragam ( walau tidak persis seragam), baik gambar, puisi,ataupun ceritanya. Ketika saya melihat-lihat karya Sururon, saya melihat bahwa setiap karya punya karakter sendiri ( yang secara tidak langsung menggambarkan bahwa murid-murid MTS Sururon dibiarkan tumbuh
dengan karakternya masing-masing, What a good thing isn¡¦t it?)

Aku pun mulai ngobrol dengan murid-murid MTS Sururon. 3
orang anak perempuan mengajak saya dan teman saya guru bernama Ranny dari Mutiara Bunda berkeliling. Kami diajaka melihat ruabg-ruang
kelas, perpustakaan, dan juga asrama Putri. Setelah itu kami saling
bercerita, mula-mulanya membicarakan tentang kopi. Jadi, murid-murid Sururon menawarkan kami minum kopi, Ranny kebetulan dulu kuliahnya Biologi, langsung mengadakan diskusi kecil-kecilan mengapa kopi bias membuat seorang terjaga. Jadinya, timbulah diskusi kecil tentang IPA.
Abis itu obrolan menyambung kemana-mana, termasuk bagaimana cara
mereka belajar di sekolah. Dari obrolan, saya jadi tahu kalau MTS
Sururon dibuat oleh Paguyuban Petani setempat. MTS ini baru berdiri
sekitar tiga tahun. Kebetulan ada yang mewakafkan tanah untuk
dijadikan sekolah. Ada beberapa hal yang membuat saya kagum.
Murid-murid MTS Sururon, memiliki kebiasaan berdiskusi, ternyata
seminggu sekali ( kalau ga salah lagi.. setiap Jumat malam), orang tua murid (yang sebagian besar merupakan petani), dan beberapa wakil murid, dan guru-guru mengadakan acara kumpul-kumpul (silaturahmi). Saat silaturahmi ini kadang muncul ide-ide untuk memperbaiki sekolah, dan ide-ide lainnya. Misalnya nih, kelas 3 MTS ini punya waktu belajar tambahan sampai sore untuk persiapan ujian. Ternyata yang menentukan perlu atau tidaknya jam belajar tambahan, berapa waktu yang diperlukan untuk jam belajar tambahan, itu murid-murid sendiri, yang disampaikan waktu sedang ada acara silaturahmi. Kadang waku silaturahmi juga muncul ide-ide yang bersifat teknis, misalnya bahwa kelas gelap, sehingga perlu dibuat jendela, atau warnanya perlu dicat, kemudian dibuat pengaturan siapa
yang akan mengecat kelas, atau membuat jendela. Selain diskusi, di MTS Sururon juga ada pembagian tugas, misalnya ada beberapa murid yang wajib mengikuti diskusi setiap Jumat malam, ada beberapa yang tugasnya piket, dan bagi murid-murid yang tinggalnya di asrama ( karena rumahnya jauh), ada pembagian tugas masak dan sebagainy.
Pembagian tugas ini dilakukan dengan cara diskusi. Selain itu, kadang
kadang ada murid yang melakukan studi banding ke sekolah-sekolah
lain, atau kadang mewakili MTS Sururon, untuk suatu kegiatan, nah
sesampainya murid tersebut kembali ke Dururon, murid tersebut harus
membagikan cerita tentang perjalanannya ke teman-teman yang lainnya.

Setelah menyantap makan malam, saya akhirnya ikut
langsung merasakan yang dinamakan silaturahmu Jumat malam tersebut.
Kami, para fasilitator training yang dating dari Bandung, berkumpul
bersama warga Sururon, baik guru, murid, maupun orang tua murid. Kami
saling berkenalan dan membicarakan, acara yang akan kami
selenggarakan. Diskusi berjalan dengan santai ( ngobrol-ngobrol),
tapi bias dibilang serius juga. Baru sekali seumur hidup saya
merasakan yang selama ini saya dengar di PPKN. Musyaawarah yang
Indonesia banget.. Dari diskusi saya jadi tahu juga, bahwa kebanyakan
orang tua murid Sururon adalah Buruh Tani ( Merupakan petani tetapi
tidak memiliki keputusan sendiri). Beberapa waktu yang lalu, tanah
mereka sempat disengketaoleh sebuah pihak. Kejadian sengketa itu
membuat paenduduk sekitar tersebut sadar bahwa pendidikan adalah
sesuatu yang penting (agar tidak mudah dibohongi). Orang-orang yang
masih muda terutama, mempunyai peranan penting dalam pendirian MTS
Sururon, tentunya dengan dukungan penduduk setempat yang lain.

Saat diskusi, kami mendapat protes dari murid-murid elas
tiga. Tadinya pelatihan yang akan kami adakan itu ditujukan untuk
murid-murid kelas 1 dan 2. Akan tetapi, ternyata murid-murid kelas 3
sangat ingin ikut pelatihan. Mereka juga mengatakan kalu kalau kami
adalah orang pertama dari jauh ( di luar garut) yang mengunjungi
mereka dan mereka senang sekali. Akhirnya, hasil diskusi menyatakan
bahwa keals 3 boleh mengikuti kegiatan pelatihan yang akan diadakan
besoknya. Orangtua pun boleh ikut mengawasi kegiatan, dan untuk
pelatihan hidroponik, disarankan agar orang tua ikut belajar.
(Hidroponik hemat tempat, walaupun tidak ada lahan bisa tetap menanam
tanaman).

Malamnya pun saya dan teman-teman putri beristirhat di
asrama putri, sedangkan yang laki-laki beristirahat di ruang kelas.
Terlihat beberapa murid sedang belum tidur. Beberapa mengaji, beberapa belajar. Ketika ditanya, ¡§ belum tidur¡¨ , seorang
murid bercerita bahwa dia mau belajr untuk pesiapan ujian akhir. Katanya
baru sekali mau ikut ujian dari Negara sehingga rasanya deg-degan.

1 comment:

riri145 said...

udah lama gak denger kabarnya..ternyata lagi sibuk. jangan2 sejak lulus malah makin sibuk. wah, seru kayaknya jalan2 sambil amal ya,put.terus semangat ngembangin pendidikan indonesia ya..