Posts

Ngobrol (Lagi) dengan Kang Dan Satriana

Sudah lama saya tidak ketemu dengan Kang Dan Satriana. Dua minggu lalu saya sempat menghubungi beliau, "Kang bakal ada orang di Kalyanamandira gak hari Minggu? Saya mau main ke sana". Kalyanamandira adalah salah satu komunitas tempat Kang Dan berkegiatan. Kalau mau tahu lebih lanjut tentang komunitas ini, silakan lihat --> https://kalyanamandira.wordpress.com/  Lokasinya di Buah Batu, Bandung. Waktu mahasiswa dan bahkan sampai sekarang, saya sesekali mampir ke sana untuk ngobrol dengan teman-teman Kalyanamandira.  Akhir pekan kemarin, saat saya ke Bandung. Saya pun menghubungi Kang Dan lagi. Kang Dan mengatakan bahwa beliau habis bersepeda di daerah Dago dan mengajak ketemuan di suatu kedai kopi di Jalan Hasanudin. Akhirnya, bisa juga bertemu dengan Kang Dan. Mbak Danti , yang rumahnya saya tumpangi selama di Bandung pun ikut serta. Jadilah, kami ngobrol bertiga. Rasanya senang sekali bertemu dengan teman lama seperti Kang Dan. Saya mengenal Kang Dan sej...

Refleksi tentang Pendidikan Sebagai Hak

Image
Setiap Senin pagi, tukang koran akan mengantarkan koran Media Indonesia ke depan pintu tempat tinggalku. Setiap Senin, di Media Indonesia ada satu halaman penuh yang berisi opini tentang Pendidikan. Pagi ini,  ketika saya membuka koran Media Indonesia, saya menemukan berita ini : Berita lengkapnya bisa dibaca di -->  http://www.mediaindonesia.com/mipagi/read/11494/Ujian-SD-Syarat-Masuk-SMP/2015/05/18 Berita ini menyiratkan bahwa ujian nasional (atau ujian sejenisnya) tetap penting meskipun bukan sebagai penentu kelulusan. Kalau hasil ujian SD seorang siswa baik, maka mereka berhak masuk ke sekolah-sekolah tertentu. Pilihan mereka dalam memilih jenis pendidikan lebih luas daripada siswa yang nilai ujian sekolahnya rendah. Kalau hasil ujian SD seorang siswa kurang baik, maka mereka hanya punya pilihan sedikit dalam menentukan ke mana mereka mau melanjutkan pendidikan. Apabila pelaku pendidikan mempercayai sistem yang semacam ini, artinya mereka belum memandang bahwa pe...

Klub Bahasa Inggris Rumah Mentari, Proses Belajar di Hari Sabtu, 16 Mei 2015

Image
Hari itu, Sabtu 16 Mei 2015 klub bahasa Inggris belajar bahasa Inggris menggunakan kisah "The Little Mouse, The Red Ripe Strawberry, and The Big Hungry Bear" . Kenapa buku tersebut yang dipilih? Tidak ada alasan khusus selain bahwa buku tersebut tersedia di perpustakaan Rumah Mentari. Hanya  memanfaatkan apa yang sudah ada. Buku tersebut sebenarnya buku anak-anak yang tipis. Kosa katanya sederhana, dan tingkat kesulitannya tidak terlalu tinggi. Sebenarnya, anak-anak klub bahasa Inggris Rumah Mentari, yang sekarang lebih banyak siswa SMP dan SMA sudah pernah membahas bacaan yang tingkat kesulitannya lebih tinggi daripada  "The Little Mouse, The Red Ripe Strawberry, and The Big Hungry Bear". Buku terakhir yang kita bahas bersama adalah The Little Prince karya Antoine de-Saint Exupery. Kak Arfah (yang kini baru saja pindah ke Balikpapan) yang mengenalkan buku tersebut pada anak-anak klub Bahasa Inggris Rumah Mentari. Kak Arfah biasanya memfotokopi bab b...

Menonton Film "Detachment"

Image
Semalam saya diajak nonton film " Detachment ". Katanya, film itu tentang guru. Awalnya, saya ragu untuk menonton. Judul filmnya saja " Detachment " yang artinya ketidakterikatan. Dari judulnya, saya punya perasaan bahwa film tersebut akan menyedihkan. Perasaan saya benar.  Film tersebut ternyata suram. Namun, ternyata saya suka filmnya karena cerita tentang guru dan kelas.  Itu tema favorit saya.  Trailer filmnya bisa dilihat di : Pak Henry adalah seorang substitute teacher (guru pengganti). Artinya, dia tidak pernah menetap di sebuah sekolah. Apabila ada sebuah sekolah yang kekurangan guru, dia akan diminta mengajar di sekoalah tersebut sampai ada guru tetap. Setelahnya, dia akan berpindah ke sekolah lain yang membutuhkan guru pengganti lagi. Begitu terus. Pak Henry tidak pernah menjadi guru tetap.  Waktu menonton film " Detachment" , saya teringat pada film " Entre Les Murs (The Class )", sebuah film Prancis yang dikeluarkan t...

Refleksi Hari Bumi 2015 tentang Proses Terbangunnya Kesadaran Baru Tentang Lingkungan

Image
Saya termasuk orang yang sebenarnya pernah sangat abai terhadap isu-isu lingkungan. Dari kecil, sampai SMA saya besar di Jakarta. Artinya, setiap hari saya berhadapan dengan macet, pemandangan yang dihadapi adalah gedung-gedung, pemukiman, dan mobil, makanan yang saya makan seringkali adalah jajanan dan tak jarang makanan instan yang bisa dibeli di warung-warung. Saya lupa, istilahnya, tapi ada istilah untuk orang yang sudah tidak tahu lagi dari mana sumber makanan yang dimakannya. Saya pernah termasuk orang seperti itu (bahkan mungkin masih). Ada masanya, di mana berita-berita tentang kerusakan lingkungan, misalnya, kadang dibaca tapi selewat saja. Saya lebih suka membaca tentang apa yang terjadi di sekolah, praktek-praktek pendidikan di masyarakat, dan sebagainya. Namun, saya mulai sadar, pemahaman saya tentang pendidikan selama ini sangat dangkal. Apa tujuan dari pendidikan kalau bukan untuk menjaga kelangsungan alam dan isinya? Apa tujuan pendidikan kalau tempat di mana manusia t...

Menonton "The Teacher's Diary" dan Renungan Tentang Kekuatan Tulisan Seorang Guru

Image
Semalam saya nonton film " The Teacher's Diary ", atau dalam bahasa aslinya (bahasa Thai) berjudul "Khid Thueng Withaya", karya Nithiwat Tharaton. Kalau penasaran, trailernya bisa dilihat di : Dalam beberapa aspek, film ini seperti kisah cinta yang cliche . Ada guru perempuan muda cantik bernama Ibu Ann yang mengajar di "sekolah kapal", di sebuah daerah terpencil, jauh  dari kota. Namun dia selalu galau  memilih antara harus kembali ke kota, menikah dengan calon suaminya yang memintanya mengajar di sebuah sekolah besar di kota. Sekolah tempat Bu Ann mengajar merupakan sekolah kecil di atas kapal, di pinggir laut, dan hanya memiliki tujuh orang siswa. Meski calon suami Bu Ann adalah sesama guru, dia tidak memahami kenapa Bu Ann masih mau mengajar di sana. Untuk apa mengajar di tempat yang sulit diakses dan hanya memiliki tujuh orang siswa?  Saat Bu Ann sempat memutuskan untuk kembali ke kota dan (hampir) menikah dengan pasangannya (yang ternyata p...

Belajar di Coursera (1)

Menyelesaikan kelas di Coursera (  https://coursera.org ) memang butuh disiplin tinggi. Di tengah kesibukan ini itu, setidaknya setiap minggu kita harus menyediakan waktu untuk mendengarkan kuliah, mengerjakan tugas dan kuis. Berbeda dengan teman saya, Ibu Amelia Kesuma, guru inspiratif dari Salatiga (lihat :  http://www.ameliasari.com/2012/09/saya-keranjingan-belajar-di-coursera.html  ) , saya belum pernah menamatkan satu pun kelas di coursera. Waktu awal tahu tentang coursera, saya mendaftar 3 kelas sekaligus. Maruk? Iya! Tamat? Ngak! Bahkan untuk masing-masing kelas saya hanya sekali saja melihat video pembelajaran. Ngerjain tugas ngak, apalagi ikut kuis. Payah banget deh! Daripada rakus seperti sebelumnya tapi tidak ada kemajuan , akhirnya saya memilih mengambil satu kelas dalam waktu tertentu. Tapi itu pun tak pernah saya tamatkan, meskipun dibandingkan sebelumnya, saya jadi lebih banyak menonton video pembelajaran, membaca, dan pernah sesekali mengerj...