May 19, 2015

Ngobrol (Lagi) dengan Kang Dan Satriana

Sudah lama saya tidak ketemu dengan Kang Dan Satriana. Dua minggu lalu saya sempat menghubungi beliau, "Kang bakal ada orang di Kalyanamandira gak hari Minggu? Saya mau main ke sana".


Kalyanamandira adalah salah satu komunitas tempat Kang Dan berkegiatan. Kalau mau tahu lebih lanjut tentang komunitas ini, silakan lihat --> https://kalyanamandira.wordpress.com/  Lokasinya di Buah Batu, Bandung. Waktu mahasiswa dan bahkan sampai sekarang, saya sesekali mampir ke sana untuk ngobrol dengan teman-teman Kalyanamandira. 

Akhir pekan kemarin, saat saya ke Bandung. Saya pun menghubungi Kang Dan lagi. Kang Dan mengatakan bahwa beliau habis bersepeda di daerah Dago dan mengajak ketemuan di suatu kedai kopi di Jalan Hasanudin. Akhirnya, bisa juga bertemu dengan Kang Dan. Mbak Danti, yang rumahnya saya tumpangi selama di Bandung pun ikut serta. Jadilah, kami ngobrol bertiga.

Rasanya senang sekali bertemu dengan teman lama seperti Kang Dan. Saya mengenal Kang Dan sejak 2003. Waktu itu sahabat saya Lely Fitriani dan saya merupkan tutor matematika di sebuah Komunitas Pendidikan Alternatif bernama Komunitas Taboo (dikelola oleh Kang Rahmat Jabaril).

Suatu malam, saat kegiatan belajar matematika di Komunitas Taboo,  Kang Dan beserta  teman-teman Kalyanamandira datang  berkunjung ke Komunitas Taboo. Ceritanya mau studi banding, melihat apa kegiatan kami. Kami pun (Lely & saya) mengadakan kunjungan balasan ke Kalyanamandira. Mereka mengajak kami mengamati kegiatan belajar mengajar  bagi anak-anak yang  ada di Rumah Tahanan di Jalan Jakarta. Pernah juga kami diajak mengunjungi kegiatan belajar-mengajar yang mereka selenggarakan di sebuah daerah di pinggir rel kereta api (saya lupa nama daerhanya). Sejak itulah saya mulai menjalin persahabatan dengan teman-teman Kalyanamandiri.

Tahun 2007, Mts. tempat saya mengajar sebagai guru honorer bubar. Saat itu tersisa 11 orang siswa. 10 orang siswa kelas 9 dan 1 orang siswa kelas 8. Dari 10 orang siswa, hanya 2 yang lulus UN dan 8 tidak (cerita lengkapnya silakan lihat http://bit.ly/1EYHnOP yang juga dimuat di Buku Hitam UN). Waktu itu, siswa-siswa saya hampir saja putus sekolah. Teman-teman Kalyanamandira, khususnya Kang Dan  membantu kami, para guru, untuk mengurus proses advokasi agar siswa-siswa saya bisa mengikuti kejar paket B dan kemudian bisa melanjutkan sekolah baik ke SMA ataupun SMK.

Namanya ketemu teman lama, rasanya banyak sekali yang ingin saya ceritakan. Kata-kata mengalir begitu saja dari mulut saya. Saya ceritakan tentang apa yang terjadi setelah 2007. Sekolah tempat saya mengajar tersebut bubar, lalu bersama beberapa guru  kami mendirikan Rumah Mentari. 

Rumah Mentari adalah lembaga pendidikan non-formal di Kampung Sekepicung, Bandung. Sebagian besar kegiatan Rumah Mentari diselenggarakan di di rumah Pak Lala dan Bu Dewi. Mereka dulu merupakan guru di sekolah yang saya ceritakan di atas. Dengan sukarela mereka menyediakan rumahnya untuk jadi tempat berkegiatan. Awalnya, rumah mentari adalah "sekolah darurat" bagi anak-anak yang belum selesai terurus di sekolah, tempat kami mengajar. Selain ke 8-siswa yang saat itu belum lulus UN, kami juga mengurus 6 orang siswa yang terlanjur mendaftar ke sekolah (yang akhirnya bubar tersebut).

Ada banyak hal yang terjadi setelah 2007. Beberapa siswa kami yang dulu seusia SMP telah tumbuh dewasa. Beberapa berhasil menyelesaikan sekolah setingkat SMK dan beberapa tidak. Beberapa sudah bekerja dan menikah, bahkan memiliki anak. Ada juga yang kembali ke Rumah Mentari untuk mengajar anak-anak yang lebih kecil di hari Minggu.  Pokoknya banyak hal yang terjadi.

Dulu hanya ada 6 anak yang belajar di Rumah Mentari, kini ada lebih dari 100 anak yang ikut belajar di sana. Kegiatannya pun mulai lebih bervariasi. Selain program untuk anak, ada juga kegiatan untuk remaja, pemuda, dan ibu-ibu, bahkan guru PAUD atau TK. Setiap hari Minggu setidaknya ada belasan (dan kadang sampai seratus) anak datang ke rumah mentari untuk belajar bersama beberapa kakak relawan, baik belajar matematika, membaca, menggambar, menyanyi, bermain drama, memasak, dan sebagainya. Yang mengajar, beberapa adalah anak-anak didik yang dulu belajar di mentari pada tahun 2007 tapi ada juga relawan yang merupakan mahasiswa. 

Di hari Sabtu, saya bergantian dengan kakak-kakak yang lain mengajar remaja (SMP dan SMA) belajar bahasa Inggris. Meski hanya 6 - 8 orang yang rutin belajar, mereka sangat rajin. Kata saya pada Kang Dan, "Saya sekarang jarang memegang kelas anak-anak, lebih banyak mengurus remaja. remaja-remaja inilah yang sekarang mengajar anak-anak yang lebih kecil."

Saya juga menceritakan hal-hal kecil yang menyenangkan lainnya, "Pernah suatu waktu saya mengajarkan sebuah lagu pada anak-anak remaja yang belajar bahasa Inggri. Di hari tersebut ada seorang guru PAUD yang sedang berkunjung. Guru tersebut tidak ikut belajar secara langsung di dalam kelas, tapi ikut mencatat lirik lagu. Katanya dia mau menggunakan lagu tersebut di dalam kelas."

Kini, beberapa pemuda di Kampung Sekepicung yang bergabung dalam komunitas Paser (lihat : http://berbagiceritaceritaseru.blogspot.com/2015/04/kerjabakti-menanam-pisang-di-balik-cafe.html ) sempat membuat kolam ikan untuk mengembang biakkan ikan dan menanam pisang. Beberapa pemuda yang tadinya menganggur, kini bergantian bekerja sama mengurus kolam ikan. Mereka juga sedang mengembangkan koperasi (meskipun masih dalam proses pengembangan). 

Meskipun, ada banyak hal yang menyenangkan terjadi di Rumah Mentari dan Kampung Sekepicung, sebenarnya ada juga banyak masalah. Kampung tersebut terletak persis di belakang lapangan Golf Dago. Letaknya tidak jauh dari kota. Paling butuh 15 menit untuk jalan kaki ke terminal dago. Kampung tersebut dikelilingi berbagai kafe dan hotel.Kebanyakan yang bekerja di kafe dan hotel di sekitar adalah pendatang, meskipun ada juga warga yang bekerja di sana. Pengangguran masih banyak, dan kalaupun mereka mau bekerja, mereka disyaratkan harus mengantongi ijazah yang setara dengan SMA, misalnya melalui kejar paket C . 

Sebagai akhirnya, beberapa warga datang ke rumah Mentari meminta dicarikan cara untuk mengikuti kejar paket C. Karena punya pengalaman mengurus kejar paket dan ternyata kami diminta membayar (misalnya untuk kejar paket B sebesar Rp 250.000,- per siswa), maka salah satu pengurus rumah mentari berinisiatif mengdaftarkan kejar paket melalui institusi di kabupaten Bandung. Dulu kami mengurus kejar paket di kotamadya. Ternyata sama saja, tetap saja ada pungutannya. Lebih mahal lagi.

Kang Dan tertawa-tawa melihat ekspresi saya saat saya mengatakan, "Lebih mahal lagi!"

Selain itu, ada berbagai isu lain, misalnya pernah kami temui, di sebuah sekolah dasar di daerah sana, setengah kelas dari siswa kelas 3 SD masih kesulitan membaca. Seorang relawan, yang juga merupakan psikolog sempat melakukan penelitian di sana dan juga membuat semacam pelatihan sehingga guru-gurunya punya kesadaran bahwa beberapa siswanya punya learning difficulties (atau kadang disebut learning disabilities) dan perlu treatment khusus.

Selain isu pendidikan dan pengangguran, juga ada isu kesehatan. Meskipun di sekitar ada a puskesmas dan bidan, tetap saja bila ada warga yang butuh melahirkan (misalnya, secara caesar), atau mengalami kecelakaan, kadang masyarakan kesulitan mengakses layanan kesehatan. Kadang birokrasi yang harus diurus begitu panjang, padahal masyarakat butuh pelayanan kesehatan segera (tidak bisa menunggu proses birokrasi yang panjang). Juga, pernah ada masa di mana angka kematian bayi (yang baru lahir) cukup tinggi. Hal ini membuat saya  sangat berharap ada warga sana yang melanjutkan studi di bidang kesehatan dan suatu hari kembali lagi ke kampung sehingga setidaknya ada yang bisa mendampingi warga di bidang kesehatan. Selain itu, masalah pendidikan, pengangguran, kesehatan, juga ada masalah akses terhadap air. Beberapa sumber mata air yang tadinya bisa diakses warga, kini tidak bisa lagi karena tanah yang ada mata airnya sudah dibeli oleh pihak tertentu. 

Begitu banyak yang terjadi di sana, sampai-sampai Pak Lala dan Bu Dewi sangat terbiasa rumahnya diketuk di tengah malam, misalnya untuk mengurus warga yang melahirkan, kecelakaan, dan lain-lain. Pokoknya, tidak habis-habis.  Kondisi yang kompleks seperti ini, membuat saya selalu bertanya-tanya, "Untuk apa ada sekolah? Pendidikan semacam apa yang bisa lebih bermakna buat masyarakat dalam konteks semacam ini?"

Saya ceritakan pada Kang Dan bahwa saya dibantu oleh beberapa teman-teman di Rumah Mentari sedang menuliskan sejarah rumah mentari. Apa yang kami kerjakan selama hampir 8 tahun ada yang berhasil ada yang tidak. Menuliskan apa yang terjadi selama 8 tahun ini, kami rasakan penting, Meskipun hanya sebuah kasus, setidaknya tulisan tersebut  bisa menjadi bahan refleksi untuk memahami kondisi pendidikan di Indonesia. Seperti biasanya, Kang Dan selalu suportif. Katanya, "Tulis saja! Mumpung emosinya lagi meluap-luap!"

Kami pun mengobrol tentang banyak hal lain. Kang Dan menceritakan tentang aktivitasnya kini. Beliau sekarang merupakan Ketua Komisi Informasi Jawa Barat. Hal yang diperjuangkan Kang Dan diantaranya mengenai transparansi informasi publik, partisipasi publik dalam pendidikan, dan perbaikan pelayanan publik, khsususnya di bidang pendidikan. Beliau juga ikut mengawasi Penerimaan Siswa Baru di sekolah, dan juga ikut mengusulkan bagaimana standar pelayanan minimum pendidikan, khususnya di Jawa Barat bisa diperbaiki. 

"The devils are in the details," kata Kang Dan. Maksudnya, banyak orang mau membicarakan tentang gagasan-gagasan besar, tapi tidak mau mengurus detil yang memungkinkan terwujudnya gagasan-gagasan tersebut.

Kami lalu mengobrolkan tentang berbagai komunitas-komunitas pendidikan di Jakarta dan Bandung dan tentang pentingnya berjejaring dengan berbagai pihak yang juga bergerak di bidang pendidikan. Kami sepakat bukan waktunya lagi bekerja sendiri-sendiri, aktif dengan komunitasnya sendiri. Kita harus mulai bisa berjejaring dengan siapapun yang punya concern  di bidang pendidikan, meskipun dalam beberapa hal kita bisa punya pemikiran yang berbeda.  Meskipun berbeda pemikiran (atau bahkan ideologi), tetap saja mungkin ada hal-hal yang bisa dikerjakan bersama untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia.

Mbak Danti juga turut andil membuat diskusi semakin seru. Mbak Danti sedang bersemangat  karena beliau baru saja selesai mengajak siswa-siswinya (SMP) backpacking ke Jawa tengah untuk melakukan riset tentang akulturasi budaya, khsusnya di pulau Jawa. Hasil akhirnya berupa buku berisi catatan perjalanan dan juga  hasil riset siswa tentang akulturasi budaya di pulau Jawa. Kini, bukunya sedang dalam proses editing  (dan akan dicetak). Mbak Danti menceritakan prosesnya pada kami.

Itu membuat kami membahas tentang program-program semacam live in yang sering diterapkan di beberapa sekolah. Program live in pada dasarnya bagus karena bertujuan menempatkan siswa dalam konteks yang berbeda dengan kehidupannya sehari-hari. Namun, alangkah baiknya apabila sebelum melakukan live in, siswa dibekali dengan berbagai keterampilan sehingga proses live in bisa menjadi lebih bermakna, Sebagai contoh, sebuah sekolah bertahun-tahun mempraktekkan live in di mana siswa tinggal di rumah orang yang berbeda latar belakang (sosial ataupun agama). Namun, kadang pengalaman ini bisa lewat begitu saja hanya jadi seperti acara liburan saja. Siswa misalnya, bisa tinggal di rumah orang lain tetap asyik dengan gadget-nya. Yang punya rumah, bisa saja segan menegur dan sampai pulang siswa tidak sadar bahwa sikapnya tidak semestinya. Akibatnya, program live in jadi seperti liburan saja.

Apa yang harus dipersiapkan sebelum masuk ke lingkungan baru?  Bagaimana melakukan observasi? Bagaimana caranya bersikap reflektif? Siswa perlu diajak memikirkan hal-hal terseut sehingga ketika live in, program tersebut bisa lebih bermakna.

Sekitar 3 jam lamanya kami mengobrol. Banyak sekali yang kami bicarakan. Selain hal-hal di atas, kami juga banyak bercanda dan tertawa-tawa. Rasanya senang sekali bertemu kembali dengan kawan lama. Terima kasih yah Pak Dan dan Mbak Dan untuk pertemuannya yang menyenangkan! Kapan-kapan, kita mesti ngobrol lagi!

No comments: