Posts

Klub Bahasa Inggris Rumah Mentari, Proses Belajar di Hari Sabtu, 16 Mei 2015

Image
Hari itu, Sabtu 16 Mei 2015 klub bahasa Inggris belajar bahasa Inggris menggunakan kisah "The Little Mouse, The Red Ripe Strawberry, and The Big Hungry Bear" . Kenapa buku tersebut yang dipilih? Tidak ada alasan khusus selain bahwa buku tersebut tersedia di perpustakaan Rumah Mentari. Hanya  memanfaatkan apa yang sudah ada. Buku tersebut sebenarnya buku anak-anak yang tipis. Kosa katanya sederhana, dan tingkat kesulitannya tidak terlalu tinggi. Sebenarnya, anak-anak klub bahasa Inggris Rumah Mentari, yang sekarang lebih banyak siswa SMP dan SMA sudah pernah membahas bacaan yang tingkat kesulitannya lebih tinggi daripada  "The Little Mouse, The Red Ripe Strawberry, and The Big Hungry Bear". Buku terakhir yang kita bahas bersama adalah The Little Prince karya Antoine de-Saint Exupery. Kak Arfah (yang kini baru saja pindah ke Balikpapan) yang mengenalkan buku tersebut pada anak-anak klub Bahasa Inggris Rumah Mentari. Kak Arfah biasanya memfotokopi bab b...

Menonton Film "Detachment"

Image
Semalam saya diajak nonton film " Detachment ". Katanya, film itu tentang guru. Awalnya, saya ragu untuk menonton. Judul filmnya saja " Detachment " yang artinya ketidakterikatan. Dari judulnya, saya punya perasaan bahwa film tersebut akan menyedihkan. Perasaan saya benar.  Film tersebut ternyata suram. Namun, ternyata saya suka filmnya karena cerita tentang guru dan kelas.  Itu tema favorit saya.  Trailer filmnya bisa dilihat di : Pak Henry adalah seorang substitute teacher (guru pengganti). Artinya, dia tidak pernah menetap di sebuah sekolah. Apabila ada sebuah sekolah yang kekurangan guru, dia akan diminta mengajar di sekoalah tersebut sampai ada guru tetap. Setelahnya, dia akan berpindah ke sekolah lain yang membutuhkan guru pengganti lagi. Begitu terus. Pak Henry tidak pernah menjadi guru tetap.  Waktu menonton film " Detachment" , saya teringat pada film " Entre Les Murs (The Class )", sebuah film Prancis yang dikeluarkan t...

Refleksi Hari Bumi 2015 tentang Proses Terbangunnya Kesadaran Baru Tentang Lingkungan

Image
Saya termasuk orang yang sebenarnya pernah sangat abai terhadap isu-isu lingkungan. Dari kecil, sampai SMA saya besar di Jakarta. Artinya, setiap hari saya berhadapan dengan macet, pemandangan yang dihadapi adalah gedung-gedung, pemukiman, dan mobil, makanan yang saya makan seringkali adalah jajanan dan tak jarang makanan instan yang bisa dibeli di warung-warung. Saya lupa, istilahnya, tapi ada istilah untuk orang yang sudah tidak tahu lagi dari mana sumber makanan yang dimakannya. Saya pernah termasuk orang seperti itu (bahkan mungkin masih). Ada masanya, di mana berita-berita tentang kerusakan lingkungan, misalnya, kadang dibaca tapi selewat saja. Saya lebih suka membaca tentang apa yang terjadi di sekolah, praktek-praktek pendidikan di masyarakat, dan sebagainya. Namun, saya mulai sadar, pemahaman saya tentang pendidikan selama ini sangat dangkal. Apa tujuan dari pendidikan kalau bukan untuk menjaga kelangsungan alam dan isinya? Apa tujuan pendidikan kalau tempat di mana manusia t...

Menonton "The Teacher's Diary" dan Renungan Tentang Kekuatan Tulisan Seorang Guru

Image
Semalam saya nonton film " The Teacher's Diary ", atau dalam bahasa aslinya (bahasa Thai) berjudul "Khid Thueng Withaya", karya Nithiwat Tharaton. Kalau penasaran, trailernya bisa dilihat di : Dalam beberapa aspek, film ini seperti kisah cinta yang cliche . Ada guru perempuan muda cantik bernama Ibu Ann yang mengajar di "sekolah kapal", di sebuah daerah terpencil, jauh  dari kota. Namun dia selalu galau  memilih antara harus kembali ke kota, menikah dengan calon suaminya yang memintanya mengajar di sebuah sekolah besar di kota. Sekolah tempat Bu Ann mengajar merupakan sekolah kecil di atas kapal, di pinggir laut, dan hanya memiliki tujuh orang siswa. Meski calon suami Bu Ann adalah sesama guru, dia tidak memahami kenapa Bu Ann masih mau mengajar di sana. Untuk apa mengajar di tempat yang sulit diakses dan hanya memiliki tujuh orang siswa?  Saat Bu Ann sempat memutuskan untuk kembali ke kota dan (hampir) menikah dengan pasangannya (yang ternyata p...

Belajar di Coursera (1)

Menyelesaikan kelas di Coursera (  https://coursera.org ) memang butuh disiplin tinggi. Di tengah kesibukan ini itu, setidaknya setiap minggu kita harus menyediakan waktu untuk mendengarkan kuliah, mengerjakan tugas dan kuis. Berbeda dengan teman saya, Ibu Amelia Kesuma, guru inspiratif dari Salatiga (lihat :  http://www.ameliasari.com/2012/09/saya-keranjingan-belajar-di-coursera.html  ) , saya belum pernah menamatkan satu pun kelas di coursera. Waktu awal tahu tentang coursera, saya mendaftar 3 kelas sekaligus. Maruk? Iya! Tamat? Ngak! Bahkan untuk masing-masing kelas saya hanya sekali saja melihat video pembelajaran. Ngerjain tugas ngak, apalagi ikut kuis. Payah banget deh! Daripada rakus seperti sebelumnya tapi tidak ada kemajuan , akhirnya saya memilih mengambil satu kelas dalam waktu tertentu. Tapi itu pun tak pernah saya tamatkan, meskipun dibandingkan sebelumnya, saya jadi lebih banyak menonton video pembelajaran, membaca, dan pernah sesekali mengerj...

Bertemu Icha di Selasar Sunaryo

Image
Sabtu, 17 Januari 2015 beberapa keluarga saya berkumpul di Bandung karena sepupu saya akan melamar seorang perempuan Bandung keesokan harinya. Kami ke Bandung dalam rangka menghadiri upacara lamaran tersebut. Sabtu sore, kami tak begitu banyak kerjaan. Sepupu saya Hanny dan ibunya, Bule Dian ingin jalan-jalan ke museum. Karena kami menginap di sekitar Dago atas, jadi salah satu museum terdekat yakni Selasar Sunaryo (lihat: http://www.selasarsunaryo.com/ ). Kami pun pergi ke sana. Saat masuk ke Selasar Sunaryo,  saya bercerita pada Hanny, "Saat krisis moneter tahun 1998, sebagai ekspresi kritik Sunaryo terhadap kondisi Indonesia di masa tersebut, semua karya-karya Sunaryo dibungkus dengan kain hitam. Semacam ekspresi duka terhadap kondisi Indonesia saat itu. Sekarang sudah ada beberapa karya yang tidak dibungkus dengan kain hitam." Tak lama kemudian saya mendengar seseorang memanggilku, "Kakak! Apa kabar?" Ternyata yang memanggilku adalah Icha.  Icha dulu su...

Tentang Membacakan Cerita di Rumah Mentari

Image
Saya biasanya jarang datang ke Rumah Mentari di hari Minggu pagi. Biasanya saya datang, di hari Sabtu, itu pun dua minggu sekali. Di hari Sabtu, ada kelas bahasa Inggris untuk siswa SMP dan SMA. Saya biasanya suka menyempatkan mengajar di kelas tersebut. Kak  Arfah, Kak Anug, ataupun Kak Angga juga kadang mengajar di kelas tersebut. Anak-anak di Rumah Mentari Sumber gambar : Larasati Putri Purwono Pada hari Minggu kebanyakan  anak yang datang ke Rumah Mentari adalah siswa SD, ada juga yang TK. Yang datang biasanya 20 anak, tapi kadang bahkan bisa lebih dari 50. Kini, kakak-kakak yang bertanggung jawab mengatur kegiatan di hari Minggu adalah Kak Hipna dan Kak Santi. Kak Hipna adalah siswa Rumah Mentari yang kini telah  menjadi pengjar di Rumah Mentari. Hipna telah bergabung di Rumah Mentari sejak awal Rumah Mentari didirikan,  tahun 2007. Waktu itu usia Hipna sekitar 15 tahun.Bersama dengan Sri Mulyani, Sri Astuti, Dendi, dan Siti, Hipna belajar di Mentari u...