Posts

Pendidikan Seni

Iseng-iseng membuka kembali posting http://pendidikan-alternatif.blogspot.com/search?updated-max=2008-09-19T15%3A00%3A00%2B07%3A00&max-results=1 yang dibuat oleh seorang teman dipendidikan alternatif. Jadi pengen ngomongin betapa pentingnya pendidikan seni di sini. Saya dulu pernah mendampingi seorang anak yang bandelnya ampuun dhe... Kalau ngamuk bisa ngelempar gunting. Kalau marah ngedorong temennya. Kalau iseng nyemplungin diri ke got (sampai hitam semua). Weleh..weleh.. Tapi anak ini cerdas luar biasa. Untungnya anak ini terakses dengan komunitas Taboo. Sama saya, dia saya dampingi belajar matematika, tetapi dengan Om Rahmat Jabaril, anak ini didampingi untuk belajar seni dan teater. Dan yang dua terakhir ini yang paling penting dalam pembentukan karakternya. Dia jadi bisa mengeluarkan emosinya melalui seni. Gambar-gambarnya diwarnai dengan berani dan kereng (mentereng). Dia pun bangga sekali bisa bermain teater . Bandel? Masih lah yah.. Tapi emosinya lebih terkontrol. Konsentr...

Kenapa saya suka sekali mengoreksi buku teks?

Pendidikan tentunya menyangkut banyak aspek. menurur saya pendidikan bisa berlangsung di 3 tempat utama. - Di sekolah (yang biasa di kenal dengan pendidikan formal) - Di rumah - Dan di lingkungan (masyarakat) Semuanya ini menurut saya saling mendukung. Sekolah tentunya memiliki keterbatasan. tidak semua anak beruntung bisa masuk ke sekolah yang bagus kualitasnya. Di rumah pun begitu. Banyak anak-anak yang tak punya keluarga, atau tidak punya keluarga ideal. Sama halnya dengan lingkungan. Oleh karena sebab itu, segala kegiatan yang mendukung proses belajar di sekolah, rumah, maupun lingkungan bisa saling melengkapi satu sama lain. Dan menurut saya, tidak ada salahnya meningkatkan kualitas ketiganya sesuai dengan kemampuan kita dan kecocokan kita masing-masing. Kebetulan saya memang cukup tertarik dengan pendidikan formal. Saya memang lama terlibat dengan pendidikan melalui mengajar Fisika, Matematika dan terkadang Bahasa Inggris, dan saya juga punya akses terhadap beberapa buku teks yan...

BSE (Buku Sekolah Elektronik)1

Ini saya yang ngawur atau apa yah? November seharusnya bukan ditulis Nopember kan? Saya baru mendownload BSE (Matematik) untuk siswa SD kelas 1. Di halaman 55, ada pembahasan mengenai bulan (dan angkanya) Seperti ini: 1 Januari 2 Pebruari --> Harusnya Februari kan? 3 Maret 4 April 5 Mei 6 Juni 7 Juli 8 Agustus 9 September 10 Oktober 11 Nopember --> Harusnya November kan? 12 Desember Saya tahu dalam beberapa bahasa F bisa berubah menjadi P dan P bisa berubah menjadi F, tetapi bukankah dalam buku pelajaran sekolah yang disebarluaskan ke seluruh Indonesia seharusnya menggunakan bahasa yang baku? Sangat sederhana memang. Masalahnya saat hal sepertti ini diajarkan pada anak SD kelas 1 yang masih belajar sesuatu yang sangat mendasar (dan dia percaya), kesalahan berulang ketika dia nanti di kelas yang lebih tinggi.

Pasar Ciroyom

Beberapa hari yang lalu, seorang teman saya, Pak Gamesh mengajak saya untuk mengunjungi Pasar Ciroyom, untuk melihat kondisi belajar-mengajar di sana. Seorang teman saya, bernama Bunda seorang yang saya kenal sejak Ramadhan 2004, mengajar anak-anak yang tinggal di Pasar Ciroyom. Bunda, adalah seorang perempuan manis yang saya temui di wyata guna beberapa waktu yang lalu. Dia dulu sering mengajar anak-anak jalanan di dekat IP (Istana Plaza). Perempuan manis keibuan yang berani itu juga dulu sering membawa tali rafia untuk mengikat celana anak-anak jalanan (non-sanggar) agar tidak mudah dipeloroti. Kabarnya, beberapa anak-anak jalanan ini sering 'dipakai' untuk iseng oleh beberapa orang dewasa. Jadi, hari ini sebenarnya saya tidak sabar untuk bertemu Bunda kembali setelah berjumpa beberapa tahun yang lalu. Kebetulan, semalam ada seorang anak Psikologi Unpad yang menghubungiku karena berniat membantu kegiatan kerelawanan. Ternyata hari ini ada dua relawan baru dari Psikologi. ...

Live In (4)

KBA berikut yang saya kunjungi berada di dalam sebuah gang sempit yang agakk gelap, sehingga cahaya yang masuk pun sedikit. Ada sekitar 20 anak berdesak-desakan di dalam kelas itu, sedang menggambar. Saya hanya sebentar di KBA ini lalu daya pun berangkat ke KBA berikut, di kampung elektrro. Lucunya, ketika hendak berjalan ke KBA di kampung elektro, banyak anak sedang belari-lari keluar lorong-lorong sambil berteriak-teriak. Ketika saya sampai di KBA 'elektro', kelas sudah kosong, dan banyak asap putih di mana-mana. Dengar dari sang guru KBA, ternyata ada sebuah 'partai politik' yang mengadakan penyemprotan nyamuk tiba-tiba, tanpa pemberitahuan. Walaupun penyemprotannya belum sampai masuk ke dalam KBA, tapi karena jarak anatar rumah sangat dekat dan banyak celah,asap dari tetangga pun masuk ke dalam ruang kelas. Ruang kelas seketika menjadi gelap tertutupi oleh asap. "Yah namanya anak-anak, yah langsung ketaku7tan ruang kelas tuba-tiba jadi gelap, yah pada terikak-...

TKW

Beberapa waktu yg lalu saya sempat nimbrung sewaktu teman saya menerangkan mengenai apa yg dimaksud dengan devisa pada seorang murid saya. "Devisa itu bisa dihasilkan dari barang, misalnya kalau kita mengekspor barang, kita mendatangkan keuntungan untuk negara, keuntungan itu berupa devisa." "Devisa juga bisa dihasilkan dari jasa. Misalnya para TKW bekerja di luar negeri dan kemudian mengirimkan uang buat keluarganya di Indonesia. Mereka juga menghasilkan devisa." Kurang lebih begitulah penjelasan sederhana temanku tentang devisa. "Kalau ada TKW yang ngak balik2x dan nga ada kabarnya dicarinya ke mana?" "Mungkin ke departemen tenaga kerja," kata temanku, "Memangnya kenapa?" "Engga, ibu saya udah lama jadi TKW, engga tau dimana, udah 2 tahun nga ada kabarnya." Kami semua yg berada di sana pun terdiam. Tidak bisa berkata2x. Tapi.. Hari ini kebetulan saya seangkot dgn muridku. Dan dia tersenyum,"Ibu," panggilnya padaku,...

Live in (3)

Setelah mengikuti kegiatan belajar di KBA Kembangan lestari, Mbak Sinta bergegas mengantarkan saya ke 3 kampung lain u/ melihat kondisi KBA di kampung2x yg lain. Untuk mencapai kampung I yg saya kunjungi (lupa namanya), saya menyusuri sbuah lorong yg panjang, yg padat dgn rumah2x di sebelah kiri kanan dan sesungguhnya penuh kehidupan. Saya tidak tahu berapa jumlah anak berlari2xan dspanjang jalan, jajan. Bny skali orang melakukan berbagai kegiatan di lorong itu, mulai dr berjualan aneka jajanan, mencuci baju, menjemur makanan, dsb. Lorong di sana mengingatkan saya akan sebuah artikel yg saya baca di National Geographic tentang sebuah lorong di Dhafur. Mungkin saya sedikit aneh, tapi saya melihat, dibalik semua kesulitan yg ada di lorong yg saya lalui, saya merasakan keindahan, krn lorong itu tampak begitu hidup. Kalau saja pemerintah cukup pandai. Sebenarnya tempat yg penuh kehidupan dan manusia seperti itu bisa dibangun komunitasnya. Tidak perlu melakukan penggusuran, cukup penyediaan...