Sep 21, 2018

"Pesan dari Buritan" dan Sebuah Refleksi tentang Pendidikan Keindonesiaan di Sekolah.

"Pesan Dari Buritan" adalah sebuah dokumenter pendek yang dibuat oleh sekelompok anak muda  anggota Tim Ekspedisi Maritim Timur Nusantara. Mereka melakukan ekspedisi untuk mempelajari jalur pelayaran pelaut-pelaut Buton. Saya menonton film tersebut pada Kamis, 20 September 2018 malam di Studio Kopi Sang Akar, Jakarta.


Film "Pesan dari Buritan" pendek. Tidak sampai setengah jam. Gambar-gambar yang ada dalam film sangat cantik. Sekilas digambarkan 16 pulau (dari berbagai pulau lainnya) yang biasa dilalui oleh pelaut-pelaut Buton.  Mereka biasa berlayar menggunakan kapal-kapal yang ukurannya tidak terlalu besar, ada motor kecil, dan  layar yang membantu menangkap dan mengarahkan angin sehingga mempermudah para pelaut mencapai tujuan.

Setelah menonton, kesan saya, "Wah ternyata filmnya pendek". Secara visual filmnya sangat indah. Namun,  setelah nonton pun pengetahuan saya tentang masyarakat Buton belum banyak bertambah. Untungnya setelah menonton film, ada kegiatan diskusi. Beberapa anggota tim ekspedisi yang ikut membuat film diajak berbicara. Menurut mereka, apa yang mereka buat ini merupakan dokumentasi dari 16 pulau yang ada di Indonesia. Sedangkan ada sekitar 17 ribu pulau di Indonesia. Melalui film ini, mereka ingin mengajak lebih banyak orang untuk mulai belajar mengenai pulau-pulau yang ada di Indonesia.

Selama diskusi, ada hal lain yang menarik hati saya. Di layar ada tampilan slide show berisi foto dan berbagai narasi pendek. Secara pribadi, saya merasa slide show tersebut jauh lebih menarik daripada film yang saya tonton.  "Apa sih yang ditampilkan itu?" tanya saya pada Mas Tomy Widianto Taslim, pengajar kelas film di Studio Kopi Sang Akar yang saya asumsikan tahu apa yang ada slide show. Ternyata slide show yang mereka tampilkan berasal dari tiga buah buku yang juga dihasilkan dari ekspedisi ini.

Buku-buku tersebut berjudul Pesan dari Buritan, Menatap Halaman Timur, dan Hore. Diantara buku itu, ada yang berupa buku foto (dilengkapi narasi) hasil temuan mengenai jalur pelayaran pelaut Buton. Ada buku yang berupa catatan perjalanan mengenai apa yang terjadi selama 1 bulan pelayaran. Ada juga buku yang menggambarkan  pikiran-pikiran 'liar' yang muncul selama perjalanan.

Saya belum membaca bukunya tapi dari cuplikannya saja sudah merasa sangat tertarik.  Harga satu paket berisi tiga buku tersebut memang cukup mahal (sekitar satu setengah juta rupiah) tapi juga bisa dibeli eceran). Harga segitu mahal bisa saya maklumi. Setahu saya, memang biaya cetak untuk buku foto (berwarna) memang mahal.  Kalau ada yang tertarik membeli buknya, bisa menghubungi @guearigalery di Pasar Santa, Jakarta Selatan.

Setelah 'diskusi formal' berakhir. Saya duduk bersama  beberapa teman sambil makan ubi rebus dan meminum kopi. Ada, Anyi, Mas Ibut, Pak Jimmy Paat, seorang tim ekspedisi (lupa namanya). Diskusi pun berlanjut secara informal.

"Harusnya ada kasuami nih," kata Anyi. Kasuami adalah makanan khas Buton, "Waktu itu aku beli Kasuami di Pulau Seram. Yang jual memang pelaut-pelaut Buton."

Menurut Anyi, Kasuami rasanya enak dan meskipun kecil, sangat mengenyangkan. Kasuami  membantu pelaut-pelaut Buton bertahan dari rasa lapar, meskipun harus berlayar dalam waktu yang cukup lama.

Selama diskusi saya juga belajar bahwa pelaut-pelaut Buton sebih suka berlayar dalam kelompok kecil atau bahkan sendiri. Kapal yang digunakan tidak besar. Sambil berlayar mereka sekaligus berdagang. Jalur pelayarannya bisa sampai Singapura. Mereka punya peran Kapalnya seringkali menjadi semacam warung sembako di laut. Sambil berlayar dari satu pulau ke pulau lain mereka berjualan berbagai hal, kopi, makanan, dan kadang baju bekas.

Saat diskusi secara 'formal', Pak Jimmy sempat mengatakan bahwa apa yang dihasilkan baik film maupun buku foto oleh Tim Ekspedisi ini sangat baik dan bisa digunakan di sekolah-sekolah. Saya mengatakan bahwa saya pun kepikiran hal yang serupa. Saya jadi teringat pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) selama saya sekolah. Seringkali pelajaran-pelajaran yang seharusnya membantu saya mengenal Indonesia, justru terasa sangat kering. Siswa diminta mengisi pertanyaan-pertanyaan 'hafalan' seperti tari piring berasal dari... Baju adat ini dan itu berasal dari... Rumah adat ini dan itu berasal dari...

Fakta-fakta tersebut, menjadi kering. Tidak ada rasa istimewa yang tumbuh saat mempelajari fakta-fakta tersebut. Bagi saya film "Pesan dari Buritan"  terlalu singkat dan belum memberikan saya gambaran utuh mengenai masyarakat Buton. Namun, harus diakui, setelah menontonnya saya menjadi tertarik untuk mempelajari mengenai masyarakat Buton lebih lanjut. Saya bisa merasakan keindahan alam dan masyarakat Buton saat menonton film tersebut. Di film ada adegan di mana  pelaut berbicara dengan logat tertentu. Dia bercerita mengenai perbedaan kapal layar dan kapal motor.  Meskipun tidak secara langsung, saya merasa senang bisa mendengar sedikit pandangan para pelaut tentang kehidupannya.

Setelah menonton pun saya merasa masih sangat minim pengetahuannya tentang masyarakat Buton. Namun,  saya tahu kalaupun di kemudian hari saya secara tidak sengaja saya menemukan buku, artikel, foto, ataupun informasi mengenai masyarakat Buton saya akan sangat tertarik mempelajarinya.

Proses menonton dan mendiskusikan film "Pesan dari Buritan" membuat saya merefleksikan bagaimana seharusnya pendidikan mengenai keindonesiaan diajarkan pada siswa. Pertama siswa perlu diajak untuk merasakan keindahan Indonesia (alamnya, budayanya, orang-orangnya, dan lain-lain). Keindahan ini bisa dirasakan secara langsung maupun dengan bantuan berbagai media seperti film, foto, bacaan, dan lain-lain. Setelahnya, siswa bisa diajak membuat berbagai pertanyaan terkait hal-hal lain yang ingin mereka ketahui tentang Indonesia. Selanjutnya, guru bisa memfasilitasi siswa mencari tahu lebih lanjut mengenai apa yang telah mereka tanyakan. Hal ini bisa dilakukan dengan mengajak siswa bertemu atau berkomunikasi dengan orang yang bisa memberikan informasi tambahan, mengajak siswa melakukan riset, membaca, dan banyak hal lainnya. Alangkah menyenangkannya kalau hal semacam ini bisa terjadi.

No comments: