Aug 22, 2013

Reformasi Makanan di Sekolah-sekolah di Roma


Ketika makanan yang disediakan atau dijual di dalam sekolah atau di sekitar sekolah tidak layak untuk anak anda, apa yang anda lakukan? Membiarkannya? Menyediakan bekal makanan sehat dari rumah? Atau melakukan protes ke pihak-pihak yang berwenang seperti sekolah atau dinas pendidikan setempat? Yang terakhir inilah yang dilakukan oleh banyak orang tua di Roma sehingga akhirnya terjadi reformasi makanan di sekolah-sekolah di Roma.

Dari dulu, sekolah-sekolah di Roma memang menyediakan makan siang bagi siswa-siswanya. Makan siang ini dibiayai oleh pemerintah kota Roma. Sejumlah 150.000 makan siang harus disediakan untuk siswa-siswa di Roma setiap harinya.

Memang di Roma ada budaya khusus. Ketika jam makan siang tiba, setiap siswa dan guru harus duduk bersama-sama di meja untuk makan bersama. Hal ini membantu mendekatkan hubungan antara guru dan siswa karena mereka bisa mengobrol santai sambil menikmati hidangan. Bahkan, guru dianggap tidak sopan ketika tidak mau duduk bersama siswa saat makan siang bersama. Namun, beberapa tahun yang lalu ada masalah yang dianggap serius. Kualitas makan siang di sekolah tidak selalu sehat. Dengan kata lain, kualitasnya rendah.

Kini keadaan sudah berbeda. Semua sekolah di Roma menyediakan makanan sehat yang biasanya terdiri dari pasta, ikan atau daging, dan juga dilengkapi dengan sayur dan buah. Semuanya segar, dan sebagian besar merupakan makanan organik yang diproduksi oleh petani-petani lokal. Bagaimana perubahan ini bisa terjadi?

Protes Orang Tua dan Inisiatif Baru dari Pemerintah Kota
Orang tua di Italia tidak tinggal diam ketika mengetahui rendahnya kualitas makanan di sekolah. Mereka mengirimkan surat kepada pemerintah kota untuk memperbaiki kualitas makanan di sekolah. Tersedianya makanan sehat adalah hak setiap anak, bukan hanya anak mereka saja. Kepala-kepala sekolah juga melakukan hal serupa. Mereka mengirimkan surat protes kepada pemerintah kota karena katering-katering (yang disediakan pemerintah) seringkali menyediakan makanan yang kualitasnya rendah, akibatnya kadang ada beberapa kali terjadi tragedi keracunan makanan. Memang, makanan disediakan oleh katering-katering yang ada dalam jaringan pemerintah. Perlu ditekankan bahwa katering yang dimaksud di sini menyediakan bahan makanan (mentah ataupun setengah matang) yang biasanya dimasak (dipanaskan) lagi di dapur sekolah. Ketika kualitas makanan di sekolah rendah, katering termasuk pihak yang turut bertanggung jawab.


Protes yang dilakukan orang tua dan masyarakat ini ditanggapi oleh pemerintah kota. Tahun Keadaan perlu diubah dan salah satu motor penggeraknya adalah Dr. Silvana Sari, Direktur Kebijakan Sekolah dan Pendidikan Kota Roma. Pada tahun 2001, Dr Silvana Sari merancang apa yang disebut "ALL FOR QUALITY school procurement princliples" berisi prinsip-prinsip dasar penyediaan makanan untuk terjaminnya kualitas makanan di sekolah. Usaha yang sangat serius dilakukan oleh pemerintah kota untuk meningkatkan kualitas makanan di sekolah.

70 ahli nutrisi dilibatkan untuk menentukan menu makanan di sekolah. Kadar gizi yang diperlukan oleh setiap anak (sesuai usianya) dihitung dengan seksama dan didasarkan pada riset-riset yang dilakukan oleh The National Institute for Research on Food and Nutrition (Institusi Penelitian Nasional Bidang Makanan dan Nutrisi) .

Pihak katering harus menyediakan makanan sesuai kriteria yang ditentukan oleh para ahli nutrisi. Mereka juga harus menandatangani kontrak yang menyatakan mereka akan menyediakan makanan sesuai standar yang diminta, termasuk diantaranya menyediakan makanan organik yang berasal dari petani-petani lokal. Bagi yang tidak, dikenai denda.

Tentu saja meningkatkan standard kualitas makanan bukan hal yang mudah. Pihak katering harus bekerja keras untuk menaikkan standar. Sebagai akibatnya, Dr. Silvana Sari sempat tidak disukai karena dianggap memberikan tekanan besar pada pihak katering. Tapi akhirnya perubahan terjadi juga.

Ada 6 katering besar yang bekerja sama dengan pemerintah kota untuk menyediakan makanan bagi sekolah-sekolah di Roma. Katering ini disuplai oleh 57 suplier makanan yang menyediakan berbagai sayur, buah-buahan, roti, dan minyak organik dari petani dan produsen makanan lokal. Awalnya para produsen makanan lokal agak kuwalahan karena permintaan produksi meningkat. Tapi pemerintah memastikan bahwa produsen dan pihak katering menandatangani kontrak kerjasama selama 3 - 5 tahun. Hal ni berarti, meskipun di tahun pertama agak kacau, mereka masih bisa merancang rencana yang lebih baik untuk 2 - 4 tahun berikutnya. Memastikan bahwa kualitas dan kuantitas makanan akan terpenuhi sesuai standar. 

Perbaikan kualitas melalui evaluasi dan monitoring
Perencanaan tertulis bisa saja dilakukan dengan baik tapi ketika tidak ada proses evaluasi dan monitoring, seringkali apa yang direncanakan jauh berbeda dengan implementasinya. Sebelum reformasi ini, inspeksi makanan oleh “pengawas sekolah bagian makanan” hanya sekitar 160 kali/ tahun di Roma. Kini, inspeksi bisa mencapai 3.000 kali/tahun.  Yang lebih menarik lagi, selain inspeksi yang dilakukan oleh pengawas resmi dari pemerintah, inspeksi juga dilakukan oleh orang tua siswa yang sengaja dilibatkan dalam reformasi ini. 

Setiap sekolah mempunya sebuah komite khusus yang disebut “komite kantin”. Isinya adalah orang tua yang bersedia terlibat untuk memeriksa makanan di sekolah. Tugas mereka adalah memeriksa kebersihan dapur sekolah, memastikan bahan makanan tidak lewat tanggal kadaluarsanya, memastikan bahwa semua bahan makanan termasuk sayur dan buah dalam keadaan segar. Mereka juga membantu melihat makanan apa yang disukai dan tidak disukai oleh siswa. Data yang dikumpulkan oleh komite ini dikirimkan ke Departemen Pendidikan Kota Roma untuk dijadikan umpan balik untuk perbaikan di masa yang akan datang.

Sekolah berhasil menyediakan makanan sehat, lalu?


Kebijakan-kebijakan yang dijalankan oleh pemerintah kota Roma membuat semua siswa di Roma mengkonsumsi makanan sehat setiap hari, setidaknya di sekolah. Tapi reformasi tidak hanya berhenti sampai di situ. Dinas pendidikan menyadari bahwa yang penting bukan hanya makan makanan sehat, organik, dan diproduksi oleh petani lokal, tetapi memahami alasan di balik itu. Hal ini hanya bisa dilakukan melalui proses pendidikan.

Di sekolah, siswa di Roma diharuskan untuk belajar mengenai budaya makan di Italia. Seperti halnya di Indonesia, setiap daerah di Italia punya makanan khas. Petaninya juga memproduksi tanaman-tanaman tertentu yang mungkin tidak banyak diproduksi di daerah lain. Begitu juga dengan cara menyiapkan makanannya. Ada berbagai tradisi menyiapkan makanan di Italia, terkait gaya hidup sehat.

Ada banyak kebijaksanaan yang bisa dipelajari dengan mempelajari bagaimana makanan diproduksi dan akhirnya dihidangkan di atas meja. Dengan begitu, siswa sebenarnya bukan hanya belajar mengenai makanan dan gaya hidup sehat, tapi juga tentang budaya mereka sendiri, budaya makan yang selama ini selalu menjadi bagian penting dari kebudayaan Italia.

Sumber :
1.teachers.tv (UK), "School Dinners : How They Do It In Rome"
2. Rome,Italy: A Model in Public Food Procurement What Can the United States Learn? http://www.baumforum.org/downloads_conference-presentations/sf06/rome_briefing.pdf

No comments: