Aug 30, 2013

ADA APA DI RUMAH MENTARI? - Kelas Bahasa Inggris 2, Kamis 29 Agustus 2013

Setelah libur lebaran, akhirnya kegiatan belajar bahasa Inggris di sekolah rumah mentari mulai lagi. Memang lama liburnya tapi tidak apa-apa. Yang penting terus semangat untuk belajar terus.

Untuk pemanasan, anak-anak diminta untuk mencocokkan beberapa kata-kata berbahasa Inggris dengan padanannya dalam bahasa Indonesia. "Tebak saja dulu mana pasangannya!"

Berikut kata-kata bahasa Inggrisnya :
- suburb of the city
- dusty
- fetches water
- tap water
- lush
- auto-rickshaw
- noisy

Dan berikut kata-kata bahasa Indonesianya :
- air ledeng
- berdebu
- becak motor
- mengambil air
- subur
- pinggiran kota
- berisik

"Yang 'air' pasti ada kata 'water'-nya," kata seorang anak lalu mulai menyadari sesuatu, "yah ada dua yang ada kata water-nya."

Kami membahas arti kata-kata tersebut. Ternyata sebagian anak menjawab dengan tepat.
"suburb of the city = pinggiran kota, " kata mereka.
"Kok tahu?" tanya saya.
" Ada kata city-city-nya!"
"dusty  = berdebu"

Saya membenarkan. Saya menjelaskan bahwa
dust = debu dan dusty = (sifatnya) berdebu

mirip dengan padanan lainnya seperti :
oil = minyak dan oily = (sifatnya) berminyak
rock = batu dan rocky = (sifatnya) berbatu

"auto-rickshaw pasti becak motor. Karena ada auto-auto-nya pasti sejenis kendaraan bermotor," kata seorang anak.

Untuk kata-kata yang lain, artinya :
fetches water  = mengambil air
tap water = air ledeng/air keran
lush = subur
noisy = berisik

Kenapa kosa-kosa di atas yang dipilih? Karena kosa-kosa kata tersebut akan membantu anak-anak memahami bacaan yang akan digunakan hari ini. Bacaannya lebih sederhana daripada cerita tentang Bolt, sang pelari dari Jamaica. Tapi tetap bisa digunakan untuk belajar. Ceritanya adalah tentang seorang anak di India bernama Shakeel yang saya dapatkan dari website-nya Oxfam. Oxfam, sebuah NGO Internasional menyediakan banyak sekali contoh lesson plan dan sumber belajar yang bisa digunkan dan dimodifikasi oleh pendidik untuk kebutuhan di kelasnya. Berikut ceritanya.









Shakeel’s Story


My name's Shakeel and I'm seven years old. I live in a suburb of the city of Hyderabad in India. It's hot, dry and dusty here, but other areas of India are lush and green. I have always lived here, and my father was born here too.

I live with my mother and father, and brother and sister. At home we speak Urdu, which is one of many languages that are spoken in India. The main ones are Hindi and English.
I wake up at six o'clock in the morning, just as the sun comes up. My brother Shabeer sleeps in the same room. Mum and dad are already up. My mum fetches water from the tap in the street so that we can all wash, and my dad washes his auto-rickshaw. This is a taxi with three wheels.
We are Muslims and say our prayers every morning. Then it's time to eat. For breakfast I have salted parathas with tea. I like lots of sugar in my tea. Mum helps me get ready for school.
At seven o'clock off I go to school. My dad gives me a lift on his way to work. We see lots of monkeys on the way.

We have a blue and white uniform at school. There are about 40 children in my class and so it gets very noisy. I like Craft and History best. I've got four special friends - Rahim, Moulana, Ahmed and Suleman. At break time we play football. It's so hot and dusty that some children prefer not to wear shoes. 

 Bergantian anak-anak membaca ceritanya. Kami juga membahas artinya bersama-sama. Setelah membaca cerita tersebut kami mulai sadar bahwa yang dimaksud auto-rickshaw bukan becak motor melainkan bajai.Karena artinya sejenis kendaraan roda tiga sejenis taksi. Anak-anak pun mengoreksi catatan mereka.

"Auto-rickshaw artinya bajai, bukan becak motor," tulis mereka.

Anak-anak juga membahas bahwa saat menonton film India mereka melihat bahwa di sana ada bajai. Seperti di Indonesia.

Kami juga membahas mengenai perkenalan. Kalau berkenalan tidak selalu harus kaku, seperti "Hello my name is Nita. I am 12 years old I live in Bandung."
Saat kita bilang kita berasal dari Bandung, misalnya kita bisa sedikit bercerita tentang kota Bandung.

"Bagaimana cara Shakeel menceritakan tempat tinggalnya?" tanya saya.

Kami membahas bahwa Shakeel menjelaskan bahwa tempat tinggalnya ada di pinggiran kota. Udaranya panas, dingin, dan berdebu. Berbeda dengan daerah lain di India yang subur dan hijau. Dia menceritakan bahwa dia selalu tinggal di sana (tidak pernah tinggal di tempat lain) dan ayahnya juga lahir di sana.

"If I ask you to tell me about the place,where you live now, how will you do it? What would you say?" tanya saya menanyakan bagaimana mereka akan bercerita tentang daerah tempat tinggal mereka. Kami pun mulai berdiskusi. Ini jawaban dari anak-anak:

I live in Cibacang village. It is on top of the hills, somewhere in Bandung.
I live near the tea plantation near Lembang.
I live in a city called Bandung which is in West Java.
I live in Bandung, the capital of West Java.
I live in Sekepicung, which is right next to Dago Golf.
I live near the famous Japanese Cave (Goa Jepang) in Taman Hutan Raya Dago. The name of my village is Buni Wangi. 

Saya memancing anak-anak dengan bertanya bagaimana keadaan daerah tempat tinggal Shakeel, "How did Shakeel describe the Hyderabad?"

Mereka menjawab, campur-campur bahasa Inggris dan Indonesia. "Panas, kering dan berdebu. Hot dry, and dusty."

"How would you describe this place? I mean, Dago Atas." tanya saya.

"Kalau bilang siang panas, sorenya sejuk, dan malamnya dingin bagiamana?" seorang bertanya.

Saya membantu :
"Here, it is hot at daytime, cool in the afternoon, but at night it gets quite cold."

"Kalau Bandung macet dan padat! Udaranya dulu sejuk tapi sekarang panas karena pohonnya dipotong."

"Itu mengungkapkannya dalam bahasa Inggris bagaimana?" tanya saya. Bersama-sama kami membahas kata-kata yang tepat.

"The city is very crowded. There are lots of traffic jam in the streets. The air used to be cool but because a lot of trees were cut down, now it is getting hotter."
Kami juga membahas bagian dalam cerita yang ini:
"At home we speak Urdu, which is one of many languages that are spoken in India. The main ones are Hindi and English."

"Kalau ini cerita kalian, bagaimana memodifikasi kalimatnya?" tanya saya.
Di rumah hampir semua anak berbahasa Sunda. Mereka pun membuat kalimat baru dengan mengganti kata 'Urdu' dengan 'Sundanese', 'India' dengan 'Indonesia' dan 'Hindi and English' dengan 'Indonesian'.

"At home we speak Sundanese, which is one of many languages that are spoken in Indonesia. The main one is Indonesian.

Tak terasa, waktu belajar sudah habis. Saya meminta mereka mengerjakan semacam pekerjaan rumah. Menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait cerita, lalu menjawab pertanyaan sejenis yang dijawab sesuai cerita mereka sendiri. 

Pertanyaannya sebagai berikut :
What is the boy’s name?


How old is he?


Where does he live?


What is his hometown like?



How is his hometown different from other areas in his country?




What language does he speak at home?


Is that the main language of his country?


What time does he (usually) wake up?


How can you describe the morning in his house?




What is his morning routine like?




What does he usually do during the day?




Who does he usually spend his time with?




What is your name?


How old are you?


Where do you live?


What is your hometown like?



How is your hometown different from other areas in your country?




What language do you speak at home?


Is that the main language of your country?


What time do you (usually) wake up?


How can you describe the morning in your house?




What is your morning routine like?




What do you usually do during the day?




Who do you spend your time with?


Setelah kelas, seperti biasa saya menanyakan apa hal baru yang mereka pelajari hari ini. Jawaban mereka :
"Belajar kosa kata baru. I learn new vocabulary."
"Selain belajar bahasa Inggris, saya belajar tentang India."
"Saya belajar cara memperkenalkan diri. Biasanya cuma bilang I come from Bandung, sekarang bisa menjawab dengan pertanyaan yang lebih bervariasi."

No comments: