Jul 4, 2012

Thank you, Mr. Falker


Terima kasih Pak Falker

Kakek memegang satu toples madu agar semua orang bisa melihatnya. Lalu dia mencelupkan jarinya ke dalam toples dan meneteskan sejumlah madu ke atas sebuah buku. Usia si gadis kecil sebentar lagi akan menjadi 5 tahun.

“Berdirilah gadis kecilku,” kata kakek, “Dulu saya melakukan hal ini di depan ibumu, paman-pamanmu, kakak laki-lakimu, dan sekarang di depanmu.”

Lalu kakek menyerahkan bukunya pada si gadis kecil, “Rasakan!”

Dia menaruh jarinya  di atas madu lalu memasukkan jarinya ke dalam mulutnya.

“Apa rasanya?” tanya nenek.
“Manis,” kata si gadis kecil.

Lalu seluruh keluarga mengatakan secara serentak, “Iya, dan begitu juga ilmu pengetahuan. Tapi untuk memperoleh ilmu pengetahuan itu kamu harus seperti lebah mencari madu. Kamu harus mengejarnya melalui halaman-halaman yang ada pada buku.”
Si gadis kecil tahu bahwa tanggung jawab untuk belajar membaca kini ada di pundaknya. Tak lama lagi dia akan belajar caranya membaca.

Tricia, gadis paling kecil di keluarganya belajar untuk mencintai buku. Ibunya, yang seorang guru membacakan buku untuknya setiap malam. Kakak laki-lakinya yang berambut kemerahan selalu membawa buku-buku yang dipinjamnya dari perpustakaan sekolah dan menunjukkannya untuk bisa dilihat-lihat bersama. Dan setiap kali dia mengunjungi peternakan keluarga, tempat nenek dan kakek. Nenek dan kakek akan membacakannya ceritadi dekat perapian.

Ketika dia sudah 5 tahun dan mulai masuk Taman Kanak-kanak, dia sangat berharap bisa membaca. Setiap hari dia melihat kakak-kakakkelasnya, siswa-siswa kelas 1 SD membaca. Dan sebelum tahun ajaran berakhir, beberapa teman sekelasnya sudah mulai membaca. Tricia tidak.Meskipun begitu, dia sangat suka sekolah karena dia bisa menggambar. Anak-anak lainnya akan mengelilinginya dan melihatnya melakukan keajaiban dengan krayon.

“Di kelas 1  nanti kamu akan belajar membaca,” kata kakak laki-lakinya.

Di kelas 1 Tricia duduk dalam lingkaran bersama anak-anak yang lain. Mereka semua memengang buku berjudul “Lingkungan Tetanggamu”, bacaan wajib pertama mereka. Mereka belajar membunyikan huruf-huruf dan kata kata. “Beh… beh.. beh… beh.. Boy,” kata anak-anak mengeja kata yang berarti anak laki-laki.

“Loh..loh… look,” kata mereka mengeja kata yang berarti lihat! Ibu guru tersenyum pada mereka setiap mereka berhasil membaca sebuah kata dengan benar. Tapi ketika Tricia membuka lembar halaman buku, yang dilihatnya kanya bentuk-bentuk yang tidak beraturan.  Dan ketika dia mencoba membunyikan kata-kata, anak-anak lain menertawainya. 

“Tricia emangnya apa yang kamu lihat di dalam buku itu?” kata mereka.
“Saya sedang membaca,” katanya.

Tapi gurunya langsung beralih ke siswa berikutnya. Setiap kalitiba waktunya Tricia untuk membaca, ibu guru selalu perlu membantunya untuk mengucapkan setiap kata. Dan ketika siswa lainnya mulai membaca buku wajib kedua dan ketiga, Tricia masih saja membaca  “Lingkungan Tetanggamu”.  Tricia mulai merasa berbeda. Dia mulai merasa bodoh.

Setiap kali dia merasa bahwa membaca sulit, semakin sering dia menghabiskan waktu untuk menggambar. Oh betapa senangnya dia membaca. Atau sekadar duduk-duduk dan berkhayal. Atau kalau lagi bisa, dia senang berjalan-jalan bersama neneknya. Suatu malam di musim panas Tricia dan neneknya berjalan-jalan di hutan yang tak jauh di balik peternakan. Waktu itu sedang bulan purnama. Udara seperti berbau manis dan hangat. Kunang-kunang baru saja keluar dari balik rerumputan. Sambil berjalan Triciabertanya,

“Nenek, apa menurut Nenek saya berbeda?”
“Tentu saja!” jawab neneknya, “Menjadi berbeda adalah bagian dari keajaiban kehidupan.

Bisakah kamu lihat kunang-kunang kecil itu. Bahkan setiap kunang-kunang pun berbeda satu sama lain. Tak ada yang sama.”

“Apakah menurut Nenek saya pandai?” Tricia tidak merasa pandai.

Neneknya merangkulnya, “Kamu adalah gadis paling pandai, tangkas, dan paling manis yang pernah ada.”

Tricia merasa aman di dalam pelukan neneknya. Saat itu perasaannya mengenai membaca, tak terlalu menggelisahkannya. Neneknya biasanya berkata bahwa bintang-bintang bagaikan lubang-lubang di langit. Surga berada nun jauh di atas sana. Dia pernah berkata bahwa suatu hari dia akan berada di sana. Di mana cahaya-cahaya berasal. Suatu hari mereka berbaring di atas rerumputan dan mencoba menghitung jumlah bintang di langit.

“Kamu tahu?” katau nenek, “Semua orang akan pergi ke sana, suatu hari nanti. Ayo pegang erat-erat rerumputan kalau tidak nanti kita terbang dan sampai ke sana.”
Mereka tertawa bersama-sama dan keduanya memegang rerumputan. Tapi, tak lama setelahnya nenek tak lagi bisa memegang rerumputan karena dia pergi ke tempat cahaya itu berasal. Di sisi lain dunia ini. Tak lama kemudian, kakek ikut pergi ke sana juga.
Sekarang, sekolah mulai terasa menyulitkan dan lebih menyulitkan lagi. Membaca serasa seperti penyiksaan alami. Ketika Sue Allen membaca lembar halaman bukunya, atau ketika Tommy membaca miliknya, mereka membacadengan begitu mudahnya sampai-sampai Tricia suka memandang kepala mereka untuk mecoba melihat apa yang terjadi di dalam kepala mereka. Yang terjadi di dalam kepala mereka, tidak terjadi di dalam kepala Tricia. Dan bilangan! Oh itu hal yang paling sulit untuk dibaca. Dia tidak pernah menjumlahkan bilangan apapun dengan benar.

“Urutkan bilangan-bilangan tersebut sebelum menjumlahkannya,” kata ibu guru.
Tapi ketika Tricia mencobanya, bilangan-bilangan itu tampak seperti balok-balok yang bergoyang-goyang dan siap untuk jatuh. Dia tahu dia bodoh.

Suatu hari, ibunya mengumumkan bahwa dia memperoleh pekerjaan mengajar di California, jauh dari tempat tinggalnya sekarang di Michigan. Meskipun nenek dan kakeknya sudah tiada, Tricia tidak ingin pindah ke tempat tinggal lain. Tapi mungkin nanti, guru-guru dan siswa-siswa di sekolah baru tidak akan tahu betapa bodohnya dia. Akhirnya dia, ibu, dan kakak laki-lakinya menyeberangi provinsi dengan mobil. Butuh 5 hari untuk sampai ke sana.

Tapi di sekolah baru, masalahnya sama saja. Ketika dia mencoba membaca dia kesulitan berhadapan dengan kata-kata. “Ceh.. ceh… ceh.. cat,” dia mencoba mengeja kata yang berarti kucing.

“Reh… reh.. ran,” dia mencoba mengeja kata yang berarti lari. Meskipun sudah kelas 3 SD, dia masih membaca seperti bayi. Dan setiap kali guru mengajukan pertanyaan, jawabannya selalu salah. Setiap waktu!

“Hei bodoh!” panggil seorang anak-anak di lapangan bermain, “Kenapa kamu sangat bodoh?”

Anak-anak lain berada tak jauh dengannya dan mereka tertawa. Tricia bisa merasakan air mata meleleh dari matanya. Betapa inginnya dia kembali ke peternakan nenek dan kakeknya di Michigan. Sekarang Tricia semakin malas pergi ke sekolah.
“Saya sakittenggorokkan,” katanya pada ibunya. “
Perut saya sakit,” katanya di lain waktu.

Dia semakin banyak menghabiskan waktu untuk menggambar dan menggambar lagi. Atau untuk berkhayal dan berkhayal lagi. Dia benci sekolah!

Lalu ketika mulai masuk kelas 5 ada guru baru. Namanya Pak Falker. Dia sangat tinggi dan gagah. Semua anak menyukainya. Dia memakai jas bergaris-garis dan celana abu-abu, sangat rapi.

Semua anak-anak yang biasanya merupakan kesayangan guru mengelilinginya. Stevie Joe, dan Alice Marie,  Davie, dan Michael Lee. Tapi sejak awal kedatangannya, Pak Falker tampak tidak membedakan murid-muridnya. Yang wajahnya menggemaskan ataupun paling pandai ataupun terbaik pada semua bidang, bagi Pak Falker sama saja.

Pak Falker akan berdiri di belakang Tricia setiap kali dia sedang menggambar, “Luar biasa! Sungguh luar biasa! Tahukah betapa berbakatnya kamu?”

Ketika Pak Falker berkata begitu, bahkan anak-anak yang biasa mengejek Tricia akan membalikkan badannya untuk melihat gambar-gambar Tricia. Namun, mereka tetap saja tertawa ketika Tricia memberikan jawaban-jawaban yang salah.

Tiba suatu hari di mana Tricia harus berdiri di depan kelas dan membaca. Hal yangsangat dibencinya. Di hadapannya ada lembar halaman dari buku berjudul “JAring-jaring Laba-laba MilikCharllote” dan huruf-hurufnya terlihat begitu acak.

Anak-anak yanglain mulai menertawakannya. Pak Falker yang sedang mengenakan sebuah jaket dan dasi kupu-kupu berkata, “Berhenti! Apakah kalian semua begitu sempurnanya sehingga melihat orang lain dan merendahkannya seperti itu!”

Itu hari terakhir ada yang menertawakannya atau menjadikannya bahan lelucon. Semuanya kecuali Erik. Sudah dua tahun dia duduk di belakang Tricia. Tapi tampaknya dia membenci Tricia. Tricia tidak tahu kenapa. Kadang dia menunggu Tricia di depan pintu kelas dan ketika Tricia lewat, dia menarik rambutnya. Dia menunggu Tricia di halaman sekolah dan memanggilnya, “Kodok.”

Tricia takut pergi ke mana-mana. Dia takur Erik akan berada di sana. Dia merasa sangat kesepian. Tricia hanya merasa bahagia ketika dia berada di dekat Pak Falker. Pak Falker mengizinkannya menghapus papan tulis, yang hanya boleh dilakukan oleh siswa-siswa yng berprilaku terbaik. Dia menepuk pundaknya setiap kali Tricia bisa melakukan sesuatu dengan benar. Dan dia terlihat tegas dan galak ketika ada anak-anak yang mengejeknya.

Tapi, semakin Pak Falker bersikap baik kepada Tricia, Erik akan memperlakukannya dengan semakin jahat.

Dia mengajak anak-anak yang lain untuk menungui Tricia di halaman sekolah, atau di kantin, atau di lorong dekat kamar mandi dan mengajak mereka untuk memanggil Tricia “bodoh!” atau “jelek”. Tricia mulai percaya apa yang dikatakan Erik.

Tricia mulai menemukan akal. Kalau dia bisa izin ke kamar mandi tepat sebelum waktu istirahat, dia punya waktu untuk bersembunyi di ruang di bawah tangga sehingga tidak perlu keluar ke tempat lain saat istirahat. Di tempat yang gelap itu dia merasa aman.

Sayangnya suatu hari saat istirahat, Erik mengikutinya ke tempat persembunyiannya. Dia menarik Tricia kea rah lorong dan menari-nari sambil mengejek, “Kamu sudah berubah menjadi tikus tanah yah? Si Bodoh! Si Bodoh! Si Bodoh!”

Tricia meringkuk seperti bola dan menangis. Tiba-tiba dia mendengar suara derap kaki. Itu Pak Falker! Dia meminta Erik pergi ke ruang kepala sekolah.

“Saya rasa, kamu tidak perlu khawatir pada anak laki-laki itu lagi,” katanya dengan lembut, “Memangnya tadi dia mengejekmu bagaimana?”
“Saya tidak tahu,” Tricia menggelengkan kepalanya.

Tricia percaya bahwa Pak Falker menyangka bahwa Tricia bisa membaca. Dia belajar untuk menghafalkan apa yang dibaca oleh teman di sebelahnya. Atau dia akan menunggu sampai Pak Falker mengucapkan sebuah kalimat dan dia akan mengulang apa yang dikatakan oleh Pak Falker.

“Bagus!” kata Pak Falker.

Suatu hari Pak Falker meminta Tricia untuk tetap tinggal di kelas untuk membantunya membersihkan papan tulis. Dia menyalakan musik dan membawa roti lapis untuk menemani saat mereka bekerja dan berbincang-bincang. Lalu dia berkata, “Ayo kita bermain! Saya akan meneriakkan sebuah huruf atau angka dan dengan spons basah yang kamu pegang, kamu akan menuliskannya di papan tulis.”

“A!” teriaknya. Tricia menulis A dengan air.
“8!” Tricia menulis angka 8 dengan air.
“14!” Tricia menulis angka 14 dengan air.
“3! D! M! Q!” teriak Pak Falker.

Dia meneriakan begitu banyak huruf dan angka. Lalu dia berjalan di belakangnya dan bersama-sama mereka menatap papan tulis. Papannya terlihat basah berantakan. Tricia tahu bahwa tidak satupun angka ataupun huruf tertulis sebagaimana mestinya. 

Tapi dia meraih Tricia dan berkata, “Aduh kasihan sekali kamu, Nak. Kamu merasa bodoh yah? Betapa sedihnya kamu harus merasa begitu kesepian dan begitu ketakutan.”

Tricia menangis.
“Tapi, Nak…. Tahukah kamu bahwa kamu tidak melihat angka maupun huruf sebagaimana orang lain melihatnya. Tapi kamu berhasil melewati sekolah sebegitu lamanya dan mengelabuhi begitu banyak guru-guru yang bagus,” dia tersenyum, “Itu membutuhkan kecerdasan dan keberanian yang sangat… sangat… besar.”

Pak Falker berdiri dan menyelesaikan membersihkan papan tulis, “Kita akan membuat perubahan, gadis kecil. Kamu akan bisa membaca. Saya berjanji.”

Setiap pulang sekolah, Tricia menghabiskan waktu bersama Pak Falker dan seorang guru lain. Namanya Ibu Placie, guru membaca. Mereka melakukan begitu banyak hal yang tidak dipahaminya. Pertama, Tricia diminta membuat lingkaran di pasir. Lalu, lingkaran besar menggunakan spons basah diatas papan tulis. Dari kiri ke kanan, dari kiri ke kanan.

Di waktu lain, kedua guru menampilkan huruf-huruf di layar. Dan Tricia mebunyikan huruf apa yang muncul dengan suara yang lantang. Di hari-hari yang lain dia diminta bekerja dengan balok-balok dari kayu dan membuat kata-kata dengan huruf yang tertulis pada balok. Huruf… huruf… huruf… Kata.. kata.. kata…. Selalu dilafalkan. Dan rasanya menyenangkan sekali!

Sekarang, Tricia sudah bisa membaca kata-kata tapi tetap saja belum bisa membaca kalimat secara utuh. Jauh di dalam lubuk hatinya yang terdalam, diatetap merasa bodoh. Suatu hari di musim semi, sekitar tiga atau empat bulan semenjak mereka memulai kegiatan belajartersebut, Pak Falker meletakkan buku di depan wajah Tricia. Tricia tidak pernah melihat buku itu sebelumnya. Pak Falker memilih sebuah paragraf yang berada di tengah halaman buku dan menunjuknya.

Seperti keajaiban, seperti ada cahaya yang masuk ke dalam kepalanya, kata-kata dan kalimat mulai bermakna. Sebuah pengalaman baru yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.

“Di… a  mengajak… me…re..ka…. ber..baris pergi ke….,” perlahan dia membaca sebuah kalimat. Lalu kalimat lain, dan kalimat lain, dan kalimat lain sampai akhirnya dia membaca sebuah paragraf.  Dan dia bisa memahami artinya. Tricia tidak sadar bahwa Pak Falker dan Ibu Placie meneteskan air mata haru.

Setelahnya Tricia berlari pulang secepat mungkin,membuka pintu depan rumah dan berlari ke ruang makan. Dia membuka lemari makanan dan mengambil sebuah toples berisi madu. Lalu dia pergi ke ruang tamu dan menemukan sebuah buku di atas lemari buku. Buku yang dulu pernah ditunjukkan kepadanya, oleh Kakek, beberapa tahun yang lalu. Dia menyendoki madu yang ada di atas sampul buku dan merasakan manisnya dan berkata pada dirinya sendiri, “Madu ini rasanya manis. Dan begitu pula rasanya ilmu pengetahuan. . Tapi untuk memperoleh ilmu pengetahuan itu kamu harus seperti lebah mencari madu. Kamu harus mengejarnya melalui halaman-halaman yang ada pada buku.”

 Lalu dia mendekap buku dan toples madu. Dia bisa berasakan air mata menetes di pipinya. Tapi ini bukan tetes air mata kesedihan melainkan kebahagian. Dia merasa sangat… sangat bahagia.  Tahun-tahun berikutnya dunia di gadis kecil adalah masa-masa menemukan hal-hal baru dan berpetualang. Saya tahu cerita itu benar. Karena gadis kecil itu adalah saya sendiri, “Patricia Pollaco”.

30 tahun berikutnya saya bertemu dengan Pak Falker disebuah acara pernikahan.  Sayamendekatinya dan memperkenalkan diri. Awalnya dia tampaknya lupa siapa saya. Lalu saya ceritakan betapa dia dulu telah mengubah hidup saya bertahun-tahun yang lalu. Dia memelukku dan menanyakan apa kegiatan saya sekarang.

“Pak Falker,” kata saya,”Yang saya lakukan sekarang adalah menulis buku untuk anak-anak. Terima kasih Pak Falker. Terima kasih.”


Diterjemahkan oleh: Dhitta Puti Sarsavati

1 comment:

Atjih kurniasih said...

makasih mba, kiriman tulisannnya, sambil baca ulang bayangan saya saat menonton tayangan film ini di twc3