Jul 2, 2012

Membaca "Sepatu Dahlan"


Seorang teman pernah mengatakan, manusia  punya kebebasan untuk memilih melakukan apapun yang dikehendaki, tetapi manusia tidak bisa memilih konsekuensinya. Apapun pilihan kita, kita harus siap menanggung konsekuensinya. Menurut saya, menyadari bahwa setiap hal yang kita lakukan pasti ada konsekuensinya, adalah bagian dari proses menjadi lebih dewasa

Buku “Sepatu Dahlan” karya Khrisna Pabicara bercerita tentang kisah seorang anak lulusan SD bernama Dahlan yang kemudian melalui begitu banyak peristiwa sehingga kemudian belajar menjadi lebih dewasa.
Pesan mengenai kesadaran akan suatu konsekuensi itu saya temui mulai bab pertama hingga bab-bab berikutnya. Dahlan lulus SD dengan nilai yang bervariasi. Meskipun ada tiga angka sembilan yakni untuk pelajaran Menulis, Gerak Badan, dan Menyanyi, tetapi ada dua angka merah  yaitu untuk pelajaran berhitung dan bahasa daerah. Mendapatkan nilai merah di rapor, pasti ada konsekuensinya. Meskipun siswa lain berbahagia telah lulus SD, perasaan Dahlan tidak begitu. Dahlan gelisah, takut tidak diperbolehkan melanjutkan sekolah oleh Bapaknya. Hal ini diungkapkan oleh Dahlan di dalam buku hariannya. Di sana tertulis, “Pak, Dahlan masih boleh sekolah kan?”

Dahlan  ternyata tetap boleh sekolah, tetapi ternyata bukan di SMP Magetan, sekolah impian Dahlan selama ini. Bapaknya hanya mengizinkan Dahlan masuk Tsanawiyah Takeran yang biayanya lebih ringan. Agar bapaknya mengizinkan agar Dahlan masuk SMP Magetan, Dahlan pernah mencoba membohongi bapaknya. Bapak sangat menghormati seorang Kyai bernama Kyai Mursyid. Dahlan ingin mengaku bermimpi bertemu Kyai Mursid dan dia menyarankan agar Dahlan bersekolah di SMP Magetan. Tenti saja. Mimpi tersebut tidak pernah benar-benar terjadi. Ini hanya akal-akalan Dahlan saja agar mendapatkan persetujuan bapaknya. Saat Dahlan mulai mencoba berbohong ternyata Bapaknya mempercayai setiap  kata-katanya. Berbohong hanya agar keinginan kita tercapai ternyata menyiksa. Dahlan mulai menyadari hal tersebut. Air matanya menetes sehingga akhirnya dia pun memutuskan untuk bersekolah di  Tsanawiyah Takeran. Apa gunanya mencapai keinginan ketika kita terus menerus diliputi rasa bersalah? Mendapatkan sesuatu dengan tidak baik, konsekuensinya adalah menanggung rasa bersalah. Dahlan belajar mengenai hal tersebut.

Suatu hari, Zain, adik Dahlan yang lebih kecil sedang kelaparan. Dahlan baru selesai mengambil kelapa. “Mas, bagi kelapa..” kata Zain.

Sepertinya karena malas, Dahlan menyuruhnya mengambil kelapa sendiri. Zain pun menurut. Dia berusaha memanjat pohon kelapa tetapi tubuhnya sedang lemas, tidak bertenaga. Dia pun terjatuh ke parit. Dahlan merasa sangat bersalah. Sikap egois ternyata ada konsekuensinya. Sikap seperti itu bisa menyebabkan seseorang terluka, mungkin memang bukan terluka secara fisik (seperti yang dialami Zain), tetapi bisa juga terluka secara psikis. Itu konsekuensi dari bersikap egois. Memang setiap hal ada konsekuensinya.

Buku “Sepatu Dahlan” menggambarkan petualangan Dahlan dari lulus SD hingga lulus Madrasah Alawiyah. Selama itu Dahlan punya satu cita-cita. Memiliki sepatu. Akhirnya, Dahlan memang memiliki sepatu, tetapi selama perjalanannya memperoleh sepatu, ada begitu banyak hal yang dilalui oleh Dahlan. Mulai dari ketahuan mencuri tebu sehingga dikejar-kejar pedagang ladang tebu, ditegur saudagar buah karena Dahlan (tidak sengaja) merusakkan sepeda temannya, sampai nyaris kehilangan persahabatan. Di setiap kejadian tersebut, Dahlan belajar bahwa apapun yang dia lakukan pasti ada konsekuensinya. Kalau melakukan hal buruk, pasti konsekuensinya sesuatu yang tidak mengenakkan mulai dari merasa bersalah, ada kejadian yang tidak mengenakkan, dan sebagainya.

Di sisi lain, Dahlan juga belajar bahwa saat melakukan hal yang baik juga akan ada hal yang bisa dipetik, meskipun tidak selalu seketika. Kesungguhan Dahlan saat bermain dalam pertandingan voli antar sekolah membukakan kesempatan baginya untuk bekerja sebagai pelatih voli. Penghasilannya dari sana membantunya mengumpulkan uang untuk membeli sepatu.

Menjunjung tinggi persahabatan juga penting. Dahlan punya sahabat-sahabat bernama Arif, Imran, Maryati, Komariah, dan Kadir. Dipicu oleh suatu peristiwa sejarah pada tahun 60-an, yang berpengaruh pada aspek-aspek pribadi, seperti keluarga menyebabkan Arif dan Kadir pernah tidak mau saling bertegur sapa. Hal tersebut menyebabkan kakunya hubungan antara semua, baik Dahlan maupun Arif, Imran, Maryati, Komariah, dan Kadir. Dengan bantuan Bapaknya, Dahlan mencoba membantu mendamaikan keduanya. Bapak mengundang Arif, Imran, Maryati, Komariah ke rumah kemudian menceritakan sebuah kisah tentang “Perseteruan Murid Zen” mengenai peseteruan antara tiga orang sahabat, yang masing-masing merasa paling benar.  Kisah tersebut menyentuh hati remaja-remaja yang sedang dilanda krisis persahabatan tersebut sampai akhirnya mereka memutuskan untuk memperbaiki hubungan satu sama lain. Apa serunya melewati sisa masa sekolah dengan sikap dingin satu sama lain? Lebih baik memperkokoh persahabatan agar semua individu juga menjadi lebih kokoh. Persahabatan bisa menjadikan seseorang menjadi lebih kuat, karena seorang sahabat pasti akan mendukung kita di saat terberat. Masalah yang menyusahkan jadi lebih mudah dilalui. Hal tersebut tak akan bisa dilakukan sendiri.

Saat sebuah cita-cita sederhana, seprti memiliki sepatu, tercapai biasanya seseorang memiliki percaya diri untuk melangkah ke tahap selanjutnya, mungkin sebuah cita-cita yang lebih besar. Ini mengingatkan saya pada sebuah pepatah kuno Cina “A journey of a thousand miles begin with a small step” yang artinya sebuah perjalanan beribu mile dimulai dengan sebuah langkah kecil. Intinya sebuah pencapaian besar hanya bisa kita dapatkan setelah kita melakukan pencapaian-pencapaian kecil.

Meskipun begitu cita-cita sekecil apapun pasti ada konsekuensinya. Berani bercita-cita artinya juga harus berani untuk sabar, merasa kecewa, merasa seperti roller coaster karena banyak hal yang tidak akan terduga. Tapi kalau kita teguh hati dan pantang menyerah, satu langkah akan berhasil kita lewati. Dan langkah lain akan siap menanti. Berani? 

No comments: