Jan 16, 2011

Sekilas mengenai “Workshop Learning Society and Environment”

Saya kaget. Seorang guru protes karena kami tidak menyediakan semacam CD interaktif untuk belajar IPS saat workshop Learning Society and Environment (IGI), Sabtu 15 Januari 2011 lalu. Ia ingin ada pembelajaran ICT, games [komputer] mengenai pembelajaran IPS yang akan membuat kelas menjadi lebih menarik.

Rasanya gemas. Kalau saja saat itu saya tidak sedang sibuk mengurusi beberapa hal teknis terkait pelatihan (saat itu sedang sedikit hektik), ingin saya katakana bahwa tanpa ICT pun kita tetap bisa belajar IPS. Jikapun kita tetap ingin menggunakan ICT, ada berbagai cara yang bisa dilakukan, bukan hanya dengan menggunakan CD interaktif saja. Kita bisa melakukan eksplorasi dari berbagai kondisi (sosial) di sekitar kita lalu kita yang menjadi penyedia informasi, misalnya kita bisa men-upload hasil wawancara siswa kita dengan penduduk di sekitar sekolah, membuat peta wilayah desa / kota tempat kita tinggal dan membuat cerita mengenainya. Dan banyak hal lain. Padahal di awal acara, ibu Nina Feyruzi, sang trainer, sudah menekankan bahwa pembelajaran IPS sebenarnya bukan hanya mengenai berbagai fakta yang ada di buku, tetapi juga mengenai bagaimana mempelajari kehidupan masyarakat (society) dan ini dilakukan dengan interaksi, dialog, eksplorasi, dan sebagainya.

Sebenarnya hari itu kami belajar banyak sekali. Kami menonton beberapa cuplikan film Global Lives Project di mana kami belajar mengenai kehidupan seorang buruh tani di Garut, kami juga belajar bagaimana orang yang memiliki kebutuhan khusus diperlakukan di Jepang, mengenai kehidupan seorang anak di pemukiman di Serbia, dan mengenai bagaimana kehidupan masyarakat di Malawi.

Kami juga belajar cara membuat timeline untuk pembelajaran sejarah. Kami mengaitkannya dengan kehidupan kami masing-masing. Ini contoh timeline yang dibuat seorang guru saat pelatihan :

(Minggu, 22/2/1996) Lahir; saat itu Timor-Timur masih terintegrasi dengan Indonesia à (1994 – 1999) Masuk kuliah; kebebasan pers tidak ada; Marsinah, seorang buruh meninggal; seorang wartawan di Jogja meninggal karena pemberitaannya; Soeharto lengser di tahun 1998 à (2003) Mendirikan bimbingan belajar; perang Irak à (2009) menjadi guru SD; Timor Timur lepas à (2010 – sekarang) Gunung Merapi meletus; Indonesia kalah dari Malaysia di Piala AFF.

Bu Nina mengatakan bahwa sejarah bukan hanya belajar mengenai apa yang terjadi di tingkat negara maupun global, tetapi juga di lingkungan terdekat kita, di level lokal, dan juga sejarah diri. “Untuk memahami sejarah orang lain, pertama-tama kita harus mengenal sejarah diri kita terlebih dulu,” katanya.

Bu Nina mengingatkan bahwa sejarah, bukan hanya belajar mengenai tanggal-tanggal seperti halnya bertanya “G30SPKI itu terhadi tanggal berapa?” tetapi juga pertanyaan-pertanyaan lainnya seperti ‘Kenapa itu terjadi?’, ‘Apa yang mempengaruhi terjadinya kejadian itu?’, ‘Bagaimana kondisi di masa itu?’, dan sebagainya.

Saya menyadari, setiap kali Bu Nina menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya filosofis seperti kenapa dan mengapa, ruangan cukup hening, hanya beberapa yang berani mengungkapkan pendapatnya. Sampai-sampai ada yang menyeletuk, “Tapi itu gak pernah keluar di ujian Bu!”

Bu Nina sedikit menerangkan bahwa saat kita, guru, merancang assessment untuk menilai siswa seperti saat merancang ulangan harian untuk pelajaran IPS guru-guru sebaiknya menggunakan open questions.Pertanyaan-pertanyaan terbuka. Katanya, “Gunakan pertanyaan-pertanyaan seperti, apa pendapatmu mengenai….?”

Kami juga belajar mengenai hukum permintaan dan penawaran (ekonomi) dengan melakukan simulasi tawar menawar. ½ dari peserta diajak menjadi penjual, mereka bebas menentukan harga (tertinggi) dan ½ dari pembeli bebas menentukan harga (terendah). Pembeli dan penjual melakukan tawar menawar.

Kami juga belajar cara merancang pulau sendiri. Kami harus menentukan pulau tersebut berada di busur berapa dan lintang berapa. Dengan begitu kami harus memikirkan apa sih kondisi geografi di daerah tersebut, berapa suhunya, apa pengaruhnya ke kehidupan masyarakat di daerah tersebut, bagaimana budayanya. Kami belajar bahwa kehidupan masyarakat di sesuatu daerah juga di pengaruhi oleh lingkungannya. Selain itu, kami bebas berkreasi membuat pulau sendiri tetapi didukung dengan pengetahuan yang kita miliki mengenai geografi.

Karena waktu kurang, kami tidak sempat mempelajari simulasi mengenai perjanjian bilateral antar negara, yang konon katanya merupakan permainan yang santa seru.

Hari itu kami belajar banyak sekali, mengenai bagaimana menggunakan tool-tool sederhana yang mungkin telah lama kita kenal seperti atlas sekolah yang bertumpuk di perpustakaan sekolah, kertas HVS dan karton, spidol, pensil, dank rayon warna-warni. Semuanya sederhana, murah, dan mudah di dapat. Meskipun begitu, dengan kesederhanaan itu, kami tetap belajar bagaimana menggunakannya secara maksimal di kelas. Dengan alat-alat sederhana, bila digunakan dengan benar, kita bisa membuat kelas menjadi ramai akan diskusi, siswa tersenyum riang karena belajar secara aktif, dan kreativitas terasah karena mengolah bebagai pengetahuan lama menjadi hal baru. Terima kasih Ibu Nina Feyruzi, trainer kreatif kita karena ingin berbagi.

TERIMA KASIH

Terima kasih untuk Bapak Suparjan dari SMP-IT Al-Fidaa, seorang anggota IGI yang begitu bersemangat untuk mendukung kegiatan ini. Terima kasih kepada bapak Arif Rusnan, kepala sekolah SMP-IT Al-Fidaa yang bersedia menyediakan aulanya untuk kegiatan kami. Terima kasih sebesar-besarnya kepada kepala yayasan Al-Fidaa, guru-guru Al-Fidaa, dan office boy di Al-Fidaa yang membantu kami menyiapkan ruangan dan dekorasi, mengurus pendaftaram, menyiapkan snack, makan siang, dan berbenah.

Terima kasih kepada dinas pendidikan kabupaten Bekasi yang turut memeriahkan acara ini dengan sambutannya.

Terima kasih kepada dua trainer kita Nina Feyruzi dan Khairani Barokka(Global Lives Project) yang bersedia sharing di kegiatan hari ini. Materi hari ini mengesankan sekali.

Terima kasih kepada teman-teman dari IGI yang berada di Bekasi, Pak Dali dan kawan-kawan yang akan menyiapkan launcing IGI Bekasi. Terima kasih atas presentasinya mengenai IGI. Semoga kita tetap bersemangat dalam berkolaborasi demi meningkatkan mutu guru di Indonesia.

Terima kasih untuk IGI Jawa Barat dan IGI Pusat yang turut mendukung terselenggaranya acara ini.

Last but not least,terima kasih untuk guru-guru yang telah bersedia hadir dan berpartisipasi dalam kegiatan “Workshop Learning Society and Environment” pada Sabtu, 15 Januari 2011. Semoga materi di workshop ini bermanfaat dan dapat diterapkan di kelas masing-masing, secara kreatif, agar pembelajaran di kelas makin menyenangkan. Salam sharing and growing together!

1 comment:

Moko said...

Puti, kalo ada seminar/workshop yg berkaitan dengan ICT buat pembelajaran, ajak2 ya.

btw, blog gue sudah pindah lho ;)