Jun 17, 2014

Membaca kisah David Boies & Bagaimana Dislexia Membantunya menjadi Pengacara

Salah satu jurusan yang konon katanya butuh kemampuan membaca yang tinggi adalah jurusan hukum. Mau jadi pengacara? Tentu harus banyak membaca. Tapi bagaimana kalau seseorang yang dislexia ingin belajar hukum? Tentunya akan sulit sekali karena untuk membaca mereka harus berusaha dengan sangat keras. Sebelumnya, saya tidak pernah membayangkan bahwa seseorang yang punya dislexia bisa menjadi pengacara sampai akhirnya saya membaca buku "David & Goliath" karya Malcom Gladwell (2013).


Di dalam buku tersebut ada kisah tentang seseorang bernama David Boies, seorang pengacara yang punya dislexia. Perkembangan kemampuan membacanya cukup lambat dibandungkan teman-temannya. David Boies baru bisa membaca saat di di kelas 3 SD. Namun, untungnya, Ibunya Boies yang juga seorang guru sekolah negeri, seringkali membacakannya buku kepadanya semenjak dia kecil. Karena Boies tidak bisa memahami tulisan-tulisan dalam bacaan tersebut, dia akan mengingat-ingat apapun yang dibacakan ibunya. Kemampuannya mengingat apa yang dibicarakan orang lain tinggi sekali.

Nilai David Boies di selama sekolah, khususnya SMA, tak pernah baik. Ambisinya juga tidak tinggi. Dia sempat bekerja sebagai seorang tukang bangunan. Setelah menikah, istrinya mendorongnya untuk kuliah. Karena tertarik pada bidang hukum, akhirnya dia memilih jurusan hukum.

Kuliah di jurusan hukum berarti ada banyak bacaan yang harus dilahap. Karena  kemampuan membacanya Boies sangat lemah, dia mencoba mengakali kelemahannya dengan membaca ringkasan dari kasus-kasus hukum. Kalau membaca catatan kasus, tulisannya pasti panjang sekali. Cara yang dipilih Boies tidak umum, tapi baginya itu sangat membantu. Kata Boies, "People might tell you that's an undesirable way to do law school, but it was functional."

Meski Boies punya dislexia, dia punya kelebihan. Kemampuannya mendengar dan mengingat sangat baik. Itu caranya belajar sejak dulu. Kebiasaannya mendengarkan dan menghafalkan bacaan yang dibacakan ibunya telah ternyata melatihnya menjadi pendengar yang baik. Itu satu-satunya cara dia bisa belajar dengan baik. Kata Boies, "Listening is something I've been doing essentially all my life. I learned to do it because that was the only way I could learn. I remember what people say. I remember the words they use."

Menurut Boies, kalau dia punya kemampuan membaca yang baik, pasti akan lebih mudah baginya  untuk belajar hukum. Tapi dia.merasa bahwa justru beruntung karena memiliki  dislexia. Kata Boies, "... Not being able to read a lot and learning by listening and asking questions means that I need to simplify issues to their basics. And that is very powerful, because in trial cases, judges and jurors - neither of them have the time or ability to become an expert in the subject. One of my strengths is presenting a case that they can understand."


Kemampuannya mendengarkan dengan seksama mengajarkannya untuk fokus pada hal-hal yang  esensial. Kasus-kasus yang sulit mampu dirangkumnya dengan bahasa yang lebih sederhana dan mudah dipahami. Itu kekuatannya dan kekuatannya justru berasal karena dia memiliki dislexia. 

1 comment:

uniench said...

terima kasih, ulasannya Ditta :) beberapa waktu lalu sempet mau baca buku tsb. Namun topik merancau fokus bacaanku beberapa bulan itu. wlpn saya tertarik shg buku dg judul yang sama sempat saya beli.

suatu waktu, aku mau ngasih kado buat teman tersayang. Kebetulan kami sering curhat dan setelah beberapa halaman saya baca sekilas, buku ini saya berikan padanya. Saya tidak menyesal memberikan hadiah tersebut. hadiah yg tepat diwaktu yang sesuai :)