May 15, 2012

Assessment Overview: Beyond Standardized Testing




Bagaimana kita bisa mengukur hasil pemelajaran siswa? : Berbagai Bentuk Assessment
OLEH  EDUTOPIA STAFF
(Diterjemahkan oleh Dhitta Puti Sarasvati dari  http://www.edutopia.org/comprehensive-assessment-introduction  )

Ada lebih dari satu cara untuk mengukur kemampuan siswa
Assessment adalah jantung dari pendidikan : Guru dan orang tua menggunakan nilai ujian untuk menentukan kelebihan dan kekurangan akademik siswa, berbagai komunitas tergantung dari nilai-nilai ini untuk menilai kualitas dari sistem edukasi mereka, dan pembuat kebijakan menggunakan pengukuran yang sama untuk menentukan apakah sekolah-sekolah publik telah memenuhi standar yang ditetapkan.


VIDEO : Assessment Overview : Beyond Standardized Testinghttp://www.youtube.com/watch?v=bImoHlQ-r-0
Ujian membentuk fondasi untuk assessment pendidikan dan merepresentasikan komitmen kepada standar akademis yang tinggi serta akuntabilitas sekolah. Anda tidak bisa tahu kemana Anda menuju kalau Anda tidak tahu di mana Anda berada. Akan tetapi, jika pertaruhan secara finansial dan prestise dihubungkan dengan standardized tests yang tidak sebanding tingginya, tujuan mulia ini akan menyimpang. Guru mulai mengajar untuk ujian (teaching to the test) hanya untuk meningkatkan nilai, biasanya dengan cara mengabaikan kegiatan-kegiatan pembelajaran yang bermakna. Dan ketika ujian terlalu menguji pemahaman secara sempit atau tidak sesuai standar yang ingin dicapai, ujian-ujian ini sebenarnya hanya memberikan informasi (konkrit) yang terlalu sedikit yang bisa digunakan oleh guru dan sekolah untuk meningkatkan proses mengajar dan belajar setiap siswa. 

Assessment Abad ke-21

Tuntutan dunia masa kini menuntut siswa untuk mempelajari berbagai keterampilan. Sistem ekonomi yang berbasis pada pengetahuan dan teknologi tingkat tinggi menuntut siswa untuk menguasai kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher-order thinking skills) dan mereka juga harus mampu berpikir secara relasional, di mana mereka bisa mengaitkan konsep satu dan konsep berbeda lainnya.
 
Kemampuan-kemampuan ini –-mengingat (recall) , menganalisis, membandingkan (comparison), melakukan pertimbangan secara logis ( inference), dan mengevaluasi-– akan menjadi keterampilan seorang warga abad ke-21 yang literate. Dan keterampilan-keterampilan ini tidak terukur dengan ujian high-stakes yang sekarang. 

Sebagai tambahan, keterampilan seperti kerja sama, kolaborasi, dan pembangunan karakter moral -- yang tidak diukur dalam standardized test biasanya -– sangat penting. Pekerjaan selalu mencari pegawai yang bisa berhubungan baik dengan orang lain dan bisa bekerja sama dengan sesama rekannya. 

Berbagai bentuk Assessment

Kita tahu bahwa ujian tipe pilihan ganda dan jawaban singkat bukanlah satu-satunya cara, serta bukanlah cara terbaik, untuk menentukan pemahaman dan keterampilan siswa. Banyak negara bagian (di Amerka Serikat) yang menerapkan performance-based assessments (seperti projek, dll) di dalam ujian-ujian terstandar mereka atau menambahkan cara assessment lainnya seperti menggunakan portfolio siswa dan presentasi sebagai cara lain untuk mengukur pemahaman siswa. 

Berbagai bentuk assessment ini menuntut siswa untuk mengaplikasikan apa yang mereka pelajari di dalam dunia nyata (real world tasks). Assessment-assessment ini termasuk projek (standards-based projects) dan tugas-tugas yang menuntut siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan mereka, misalnya dengan mendesain sebuah gedung, menginvestigasi kualitas air di sebuah kolam; menggunakan rubrik yang didefinisikan dengan jelas (memiliki kriteria yang jelas) untuk bisa memfasilitasi pengevaluasian siswa secara adil dan konsisten; dan memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar dari umpan balik (feed back) yang diberikan oleh guru-guru, teman-temannya, maupun para ahli dari luar sekolah. 

Dengan assessment summatif dan formatif ini maka memungkinkan siswa untuk memperoleh umpan balik segera. Selain itu, guru dimungkinkan untuk memberikan intervensi, mengganti strategi ketika terlihat bahwa sebuah model pembelajaran tidak berhasil atau untuk menawarkan tantangan-tantangan baru untuk siswa yang sudah menguasai sebuah konsep atau keterampilan.

No comments: