Apr 21, 2011

Rumus Cepat yang Membuat Gemas

Ada kalanya saya tidak sabar dalam mengajar. Menghadapi anak-anak SMP yang misalnya masih bingung menghitung 1/2 dibagi dua, bagiku masih wajar. Kasus sejenis sering sekali saya temui. Bahkan saat saya mentraining beberapa guru SD, ada juga yang tidak mengerti beberapa konsep dasar matematika seperti perbanding (rasio), tidak tahu bahwa volume suatu benda, selain dengan rumus bisa diketahui dengan cara lain (misalnya mencemplungkan benda ke dalam sebua wadah berisi cairan), dan bahkan terpana melihat bahwa 1/2 memang kalau digambar sama dengan 2/4 dan akan sama dengan 3/6, dan seterusnya.

Menghadapi pembelajar yang belum mengerti suatu konsep, tentu sang pengajar harus sabar. Saya selalu berusaha agar senantiasa sabar dalam hal ini. Meskipun begitu, tidak selalu berhasil, tampaknya saya harus belajar lagi. ;) Ada hal yanhg selalu membuat saya gemas, atau sedikit tidak sabar, yakni ketika si pembelajar terlampau sering meminta rumus cepat.

Seorang murid privat saya tidak punya masalah saat melakukan kalkulasi. Dengan mudahnya dia melakukan operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Tetapi menurut saya, dia sering sekali minta diberitahu rumus cepat dan kadang asal memasukkan angka ke rumus saja

Misalnya, ketika ada pola seperti ini :

oo

ooo
ooo

oooo
oooo
oooo

ooooo
ooooo
ooooo
ooooo

Saay ditanyakan berapakah besar suku ke-20

Murid saya tiba-tiba langsunng menggunakan rumus deret artitmatika untuk menghitungnya :

Un = a + (n-1)b
Un = suku ke-n
a = suku pertama
n = jumlah suku
b = selisih antar suku

Murid saya langsung menghitung b sebagau U2 - U1 tanpa melihat pola sama sekali.

Padahal pola di atas bukan deret aritmatika.
Polanya adalah 1 x 2, 2 x 3, 3 x 4, 4 x 5, dan seterusnya.

Ini berarti untuk menghitung suku ke- 20 cukup melakukan 20 x 21.

Setiap menghadapi soal matematika, murid saya sering bertanya, "Ada rumus cepatnya"?

"Masa gak ada rumus cepatnya? Kata guru di sekolah ada."

Saya terbengong-bengong dibuatnya karena jadinya saya yang sering diajari rumus cepat oleh murid saya. Maklum saya memang tidak membiasakan diri menggunakan rumus cepat.

Seringkali saya mengatakan, "Saya tidak akan memberikanmu rumus cepat, kalau kamu menemukan sendiri rumusnya, itu soal lain."

Saking terbiasanya memasukkan angka ke dalam rumus, bahkan ketika dihadapkan pada soal 1/2 bagi dua, tiba-tiba murid saya bilang, "Saya lupa rumusnya." 1/2 : 2 itu 1/2 x 1/2 atau 1/2 x 2/1".

Saya mengambil sebuah kertas, saya melipatnya menjadi dua. Nah, "Masing masing ini nilainya berapa?" Tanya saya sambil menunjukkan lipatan kertas yang nilainya 1/2. "Kalau saya bagi dua lagi, berapa nilainya?"

"Oh 1/4," kata murid saya, "artinya 1/2 : 2 =1/2 x 1/2"

Murid saya yang satu ini seringkali melakukan kesalahan karena memasukkan angka ke dalam sebuah rumus tanpa mengetahui asal usulnya dari mana. Padahal kapasitas otaknya sebenarnya cukup baik, kalau diajak berdialog atau tanya jawab secara lisan, logikanya berjalan dengan baik. Tetapi melihatnya membiasakan diri dengan rumus cepat benar-benar membuat saya gemas. Sayang sekali, memasukkan angka ke dalam rumus-rumus atau formula tanpa tahu sebabnya. That's not mathematics at all. Ada sedikit rasa sedih di hati saya. Mungkin memang ada yang perlu dibenahi dari pendidikan kita, termasuk dalam pelajaran matematika.

No comments: