Posts

Menulis Tentang Bullying dan Menulis untuk Terapi

Sekelompok teman-teman saya sedang membuat kajian komprehensif mengenai bullying di sekolah. Mulai dari teori-teori mengenai bullying, studi komparasi mengenai bullying di negara-negara lain, studi tentang korban-korban yang pernah dibully , studi tentang orang-orang tua yang anaknya di- bully, studi tentang best practices dalam menghadapi bullying, dan sebagainya. Pokoknya lengkap deh dari teori, bukti riil di lapangan, sampai ke solusi. Konteksnya khusus. Konteks di Indonesia. Salah satu seorang teman yang terlibat di dalam penyusunan buku ini waktu itu meminta saya mencarikan beberapa korban bully yang bersedia berbagi ceritanya untuk studi ini. Saya mengatakan bahwa saya juga merupakan korban bullying. "Kalau begitu, kamu ikut cerita saja. Ceritakan bagaimana kamu bertahan, dan sekarang kamu sudah jadi pendidik jadi bagaimana kamu memandang itu," katanya pada saya. Saya tidak pernah menceritakan dengan detil mengenai pengalaman saya kepada siapapun. Tapi saya menyan...

PPDB di Kota Bandung dan Pendidikan Komprehensif untuk Semua

Rabu (08/07/2015) puluhan orang tua mendatangi Balai Kota Bandung (Kompas.Com, 08/07/2015). Orang tua-orang tua ini merasa sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) ngaco. Tahun ini, PPDB Kota Bandung memang agak berbeda dari sebelumnya. Kalau biasanya PPDB untuk masuk sekolah negeri (khususnya di tingkat SMP dan SMA) biasanya lebih ditentukan oleh prestasi akademis siswa. Kali ini, justru siswa (miskin) yang tinggal di sekitar lokasi sekolah lebih diutamakan untuk masuk sekolah negeri. Siswa ini bisa masuk ke sekolah negeri tanpa mempertimbangkan prestasi akademik mereka. Apabila program ini dijalankan dengan baik, lebih dari 20% siswa miskin bisa masuk ke sekolah negeri terlepas dari apapun perstasi akademik mereka. Beberapa orang tua merasa bahwa sistem ini tidak adil. Mereka merasa bahwa anaknya “pintar” tapi justru tidak diterima di sekolah negeri. Menurut mereka tak ada salahnya menerima siswa miskin di sekolah negeri, tapi yang harus diutamakan adalah siswa miskin yang...

Wajib Belajar 12 Tahun, Hak Akan Pendidikan, dan Sekolah Komprehensif

 Semenjak tahun 1994, Indonesia menerapkan Wajib Belajar (Wajar) 9 tahun. Namun, akan terjadi perubahan dalam waktu dekat. ‘Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan memulai rintisan Wajib Belajar atau Wajar 12 tahun pada 2016’ (ANTARA News, 23/06/2015)[1]. Wajar adalah ‘program pendidikan minimal yang harus diikuti oleh warga negara Indonesia atas tanggung jawab pemerintah dan pemerintah daerah’ (Peraturan Pemerintah No 47 Tahun 2008).  Ketika Pemerintah Indonesia berani menyelenggarakan Wajar, maka pemerintah harus berkomitmen untuk menyediakan layanan pendidikan yang memadai sehingga memungkinkan semua warga negara bisa mengakses pendidikan yang disyaratkan dalam program Wajar. Sebagai contoh, apabila pemerintah menerapkan Wajar 9 tahun yang mewajibkan siswa mengikuti pendidikan dari kelas 1 SD sampai kelas 9 SMP maka pemerintah wajib menyediakan layanan pendidikan khususnya pendidikan setingkat SD sampai SMP. Layanan pendidikan ini harus bisa diakses secara mudah o...

Ngobrol (Lagi) dengan Kang Dan Satriana

Sudah lama saya tidak ketemu dengan Kang Dan Satriana. Dua minggu lalu saya sempat menghubungi beliau, "Kang bakal ada orang di Kalyanamandira gak hari Minggu? Saya mau main ke sana". Kalyanamandira adalah salah satu komunitas tempat Kang Dan berkegiatan. Kalau mau tahu lebih lanjut tentang komunitas ini, silakan lihat --> https://kalyanamandira.wordpress.com/  Lokasinya di Buah Batu, Bandung. Waktu mahasiswa dan bahkan sampai sekarang, saya sesekali mampir ke sana untuk ngobrol dengan teman-teman Kalyanamandira.  Akhir pekan kemarin, saat saya ke Bandung. Saya pun menghubungi Kang Dan lagi. Kang Dan mengatakan bahwa beliau habis bersepeda di daerah Dago dan mengajak ketemuan di suatu kedai kopi di Jalan Hasanudin. Akhirnya, bisa juga bertemu dengan Kang Dan. Mbak Danti , yang rumahnya saya tumpangi selama di Bandung pun ikut serta. Jadilah, kami ngobrol bertiga. Rasanya senang sekali bertemu dengan teman lama seperti Kang Dan. Saya mengenal Kang Dan sej...

Refleksi tentang Pendidikan Sebagai Hak

Image
Setiap Senin pagi, tukang koran akan mengantarkan koran Media Indonesia ke depan pintu tempat tinggalku. Setiap Senin, di Media Indonesia ada satu halaman penuh yang berisi opini tentang Pendidikan. Pagi ini,  ketika saya membuka koran Media Indonesia, saya menemukan berita ini : Berita lengkapnya bisa dibaca di -->  http://www.mediaindonesia.com/mipagi/read/11494/Ujian-SD-Syarat-Masuk-SMP/2015/05/18 Berita ini menyiratkan bahwa ujian nasional (atau ujian sejenisnya) tetap penting meskipun bukan sebagai penentu kelulusan. Kalau hasil ujian SD seorang siswa baik, maka mereka berhak masuk ke sekolah-sekolah tertentu. Pilihan mereka dalam memilih jenis pendidikan lebih luas daripada siswa yang nilai ujian sekolahnya rendah. Kalau hasil ujian SD seorang siswa kurang baik, maka mereka hanya punya pilihan sedikit dalam menentukan ke mana mereka mau melanjutkan pendidikan. Apabila pelaku pendidikan mempercayai sistem yang semacam ini, artinya mereka belum memandang bahwa pe...

Klub Bahasa Inggris Rumah Mentari, Proses Belajar di Hari Sabtu, 16 Mei 2015

Image
Hari itu, Sabtu 16 Mei 2015 klub bahasa Inggris belajar bahasa Inggris menggunakan kisah "The Little Mouse, The Red Ripe Strawberry, and The Big Hungry Bear" . Kenapa buku tersebut yang dipilih? Tidak ada alasan khusus selain bahwa buku tersebut tersedia di perpustakaan Rumah Mentari. Hanya  memanfaatkan apa yang sudah ada. Buku tersebut sebenarnya buku anak-anak yang tipis. Kosa katanya sederhana, dan tingkat kesulitannya tidak terlalu tinggi. Sebenarnya, anak-anak klub bahasa Inggris Rumah Mentari, yang sekarang lebih banyak siswa SMP dan SMA sudah pernah membahas bacaan yang tingkat kesulitannya lebih tinggi daripada  "The Little Mouse, The Red Ripe Strawberry, and The Big Hungry Bear". Buku terakhir yang kita bahas bersama adalah The Little Prince karya Antoine de-Saint Exupery. Kak Arfah (yang kini baru saja pindah ke Balikpapan) yang mengenalkan buku tersebut pada anak-anak klub Bahasa Inggris Rumah Mentari. Kak Arfah biasanya memfotokopi bab b...

Menonton Film "Detachment"

Image
Semalam saya diajak nonton film " Detachment ". Katanya, film itu tentang guru. Awalnya, saya ragu untuk menonton. Judul filmnya saja " Detachment " yang artinya ketidakterikatan. Dari judulnya, saya punya perasaan bahwa film tersebut akan menyedihkan. Perasaan saya benar.  Film tersebut ternyata suram. Namun, ternyata saya suka filmnya karena cerita tentang guru dan kelas.  Itu tema favorit saya.  Trailer filmnya bisa dilihat di : Pak Henry adalah seorang substitute teacher (guru pengganti). Artinya, dia tidak pernah menetap di sebuah sekolah. Apabila ada sebuah sekolah yang kekurangan guru, dia akan diminta mengajar di sekoalah tersebut sampai ada guru tetap. Setelahnya, dia akan berpindah ke sekolah lain yang membutuhkan guru pengganti lagi. Begitu terus. Pak Henry tidak pernah menjadi guru tetap.  Waktu menonton film " Detachment" , saya teringat pada film " Entre Les Murs (The Class )", sebuah film Prancis yang dikeluarkan t...