Aug 2, 2018

Cerita Persiapan Lokakarya untuk Guru di SMKN 11

Saya masih berada di Biaro, menjenguk Ibu Mertua saat libur lebaran ketika saya memperoleh telepon dari Pak Bagiono. Pak Bagiono, adalah salah satu orang yang sangat saya hormati.  Dulu sempat jadi pembina Ikatan Guru Indonesia (IGI), Atase Pendidikan Kebudayaan Indonesia di Prancis, dan termasuk salah satu orang yang ikut mengembangkan banyak Sekolah Menengah Kejuran (SMK) di Indonesia. Waktu saya baru ke Indonesia setelah studi S2, Pak Bagionolah yang menawarkan saya untuk mengajar bahasa Inggris di sebuah Akademi Farmasi di daerah Fatmawati. Meski suka mengajar dan bisa berbahasa Inggris, saya tidak tahu caranya mengajar bahasa Inggris, apalagi untuk calon apoteker. Saat itu saya lebih nyaman mengajar Fisika atau Matematika.  Pak Bagiono memberikan saya tips-tips untuk mengajak mahasiswa mengenal kalimat-kalimat yang umum digunakan dalam berkomunikasi (secara lisan) dan melakukan banyak dialog di dalam kelas. Saya pun menjalankan tipsnya, dan lumayan  berhasil. Di usianya yang 80-an tahun ini, Pak Bagiono masih produktif. Beliau masih aktif membimbing beberapa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) untuk bisa lebih maju, dan bahkan sedang kuliah lagi di Universitas Sahid.

Ditelepon Pak Bagiono di masa-masa libur Lebaran, saya jadi malu. Seharusnya saya yang menelepon untuk mengucapkan Selamat Idul Fitri dan Mohon Maaf Lahir Batin duluan. Ternyata, selain mengucapkan Selamat Idul Fitri, Pak Bagiono punya hal lain yang perlu dibicarakan. Beliau mau mengajak saya mengisi lokakarya di SMKN 11, Jakarta. Katanya untuk menyemangati guru-guru yang ada di sana. Sayangnya tanggal lokakarya bertabrakan dengan jadwal lain, yakni ketika saya ada kegiatan di kampus tempat saya mengajar. Untungnya, beberapa hari kemudian saya memperoleh kabar bahwa tanggal lokakarya diundur,  yakni diadakan pada Jumat, 20 Juli 2018. Hari itu saya memperoleh izin cuti dari atasan. Cuti tersebut bisa saya gunakan untuk memberikan lokakarya di SMKN 11. Yey!


Persiapan Lokakarya Tahap Pertama
Persiapan Lokakarya di SMKN 11 bersama Pak Bagiono, Pak Karyana, dan Pak Ridho

Tanggal 4 Juli 2018, Pak Bagiono mengajak saya bertemu untuk membahas rencana lokakarya. Kami bertemu di FX Sudirman di salah satu tempat makan yang ada di sana. Saat saya datang, Pak Bagiono sedang duduk di meja bersama dua orang lain, yang tidak saya kenal.  Yang satu bernama Pak Ridho, Wakil Kepala SMKN 11T dan satu lagi Pak Karyana.

"Lupa yah? Dulu kita pernah ngobrol waktu Mbak Puti masih ngajar di Akademi Farmasi." kata Pak Karyana pada saya.  Saya mencoba mengingat-ingat lagi pengalaman tahun 2011 dan akhirnya saya mulai ingat bahwa Pak Karyana juga sempat jadi pengajar di sana. Pak Karyana ternyata merupakan salah satu orang yang ikut memberikan masukan kepada pemerintah mengenai revitalisasi SMK dan juga bersama dengan Pak Bagiono, ikut mengembangkan kurikulum simulasi digital untuk SMK (lihat http://bse.annibuku.com/buku/1574/simulasi-digital) .

Selama pertemuan Pak Ridho menceritakan mengenai sekolahnya. SMKN 11 dulu adalah SMEA. Sekolahnya terletak di belakang Glodok. Kebanyakan siswa-siswinya berasal dari kalangan menengah kebawah. Namun, sebagai SMK negeri, siswa-siswi yang masuk biasanya prestasinya cukup baik (karena adanya sistem seleksi). Setelah lulus siswa-siswinya bekerja atau ada juga beberapa yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Ada tiga jurusan di sana, Akutansi, Administrasi Perkantoran, dan Penjualan.

Tantangan yang dihadapi sekolah sekarang adalah zaman yang berubah dengan begitu cepat. Sebagai contoh, dulu lulusan administrasi perkantoran diantaranya kemudian bekerja sebagai sekretaris. Dulu, mereka harus dibekali dengan keterampilan mengetik cepat, menata meja, dan sebagainya. Kini, banyak siswa yang sudah terampil mengetik. Pelajaran mengetik tidak diperlukan lagi. Namun seorang sekretaris juga harus cekatan, punya kemampuan analisa yang baik, misalnya karena harus merangkum hasil rapat, bisa menggunakan teknologi dengan baik, dan sebagainya. Begitu juga dengan jurusan penjualan. Kini siswa-siswa yang mengambil jurusan penjualan harus mengerti perkembangan media dan teknologi dan pengaruhnya pada manusia. Kini, ada banyak usaha penjualan yang dilakukan secara daring. Teknik dan komunikasi 'menjual' pun berbeda dengan zaman dahulu. Jurusan akutansi pun menarik. Dulu siswa-siswa yang prestasinya lebih tinggi, seringkali memilih jurusan ini. Kini dengan adanya digitalisasi, beberapa pekerjaan yang dulunya dilakukan oleh lulusan SMK Akutansi kini dilakukan oleh 'teknologi'. Mereka pun  akan kalah saing dengan lulusan D3 atau S1 Akutansi. Akhirnya, beberapa siswa lulusan jurusan Akutansi SMK ini bekerja di belakang kasir. Apa yang dipelajari di sekolah jadi kurang relevan. Dengan tantangan yang begitu besar, teman-teman guru di SMK perlu mempersiapkan siswa-siswanya dengan keterampilan yang diperlukan oleh zaman ini dan masa depan misalnya mempersiapkan siswa dengan wawasan yang luas, keterampilan berpikir, etos kerja yang baik, serta karakter yang baik.

Dengan lugas, saya sempat bertanya pada Pak Bagiono, "Jadi, apa tujuan lokakarya ini?"

Pak Bagiono pun menjawab, "Mengajak teman-teman guru menyadari hakikat mereka sebagai guru."

Mendengarnya saya langsung sakit perut. Berat sekali tujuannya, entah akan bisa tercapai atau tidak. Buat saya lebih mudah mengadakan lokakarya mengenai teknik mengajar misalnya topik tertentu dalam pelajaran matematika, ataupun cara merancang pembelajaran. Kali ini lokaryanya bertujuan untuk memotivasi guru untuk menyadari perannya sebagai guru. Lokakrya akan berlangsung dari pk 7.00 - 11.30. Apa yang bisa dilakukan dalam waktu sependek itu? Tentu saja, Pak Bagiono juga mengingatkan bahwa lokarya ini hanya akan jadi acara 'icip-icip'. Perubahan paradigma, apalagi sikap tentu perlu waktu. Pak Ridho juga menyampaikan bahwa beliau berencana mengadakan  kegiatan-kegiatan lanjut yang bisa mendukung teman-teman guru untuk terus berkembang.

Saya sampaikan bahwa saya masih belum kepikiran mengenai apa yang perlu dilakukan saat lokakarya. Tapi saya akan memikirkannya. Saya juga berencana mengajak seorang lagi untuk menjadi fasilitator, yakni mahasiswa saya yang telah menjadi guru. Sudah satu satu orang dipikiran saya. Namanya, Dasrizal.

Setelah diskusi, saya pun pulang, masih dengan perut yang seperti terkocok-kocok. Karena sering, saya biasanya percaya diri sekali untuk mengisi berbagai lokarya atau seminar. Untuk itu saya harus berterima kasih pada Pak Satria Dharma dan Pak Ahmad Rizali (Nanang) yang dulu suka memaksa saya 'terjun ke lapangan'. Namun, kali ini saya sungguh deg-degan. Bagaimana caranya menyiapkan lokakarya untuk mengajak teman-teman guru menyadari hakikat mereka sebagai guru?

Berlanjut...

No comments: