Jun 29, 2018

Membaca "Suara dari Marjin: Literasi Sebagai Pratek Sosial"


"Suara dari Marjin: Literasi Sebagai Praktek Sosial" adalah sebuah buku yang dituliskan oleh Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah. Kedua penulis tampaknya pernah melakukan penelitian terkait literasi, namun pada kelompok yang berbeda-beda. Kesamaannya, kedua kelompok merupakan kelompok yang seringkali dilabeli sebagai "kelompok marjinal". Ibu Pratiwi meneliti tentang praktek literasi di kelompok Buruh Migran Indonesia (BMI) sedangkan Ibu Sofie meneliti mengenai praktek literasi di kelompok anak jalanan. Perpaduan hasl refleksi dari kedua penelitian tersebut dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi buku ini. Di bagian akhir juga ada tulisan reflektif yang mempertanyakan "Ke Mana Arah Gerakan Literasi Kita."

Hal pertama yang membuat saya terpikat dengan buku ini adalah ketika membaca pengalaman literasi Ibu Sofie berikut ini:
"Saya selalu mengira bahwa saya literat. Saya tumbuh dengan aksara. Ibu saya adalah guru bahasa Inggris di sebuah SMA di Surabaya, suka membacakan buku-buku dongeng berbahasa Inggris dengan ilustrasi yang memikat sehingga kata-kata asing yang tidak saya mengerti itu menari-nari dengan indahnya membentuk cerita hidup di benak saya Saya mencintai aksara sehingga saya menuliskannya di tembok rumah eyang saya. Tembok itu merekan perubahan huruf b, k, f, l dari bentuk yang tidak beraturan menjadi suku kata, lalu huruf, lalu kalimat, lalu bait-bait puisi. (h. 24- 25)
Di sana tergambar mengenai pengalaman Bu Sofie "merasa literat". Namun, ketika berkuliah di Amerika Serikat untuk mengambil program doktoral, perasaan "bahwa saya literat" sama sekali berubah. Katanya:
"Kepindahan saya ke Amerika Serikat memaksa saya untuk menggunakan bahasa Inggris - yang sebelum itu saya pikir saya kuasai dengan baik - yang tidak seketika memampukan saya berkomunikasi dan 'berfungsi' sebagau warga negara yang berbudaya. Berinteraksi dengan penutur asli, saya merasa aksen saya aneh, pilihan kata saya tidak tepat, dan struktur kalimat saya terlalu kaku. Saya kesulitan membedakan beberapa frase sederhana seperti 'fill in' atau 'fil out', 'used to' atau 'get used to', 'latter' atau 'later'.  Saya khawatir disalahpahami, saya merasa tidak cakap berkomunikasi. Saya merasa tidak literat. (h. 26)
Selama berkuliah, Bu Sofie beberapa kali  satu-satunya mahasiswa asing di kelas. Pengalamannya menjadi minoitas ini membuatnya tertarik untuk meneliti mengenai praktek-praktek literasi di kelompok marjinal. Pilihannya berakhir untuk meneliti praktek literasi di kelompok anak jalananan. Profesornya mendukungnya dan senantiasa membantu Ibu Sofie untuk 'fokus mengembangkan analisis yang kritis dan reflektf terhadap bacaan dan mengungkapkannya dengan tulisan dan suara yang mewakili subjektifitasnya.

Tulisan Ibu Pratiwi di buku ini juga sangat menarik, yakni tentang praktek-praktek literasi yang dijalankan oleh BMI di Hongkong. Di buku itu diceritakan bahwa ada seorang BMI bernama Rie Rie yang membuat blog "Babu Ngeblog" (lihat : http://babungeblog.blogspot.com/ ). Rie Rie menulis dalam bahasa Indonesia, Jawa, dan Inggris. Tulisan-tulisannya dibuat untuk mendobrak stereotipe yang buruk tentang BMI yang sering dianggap bodoh. Tulisan-tulisan Ibu Pratiwi menggambarkan bagaimana para BMI membentuk 'identitas baru' dengan kegiatan membaca dan menulis

Buku ini membuat saya belajar mengenai bagaimana banyak BMI menghabiskan akhir pekannya di Victoria Park, membaca buku di 'perpustakaan koper' atau menggunakan fasilitas komputer gratis di Hongkong Central Library. Ada juga cerita tentang sebuah dokumenter yang dibuat oleh BMI bernama Ani. Judulnya "Hongkong Helper Ngampus (HHN)". Film ini sempat masuk sebagai finalis Eagle Award Metro TV 2007. Mendapatkan penghargaan adalah satu hal, namun memberikan makna untuk sesama dalah hal lain. Di kemudian hari film HHN digunakan untuk mendidik BMI-BMI lain bahwa BMI bukan sosok yang tidak berdaya. Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) mengajak Ani untuk membantu pembekalan calon BMI sebelum berangkat bekerja. Filmnya menjadi media pembelajarannya.

Hal yang membuat saya paling tertohok ketika membaca buku ini adalah ketika menyadari bahwa pembelajaran literasi di sektor non-formal seperti yang dialami oleh BMI di Hongkong atau anak jalanan yang diteliti oleh Ibu Sofie justru tidak dialami oleh banyak siswa di Indonesia. BMI Hongkong yang diteliti oleh Ibu Pratiwi misalnya, terbiasa membaca banyak karya sastra dan biasa mengkritik tulisan satu sama lain. Praktek literasi digunakan untuk memaknai pengalaman hidup mereka dan menjadikan hidup mereka lebih bermakna.

PAUD Bestari (lembaga penelitian non-formal) adalah tempat anak-anak jalanan, yang diteliti Ibu Sofie, belajar. Bu Sri adalah nama seorang pendidik di sana. Beliau sadar bahwa anak-anak jalanan ini hidup dikepung informasi, bahkan kadang tidak sesuai untuk anak-anak. Katanya:
"Di rumah anak-anak menonton sinetron tayangan gosip, cerita hantu, berita kriminal, dan tayangan lainnya yang biasa ditonton orang tua mereka." (h.187)
Meskipun apa yang ditonton oleh anak-anak 'tidak ideal', Ibu Sri menggunakan apa yang telah 'dekat' dengan anak-anak untuk memulai pembelajaran literasi.
"Ketika anak-anak menyanyikan lagu 'Susis (Suami Takut Istri)' yang bukan lagu anak-anak, Bu Sri tertawa mendengarkan mereka menyanyikan lagu itu, lalu mengajak mereka menyanyikan lagu lain yang liriknya lebih sesuai dengan mereka."
Membaca "Suara dari Marjin: Literasi sebagai Praktek Sosial" menekankan bagaimana kelompok-kelompok marjinal melakukan praktek literasi dengan mengeksplorasi teks kultural di sekitarya  untuk memaknai identitas dan hidup mereka. Apakah proses 'memaknai' ini juga terjadi di sekolah-sekolah? Semoga.


No comments: