Apr 27, 2012

Cita-cita

Target saya di 2012 sebenarnya tidak terlalu banyak. Rata-rata berhubungan dengan perkembangan saya secara pribadi, misalnya hidup lebih sehat & menjadi lebih disiplin. Standar lah yah!

Tetapi saya punya satu cita-cita yang menggebu-gebu di tahun 2012, yakni menuliskan sebuah buku mengenai professional development / mungkin lebih tepat capacity building untuk guru

Saya pertama mengajar di tahun 2002. Waktu itu saya mengajar Fisika di sebuah Madrasah Tsanawiyah di Bandung. Pengalaman di sana tidak akan saya lupakan. Itulah jalan pertama saya melangkah di dunia pendidikan. 

Waktu saya pertama kali mengajar, saya  sangat tidak inovatif. Saya hanya mengandalkan kapur dan papan tulis. Selain itu saya juga banyak melakukan drilling soal-soal fisika (sekarang saya paling anti dengan metode pembelajaran semacam ini). 

Setelah beberapa waktu, saya mulai mengajar dengan sedikit lebih bervariasi. Sesekali saya melakukan kegiatan belajar di luar sekolah, misalnya mengajak siswa-siswa saya mengunjungi Boscha, PLTA, dan juga menyusuri sungai Cikapundung. Sekali saya pernah mengajak anak-anak menonton film mengenai magnet & listrik.  Siswa-siswa saya juga diajak membuat rangkaian listrik sendiri. Sekali saya pernah meminta anak-anak mempraktekkan berbagai percobaan dari sebuah buku percobaan sains. Saat saya menemukan buku mengenai bagaimana membuat kompor sederhana yang sumber energinya dari matahari, lalu saya meminta anak-anak mencoba membuatnya. Itu saja. Tapi ide-ide ini datangnya bukan di bulan-bulan pertama saya mengajar, itu pun jarang sekali saya lakukan. Hanya sesekali saja. Cara mengajar saya masih payah sekali. 

Di tahun 2010 saya mendapatkan kesempatan untuk mengajar bahasa Inggris di sebuah Akademi Farmasi. Saat itu saya sudah belajar mengenai berbagai metode pembelajaran tapi baru sebatas teori. Saya belum pernah mengajar bahasa Inggris di kelas sebelumnya. Apalagi mengajar bahasa Inggris untuk calon apoteker! Saat mengajar di sana saya mengajar dengan acak adul. Waktu pertama kali mengajar di sana, saya membawa sebuah artikel bahasa Inggris yang tingkat kesulitannya terlalu tinggi. Mahasiswa-mahasiswa saya kebingungan membacanya. 

Untungnya saya kenal Pak Satria Dharma. Dia dulu adalah guru bahasa Inggris. Meskipun sudah tidak aktif mengajar di sekolah lagi, dia masih senang mengutak-atik maslah pembelajaran. Dia masih rajin mengajari anaknya bahasa Inggris dan mengaji. Dia bercerita bahwa saat mengajar anaknya bahasa Inggirs dia membuat semacam kartu-kartu untuk membantu anaknya mempelajari kosa kata baru. Pak Satria menasihati saya, "Coba kamu cari bahan mengenai English for Specific Purposes atau English for Medical Purposes."

Semenjak itu saya menggunakan kedua kosa kata itu untuk mencari berbagai bahan pembelajaran. Pak Bagiono memberikan sebuah nasihat yang sangat berharga bagi saya, "Saya dulu belajar bahasa Prancis dengan menghafalkan berbagai frase yang digunakan dalam dialog sehari-hari. Makin lama makin banyak frase yang saya ketahui yah ngomong aja, sambil jalan kesalahannya dibenerin. "

Nasihat Pak Bagiono menginspirasi saya untuk menggunakan berbagai dialog untuk mengajarkan bahasa Inggris. Lumayan berhasil, tetapi sebenarnya metodenya pun masih kurang variatif. 

Beruntung saya menerjunkan diri di Ikatan Guru Indonesia (IGI) & berbagai kegiatan pendidikan lainnya. Dari tahun 2010 sampai 2011, ntah berapa seminar, training, workshop yang saya ikuti. Pekerjaan saya mulai dari yang remeh temeh, mengambilkan kertas, memotret, menjadi notulen, meng-sms peserta workshop, mengurus pendaftaran. Lama-lama saya mulai ikut membuat proposal, merangkum kegiatan, serta ikut menjadi asisten training. Saya rutin bertemu Ibu Nina Feyruzi dan membuat modul bersamanya. Sekali saya pernah memberikan training bersama teman saya Novi, Ibu Nina Feyruzi, dan juga Pak Sururi Aziz.  Sekali saya pernah menjadi semacam asistennya Pak Iwan Pranoto, juga dengan Ibu Itje Chodidjah. Saya belajar banyak dari mereka berdua. Di kesempatan lain saya membantu Ibu Ratih Gandasetiawan menyiapkan workshop mengenai perkembangan anak. Serta saya juga pernah menjadi notulen untuk Workshop Menulis Kreatif yang diselenggarakan Pak Yudhistira Massardi.  Dalam suatu kegiatan IGI di Kalimantan Selatan, saya berpasangan dengan Pak Agung Wibowo untuk menjadi trainer. Pokoknya selama 2010 - 2011 pengalaman saya kaya sekali. 

Saya pernah berkata ke Pak Satria, "Saya dapat kesempatan belajar dari orang-orang terbaik di bidangnya, kebangetan kalau saya gak belajar apa-apa."

Kini, kemampuan mengajar saya sudah sangat berbeda dengan ketika pertama kali saya mengajar di tahun 2002.  Kalau dulu, saya tahan berbicara sampai 4 jam non stop (mendominasi kelas), sekarang kalau saya diberi waktu mengajar sekitar 2,5 jam paling saya akan ngomong sebanyak 15 menit. Sisa waktunya akan saya gunakan untuk berbagai kegiatan hands on.  Saya akan biarkan siswa berdiskusi dan mengungkapkan idenya sendiri. Kini, saya lebih matang dalam melakukan persiapan mengajar. Saya pun bisa merancang pembelajaran dengan lebih baik dari yang pernah saya lakukan 10 tahun sebelumnya.  Butuh 10 tahun bagi saya untuk bisa mengajar seperti ini. Itu pun masih perlu perbaikan sana-sini. 

Jadi, cita-cita saya di tahun 2012 adalah menulisakan sebuah buku mengenai pengembangan kapasitas guru. Bagaimana seorang guru bisa meningkatkan kapasitas dirinya sehingga bisa mengajar dan mendidik dengan lebih baik dari sebelumnya. 

PS : Buku ini sedang dalam proses dan dikerjakan bersama dua orang pendidik hebat lainnya. Mohon doanya yah agar prosesnya lancar! :)

2 comments:

cassia vera said...

waah.. ikutan dong.. biar jadi tiga.. *tapi belum jadi pendidik hebat sepertimu* boleh? :)

Dian Sulistiani said...

Dear Miss Puti,

Terima kasih Miss udah bersedia berbagi pengalaman... Saya terinspirasi dari banyak kisah Miss Puti... Senang bisa bertemu Miss Puti.. ::)

Keep spirit ya Miss... Moga Allah selalu meridhoi setiap langkah Miss Puti... Amin...