Posts

The Future of Education: Journal Reflection 1 (Part 2) And what ideas do you already have about the future of education?

Image
Picture by : Dhitta Puti Sarasvati Ramli, Kandi Sekarwulan, & Arya Jodipati Above is a drawing which I made together with my friends (Kandi and Jodi). The picture is about our vision about education. On the bottom left of the drawing, there is picture  of a child who is climbing a tree. Some other children are standing near the tree. There also another child standing with an adult,  looking at the tree from a certain distance. That part is about learning from nature. Our hope is that education (today and in the future) gives an opportunity for people to learn from nature. Additionally, the picture of the child with an adult also reflects our hope that through education people from different generations can learn from one another. On the bottom right, there is a picture of people who are working together to build a house with solar cell energy. This part is about our dream that education becomes a tool for people to work together and build a better world. On the ...

The Future of Education: Journal Reflection 1 (Part 1)

Based on your experience as a learner, what do you think you will be able to get out of this course?  Since a few years ago, I started having a very ambitious dream. I wanted to write a blue print about the future of Indonesia's education. Then, one day, coincidentally, I was watching a TEDx London talk by Ken Spours.   He mentioned that to revolutionize the education in England  "we should start by trying to agree about our value". In his talk he mentioned three main values. First, that everybody counts, everybody can be educated, everybody is educable, and  everybody can both think and do. Second, that we must consider the law of care, which meant that the ones   who need the most must get the most.Third, he argued that we should move from the word "versus" toward the word "and". For example, the term "subject versus real life experiences" and "knowledge versus skills" should rather be "subject and real life experiences...

Oh, Saya Cari Gara-gara!

Image
Sumber : http://www.vasanthk.com/wp-content/uploads/2015/03/Promise-Quote.jpg Beberapa bulan yang lalu, saya cari gara-gara.  Begini ceritanya. Sudah sejak tahun 2007, teman-teman dan saya mendirikan Sekolah Rumah Mentar i (sebuah komunitas belajar). Di sana kami banyak berkegiatan bersama anak-anak di Kampung Sekepicung, kadang juga bersama pemuda, ibu-ibu, maupun bapak-bapak yang ada di Kampung tersebut. Kegiatannya bervariasi dari kegiatan belajar bersama (matematika, bahasa Inggris, memasak), jalan-jalan, bermain drama, berkebun, dan banyak lagi. Namun, saya merasa ada yang kurang. Saya ingin berjejaring dengan guru-guruyang mengajar di sekolah-sekolah di sekitar Sekolah Rumah Mentari. Siapa tahu ada kesempatan untuk berinteraksi dan bekerja sama.  Jadi, saya mulai dengan mengunjungi salah satu sekolah, sebuah SD,  yang letaknya tak jauh dari Kampung Sekepicung. Bu Dewi (teman yang rumahnya kami pakai untuk kegiatan Sekolah Rumah Mentari) menemani say...

Refleksi tentang Empat Pilar Pendidikan (Learning to Know, Learning to Do, Learning to Live Together, Learning to Be)

Image
Sumber :  http://weknowyourdreams.com/   Saya sudah sering mendengar mengenai empat pillar pendidikan yang dikemukakan oleh Dellors, et.al, (1996) dalam naskah Learning: The Treasure Within . Menurut beliau, ada empat tujuan pendidikan yakni : Learning to know (belajar untuk tahu) Learning to do (belajar untuk bisa melakukan) Learning to live together (belajar untuk hidup bersama) Learning to be (belajar untuk menjadi) Namun, ketika saya mendengarkan salah satu kuliah online " What future for education"  via Coursera.org , saya merasa menemukan sebuah pemaknaan baru, khususnya ketika saya merefleksikan tujuan-tujuan tersebut dengan praktek pendidikan yang terjadi di sekolah. Pada kenyataannya, ada beberapa (banyak?) sekolah yang hanya fokus pada satu atau dua tujuan di atas. Bagaimana pihak sekolah memahami tujuan pendidikan akan berimplikasi pada bagaimana mereka menjalankan proses belajar-mengajar di sekolah. Si beberapa sekolah, tujuan pendidikan...

Kurikulum Terlalu Berat? Kurikulum Manakah yang Dimaksud?

Image
Beberapa kali saya mendengar ada yang berkata, "Kurikulum (sekarang terlalu) berat."  Pernyataan-pernyataan seperti ini biasanya saya dengar dari orang tua yang merasa materi yang dipelajari oleh anaknya di sekolah terlalu berat, jauh lebih berat daripada apa yang dipelajarinya semasa muda, dulu.  Saya sendiri juga beberapa kali menemukan bahwa siswa mempelajari materi yang terlalu berat di sekolah. Misalnya, saya pernah bertemu siswa SD yang diminta oleh gurunya untuk menghafalkan berbagai nama enzim-enzim yang ada dalam tubuh manusia. Halah! Saya juga tidak hafal. Kalau saya jadi siswa SD-nya tentu saya akan menganggap materi tersebut terlalu berat. Meskipun begitu, saya tidak akan langsung mengatakan bahwa "kurikulum terlalu berat". Kenapa? Karena kurikulum ada berbagai jenisnya. Saat mengatakan "kurikulum terlalu berat", kurikulum manakah yang dimaksud? Kurikulum memang ada berbagai jenisnya, berdasarkan http://www.sagepub.com/sites...

Workshop Penilaian dan Pembelajaran Autentik (Bagian 1)

Image
Beberapa bulan yang lalu, saya menjadi peserta Workshop "Penilaian dan Pembelajaran Autentik" yang diselenggarakan di Sekolah Madania. Kegiatan tersebut diselenggarakan berkat kerja sama  Foundation for Excellence in Education (FEE),  Alumni Advance Certificate for Teaching and Learning  (ACTL), dan Ikatan Guru Indonesia (IGI). Jumlah peserta  saat itu ada sekitar 150 orang, sebagian besar merupakan guru. Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok. Masing-masing  kelompok masuk ke kelas yang berbeda-beda untuk mengikuti workshop yang sama-sama bertema "penilaian dan pembelajaran autentik", namun untuk mata pelajaran yang berbeda-beda. Sebenarnya awalnya saya mau masuk ke kelas "penilaian dan pembelajaran autentik matematika" tapi kelas tersebut sudah penuh sehingga saya akhirnya masuk ke kelas "penilaian dan pembelajaran autentik IPS dan PKn". Saya tidak menyesal juga karena ternyata sesinya juga sangat menarik. Di dalam kelas, telah tersedia...
Image
Ini ada potongan tulisan dari bukunya Alex Bellos (2010) yang berjudul "Here's looking at Euclid: A surprising Excursion through Astonishing World of Math". Kutipannya tentang bagaimana seekor chimpanzee belajar 'matematika' (lihat video di bawah ini) Cerita ini, membuat saya berefleksi tentang pendidikan. Apakah pendidikan yang kita berikan kepada siswa-siswa kita memang benar-benar pendidikan yang memungkinkan siswa berpikir secara lebih dalam atau 'pendidikan' (atau mungkin lebih bisa disebut pengajaran) yang tidak beda jauh dengan 'pendidikan' yang diberikan pada Ai (chimpanzee yang ada di tulisan di bawah ini). Seperti yang tertulis di dalam tulisan di bawah ini "Even though Ai had learned to manipulate numbers perfectly well, she lacked human depth of understanding." Semoga pendidikan yang kita berikan kepada anak-anak (didik) kita tidak seperti itu yah, membuat siswa kita 'lacked human depth of understanding'. ...