Posts

Membaca "Mengubah Kebijakan Publik: Panduan Pelatihan Advokasi"

Image
  Tak sampai 3 jam, saya menamatkan buku "Mengubah Kebijakan Publik: Panduan Pelatihan Advokasi" yang disunting oleh Roem Topatimasang, Manshour Fakih, dan Toto Rahardjo.  Seharusnya, saya tidak membaca buku tersebut dengan terburu-buru. Saya seharusnya membaca buku tersebut dengan perlahan, sambil menerapkan hal-hal yang ada di dalam buku. Seharusnya saya membaca sambil benar-benar melakukan upaya advokasi kebijakan, khususnya terkait kebijakan pendidikan nasional, lalu merefleksikannya. Tidak apa-apa! Saya tetap bisa merasakan manfaat dari membaca buku tersebut. Sekarang saya sedang berkutat dengan RUU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Dibantu oleh beberapa teman seperjuangan, saya sedang mencoba membangun kesadaran banyak orang, khususnya teman-teman yang bergerak di pendidikan, bahwa RUU Sisdiknas (Agustus 2022) tersebut tidak menuju arah pendidikan nasional yang lebih baik. Usaha yang sulit memang, beberapa orang percaya saja pada apa yang diucapkan oleh pejabat pu

Mencoba Mengenal Budaya Indonesia Melalui Bacaan: Sebuah Refleksi

Image
Setelah melakukan Uji Coba Training of Trainers (TOT) Gernas Tastaba (Juli - Agustus 2021) ada beberapa perbaikan bahan yang kami lakukan.  TOT kami terdiri dari enam pertemuan.  Temanya  ada tiga. Pertama, "Menjadi Pembaca Aktif" untuk mendorong teman-teman guru SD untuk menjadi pembaca aktif sebelum mengajarkan siswanya membaca. Kedua, "Membaca Dasar" untuk belajar kembali caranya mengajar anak yang belum bisa membaca sehingga bisa membaca. Ketika, "Membaca Bermakna" untuk membantu guru belajar caranya memfasilitasi anak agar bukan hanya bisa membunyikan bacaan, tetapi bisa memaknainya.  Awalnya, masing-masing tema disampaikan dalam 2 pertemuan masing-masing 5 jam. Namun, kini tema pertama disampaikan dalam satu pertemuan, tema kedua dalam 2 pertemuan, dan tema ketiga dalam tiga pertemuan. Kami juga menggunakan dan memodifikasi bahan yang telah dikembangkan oleh Credo Foundation untuk tema Membaca Dasar (lihat  https://www.youtube.com/channel/UCbME3gwMJD

TOT Gernas Tastaba: Bagaimana Proses Pelatihannya?

Image
TOT Gernas Tastaba dibagi menjadi tiga topik besar. Pertama, "Menjadi Pembaca Aktif" yang bertujuan untuk mengajak teman-teman guru SD untuk bukan sekadar gemar membaca tetapi juga menjadi pembaca yang aktif. Artinya, bukan hanya membaca. Apa yang dibaca juga dipikirkan dan dipertanyakan, mungkin juga dirasakan, hasil bacaan dibicarakan dengan orang lain, juga menghasilkan karya setelah membaca. Kedua, "Membaca Dasar". Di sini, peserta belajar kembali bagaimana caranya mengajarkan anak yang belum bisa membaca menjadi bisa membaca. Dalam hal ini, kami juga didukung oleh Credo Foundation yang mengizinkan kami menggunakan beberapa bahan yang mereka miliki untuk kegiatan Gernas Tastaba. Di sini kami membahas sekilas mengenai 4 aspek literasi (mendengar, berbicara, membaca, dan menulis) serta hubungannya satu sama lain. Peserta juga diperkenalkan dengan lambang aksara baru "huruf telur" sehingga bisa menyadari proses belajar membaca (dasar) membutuhkan proses

Memaknai Pemikiran Ki Hadjar Dewantara: Sebuah Refleksi (Bagian 1)

Image
 Semalam, Anyi, Qory, dan saya ngobrol soal interpretasi terhadap karya dan pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Harus diakui, membaca karya-karya Ki Hadjar tidaklah selalu mudah, apalagi untuk bisa menginterpretasinya dengan bermakna dan tepat.  Misalnya, saat membaca kedua buku "Pendidikan" dan "Kebudayaan",  ada kalanya saya perlu membaca satu bagian berulang kali untuk benar-benar mencoba memahami pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Apakah selalu berhasil? Tidak juga.  Maka, sebagai bagian dari proses belajar, saya akan mencoba menyicil sedikit beberapa hasil bacaan saya terhadap karya Ki Hadjar Dewantara, sebagai bagian untuk mencoba memahami pemikirannya. Saya menulis, hanya sebagai bentuk belajar saya dan saya akan membagikan hasil pembelajaran saya sebagai diskusi bersama. Ini bagian pertama. "Pendidikan" dalam pandangan Ki Hadjar Dewantara Menurut Ki Hadjar, pendidikan adalah  "daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budipekerti (kekuatan batin, karakte

Sekilas Tentang Persiapan Konten Gernas Tastaba

Image
Uji coba Traing of Trainer (ToT) Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Matematika (Gernas Tastaka) diujicobakan pada Desember 2018 sampai Februari 2019. Namun,  persiapannya sudah dilakukan semenjak September 2018. Di sisi lain Uji Coba Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Membaca (Gernas Tastaba) dilakukan sejak 30 Juli 2021 dan akan berakhir pada 3 September 2021. Persiapannya dilakukan sejak 28 Januari 2020. Butuh waktu lebih lama untuk persiapannya. Alasannya, selain karena ada pandemi, juga karena memang tim konten benar-benar mengulik apa yang perlu jadi benang merah dari kegiatan ToT Gernas Tastaba.  Pengalaman menyiapkan konten Gernas Tastaba ini memberikan pengalaman baru bagi saya.  Ketika menyiapkan konten Gernas Tastaka saya tidak terlalu kesulitan karena memang memiliki pengalaman mengajar matematika dan latar belakang di pendidikan matematika. Memang, ketika persiapan saya dan tim belajar lagi. Tapi, saya sudah punya bayangan, buku apa yang akan jadi referensi, teori belajar

Sudah Mengajar Bertahun-tahun Tapi Kembali Belajar (Matematika) dari Dasar? Kenapa Tidak?

Image
Di postingan “Potret Kelas Matematika yang Tidak Ada Matematikanya” saya mengatakan bahwa saya kaget (lebih tepatnya shock ) melihat pengajarannya Prilly Latuconsina (lihat: http://mahkotalima.blogspot.com/2021/07/potret-kelas-matematika-yang-tidak-ada.htm l ). Perasaan kaget itu merupakan emosi yang timbul dalam diri saya. Namun, setelah saya mulai merasa tenang, saya pikir seharusnya saya tidak kaget. Praktik pengajaran yang dilakukkan oleh Prilly yang mengajarkan rumus cepat sebagai suatu kebenaran yang harus diterima begitu saja meskipun tak tahu asal usulnya bukan hal baru. Itu praktik yang sudah sering saya temui. Beberapa orang tidak menyadari bahwa hal tersebut merupakan  kesalahan fatal di kelas matematika. Mungkin, saya juga pernah begitu. Seakan-akan mengajar matematika padahal tanpa menumbuhkan penalaran. So, logically, I shouldn’t be so shocked .   Apa yang dilakukan oleh Prilly, juga pernah dilakukan oleh banyak guru Matematika lainnya termasuk oleh beberapa guru-gur

Potret Kelas Matematika yang Tidak Ada Matematikanya

Saya sangat kaget melihat video pengajaran matematikanya Prilly Latuconsina (duta @ruangguru ). Videonya bisa dilihat di sini:   https://www.instagram.com/tv/CREC9E_JKTZ/?utm_source=ig_web_copy_link .   Video memotret contoh “Kelas Matematika yang tidak ada Matematikanya”. Persis seperti apa yang disuarakan oleh matematikawan Paul Lockhart (2009) dalam buku “ A Mathematician’s Lament ”.   Di video itu Prilly menjelaskan cara menghitung hasil penjumlahan deret bilangan berikut ini: 1 + 2 + 3 + 4 + … + 10 Untuk tahu kenapa video tersebut bermasalah, saya sarankan untuk membaca tulisan teman saya, seorang pendidik matematika Pak Rachmat Hidayat yang juga mengelola akun Instagram @matematigis dan merupakan relawannya @gernastastaka telah menjelaskan secara rinci kenapa pengajaran Prilly tersebut bermasalah di tulisan “Benerin Prilly Ngajar Matematika” di sini:   https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=4287983974594909&id=100001500457505 Saya hanya akan menambahka