Mar 17, 2021

Amanah baru di 2021




2021 baru berjalan selama 3 bulan, tetapi telah ada beberapa hal penting yang terjadi di dalam hidupku. 26 - 31 Januari 2021 berlangsung Kongres Ikatan Guru Indonesia (IGI) yang ke-3. Tepat di hari pertama kongres, salah satu pendiri IGI, alm. Ibu Yully meninggal dunia. Tentu saja, banyak sekali teman-teman yang merasa kehilangan. Ternyata sebelum pergi Ibu Yully sempat menitipkan pesan kepada saya (melalui suaminya yang juga pengurus IGI) untuk menjaga IGI.

Tentu saja saya akan selalu menjaga IGI. Saya mencintainya. Cara yang saya bayangkan, berada di belakang layar. Tidak ikut menjadi pengurus, tapi menulis untuk IGI, berbagi dengan anggota IGI, dan sebagainya. Sebelum kongres ke-3 saya menyumbang tulisan untuk mengingatkan tentang visi dan nilai-nilai yang dipegang IGI. Harapannya agar seluruh anggota maupun pengurus (lama maupun baru) akan fokus pada cita-cita dan nilai bersama. Kapanpun IGI meminta saya untuk mengisi acara mereka, atau bahkan untuk berkunjung saja, saya akan usahakan hadir. Tapi bergabung di IGI lagi? Sepertinya tidak. Sejak berakhirnya kongres ke-2 di Makassar, saya telah lengser dari jabatan pengurus dan tidak sekalipun saya berpikir untuk bergabung di IGI lagi. Jadi anggota saja.

Ternyata nasib berkata lain. Hasil Kongres ke-3, saya terpilih sebagai anggota Dewan Kehormatan IGI. Syarat menjadi anggota Dewan Kehoramatan IGI, diantaranya pernah jadi pengurus IGI.

Dewan Kehormatan bertugas 'mengurus' kode etik, termasuk mensosialisasikannya, dan mengingatkan apabila ada pengurus ataupun anggota yang melanggarnya. Tentu, saya ditanyakan kesediaannya. Awalnya ragu, tapi akhirnya, Bismillah saya iyakan saja.

Nah, ternyata di dalam Dewan Kehormatan itu ada pengurusnya. Karena salah satu anggotanya adalah Pak Satria Dharma yang sangat dihormati di IGI (karena mendirikan IGI), ada beberapa yang merasa segan memimpin Pak Satria. Maunya Pak Satria aja yang memimpin, tapi tentu saja Pak Satria tidak mau. Dia mau santai-santai aja sepertinya. Hehe...

Diantara semua, tampaknya yang paling tidak segan untuk memimpin Pak Satria. Alasannya? Saya tahu Pak Satria sangat demokratis. Maka terpilihlah saya menjadi Ketua Dewan Kehormatan IGI.

Tadinya saya tidak mau bercerita mengenai ini. Mau diam-diam saja. Namun, saya pikir ada pentingnya juga saya menyampaikan harapan saya dengan posisi yang saya miliki sekarang. Saya berharap IGI menjadi organisasi yang lebih profesional. Baik pengurusnya memiliki kesepakatan bersama mengenai nilai yang perlu dipegang, serta ada pemikiran yang lebih sistematis mengenai pengetahuan, keterampilan, sikap, ataupun disposisi yang perlu dikembangkan.

Di Dewan Kehormatan IGI saya akan mulai dengan mengajak tim membahas "nilai". Nilai-nilai apa yang mau kita pegang bersama? Jumat, 19 Maret 2021 saat rapat, tim Dewan Kehormatan IGI akan membahas itu. Hasil akhirnya? Masih samar-samar.Tapi memulai langkah, tak ada salahnya. bukan?

Feb 1, 2021

Pengalaman Belajar Membaca Waktu Kecil




Saya sebenarnya tidak pernah dan agak segan menceritakan pengalaman ini di publik. Namun, saya rasa pengalaman ini bisa mungkin akan berguna bagi beberpa teman-teman di sini. Pengalaman tentang pengalaman belajar membaca ketika saya masih kecil.

Ketika saya kecil, kedua orang tua secara bergantian membacakan saya buku setiap hari. Dari bayi sampai saya umur 6 tahun. Hampir tidak pernah absen. Sampai sekarang saya sangat tidak habis pikir, kenapa kedua orang tua saya bisa setekun itu. Di usia 6 tahun, saya ingat dibacakan buku yang lumayan tebal dan tidak bergambar. Kisah tentang Helen Keller. Di bagian belakangnya ada beberapa contoh huruf Braile yang bisa saya sentuh dengan tangan. 

Di masa itu saya tidak tinggal di Indonesia karena kedua orang tua berkuliah. Buku-buku yang saya baca, ada yang koleksi sendiri, ada yang pinjaman sekolah dan ada yang didapatkan di perpustakaan umum. Perpustakaan buat saya seperti tempat bermain saja. Ada bagian buku anak-anak, setting ruangannya berwarna-warni, dan seingat saya di perpustakaan tersebut ada mainannya. 

Itu tahun 1991 (dan sebelumnya)  Menariknya, di zaman itu, kita bisa meminjam buku anak yang juga disertai kaset yang isinya orang yang membacakan buku anak tersebut (kalau di zaman sekarang sesuai audio books). Jadi, sambil membaca buku, kita bisa mendengarkan orang lain membaca juga. Biasanya juga ada bunyi bel atau nada tertentu yang merupakan tanda bahwa kita perlu membalik halaman.  Baik pengalaman dibacakan orang tua, maupun membaca buku sambil mendengar audio books tampaknya punya pengaruh besar terhadap kecintaan saya terhadap buku bacaan dan buku anak-anak (yang masih saya nikmati sampai sekarang). Dalam konteks Indonesia, rasanya akses terhadap buku-buku anak dan berbagai tulisan  yang indah lainnya perlu diperbanyak. Caranya bagaimana, saya tidak tahu.

Oh iya, saya tadi mencoba mengintip perpustakaan tempat saya bermain sambil belajar di masa kecil. Perpustakaannya masih ada tapi mungkin sudah banyak perubahan. Ini linknyaa.  

Jan 8, 2021

Pandangan Tentang Kongres IGI ke-3




Rasanya tidak mungkin untuk tidak ikut bersemangat dalam menghadapi Kongres Ikatan Guru Indonesia (IGI) ke-3 yang akan diselenggarakan pada 28 - 31 Januari 2021 (secara hybrid di Bandung dan secara daring). Meskipun bukan pengurus lagi, dan berdasarkan AD/ART IGI, sebagai anggota luar biasa IGI, maka saya tidak memiliki hak memilih dan dipilih. Tentu tidak bisa ikut memilih siapa yang akan menjadi pempinan IGI berikutnya. Sampai detik ini sudah ada 7 calon kandidat Ketua IGI periode berikutnya, diantaranya 1). Danang Hidayatullah (IGI DKI), Gusti Surian (IGI Kalimantan Selatan), Jasmin (IGI Sulawesi Tenggara), Khairuddin Budiman (IGI Aceh), Mampuono (Sekjend IGI Pusat), Marjuki (IGI Jawa Timur), Mahrani Arifin (Pengurus Pusat Pengembangan Regional 10, Kalbar-Kalteng).

Rasanya senang bahwa ada banyak calon Ketua Umum IGI dari berbagai daerah di Indonesia. Jadi ramai pemilihannya. Seru! Di sisi lain, masih menunggu, akan adakah calon Ketua Umum IGI Perempuan? 

Hal yang juga menyenangkan lainnya soal Kongres IGI ke-3 ini adalah dimulainya diskusi-diskusi tentang sejarah IGI, cita-cita ke depan, dan kepemimpinan model apa yang kita harapkan. Buat saya pribadi, saya berharap pimpinan IGI baik di pusat, regional, maupun daerah bisa merangkul semakin banyak teman-teman guru di Indonesia dengan rasa "hangar" serta memiliki visi ke depan yang memungkinkan guru-guru di Indonesia menjadi lebih kompeten, lebih berpengaruh secara positif untuk pendidikan Indonesia, serta lebih didengarkan oleh masyarakat umum. Baik Pak Satria Dharma maupun Pak Muhammad Ramli Rahim punya kekurangan saat menjadi pempinan IGI. Pak Satria, seperti yang diakuinya, kadang sibuk bergerak sendiri (timnya terenggah-enggah), Pak Muhammad Ramli Rahim kadang mengambil kebijakan-kebijakan yang "penting begini" dan mungkin banyak anggota yang terkaget-kaget bahkan tidak suka. Namun, keduanya punya visi yang pada masanya menurut saya sangat pas untuk IGI dalam konteks itu. Pak Satria mendirikan IGI dengan visi "berbagi dan tumbuh bersama" yang jadi roh IGI sampai sekarang, Pak Ramli Rahim berhasil mengembangkan IGI di beberapa wilayah di Timur Indonesia. Program "satu guru satu..." (titik-titiknya ada 100 macam, mulai dari komik, PPT interaktif, dll) yang sekilas terlihat sporadis sampai saat ini tidak berhenti membuat saya berdecak kagum. Program itu berhasil membuat banyak teman-teman guru bergerak. It really worked!

Harapan saya tentang IGI ke depan sudah pernah saya sampaikan ke pengurus IGI DKI (lihat: https://www.youtube.com/watch?v=LL45UT0HeOk_) dan mudah-mudahan suatu hari punya kesempatan untuk membicarakan hal serupa kepada pimpinan IGI di semua daerah lainnya. Selamat meramaikan dan menyukseskan kongres IGI ke-3. Organisasi ini dibangun dengan hati, semoga tetap akan kita jaga bersama dengan hati. 

Salam berbagi dan tumbuh bersama,
Dhitta Puti Sarasvati
(Pengurus IGI Periode I)

Nov 15, 2020

Refleksi Membaca (beberapa bab) “How Humans Learn to Think Mathematically: Exploring the Three Worlds of Mathematics” karya David Tall



Buku ini belum saya baca sampai tuntas. Baru bagian pendahuluan (prelude) dan dua bab berikutnya,  yakni “The Foundations of Mathematical Thinking” dan  “Compression, Connection and Blending of Mathematical Ideas”.


Sebelum menuliskan refleksi saya mengenai buku ini, saya ingin bercerita apa yang membuat saya tertarik pada buku ini. Alasannya, karena saya cukup familiar dengan nama penulisnya. Pernah membaca salah satu penelitiannya yang ditulis bersama Gray (1994). Judulnya,  “Duality, Ambiguity and Flexibility: A Proceptual View of Simple Arithmetic”. Bahkan penelitian ini dikutip sebagai salah satu bahan untuk Training of Trainers (ToT) Gernas Tastaka mengenai Bilangan. Baru kali ini saya berkesempatan membaca bukunya. Buku bagian pendahuluannya tidak terlalu mudah untuk saya pahami. Setelah membaca bagian pendahuluan berkali-kali, dilanjutkan dengan dua bab berikutnya, saya menemukan beberapa hal yang terasa bermakna. Oh iya, bab kedua dan ketiga lebih mudah dibaca daripada membaca pendahuluannya. Pendahuluannya berisi kerangka teoritis yang merupakan dasar penulisan seluruh buku. 


Salah satu frase yang menarik dari buku Tall ini adalah penggunaan istilah “three worlds of mathematics” yang berarti “tiga dunia matematika”. Apa artinya? 


 

Pada intinya, tiga dunia ini adalah gagasan tentang bagaimana seorang mengembangkan kemampuan berpikir matematisnya. Setiap orang, bahkan matematikawan, tidak ada yang langsung bisa berpikir matematis, apalagi sampai bisa melakukan pembuktian-pembuktian formal. Di ketiga dunia tersebut, matematika dilihat dengan cara yang berbeda. 

Dunia tersebut adalah:

(1) Conceptual embodiment: di ‘dunia’ ini, pemahaman akan Matematika dikembangkan dengan berinteraks (melakukan aksi) dengan  hal-hal fisik apa yang ada di sekitar. Proses ini membantu seseorang untuk mengembangkan persepsinya mengenai dasar-dasar matematika, misalnya mengenai ‘bilangan’, ‘geometri’ sehingga bisa mengembangkan visualisasi mental (mental images) dan bahasa yang menjadi bagian dari imajinasi matematisya. 

(2) Operational symbolism: di ‘dunia’ ini, seseorang mulai mengembangkan akan berbagai prosedur matematis. Beberapa orang mungkin ‘mentok’ dan hanya memahami matematika sampai tahapan prosedural, namun beberapa orang mulai mengembangkan kemampuan untuk memahami berbagai simbol secara lebih fleksibel,  serta menggunakan berbagai operasi untuk melakukan kalkulasi dan manipulasi matematis.

(3) Aximatic formalism: di ‘dunia’ ini, pemahaman akan Matematika dibangun di atas pengetahuan yang formal dan sistem aksiomatik. Set theoretic definition digunakan dan sifat-sifatnya dideduksi menggunakan pembuktian matematis. 


Kalau direfleksikan, Gernas Tastaka berfokus pada dua dunia yang pertama. Terkhusus lagi, dunia yang pertama. Hal ini didasarkan pada temuan, bahwa siswa-siswa SD/MI kadang tidak diberikan kesempatan untuk merasakan dunia yang pertama. Mereka langsung diharapkan bisa mengerti berbagai simbol dan bahasa matematika tanpa pernah memiliki pengalaman yang memungkinkannya memaknai simbol-simbol tersebut. 


Misalnya, untuk mengembangkan pemahaman geometri,   anak perlu punya pengalaman bermain-main dengan objek geometris (benda di sekitarnya). Panca inderanya digunakan untuk mengenali sifat-sifat geometris berbagai benda. Anak juga perlu memiliki pengalaman untuk mengungkapkan hasil pengamatannya terhadap benda-benda tersebut secara deskriptif, menggunakan kata-kata. Baru, di tingkat pendidikan yang selanjutnya, mereka mungkin akan menggunakan berbagai definisi terkait geometri yang lebih presisi.


 

Pemahaman mengenai bilangan, perlu dimulai dengan pengalaman melakukan berbagai hal terhadap objek di sekitarnya. Anak-anak perlu menggunakan objek-objek tersebut dan menghitungnya, mengelompokkannya, membaginya, mengurutkannya, menjumlahkannya, menguranginya, mengalikan, dan membaginya. 


Pemahaman mengenai pengukuran perlu dimulai dengan mengalami proses mengukur. Anak perlu merasakan mengukur panjang, luas, volume, massa, dari hal-hal yang ditemuinya. 


Pengalaman berinteraksi dengan berbagai hal konkret di sekitar akan menjadi dasar bagi anak untuk mengembangkan imajinasi matematisnya. Sayangnya, kadang di sekolah hal-hal ini terlewati. Anak terkadang langsung dipaksa untuk masuk ke ‘dunia’ kedua bahkan ketiga, meskipun belum siap. 


Selain belajar mengenai tiga dunia tersebut, saya terkesan oleh sebuah kutipan Tall berikut ini:


“It is generally considered that mathematicians wish to avoid ambiguity in mathematics because precision seems to be vital. Now I see that ambiguity and flexibility in using symbolism is essential to enable us to think mathematically.”


Artinya, “Secara umum ada pandangan bahwa matematikawan menghindari ambiguitas,  karena menganggap presisi menjadi hal yang sangat penting di matematika. Justru, sekarang  saya melihat bahwa ambiguitas dan fleksibilitas ketika menggunakan simbol-simbol matematika justru sangat esensial untuk memungkinkan kita berpikir secara matematis” (h.45).


Kutipan ini mengingatkan saya mengenai perdebatan mengenai 3 dikali 4 dan 4 dikali tiga (yang sampai hari ini masih terus diperdebatkan oleh beberapa teman-teman guru). Menariknya, kasus tersebut dibahas di buku Tall. 


Tall menganggap bahwa untuk bisa berpikir matematis, terkadang kita tidak bisa terlalu kaku ketika memaknai sebuah simbol matematis. Kita perlu fleksibilitas untuk melihat bagaimana simbol-simbol tersebut berkaitan dengan berbagai konsep matematika lainnya. 


Tall memberikan sebuah kasus mengenai  anak yang ingin menghitung  2 + 8. Ada anak yang menganggap menyelesaikan masalah ini harus dengan menghitung 2 terlebih dahulu, lalu dilanjutkan dengan berhitung lanjut (counting on), 3, 4,5, … sampai akhirnya menemukan bahwa hasilnya sama dengan 10.  Anak ini masih belum fleksibel dalam memahami 2 + 8. 


Di sisi lain, anak lain berpikir, akan lebih mudah kalau mulai berhitung dari 8 lalu menambahkannya sebanyak 2 sehingga hasilnya sama dengan 10. 


Tall juga menggambarkan pernyataan William Thurston tentang pengalaman masa kecilnya. Thurston adalah seorang matematikawan ahli topologi yang memperoleh Fields Medal, salah satu penghargaan paling bergengsi di bidang matematika.

Ketika kelas 5 SD, Thurston sangat kagum bahwa 134 dibagi 29 hasilnya adalah 134/29. Tidak perlu diapa-apakan lagi. Ini fakta yang sangat menarik baginya.

Kisah Thurston mengingatkan saya akan pengalaman bertemu siswa yang merasa tidak nyaman kalau hasil perhitungannya tidak berupa bilangan bulat. Kadang saya memperoleh pertanyaan, “Apakah tidak apa-apa menuliskan hasil akhir perhitungan ini seperti ini (berupa pecahan, atau desimal, atau masih dalam bentuk akar). Tentu jawaban terhadap pertanyaan tersebut tergantung pada konteksnya, tetapi hal tersebut memberikan gambaran bahwa kadang siswa (atau bahkan kita sendiri sebagai pendidik) tidak fleksibel ketika memaknai berbagai simbol-simbol Matematika. Pemahaman akan berbagai simbol lebih bersifat prosedural, bukan relasional. Tall menggunakan istilah lain untuk menjelaskan mengenai fenomena ini, yakni pemahaman yang bersifat “proceptual” (belum akan saya terangkan secara rinci di sini). 

Sebenarnya di bagian pendahuluan bukunya, Tall sudah mengungkapkan pentingnya membangun koneksi-koneksi antar berbagai gagasan matematis. Katanya , “The long-term development of mathematical thinking is more subtle than adding new experience to a fixed knowledge structure. It is a continual reconstruction of mental connections that evolve to build increasingly sophisticated knowledge structure over time”. Artinya, “Mengembangkan kemampuan berpikir matematis dalam jangka panjang  lebih dari sekadar menambah pengalaman baru kepada struktur pengetahuan yang sudah ajeg. Namun, merupakan rekonstruksi yang berkelanjutan untuk membangun koneksi-koneksi mental yang berevolusi untuk membentuk struktur pengetahuan yang lebih canggih seiring dengan berjalannya waktu.” 






Sumber: 

Tall, D. (2013). How humans learn to think mathematically: Exploring the three worlds of mathematics. Cambridge University Press.

Gray, E. M., & Tall, D. O. (1994). Duality, ambiguity, and flexibility: A" proceptual" view of simple arithmetic. Journal for Research in Mathematics Education, 116-140.





 

Aug 15, 2020

Menumbuhkan Jiwa Keguruan: Berat tapi Indah

Dua tahun lalu, tepatnya pada Agustus 2018 Pak Bagiono mengajak saya mengisi sebuah lokakarya di SMKN 11 Jakarta. Lokasi sekolah tersebut, tidak jauh dari glodok. Zaman dulunya, SMK tersebut merupakan SMEA. Saat itu, ada tiga jurusan di sekolah tersebut:  Akutansi, Administrasi Perkantoran, dan Penjualan.

"Apa tujuan lokakarya tersebut?" tanya saya pada Pak Bagiono saat masih diskusi untuk persiapan. Pak Bagiono menjelaskan bahwa harapannya peserta bisa menyadari hakikat mereka sebagai guru. Waduh, tujuan yang sangat berat. Bikin "sakit perut". 

Saya sangat hormat kepada Pak Bagiono. Beliau merupakan salah satu pembina Ikatan Guru Indonesia (IGI). Saat saya baru pulang dari UK dari studi S2, Pak Bagiono menawari saya untuk mengajar di sebuah Akademi Farmasi di daerah Fatmawati sebagai dosen bahasa Inggris. Hanya  6 bulan tapi saya sangat bersyukur diberikan kesempatan tersebut. Pak Bagiono juga  mengenalkan saya pada Pak Daoed Joesoef,  untuk belajar banyak hal mengenai pendidikan. Beberapa kali saya diberikan nasihat dan masukan berharga dari  Pak Bagiono.

Kalau bukan Pak Bagiono yang meminta, saya tidak akan berani  membawa lokakarya dengan tujuan seberat itu. Saya ragu, dan sempat menyampaikan keraguan saya pada Pak Bagiono. Pak Bagiono pun menyemangati saya. Dia mengatakan, dia percaya pada saya. Menumbuhkan jiwa keguruan butuh waktu. Tidak akan bisa instan. Lokakarya tersebut hanya sebentar, tentu tidak akan langsung berdampak. Tapi, setidaknya merupakan langkah untuk mulai menumbuhkan rasa keguruan itu. 

Saya segera mengajak seorang teman untuk mendampingi saya menjadi fasilitator di kegiatan itu. Namanya Pak Dasrizal. Guru matematika yang  muda, bersemangat, dan juga punya jiwa seni yang tinggi. Hobinya, selain mengajar adalah menyanyi khususnya dalam pentas musikal. Setahun setelah lokakarya tersebut, Pak Dasrizal bersama beberapa musisi Indonesia lainnya untuk pentas di Broadway, New York ( Kompas Cetak, 13 Maret 2019).


Lokakarya yang digagas oleh Pak Bagiono ini tujuannya bukan hal-hal yang sifatnya teknis, misalnya metode mengajar, atau teknik mengajar tapi sesuatu yang menyangkut rasa. Rasa bangga menjadi guru. Rasa ingin menjadi versi terbaik dari diri sendiri agar bisa juga memberikan yang terbaik kepada siswa. Itu rasa yang sangat indah. Rasa ini tidak akan bisa ditumbuhkan dengan pelatihan yang sifatnya teknis belaka. Peserta harus bisa merasakan sesuatu yang indah. Saat itu saya yakin, Pak Dasrizal bisa menciptakan suasana yang indah, yang akan menyentuh hati para peserta.

Pak Dasrizal dan saya bertemu untuk merancang lokakarya bersama. Ada tiga tujuan yang ingin kami capai (atau setidaknya menuju ke arah sana). Peserta diharapkan: 

  • Merefleksikan kembali alasan menjadi guru dan mengapa bertahan menjadi guru.
  • Mengembangkan ketertarikan untuk mengembangkan diri menjadi guru yang lebih baik dari sebelumnya.
  • Memiliki gagasan dan membuat rencana kerja (action plan)  untuk pengembangan diri.
Setelah kegiatan ice breaking, peserta diajak menonton vido Mrs. Chong, tentang seorang guru yang berhasil menyentuh hati siswanya. Kami mendiskusikan videonya


Pak Dasrizal kemudian membaca sebuah tulisan yang ditulisnya sendiri. Refleksi Pak Dasrizal kenapa dia menjadi guru dan bertahan menjadi guru. Setelahnya peserta diajak menuliskan refleksinya sendiri, termasuk diminta menuliskan salah satu pengalaman yang paling berkesan saat mereka menjadi guru. Beberapa guru membacakan tulisannya. 

Beberapa guru mengatakan mereka tidak sengaja menjadi guru. Ada yang mengatakan menjadi guru karena harapan orang tua. Namun, tampaknya itu baru pertama kalinya mereka merefleksikan kenapa mereka masih bertahan menjadi guru. Ada peserta yang mengakui hal tersebut dan baru menyadari bahwa memang ada hal yang menyenangkan ketika menjadi guru, khususnya ketika melihat siswa berhasil dalam kehidupannya.


Berdasarkan masukan dari Pak Bagiono, kami membagikan sebuah artikel kepada peserta untuk dibaca dan didiskusikan. Judulnya Guru Idola karya L. Wilardjo (Kompas, 17 Juli 2018). Artikel tersebut menggambarkan kisah beberapa guru yang diidolakan siswanya. Siswa-siswa di dalam artikel tersebut selalu merupakan siswa yang menjadi jauh lebih hebat daripada gurunya. Wolfgang Pauli misalnya, terinspirasi dari dosenya Prof. Arnold Sommerfeld (yang mengembangkan Teori Atom Hidrogen-nya Niels Bohr). Pauli berkembang jauh melampaui gurunya dan menjadi peraih Nobel Fisika. Fisikawan terkenal, Richard Feynman merasa gurunya adalah Paul Dirac. Padahal Feynman tidak mengambil kelas yang diampu oleh Dirac. Feynman hanya membaca karya Dirac. Feynman melampaui Dirac, bukan hanya karena memperoleh nobel karena elektronika kuantum. Namun juga dikenal sebagai pengajar fisika yang sangat baik.Feynman terkenal sebagai "The Great Explainer" karena bisa membahasakan konsep-konsep Fisika yang rumit menjadi lebih sederhana. Kisah lain diambil dari pewayangan. Palgundi ingin sekali berguru pada Durna. Namun, tidak bisa karena Durna sudah punya murid kesayangan, Arjuna. Saking ingin belajar dari Durna, Durna membuat patung Palgundi untuk latihan memanah. Bagi Durna, guru idolanya tetap Palgundi dan pada akhirnya kemampuan memanah Palgundi pun melampaui Arjuna. Ketiga siswa mengidolakan seorang guru yang menjadikan mereka (para siswa) lebih hebat dari gurunya. 

Setelahnya, kami mengajak peserta mendiskusikan diskurs "guru yang baik" seperti yang telah dirumuskan oleh Alex Moore (2004) yakni 1) the charismatic subject, 2) the competent craft person

Setelahnya Dasrizal dan saya berbagi pengalaman tentang cara kami mengembangkan diri baik secara personal maupun profesional. Selain pengembangan diri yang sifatnya formal seperti mengikuti pelatihan, dsb, juga ada pengembangan diri yang lebih cair. Bisa sesederhana mem-follow guru yang inspiratif di sosial media,  atau menjadi konsumen yang berkesadaran (memilih konten yang berkualitas untuk dibaca, misalnya saat sedang browsing di internet). Pak Dasrizal juga bercerita pengalamannya mengembangkan diri di bidang kepenulisan dan seni. Meskipun Pak Dasrizal merupakan guru matematika, Pak Dasrizal mengembangkan diri dalam berbagai bidang lainnya. Itu membantunya menjadi manusia yang lebih baik. Kata Pak Dasrizal:
"Menjadi seorang guru yang utuh. Tidak hanya fokus pada pekerjaan, tapi kita jadi memiliki banyak cerita yang bisa dibagikan kepada siswa.  Kadang-kadang siswa tidak selalu terinspirasi pelajaran yang kita berikan, tetapi dari cerita-cerita yang kita bawa dari apa yang kita lakukan di luar sana.”

Setelahnya, teman-teman guru diminta merefleksikan apa yang masih kurang dan sudah baik terkait aspek personal maupun profesional mereka. Lalu mereka diajak membuat action plan sederhana dengan menuliskan ide tentang cara mereka ingin mengembangkan diri. Ada yang ingin lebih melatih kesabaran agar tidak gampang marah, ada yang ingin lebih rajin membaca, dan sebagainya. 


Setelahnya, Pak Bagiono sharing pengalamannya sebagai pendidik di SMK, termasuk kisah mengenai beberapa siswa SMK yang berhasil. Tampaknya Pak Bagiono ingin mengingatkan teman-teman guru SMK agar jangan minder, misalnya karena tidak mengajar di SMA. Mengajar di SMK pun mengajar manusia yang punya potensi untuk berkembang. 

Tak salah mengajak Pak Dasrizal untuk berpartner bareng saya di hari itu. Pak Dasrizal menutup lokakarya dengan menyanyikan lagu Indonesia Jiwaku, lagu yang sangat indah karya Guru Soekarno Putra. Awalnya beberapa peserta berteriak, "Afgan!" karena menganggap suara Dasrizal tak kalah indah dengan Afgan, lama kelamaan suasana menjadi lebih hening. Di akhir lagu, peserta bertepuk tanga. Beberapa peserta saya lihat meneteskan air mata. Pak Bagiono juga.  Tampaknya sedikitnya, kegiatan yang hanya berlangsung setengah hari itu sedikit menyentuh hati teman-teman guru. 


Keterangan: Ini merupakan lanjutan dari tulisan "Cerita Persiapan Lokakarya untuk Guru di SMKN 11" (lihat: http://mahkotalima.blogspot.com/2018/08/cerita-persiapan-lokakarya-untuk-guru.html ) 



Gernas Tastaka (2): Cerita tentang Langkah Pertama

Ketika awal Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Matematika (Gernas Tastaka) terbentuk, para pendiri belum tahu persis bentuknya. Kami sudah tahu bahwa kami mau memberikan akses kepada anak-anak Indonesia untuk bisa belajar matematika yang menumbuhkan nalar mereka. 

Pertemuan pertama dilakukan di UI dihadiri oleh Pak Ahmad Rizali, Woro Retno Kris Sejati, Pak Agung Wibowo, dua mahasiswa UI, dan saya. 

Setelah beberapa pertemuan untuk membahas bentuk Gernas Tastaka kami memilih fokus di SD dulu. Juga, mulai dari melakukan gerakan dengan menyelenggarakan kegiatan untuk guru dulu. Kenapa? Kebetulan diantara pendiri-pendiri Gernas Tastaka memang ada beberapa yang bergerak sebagai guru serta memang hobi berbagi dengan guru. Kenapa SD? Karena di tingkat itulah salah satu fondasi terkait matematika biasanya mulai dibangun (sebenarnya di usia sebelum SD juga, tapi kami memang belum mau fokus ke sana). Saat launching pada 10 November 2020 sudah muncul ide membuat Training of Trainers (ToT) untuk guru SD meskipun gagasan lengkapnya masih samar-samar.

ToT dan bukan pelatihan biasa. Kenapa? Kalau membuat pelatihan saja, artinya peserta pelatihan akan menerapkan apa yang dipelajari di kelas. Itu bagus, tapi kami inginnya yang mengikuti kegiatan kami, selain menerpkan apa yang dipelajari di kelas, bisa berbagi tentang apa yang dipelajari ke guru lain. Caranya, boleh bikin ToT lagi, pelatihan, atau mengembangkan konten, atau berbagi dengan cara lain. 

Awalnya ToT kami terdiri dari 6 pertemuan masing-masing 6 jam (luring). Bahannya kami adopsi dari berbagai bacaan terkait pendidikan matematika. Kami tidak menciptakan metode baru. Kami tidak membuat konsep baru. Kami hanya meramu kembali apa yang memang menjadi pengetahuan-pengetahuan dasar terkait pendidikan matematika serta menyebarluaskan gagasannya. Kami tahu, sebenarnya ada begitu banyak ilmu terkait pendidikan matematika yang perlu dipelajari guru SD dan guru matematika manapun. Tidak mungkin. Mau bikin kegiatan untuk menyebarkan semua detilnya? Gak mungkin lah yah. Pasti akan membutuhkan waktu yang lama sekali. Artinya kami pilih beberapa saja, yang esensial sebagai pancingan bagi teman-teman guru untuk belajar lagi. Dalam Gernas Tastaka segala media komunikasi kami menjadi penting mulai dari Group FB, Instagram, dan WA Group yang terdiri dari peserta-peserta kegiatan Gernas Tastaka. Di situlah proses belajar melalui dialog dan kegiatan sharing terus dilakukan. Di sana jugalah tempat munculnya ide-ide baru. ToT menjadi semacam "tempat perkenalan dan memulai persahabatan", proses komunikasi berikutnya lah yang membuat hubungan persahabatan untuk saling belajar tersebut semakin erat. 




Ketika ToT pertama kali kami diujicobakan di MIN 13 Jakarta Timur, kami tidak menyangka bahwa sambutannya hangat sekali. 30 orang guru dari sekolah tersebut mengikuti seluruh rangkaian kegiatannya secara penuh. Saat penutupan ToT ke-6 pada 9 Februari 2019, seorang peserta mengatakan, yang mengaku belajar matematika sejak SD tahun 1969 mengatakan, "Selama belajar selama ini, kami seperti anak-anak. Kalau berhasil, girangnya kayak apaan. Lompat-lompat. Bukan berarti kami songong, bukan berarti kami tidak sopan. Tapi karena senangnya mendapatkan ilmu yang selama ini kami rindukan". Kami menutup ujicoba ToT tersebut kami menonton bersama (Hidden Figures) sambil makan-makan dengan makanan yang dibawa oleh peserta secara botram. Itu langkah pertama kami, yang kemudian menumbuhkan percaya diri kami untuk melakukan langkah-langkah selanjutnya. Kalau kata Lao Tzu, "The journey of a thousand miles begins with one step"  yang artinya perjalanan 1000 mil dimulai dengan langkah pertama. Itu yang kami rasakan ketika pertama kali mau mencoba membuat gerakan melalui Gernas Tastaka.

Jun 7, 2020

Dialog Mbak Bonita, Anyi, dan Mas Ibut tenta g "Peduli Musik Anak"


Senang banget hari ini bisa mendengarkan dialognya @singingbonita, Karina Adistiana, dan Mas Ibut soal "Peduli Musik Anak". Bagus banget (ada rekamannya di IG Mbak @singingbonita , silakan dilihat yah ).

Anyi dan Mas Ibut adalah sepasang suami istri yang mencoba melakukan proses pendidikan melalui media musik anak.

Mereka berkeliling ke berbagai daerah Indonesia untuk mengajak anak, remaja, guru, orang tua membuat musik anak sebagai sarana pendidikan. Pendidikan untuk siapa? Anak, remaja, guru, maupun orang tua.

Salah satu kisah mereka terjadi di Maluku. Di sana, mereka mengajak para remaja ngobrolin makna perdamaian. Maluku sendiri pernah menjadi daerah konflik, maka penting untuk mendengarkan suara anak maupun remaja dan di sana. Bagi mereka, perdamaian itu seperti apa?

Hasil dialognya dibuatkan lagu. Tadi Anyi dan Mas Ibut menyanyikan lagu yang dibuat remaja-remaja tersebut. Mbak Bonita menangis mendengarnya. Saya juga.

Anyi juga sempat bercerita tentang fenomena di beberapa TK yang dikunjunginya. Ketika anak pentas, gurunya berdiri saja di bawah panggung mengamati. Kenapa tidak berdendang dan menari?

Maka dibuatlah lagu untuk mendidik orang dewasa untuk ikut berdendang dan menari bersama anak.

Ketika membuat musik untuk pendidikan bencana, Anyi dan Mas Ibut belajar dulu tentang kearifan lokal dan jenis musik yang pas untuk daerah terkait. Tujuannya agar lagunya lebih mengena.

"Musik merupakan bahasa yang universal, dan sudah powerful dari sananya. Kita tinggal memikirkan bagaimana liriknya bisa diadakan media untuk belajar," kata Anyi.

Mas Ibut juga sempat bercerita, "ada masanya guru-guru suka ngumpul dan membuat musik anak bersama. Kini, kita tergantung pada industri. Mendengarkan musik anak yang telah disediakan oleh industri."

Ada keinginan dari Peduli Musik Anak untuk kembali mengingat budaya-budaya itu. Musik diciptakan bersama-sama secara komunal  dengan komunitas untuk kepentingan komunitas.

"Apa yang kita lakukan sebenarnya, gagasannya kami pelajari dari Ki Hadjar Dewantara. Ki Hadjar juga sangat mementingkan musik dalam proses pendidikannya termasuk menggunakan musik-musik dolanan," kata Anyi dan Mas Ibut (lupa persisnya kata-kata).

Diskusi sore ini diselingi beberapa lagu anak yang dihasilkan "Peduli Musik Anak". Dalam hati saya berjanji sebisa saya akan mendukung gerakan ini. Bikin posting ini merupakan salah satu caranya.