Posts

Memaknai Pemikiran Ki Hadjar Dewantara: Sebuah Refleksi (Bagian 1)

Image
 Semalam, Anyi, Qory, dan saya ngobrol soal interpretasi terhadap karya dan pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Harus diakui, membaca karya-karya Ki Hadjar tidaklah selalu mudah, apalagi untuk bisa menginterpretasinya dengan bermakna dan tepat.  Misalnya, saat membaca kedua buku "Pendidikan" dan "Kebudayaan",  ada kalanya saya perlu membaca satu bagian berulang kali untuk benar-benar mencoba memahami pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Apakah selalu berhasil? Tidak juga.  Maka, sebagai bagian dari proses belajar, saya akan mencoba menyicil sedikit beberapa hasil bacaan saya terhadap karya Ki Hadjar Dewantara, sebagai bagian untuk mencoba memahami pemikirannya. Saya menulis, hanya sebagai bentuk belajar saya dan saya akan membagikan hasil pembelajaran saya sebagai diskusi bersama. Ini bagian pertama. "Pendidikan" dalam pandangan Ki Hadjar Dewantara Menurut Ki Hadjar, pendidikan adalah  "daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budipekerti (kekuatan batin, karakte

Sekilas Tentang Persiapan Konten Gernas Tastaba

Image
Uji coba Traing of Trainer (ToT) Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Matematika (Gernas Tastaka) diujicobakan pada Desember 2018 sampai Februari 2019. Namun,  persiapannya sudah dilakukan semenjak September 2018. Di sisi lain Uji Coba Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Membaca (Gernas Tastaba) dilakukan sejak 30 Juli 2021 dan akan berakhir pada 3 September 2021. Persiapannya dilakukan sejak 28 Januari 2020. Butuh waktu lebih lama untuk persiapannya. Alasannya, selain karena ada pandemi, juga karena memang tim konten benar-benar mengulik apa yang perlu jadi benang merah dari kegiatan ToT Gernas Tastaba.  Pengalaman menyiapkan konten Gernas Tastaba ini memberikan pengalaman baru bagi saya.  Ketika menyiapkan konten Gernas Tastaka saya tidak terlalu kesulitan karena memang memiliki pengalaman mengajar matematika dan latar belakang di pendidikan matematika. Memang, ketika persiapan saya dan tim belajar lagi. Tapi, saya sudah punya bayangan, buku apa yang akan jadi referensi, teori belajar

Sudah Mengajar Bertahun-tahun Tapi Kembali Belajar (Matematika) dari Dasar? Kenapa Tidak?

Image
Di postingan “Potret Kelas Matematika yang Tidak Ada Matematikanya” saya mengatakan bahwa saya kaget (lebih tepatnya shock ) melihat pengajarannya Prilly Latuconsina (lihat: http://mahkotalima.blogspot.com/2021/07/potret-kelas-matematika-yang-tidak-ada.htm l ). Perasaan kaget itu merupakan emosi yang timbul dalam diri saya. Namun, setelah saya mulai merasa tenang, saya pikir seharusnya saya tidak kaget. Praktik pengajaran yang dilakukkan oleh Prilly yang mengajarkan rumus cepat sebagai suatu kebenaran yang harus diterima begitu saja meskipun tak tahu asal usulnya bukan hal baru. Itu praktik yang sudah sering saya temui. Beberapa orang tidak menyadari bahwa hal tersebut merupakan  kesalahan fatal di kelas matematika. Mungkin, saya juga pernah begitu. Seakan-akan mengajar matematika padahal tanpa menumbuhkan penalaran. So, logically, I shouldn’t be so shocked .   Apa yang dilakukan oleh Prilly, juga pernah dilakukan oleh banyak guru Matematika lainnya termasuk oleh beberapa guru-gur

Potret Kelas Matematika yang Tidak Ada Matematikanya

Saya sangat kaget melihat video pengajaran matematikanya Prilly Latuconsina (duta @ruangguru ). Videonya bisa dilihat di sini:   https://www.instagram.com/tv/CREC9E_JKTZ/?utm_source=ig_web_copy_link .   Video memotret contoh “Kelas Matematika yang tidak ada Matematikanya”. Persis seperti apa yang disuarakan oleh matematikawan Paul Lockhart (2009) dalam buku “ A Mathematician’s Lament ”.   Di video itu Prilly menjelaskan cara menghitung hasil penjumlahan deret bilangan berikut ini: 1 + 2 + 3 + 4 + … + 10 Untuk tahu kenapa video tersebut bermasalah, saya sarankan untuk membaca tulisan teman saya, seorang pendidik matematika Pak Rachmat Hidayat yang juga mengelola akun Instagram @matematigis dan merupakan relawannya @gernastastaka telah menjelaskan secara rinci kenapa pengajaran Prilly tersebut bermasalah di tulisan “Benerin Prilly Ngajar Matematika” di sini:   https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=4287983974594909&id=100001500457505 Saya hanya akan menambahka

Pertanyaan-pertanyaan yang Muncul Setelah Mendengarkan Diskusi Tentang "Membaca untuk Kesenangan"

Image
 Belum lama saya mendengarkan sebuah diskusi di youtube. Judulnya " What if We Want All Children to Read For Pleasure? " yang artinya "Bagaimana Kalau Kita Ingin Setiap Anak Kita Membaca Untuk Kesenangan".  Diskusinya bisa dilihat di sini: Diskusi itu difasilitasi oleh Institute of Education (IoE), University of College London (UCL) dan difasilitasi oleh empat narasumber, Joseph Coelho (penulis buku anak dan puisi),  Charlotte Hacking (yang bekerja di  Centre for Literacy in Primary Education), Gemma Moss (Profesor di bidang literasi dari IoE), dan Alice Sullivan (Profesor di Bidang Sosiologi di IoE). Di dalam tulisan ini saya hanya akan membahas satu aspek dari dialog tersebut yang paling menarik hati saya, yakni apa yang disampaikan oleh Charlotte Hacking. Hacking menyatakan bahwa dirinya berasal dari dunia riset sekaligus juga merupakan praktisi, sehingga dia bisa melihat isu "Membaca untuk Kesenangan" dari kedua sudut pandang tersebut (riset dan sisi p

Guru Membaca "Guru Idola" di Sebuah Lokakarya

Image
"Guru Idola" karya L. Wilardjo (Kompas, 17 Juli 2018) Di sebuah lokakarya untuk guru, saya membagikan sebuah artikel dari koran Kompas berjudul  "Guru Idola" karya L. Wilardjo yang diterbitkan pada 17 Juli 2018. Dengan tulisan bergaya Times New Roman berukuran 12, dengan spasi satu setengah, dan ada spasi antara paragraf, artikel tersebut sepanjang 5 halaman. Tidak terlalu panjang sebenarnya. Peserta lokakarya diberikan waktu sekitar 15 menit untuk membaca artikel tersebut.  Artikel tersebut berupa kisah tentang beberapa guru yang diidolakan siswanya. Semua guru memiliki kesamaan. Mereka berhasil memfasilitasi siswanya untuk berkembang jauh sehingga menjadi jauh lebih hebat dari gurunya. Prof. Arnold Sommerfeld misalnya, mengembangkan teori atom hidrogen-nya Niels Bohr. Hal tersebut memang hebat, tetapi muridnya, Wolfang Pauli justru memperoleh Nobel Fisika. Kehebatan Pauli melampaui kehebatan Sommerfield, meskipun pada awalnya Pauli terinspirasi dari gurunya. Seora

Refleksi Menonton Dokumenter Tentang Asuka Umeda, Si Pembelajar Yang Mencintai Keajaiban Kehidupan

Image
Menonton film dokumenter "My Notebooks: Seven Years of Tiny Great Adventures"  (di NHK-World Japan) tentang kisah Asuka Umeda membuat perasaan saya campur aduk. Saya kagum melihat catatan-catatan harian Asuka Umeda yang menunjukkan rasa ingin tahunya yang tinggi. Namun, Asuka tidak selalu cocok di sekolah, lembaga yang seharusnya menjadi instutusi pendidikan. Institusi yang seharusnya bertujuan memfasilitasi anak agar dipenuhi rasa ingin tahu. Asuka mulai menulis catatan hariannya sejak kelas 3 Sekolah Dasar (SD). Awalnya kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk tugas sekolahnya. Gurunya, menugasi siswa-siswinya untuk melakukan "self learning". Yang berarti belajar mandiri. Belajar mandiri tidak berarti siswa belajar tanpa guru mengisi lembar kerja yang tidak habis-habis. Belajar mandiri berarti siswa memilih apa yang ingin dipelajarinya dan menuliskannya di dalam catatan. Pekerjaan rumah ini ternyata menjadi awal mula hobi Asuka. Mencatat apapun yang menarik hatinya s